
"Rey! Udah gua ingetin jangan laju-laju bawa mobilnya, anjiing!" Pekik Athala ketika Reygan yang sedang mengemudi, meningkatkan laju kendaraannya sedikit. Sedikit saja, tetapi Athala sudah menjerit.
Ruby menepuk bibir Athala yang seenak jidatnya berteriak hingga memekakkan indera pendengarannya. Umpatannya juga bikin Ruby jadi naik pitam mendengarnya. "Mulutnya dijaga Atha! Kamu mau anak kita dengar?!"
"Ya ampun Mr. Athalariq Gentala Ragaswara...ini lajunya sudah distandar paling pelan, tujuan kita gak sedekat itu untuk melelet. Lo pikir jarak antara villa ke Mansion kalian, berapa juta mil Tuan? Kalau begini terus, Istrimu sudah melahirkan lebih dulu dimobil ini sebelum kita sampai dikediaman." Oceh Reygan tak habis pikir.
Mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju mansion. Athala terlalu overprotektif terhadap Istrinya, ia menyuruh dirinya memelankan laju mobil selambat siput hanya karena takut bayi kandungan Istrinya kenapa-napa.
Kalau tidak mengingat gaji, mungkin ia sudah mendepak Athala keluar dari dalam mobil. Reygan masih tahu diri. Mobil ini bukan miliknya juga. Jadi bos ternyata seenak itu. Reygan berdecak kecil, "Coba aja gue yang jadi Bos, habis lu Tha." Gumamnya kesal lahir batin, diliriknya kedua pasangan Suami Istri itu dari balik kaca depan.
Reygan membuang napas jengah melihat mereka berdua, sekarang Athala sedang mengelus-elus perut Ruby. Yah, Reygan sepertinya memakluminya mengingat bahwa Athala tidak melihat awal pertumbuhan anak pertamanya. "Pura-pura gak lihat aja udah.."
"Babe.. baby-nya gak kenapa-napa kan? Rey-nya gak becus bawa kendaraan, sayang.. udah Papi ingetin tadi untuk bawa pelan-pelan, tapi dia tetap melaju.."
"Terserah aja udah.. Serba salah gua di mata lu Tha.. padahal gue selalu ada untuk lo.." Timpal Reygan dengan nada suara pelan.
"Atha.. udah, baby gak kenapa-kenapa kok. Dia baik-baik saja.." tumbuh bulir-bulir keringat di pelipis Ruby, beda dari perkataannya, ia menyembunyikan satu fakta, bahwa wanita itu merasakan keram diperutnya. Entah mengapa, setiap ada guncangan sedikit saja, pasti berefek pada kandungannya, Ruby sengaja merahasiakannya agar Athala tidak cemas.
"Dede bayinya gak muntah, didalam sana kan?"
Ruby memukul lengannya, "Ngadi-ngadi kamu! Mana bisa muntah dia didalam perut?! Ngaco!"
"Maminya gimana?"
"Humm? Aku? Baik-baik saja kok." Ruby melayangkan senyum pura-pura untuk mengelabui Athala, membuat sang Suami memicingkan mata curiga, wajah Ruby terlihat lebih pucat dari biasanya, apakah ia salah lihat?
"Yakin baik-baik saja? Kamu kelihatan pucat sayang.." Athala mengusap kening Ruby yang memberikan gelengan lemas lalu menyamankan kepalanya dibahu Athala.
*****
"Mami!! Papi!!" Calix berlarian menghampiri Mami dan Papinya yang baru turun dari mobil, dibelakangnya ada seorang Wanita paru baya yang direkrut oleh Athala untuk mengasuh Calix selama mereka berada di villa. Terhitung berbulan-bulan lamanya, mereka berpisah dari Calix. Namun, di setiap akhir pekan, Calix akan berkunjung kesana.
"Calix bagaimana, kabarmu?"
"Baik Mih!" Ruby yang ada di rangkulan Athala pun melirik baby sitter yang bernama Kina.
"Makasih Mbak.. sudah merawat Calix saat kami lagi tidak ada.."
"Iya Pak, Buk, ini sudah menjadi kewajiban saya karena saya juga sudah diberikan gaji yang cukup besar sama Tuan.." Kina membungkukkan badan sebagai bentuk terimakasih. Ruby dan Athala membalasnya dengan senyum ramah sebelum akhirnya mereka melangkah masuk kedalam mansion megah itu.
"Bagaimana perasaan kamu, Ruby?"
"Aku? baik-baik saja kok." Sesampainya di ruangan keluarga, Ruby melangkah kearah sofa sambil memegangi punggungnya, ia mendudukkan diri diatas sofa mengistirahatkan diri. "Sebenarnya aku hanya butuh waktu istirahat Atha, perjalanan kita cukup jauh.. aku lelah.. tapi kulit aku lengket semua, aku ingin membersihkan badanku.."
"Rabia!!"
Merasa dipanggilpun Rabia langsung menghadap pada mereka berdua. "Iya Tuan?"
"Seduhkan susu ibu hamil buat Nyonya. Saya akan membawa Nyonya kekamar dulu, kalau sudah jadi, bawakan langsung keatas. Tapi, jangan lupa mengetuk pintu."
"Baik Tuan." Setelah memerintahkan, Athala memapah Ruby menaiki satu persatu struktur tangga.
****
Athala menjatuhkan wadah yang berisi air. Tadinya ia berencana membasuh tubuh Ruby biar Istrinya itu merasa lebih fresh. Namun, ternyata ia mendapati Ruby sedang merosotkan tubuhnya dibawah ranjang dengan raut kesakitan. "Tha.. Atha.. perutku sakit.."
"Ya Tuhan!! Sayang? Apa yang terjadi denganmu?!" Athala diserang panik, kalang kabut ia mengangkat Ruby setelah sebelumnya sempat menangkap air ketuban yang mengalir ke kaki Ruby, "Bertahan ya sayang! Sepertinya Baby sudah mau lahir! Aku akan membawamu kerumah sakit!"
Athala membopong Ruby keluar dari mansion, "Papi!! Mami kenapa?!" Teriak Calix yang bermain dihalaman luas mansionnya. Anak kecil itu berlari secepat yang dirinya bisa untuk melihat kondisi sang Mami.
"Adikmu sepertinya sudah mau brojol! Papi harus segera membawa Mamimu kerumah sakit!"
"Calix ikut Pah! Calix ikut!!" Racau Calix turut khawatir. Ia membuang bola yang ada ditangannya secara sembarangan.
"Naik buruan! Papi gak mau mengulur waktu lebih lama ini! Ini sangat mendesak!"
Calix naik di jok belakang, ban mobil sudah mulai bergulir berlalu dari pelataran kediaman mereka, dari belakang sana, Calix menguntaikan tangan, mengusap peluh yang menghiasi kening Ruby menggunakan punggung tangan. Wajahnya terlihat amat pucat pasih, sementara Athala fokus mengemudi.
"Engghhh...gak kuat Tha!!" Erangnya mencengkram sabuk pengaman kuat-kuat guna membagi sembilu yang menjalari perutnya.
"Mami yang kuat ya.. sebentar lagi kita akan sampai.."
"Papi!! Buluan! Pi! Mami kesakitan!!" Panik Calix menitahkan Athala.
"Sabar Calix! Sedarurat apapun keadaan, kita harus tetap mengutamakan keselamatan! Kau mau kita semua celaka?!" Kendaraan yang dikendarai Athala melaju, membela jalanan metropolitan yang padat diwaktu sudah memasuki sore hari.
*****
"Bayinya sudah tidak bernapas, bahkan saat keluar dari rahim Ibunya bayinya tidak mengeluarkan suara tangisan sedikitpun, mungkin detak jantungnya sudah tidak berdetak sebelum dia lahir. Untuk itu dengan berat hati kami menyampai jika anak Nyonya dan Bapak tidak dapat diselamatkan."
Keterangan dari sang bidang, melemaskan lutut Athala, tubuhnya goyah hampir saja ia jatuh. Untung saja, Athala masih dapat menunjang bobot tubuhnya di brangkar. Ia mengalihkan perhatian, kepada Ruby yang terbaring tak berdaya, ia belum kunjung sadar akibat pendarahan yang hebat, Wanita itu telah selesai ditangani, dan sekarang kondisinya sudah stabil, tinggal menunggu, sang Istri sadar.
Athala mengepalkan kedua tangannya. Padahal ia sudah berjanji akan selalu melindungi, menjaga dan melakukan yang terbaik sebagai seorang Ayah. Justru sekarang mereka kehilangannya, Athala bahkan tidak mendengar suara tangisannya. "Apa yang harus aku katakan kepada Istri saya, Tuhan..?" Lirihnya menengadahkan wajah. Matanya terpejam membiarkan embun mengalir dari sumbernya.
"Papi.." Calix memeluk pinggang Papinya, ikut merasakan terluka. Calix bahagia mengingat bahwa ia akan memilik Adik, sehingga ia pun sudah menyediakan beberapa pakaian bayi persiapan calon Adiknya.
"Adek, gak selamat, ya Pih..? Calix sedih Pih.."
"Pak? Apakah Anda ingin menggendong bayinya untuk yang terakhir kali?"
Menyeka air mata, Athala pun menegakkan badan, dengan tangan yang bergetarnya ia mengambil alih tubuh kaku yang berpostur mungil nan imut dari gendongan sang Dokter. Bayi itu berjenis kelamin laki-laki. Seandainya ia selamat, ia akan menjadi rival abadi dirinya dan Calix dalam memperebutkan perhatian dan kasih sayang Istrinya.
"Kau terlalu cepat perginya, jagoan Ayah.." bibir Athala menyentuh dahi sang buah hati. "Mamimu akan sangat terpukul kalau mengetahui fakta ini.."
"Papi..Calix juga pengen lihat Adek, Pih.." Calix menarik-narik ujung baju Athala yang mewujudkan keinginannya, Athala mengambil tempat duduk di kursi samping ranjang Istrinya agar adil, Calix dapat kebagian mengamati malaikat kecil yang sudah tidak bernyawa di gendongan Athala.
Calix mengelus pucuk kepalanya lembut. "Adek pasti udah tenang disana kan? Selalu awasi kami dari atas ya Dek? Kalau Adek mau, muncul di mimpi Calix, telus kita belgelut ya?"
Mendengar candaan Calix, Athala dibuat terkekeh hambar dengan air mata pedih yang terus tumpah. Sepasang anak dan Ayah itu terisak pelan meratapi tubuh kecil yang sudah terbujur kaku itu.
*****