
Ditemani rokok yang sudah nyaris tumpul, Athala sedang berbincang-bincang serius dengan Reygan melalui telepon. Topik mereka menyangkut dengan Bayu. Singkatnya, yang memberikan perhitungan berupa kekerasan fisik adalah Reygan tentu atas perintah dari Athala.
Selain itu, atas kekuasaan juga bukti-bukti palsu yang dibuat oleh Reygan dalam waktu singkat, Bayu berhasil dijebloskan ke penjara. Sanksi hukuman belum ditentukan, masih menunggu hingga persidangan.
"Semuanya sudah beres. Tapi gue rasa masih ada yang janggal."
Suara berat Reygan terdengar dari seberang sana, demi apapun ia sedang pusing tujuh keliling gara-gara menangani seluruh pekerjaan kantor yang dialihkan oleh Athala kepadanya. Belum lagi dengan perintah menyelidiki kasus Alan. Bayu tak lagi terhitung karena sudah tuntas walau masih ada sedikit kejanggalan yang tersisa.
Untunglah dibagian kasus Alan, Reygan hanya tahu memerintahkan dan mengeluarkan uang dari Athala untuk membuat orang-orang yang bekerja sebagai bawahan mereka bergerak melaksanakan segala perintah mereka.
"Apanya?"
"Dari investigasi, cowok itu selalu mengelak kalo itu bukan kesalahannya, katanya dia hanya suruhan. Dia di janjikan akan diberikan kompensasi yang cukup besar sebagai upah jika berhasil merealisasikan misinya."
"Suruhan? berarti ada dalang lain dibaliknya?"
Reygan mengangguk di seberang telepon, "He'em. Gue rasa ini ada hubungannya dengan kasus wakil ketua Vagos."
Ditangannya ada satu lembar teks berwarna putih, berisikan data identitas seseorang. Ia membaca nama yang tercantum akan tinta hitam disana. "Arga Javier Diaskara. Marga yang sama dengan orang yang menjadi tersangka dari dalang utama dalam kasus Alan."
"So?"
"Lo inget sepenggal rekaman yang gue kirim ke lo? disitu pihak lain, ada bilang gini, 'lo bukan Alga! Alga yang gue kenal gak akan gila hanya karena cewek,' nah, bisa jadi Alga yang menjadi perisai Vagos selama ini, bukanlah Alga yang asli."
"Kalo dia bukan Alga yang asli, berarti dalangnya bukan Alga melainkan yang menyamar sebagai Alga? dan itu--adalah Arga? terus, Arga ini siapa? kenapa bisa menyamar sampai bisa serapat itu tanpa membuat anggota lain curiga?"
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di otak Athala, seharusnya ia tak perlu sampai sepeduli ini karena ini berkaitan dengan lelaki yang menjadi saingan cintanya, tapi ia tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Bisa jadi kerabat atau saudara. Tapi kemungkinan besar, dia adalah kembarannya. Gak bakalan ada yang curiga kan kalo wajah mereka identik?"
Sambil mengusap-ngusap dagu, Athala manggut-manggut atas pemaparan Reygan. "Hmm, yang lo bilang masuk akal juga."
"Oh iya, satu lagi. Dari penyelidikan, orang yang menjadi pemilik gelang Sandra sudah terungkap. Dia, orang yang sama, yaitu Arga bukan Alga."
"Jika biang keroknya adalah Arga lalu Alga yang asli dimana?"
"Atha.."
Percakapan intens mereka diinterupsi oleh suara mungil seorang gadis, siapa lagi jika bukan Ruby. Atensi Athala berubah kearahnya, kepala Ruby terlihat menyembul dari sisi pintu balkon, bibir Athala mengukir senyum kecil.
"Udah dulu Rey, kayaknya gue bakalan sibuk."
"Loh, loh, sibuk apaan? kerjaan lo aja gue yang hand--" Panggilan terputus, dibunuh secara sepihak oleh Athala, tak hirau bahkan jika orang diseberang sana sudah mengumpat, menyumpah serapahinya.
Seluruh tubuh Ruby yang terbalut selimut tebal berwarna putih, keluar dari sisi pintu dan melangkah lunglai kearah Athala, Ruby mengucek-ngucek matanya. Baru saja ia terbangun dari tidurnya. "Lagi teleponan sama siapa?"
"Eumm-- enggak, hanya orang gak penting." Athala berdiri dari duduknya, kini ia dan Ruby sudah berhadapan. "Ngapain kesini hmm? seharusnya kamu istirahat didalam aja, kamu pasti capek kan?" merendahkan sedikit tubuhnya, Athala memperbaiki posisi selimut Ruby yang sedikit melorot.
Ruby mendengus pelan, bibirnya maju satu centi, "Gara-gara siapa, coba?" cetusnya membuat Athala tertawa renyah.
Kemudian Ruby terpekik bersamaan dengan badan kecilnya melayang keudara begitu Athala mengangkatnya dengan enteng lantas mendudukkannya di kursi yang tadinya ditempati oleh Athala.
Meletakkan kedua lengannya di sisi pegangan kursi, kini Athala sedikit mengadah memandangi Ruby dari bawah. "Lagian, kamu suka juga kan? suara de.sah.anmu aja paling keras." balasnya tanpa difilter tentu saja mendapat geplakan dari tangan kecil Ruby.
Bugh!
"Gak usah dibahas."
Karena gemas, Ruby mengulek-ngulek kedua pipi Athala yang keras, yang diperlakukan demikian hanya mesem-mesem tak jelas, sontak mampu membuat Ruby semakin kesal saja.
Ruby menghadiahi gigitan di hidung mancung Athala, tak sakit karena Ruby masih tahu batasan. Jika orang lain yang memperlakukannya seperti ini, bisa dijamin, nyawa orang itu ada diujung tanduk, tapi jika orangnya Ruby, Athala justru senang.
Ketika Ruby menarik dirinya, yang ada ia menemukan Athala sedang menampilkan senyum bahagianya. Aneh sekali bukan?
"Loh, kok kamu malah senyam-senyum sendiri seperti orang gila sih?! aku ngegigit kamu loh?! harusnya kamu itu kesakitan!! bukan malah senyum kaya gini?!" protesnya tak terima. Dengan gemas ia mencomot-comot bibir Athala.
"Hmphh!!" Athala menarik tangan Ruby dari mulutnya, "Kamu sewot banget sih sama orang lagi bahagia?!"
"Kamu bahagia kenapa? gara-gara teleponan sama cewek ya?!"
"Cewek apaan sih?!" Gerutunya. Athala meletakkan sisi kepalanya diperut Ruby yang terlapisi helai kain selimut yang tebal, posisinya sedang berjongkok dihadapan Ruby. Telinganya menempel sempurna pada kain itu. "Disini tadi baru saja diisikan? semoga aja kali ini tokcer."
"Gak sabaran banget. Pengen amat kamu kayaknya punya anak." Cebik Ruby.
"Iyalah, siapa coba yang gak pengen punya anak yang kiyowo-kiyowo gitu? apa lagi pas dia udah tumbuh besar, terus manggil aku dengan sebutan Daddy, terus kamu Mommy.."
Di kalimat Daddy dan Mommy, Athala menggunakan suara yang sengaja dikecil-kecil kan mirip suara anak kecil. Ia terkikik lucu kemudian membayangkan masa depan mereka kelak.
"Gak usah ketinggian deh halunya. Inget, hanya kesepakatan.." Lirih Ruby diakhir kalimat. Sukses membuat Athala ditampar oleh kenyataan, senyumnya pun sirna dalam hitungan detik.
"Kamu bakalan bebasin aku kan kalo kesepakatan kita udah selesai, pokoknya hanya sampai aku melahirkan anak saja kan? gak bakal berubah pikiran sampai memperpanjang masa kesepakatan kita kan?" tanya Ruby menuntut.
Athala menatapnya nanar, "Kamu--beneran gak mau hidup bareng aku?"
"Hidup? bareng kamu?" Ruby terkekeh sumbang, entah mengapa kedua netranya berkaca-kaca, seharusnya ia tak sedih. "Kamu lagi bercanda? kita sama-sama hanya karena kesepakatan yang kita buat. Hubungan yang lebih dari itu, gak akan pernah terjadi."
"Aku harap kamu gak akan kabur jika suatu hari nanti pacar kamu udah bangun dari koma dan kamu belum mengandung anakku." Tekan Athala.
Ruby menganggukkan kepala, tangannya aktif menyisir beberapa kali rambut Athala kebelakang. "Tenang aja, baik itu butuh waktu yang lama untuk aku hamil, aku gak akan kabur. Aku bukan orang selicik itu manfaatin kamu doang untuk kepentingan aku sendiri. Tapi nanti aku mau hak kebebasan ketemu sama anak itu karena biar bagaimana pun aku yang melahirkannya."
Sisi kepala Athala beralih di letakannya di pangkuan Ruby, ia lantas menyahut. "Soal itu, gampang. Kamu bebas kapanpun bertemu dengan dia kalo kamu ingin."
Tanpa berniat menyingkirkan kepala Athala dari pahanya, Ruby meraih ponsel Athala yang tergeletak dimeja yang tak jauh dari jangkauannya. Cahaya radiasi ponsel terpancar ketika ia menyalakannya. Ia hanya meneliti waktu disana.
Jam menunjukkan pukul 19:40, yang artinya sudah lewat dari waktu yang telah ditentukan. Ia lupa mempunyai janji dengan Elang, ikut bersamanya menjenguk Alan, tapi Ruby dapat menebak, mereka sudah pergi duluan.
"Tha? aku minta tolong, bisa?"
Athala yang awalnya menenggelamkan wajah diperut Ruby, menyembulkan kepalanya dari sana, "Apa?"
"Aku sebenarnya ada janji sama Elang mau jengukin Alan sehabis solat isa, tapi kayaknya mereka udah duluan soalnya waktunya udah lewat."
"Terus?"
"Anterin aku ke rumah sakit."
"Satu syarat." Athala menyunggingkan senyum miring. Sukses membuat Ruby bergidik ngeri.
"Apa?" Feeling Ruby mulai tak enak. Akan ada malapetaka yang akan terjadi kedepannya menurut firasatnya.
"Temani lagi aku malam ini." Seringai licik itu belum pudar lalu ia mengimbuhi. "Full play."
****