
Berselang tujuh menit, Adelio keluar membawa dua cup pop mie di masing-masing tangannya. Ia ikut duduk bergabung bersama Ruby, menyodorkan yang satunya untuk Ruby, cewek itu mengalihkan perhatian pada cup mie yang terarah padanya, "Buat gue?" tanyanya menunjuk dirinya sendiri di angguki oleh Adelio.
"Eumm gak deh, makasih. Gue kenyang." Ruby menolak mentah-mentah, bukannya tidak enak hati atau sungkan, Ruby memang memiliki kepribadian yang tidak sudi menerima bantuan sesama termasuk orang-orang yang menawarkan makanan yang cuma-cuma.
Adelio meletakkan makanan itu di depan Ruby yang menyimpan ponselnya di atas meja. "Gue yang beli, gue juga yang matengin mie-nya, tinggal makan doang masa lo anggurin gitu aja?"
Hanya gelengan kepala dari Ruby yang Adelio dapat, "Makan ya By? lo kan tahu gue gak suka pemberian gue di tolak. Apa lagi itu lo. Ayok makan, kita makan bareng." bujuk Adelio.
Sesendok demi sesendok garpu mini berwarna putih mulai Adelio seruput, bunyi mie masuk kedalam rongga mulutnya terdengar cukup jelas dari jaraknya Ruby yang berhadapan langsung dengannya.
Menghentikan aktivitas Adelio yang suapan ke empat kalinya merasa Ruby belum juga menyentuh cup mie yang telah tersaji, Adelio mengubah fokus pada Ruby yang hanya bengong, terdiam seribu bahasa menatap makanan di depan matanya, "Makan By.. kok malah di jadiin bahan tontonan?"
"Atau--lo mau gue suapin?" Sambungnya.
"Gue belum laper Lio..." Alasan yang cukup sederhana. Belum lapar apanya, sejak siang tadi keluar dari sekolah belum sesuap nasi pun yang Ruby konsumsi. Terbiasa menghemat biaya kehidupan sehari-hari untuk bekal hidupnya ke depan, hingga lapar sudah tidak menjadi problematik untuknya. Porsi makannya pun sudah menurun tidak sebanyak yang dulu.
Menggeser kursi agar Adelio mendekati Ruby. Ia meraih cup mie yang di beri dengan suka rela justru hanya dianggurin. "Aaaa.." Mulut Adelio terbuka bagaikan akan menyuapi anak kecil, Adelio mulai mengarahkan sesendok mie ke mulut Ruby yang memberikan gelengan tidak mau.
"Makan atau gue cium?" Gertak Adelio tanpa beban membuat Ruby mendengus pelan, "Kita bukan anak kecil lagi Lio.. kita udah gede."
Apabila kebiasaan tersebut masih melekat pada diri Adelio, sebaiknya Ruby sedikit memberi jarak agar Adelio tidak berperilaku demikian. Ruby sadar jika mereka bisa lagi seperti dulu.
Orang yang sama namun perubahan di usia mereka yang sudah tergolong remaja tidak pantas lagi melewati batasan. Di masa dini, berteman dekat hingga melakukan kontak fisik di anggap normal. Tetapi di umur mereka yang sekarang Ruby rasa sudah tidak pantas.
"Oh iya Ruy, gue penasaran. Pertanyaan ini sebenarnya sudah menjadi tanda tanya di otak gue sejak tadi." Ucap Adelio tiba-tiba.
"Apa?"
"Kok lo bisa terdampar di negara ini? bukannya lo tinggal di Australi?"
Dalam sekali helaan napas, Ruby menjawab jujur. "Gue kabur."
Terus terang Adelio cukup terkejut dengan pernyataan Ruby barusan. "Kabur? penyebab?"
Meletakkan cup mie yang telah ia santap habis di permukaan meja, Ruby hanya butuh lima sampai enam suapan meludeskan makanan. Lagi-lagi Ruby menarik napas kasar. "Orang tua gue mau ngejodohin gue. Lo tahu kan? pernikahan itu bukan hal mudah buat anak-anak yang masih di bawah umur. Bisa-bisa belum genap sehari hidup seatap sudah kebelet minta cerai."
TBC