
"Mami!!" Dengan antusias, Calix lari-larian menghampiri Sang Mami yang sedang berdiri menyandarkan punggungnya di sisi mobil, dia menunggu Calix pulang sekolah.
"Jangan lari-lari Calix.. nanti kalo kamu jatuh, gimana?"
Ruby menggenggam tangan mungilnya, dia membuka pintu mobil dan menuntut Calix naik kedalam.berada di kursi depan samping kemudi, Wanita itu memutari kendaraannya setelah selesai dengan Calix.
Dia menutup pintu mobil saat berhasil masuk, "Mi..kapan Calix punya Papa..?"
Kalimat yang cukup sederhana, namun sukses menohok hati Ruby, dia menatap kedepan mengikuti arah pandang nanar Calix, disana terlihat ada seorang murid sebaya dirinya yang dijemput oleh Ayahnya.
"Calix ili lihat temen-temen Calix diantal jemput Papa meleka, Calix ili dengan teman-temen Calix yang belcanda belsama Papa meleka, bahkan Calix di ejek disekolah, katanya Calix anak halam, gak punya Papa.."
"Kata Mami, Papi bakal pulang? tapi kapan? kenapa sampai sekalang Papi belum juga pulang, apa Papi benci sama Calix? tapi Calix gak bandel kok, Calix bukan anak nakal.."
Ruby menyeka air matanya dengan punggung tangan lalu mulai memutar setir meninggalkan tempat. "Emang Calix belum puas dengan keberadaan Paman Ze dengan Paman Alan? mereka juga kan bisa jadi Paman sekaligus Ayah untuk Calix.."
"Beda Mih..Paman dengan Papi beda, Calix butuh Papi, bikan Paman.."
Ruby menghindari tatapan Calix, dia sensitif jika Calix sudah membahas perihal Ayah. Topik yang senantiasa dihindari Ruby selama ini, justru Calix sering kali menanyakan keberadaan Sang Ayah dimana.
"Calix mau langsung pulang atau mau mampir kemana dulu?"
Ruby sengaja mengubah topik pembicaraan, Calix pun mengerti, dia tahu jika Sang Mami menitikkan air mata, sejauh ini dia bertanya-tanya, mengapa Maminya selalu sedih jika sudah mengungkit Papi?
"Emang Mami gak sibuk?"
"Enggak, untuk hari ini, Mami enggak ada jadwal dirumah sakit. Mau jalan-jalan dulu?"
Senyum haru tersungging, Ruby membelai kepala Calix menggunakan satu tangan, dia bangga pada Calix walau tumbuh tanpa sosok Ayah, dia menjadi pribadi yang lebih dewasa dari pada anak seumurannya.
*****
"Paman!!" Calix berlari menyambut Alan yang baru memasuki apartemen mereka, lelaki itu langsung mengangkat Calix dengan enteng untuk dibawanya kedalam gendongan.
"Ruy, lo nggak mau ikut?"
Ruby menggelengkan kepala, "Kamu bawa aja Calix main, aku mau istirahat aja mumpung masih senggang, kalo udah sibuk nanti beraktivitas terus."
"Calix, jangan nakal ya disana.. jadi anak patuh, dengerin apa perkataan Paman, kalo dia bilang gitu berarti gitu, jangan ngerepotin Paman.." Tidak ketinggalan Ruby berpesan pada Calix.
"Enggak pernah ngerepotin kok," Alan melemparkan senyum pada Ruby. "Kalian itu segalanya bagi gue, mungkin lo gak akan beri gue peluang untuk masuk kedalam hidup kalian, tapi tenang saja, tanpa menaruh harapan lebih, gue udah anggap kalian sebagai keluarga tanpa ikatan apapun. Jadi, jangan sungkan sama gue."
Ruby menyusul Alan melangkah kearah pintu bersama Calix yang enteng digendongannya. "Are you ready, Boy?" Ucap Alan saat mereka sudah berada diambang pintu, bersiap akan berangkat.
"Ready!!" Dengan ceria Calix mengangkat tangannya di udara.
"See you good bye dulu sama Mami.." Titah Alan.
"See you good bye Mami!!" Calix memberikan kecupan jauh lalu melambai-lambaikan tangannya, sambil membalas lambaian kecil, Ruby terkekeh lucu, dia melihat wujud mereka yang sudah mulai menjauh melalui koridor apartemen.
*****