My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.BONCHAP 11 : ICE AND FIRE



Seorang Wanita yang sedang hamil tua itu, tengah menyenderkan punggungnya disebuah kursi ayun yang terletak didepan villa. Perutnya sudah lebih besar dari pada balon, sangat membuncit. Dia, Ruby Aileen.


Tanpa terasa beberapa bulan telah berlalu, usia kandungan Wanita itu sudah menginjak delapan bulan yang mana sudah memasuki trimester ketiga. Disaat-saat inilah Athala berperan sebagai seorang Suami yang extra berdedikasi.


Ia menyediakan segala fasilitas yang lengkap di villa ini. Dimulai dari tempat olahraga, dapur yang terisi berbagai macam bahan pokok kebutuhan apabila ada yang di inginkan Ruby. Lengkap dengan camilan-camilan makanan ringan.


Bukan hanya itu, alat-alat medis yang lengkap dan seorang Dokter kandungan tak luput, Athala siapkan untuk Istrinya. Kandungan Istrinya di nyatakan lemah sejauh ini, Athala pun sering mengontrol kandungan saat sang bumil kadang kala mengalami keram. Apabila tanggal kelahirannya sudah diketahui secara pasti, Athala akan membawa Istrinya pulang ke mansion mereka agar mendapatkan penanganan yang lebih intensif dirumah sakit saat melahirkan nanti.


Karena itu juga ia jadi lebih protektif dari biasanya demi kebaikan Ruby. Ruby sendiri sampai tak bisa ngapa-ngapain akibatnya. Bergerak sedikit saja, Athala sudah banyak berkicau untuk melarangnya.


Kawasan taman depan villa cukup luas, siang ini cuaca tak begitu terik. Ruby meluangkan waktunya yang setiap hari senggang untuk berdiam diri disini sambil menikmati udara sekeliling yang sejuk dan damai.


Ditengah ke terdiaman nya dengan tubuh yang hanya digoyangkan oleh kursi ayun berbahan kayu, tiba-tiba ada sebuah tangan menyentuh kepalanya, dari aroma maskulinnya saja, Ruby sudah dapat menebak siapa yang mengusap-ngusap permukaan rambutnya sekarang.


"Doyan banget berdiam diri diluar. Kenapa gak di dalem aja sayang? udara diluar gak bagus,"


"Justru di dalem terus yang gak bagus. Ntar aku dehidrasi saking lamanya gak keluar-keluar."


Athala turun berjongkok dihadapan Ruby, tangannya kemudian mulai nakal, menyibak pakaian sang Istri, ada sebuah pikiran usil hingga ia terdorong untuk menjahili sang buah hati yang masih betah bersemayam didalam ruang hangat Ibunya.


Ia menowel-nowel permukaan perut yang membesar itu. "Hai baby.. kenalin, aku Ayahanda-mu.. terus yang mengandung kamu sekarang adalah Ibunda kamu..."


"Betah bener di delam? Baby gak kepanasan disana? Pasti sempit diruang kecil kaya gitu, mending cepat-cepat keluar, biar bisa ketemu sama Mami dan Papi.." Athala tertawa cekikikan setelah bercakap-cakap dengan calon anaknya. Meskipun sudah pasti tak mendapat sahutan sama sekali.


Athala mendongak kemudian mempertemukan tatapannya dengan sorot mata Ruby dengan tangan bergerak mengusap-ngusap belakang kepalanya, beberapa detik lalu sesekali Ruby terkekeh kecil menyaksikan Athala mengobrol dengan calon bayi mereka berdua.


"Kayaknya dede bayi yang ini tipe anak pendiam deh? dia gak respon sedikit pun, selama dia di rahim kamu, aku gak pernah ngerasain dia nendang. Padahal setiap malam, tangan aku gak beranjak dari perut kamu."


"Dia bertahan sampai sejauh ini saja, itu sudah membuktikan dia anak yang kuat. Mungkin saja dia mau latihan jadi orang cool dari dalam perut, biar pas lahir dan gede dia akan menjadi pribadi yang dingin biar bertolak belakang dengan karakter Calix.. bisa dibayangin gimana mereka berdua nantinya kalau punya sifat yang bertentangan? dapat diibaratkan api sama es. Kira-kira bisa akur gak?"


"Yah enggak lah! sikap mereka aja gak selaras, apalagi mau akur? pasti tiap hari kerjaan mereka perang terus.. pikiran mereka juga gak akan sejalan."


Ruby mengelus-elus perutnya sendiri. Ia menyunggingkan senyum teduh. "Aku gak peduli mau sikapnya sedingin es atau sehangat api, aku tetap akan menyayanginya dengan sepenuh hati."


*****


Konsentrasi Athala yang sedang sibuk mengutak-atik laptopnya itu, diusik oleh Ruby yang naik keatas pangkuannya. "Sayang.. kenapa hmm? Ada yang kamu mau? Aku lagi ngerjain projek ini."


"Jadi, aku ganggu?" Ruby memasang ekspresi cemberut membuat Athala jadi gelagapan sendiri sambil memikirkan balasan yang tepat didalam otaknya, mana mungkin Istrinya menganggu? bisa gawat kalau ia salah memberikan jawaban yang sesuai harapannya.


"E-enggak. Enggak sayang.. maksud aku tuh, mungkin ada yang kamu inginkan gitu?"


Cup!


Saat itu juga jakun Athala naik-turun. Jangan remehkan seorang Ibu-ibu hamil. Percaya atau tidak, pesona seorang Bumil itu berlipat-lipat ganda lebih seksi dari biasanya. "P-pengen apa By..?" Athala ketar-ketir. Bukan main kalau Istri yang sedang hamil meminta hak duluan, damagenya tidak ngotak.


Cengkeraman Ruby di baju bagian depan dada Athala menguat menyalurkan rasa gugupnya. Mungkin, disana sudah kusut akibatnya. "Kamu gak kangen sama Baby? Udah lama kamu gak nengokin Baby.. pasti Baby udah kangen banget sama Ayahnya.."


DAMN!


Athala berdiri sambil menggendong Wanita itu, saking tidak sabarnya ia merasa enteng saja dengan berat badan Istrinya yang membawa nyawa lain dalam perutnya. Ia membaringkannya diatas kasur, mengingat calon anak mereka, Athala sedikit memberikan ruang di jarak perut mereka berdua agar perut Ruby tak tertindih.


"Kamu mancing sayang.. aku mana tahan kalau cara bersikap kamu kaya gini.. kamu curang, nyuruh aku puasa sembilan bulan, tapi selalu punya cara sendiri untuk menggodaku, bagaimana caranya aku tidak goyah coba? Lihat muka kamu saja aku udah pengen makan kamu.."


Punggung telunjuknya menari-nari dipermukaan kulit pipi Ruby. Suaranya berubah menjadi serak-serak basah. "Menggemaskan sekali.."


'So sexy!' Ruby menangkup rahang tegas Athala yang larut dalam menyorotnya. Sepasang netranya agak berkabut--gairah?


Athala mengelus sisi kepalanya, lalu untuk selanjutnya mengambil sedikit helaian rambutnya untuk ia bawa ke hidungnya guna mencium aromanya yang manis. "Dede bayi gak apa-apakan kalau Papinya jenguk dia sekarang? Toh kandungan kamu sudah memasuki dalam tahap aman."


Sudut bibir Ruby tertarik keatas mengukir senyum maut yang amat memabukkan dimata Athala, menurutnya tak ada sabit yang lebih indah dari pada senyum yang dimiliki Istrinya.


Ruby mengangguki permintaan Athala tadi, merasa mendapat lampu hijau pun Athala ikut tersenyum senang, akhrinya ia bisa dapat jatah lagi, setelah libur sekian lama. "Kamu tenang aja, aku bakal main lembut, aku akan berusaha tidak melukai dia.." Yang dimaksud oleh Athala adalah malaikat kecil mereka.


Perlahan Athala pun bergerak menarik sebuah selimut tebal hingga menutupi setengah tubuh mereka, ia melabuhkan ciuman singkat dan setelah mengecup bibir pink Istrinya, ia pun berbisik pelan. "Malam kita masih panjang, babe.."


*****


Sejauh ini, semuanya berjalan terlalu mulus. Hari-hari mereka pun mengalir begitu manis dan indah sehingga tak pernah sedikitpun terbesit dibenak Athala bahwa mental Istrinya akan terguncang hebat akibat dihampiri oleh sebuah kata kehilangan.


Anugerah dari Tuhan yang bahkan belum sempat melihat dunia, anak imut dan menggemaskan yang gagal bertahan, hilang direnggut oleh semesta sebelum dirinya melihat indahnya dunia ini dan menjadi badai yang amat dahsyat menerpa ditengah rumah tangga harmonis mereka.


"Bayinya sudah tidak bernapas, bahkan saat keluar dari rahim Ibunya bayinya tidak mengeluarkan suara tangisan sedikitpun, mungkin detak jantungnya sudah tidak berdetak sebelum dia lahir. Untuk itu dengan berat hati kami menyampai jika anak Nyonya dan Bapak tidak dapat diselamatkan."


PLANG!!!


PLANG!!


"TIDAK!! TIDAK! BAYIKU AAA INI TIDAK MUNGKIN! KEMBALIKAN BAYIKU!!!"


PLANG!!


PLANG!!


*****