
Setelah mendapat informasi mengenai Arga menjadi tahanan atas kasus yang menimpa Alan, Sandra lekas mengunjungi tempat penjara dimana menjadi tempat Arga menjalani lapas. Awalnya, Sandra masih belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh Athala, tapi pada akhirnya ia jadi percaya ketika tahu yang menjadi penyebabnya apa.
Sandra tidak menyangka jika peristiwa itu terjadi karena dirinya sendiri. Namun, setidaknya ia tak menyuruh atas tindakan kriminal Arga, lelaki itu bertindak sendiri. Berani berbuat, berani bertanggung jawab, karena bukti-bukti yang ada, ia telah dijatuhi hukum pidana sesuai pasal. Yakni penjara lima belas tahun.
Dapat Sandra lihat Arga yang sedang dibawa oleh pihak berwajib menuju dirinya yang sedang menunggu dimeja kunjungan. Arga kemudian duduk diseberang Sandra, dari wajah kecewa Sandra tercetak jelas. Arga yakin, Sandra sudah mengetahui perihal perbuatannya.
Ia mendadak jadi menyesal telah melakukan itu. Bukan menyesal telah mencelakai Alan melainkan menyesal telah membuat Sandra kecewa akan perbuatan jahatnya.
"Kenapa lo lakukan itu?" tanya Sandra dengan nada suara bergetar, ia menatap Arga nanar. Yang dipandang hanya bisa menundukkan kepala enggan berhadapan langsung dengan kedua mata Sandra, mulai sekarang ia tak akan bisa menjaga dan melindungi Sandra lagi. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat.
"Maaf.." Cicitnya.
"Maaf?" Sandra terkekeh hambar, ia mengadah agar embun tak turun. "Lo kira dengan maaf lo bisa membuat keadaan membaik?! lo kan tahu gue hanya punya lo! dan sekarang?!"
Percuma menahan susah payah, pada akhirnya tanpa bisa dicegah air mata itu terjun bebas membasahi pipinya. "Gue sendirian, Ga!! siapa yang akan jadi rumah gue?!" Sebisa mungkin Sandra tak berteriak mengingat tempat mereka lagi dimana.
"Jangan nangis.." Arga mengangkat suara dengan berkata lirih. "Mulai saat ini, lo harus belajar mandiri, jangan gampang cengeng karena gue gak akan bisa ngehapus air mata lo, lagi.." Hingga detik ini, Arga masih tak bisa mengangkat pandangan, ia tak ingin melihat bagaimana kondisi Sandra saat ini.
"Lo yang buat gue nangis.." seperti penuturan Arga, ia harus terbiasa mandiri, Sandra menyeka air matanya kasar, ia tak boleh cengeng sebab Arga akan jauh dari menjangkaunya. Ia tak boleh terus-terusan bergantung pada lelaki ini.
"Munafik kalo gue bilang gak kecewa sama lo. Gue kecewa berat sama lo.."
Arga hanya mengangguk menerima. "Maaf, udah buat lo kecewa. Tapi gue gak nyesel sudah mencelakai Alan."
"Gue gak nyangka lo aslinya sejahat ini. Kemana saja gue selama ini?" Sandra menatapnya penuh ketidak percayaan, salah besar ia telah menaruh kepercayaan lebih pada lelaki ini, ia benar-benar kecewa.
"Gue benci, sama lo." Desis Sandra dengan cairan bening kristal kembali menggenang di pelupuk mata, rasanya ada gumpalan tak kasat mata yang mengisi dada Sandra ketika menghujamkan empat kalimat tajam tersebut. Yang merasa begitu hanya dirinya saja sepertinya, karena Arga hanya terlihat tenang-tenang saja, tak terganggu sama sekali.
Terlebih dengan adanya kata balasan darinya. "Benci gue sebanyak yang lo mau, San."
"Gue benci banget sama lo, Arga.. lo udah buat orang yang gue sayang, koma." Sandra mengumpulkan oksigen disekitarnya dalam-dalam bersiap kembali berucap, "Nikmati masa depan lo yang gak akan mungkin akan ada gue didalamnya. Karena mulai saat ini, gue bukan sahabat lo lagi."
"Waktu kunjungan habis, diharap kerja samanya. Tahanan harus segera kembali ke sel." Petugas yang mengawasi mereka sejak tadi pun kembali membawa Arga menuju sel. Arga menyempatkan melirik kebelakang agar dapat melihat Sandra yang mungkin akan menjadi kali terakhir, Sandra dalam posisi membelakanginya, jadi hanya punggung yang dapat ia tangkap.
'Goodbye, Sandra.'
*****
Berminggu-minggu telah berlalu, pagi ini Ruby sedang merapikan penampilan yang menurutnya masih kurang sambil mengamati pantulan dirinya di cermin, ia telah siap dengan seragam sekolah. Kali ini, Ruby memutuskan mengenakan lip tint seperlunya, membuat bibirnya terlihat tak pucat saja sudah cukup.
Ruby melipat kedua bibir bawah dan atasnya agar liptint yang dipakainya merata. "Oke siap, udah cantik!" pujinya untuk diri sendiri.
Tak bisa dipungkiri, Ruby senang akan melihat sosok Alan lagi disekolah, ia rindu berat dengan kekasihnya itu. Alan bilang, ia ingin menjemputnya, tapi orang tuanya sudah menjaganya dengan ketat, berkomunikasi dengan Ruby lewat ponsel pun, Alan harus ekstra hati-hati agar tak ketahuan.
Ruby berangkat ke sekolah menggunakan bus, tak butuh waktu lama untuk ia sampai disekolah. Ruby kini berjalan di koridor bersama dengan Sandra. Tadi ia berpapasan dengan Flora ketika diparkiran dan melanjutkan perjalanan menuju kelas mereka.
Dari arah berlawanan dengan mereka, terlihat Alan yang sedang berjalan sambil menyelipkan tangannya pada saku celana, Ruby bisa menebak, tujuan Alan mengarah pada dirinya, Ruby melambaikan girang tangannya pada Alan sambil berseru antusias.
"Hai Alan!"
Namun, apa ini? respon yang ia dapat hanya aura dingin dan wajah tak bersahabat dari Alan. Apakah perasaannya saja? Tapi sepertinya, tidak. Karena Alan sudah berdiri persis didepannya dan kini mereka berdua telah berhadapan dengan langkah tertahan, begitu pun dengan Flora yang ada disebelah. Namun, Alan tetap seperti tadi menunjukkan aura yang tak senang.
"Alan? lo--kenap--" Pertanyaan Ruby mau tak mau tidak berlanjut karena melihat Sandra yang berlarian kecil dari arah belakang Alan, ia berseru memanggil satu nama, yakni Alan.
"Alan! tungguin! kamu kenapa sih? katanya mau kekantin bareng tapi ninggalin aku duluan." Sandra mengomel, Ruby terpaku begitu tanpa izin, Sandra dengan lancangnya langsung menggandeng lengan Alan dengan mesra, terang-terangan didepan matanya Ruby yang bernotabe sebagai Pacarnya Alan.
Terlebih sepertinya Alan tak marah, terbukti dari ia hanya diam saja, justru sekarang yang ada Alan mengacak-ngacak permukaan rambut Sandra dengan senyuman manisnya. "Tapi, sekarangkan kamu ada disini? kita tetap bisa bareng kekantin."
Kamu? bukan hanya Sandra tapi juga Alan menggunakan panggilan aku-kamu? Sepertinya ada hal yang terjadi tanpa sepengetahuan Ruby.
Flora melirik Ruby yang sedang mencengkram kedua tali tasnya, ia memaksakan lidahnya yang keluh untuk kembali berbicara. "A-alan? apa maksdnya ini?" Alan mengikuti arah amatan Ruby yang menuju lengannya yang sedang dipeluk oleh Sandra.
"Tanpa gue jawab, lo pasti sudah tahu jawabannya. Gue, balikan sama Sandra." Balas Alan dingin.
Dada Ruby bagaikan teremas oleh suatu yang tak kasat mata setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Alan, padahal kemarin mereka masih baik-baik saja walaupun hanya berhubungan melalui alat telekomunikasi, tetap mengapa sekarang Alan bersikap tak biasa seperti ini?
"Kenapa tiba-tiba?" Ruby tetap bertekad kuat untuk bertanya meskipun sudah tahu apapun jawabannya akan menyakiti dirinya sendiri.
Alan tersenyum remeh, "Lo tanya kenapa, huh? saat gue sakit, lo dimana aja? hanya Sandra yang selalu ada di samping gue saat gue lagi memerlukan orang untuk ngerangkul gue saat gue jatuh terpuruk. Lo ada gak, ketika gue saat itu?"
"Gue--" Ruby tak menyelesaikan ucapannya, memilih menoleh pada Flora yang tiba-tiba mencekal pergelangan tangannya.
"Udah Ruy! lo gak denger? mereka udah kembali balikan! yang berarti lo kembali dia khianati seperti sebelumnya." Flora berdecih sinis, lebih tepatnya ditujukan siapa lagi jika bukan Alan.
"Memang, cowok kalo sudah satu kali berkhianat, mending gak usah dikasih kesempatan yang kedua, karena berikutnya mereka sudah pasti akan melakukan siklus kesalahan yang sama." tukasnya tak kalah dingin dari Alan.
"Ayok, Ruy mending kita kekelas dari pada halangin jalan orang yang lagi pacaran." Flora menambahkan dengan ajakan setengah menyindir, ia menarik Ruby untuk menyingkir dari hadapan mereka berdua. Tak lupa dengan sengaja, Flora menyenggol kasar lengan Sandra saat melintas disisinya.
Ruby pasrah saja ketika Flora menyeretnya pergi meninggalkan Alan dan Sandra, karena jauh didalam lubuk hatinya, luka yang belum kering itu kini kembali terbuka. Ia kembali dipatahkan oleh lelaki yang berstatus sebagai kekasihnya.
*****