My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.LUKA YANG SEBENARNYA



Tubuh Zeal sedikit oleng kehilangan keseimbangan akibat dari seorang Ruby berhamburan memeluknya saat baru memasuki apartemen. "Dia kembali Kak.."


"Dia pulang.."


"Dia siapa Ruby?" Dalam keadaan yang masih agak bingung dia mendekap Ruby balik.


"Atha Kak.. dia kembali.. dia pulang.. aku melihatnya tadi di butik.."


Zeal turut bahagia mendengarnya, akhirnya penantian Adiknya membuahkan hasil, tapi dia kembali dibuat tertegun mendengar penuturan Ruby berikutnya.


"Tapi dia gak ingat aku Kak.. dia melupakan aku... Apa yang harus aku lakukan Kak Ze? apa yang harus aku katakan pada Calix..? dia pasti sudah menunggu Papinya pulang, padahal Papinya sendiri gak ingat lagi pada Maminya, apalagi Calix.."


Jujur saja, Zeal turut sakit akan luka yang telah ditorehkan oleh Athala pada Adik kesayangannya, semasa hidupnya, dia tidak pernah menyakiti Adiknya ini seujung kuku pun, berani-beraninya Pria bajingan itu melukainya dengan teramat begini.


Dia sudah susah payah ingin mengembalikan senyum tulus Ruby kini kembali dihancurkan oleh lelaki itu.


"Sudah, jangan nangis lagi.. aku gak suka lihat kamu nangis gini.. tangisan kamu bikin nular tahu gak?"


Bukan menghapus air mata Ruby, tetapi Zeal menyeka air matanya sendiri, tuh kan dia jadi ikut menangis juga.


Ruby memukul dada Zeal kesal, orang lagi sedih-sedih malah dibuat geli akan lawakannya yang memang benar. Alhasil, hal tersebut dapat membuat Ruby terkekeh disela isaknya. Antara menangis dan tertawa diwaktu bersamaan. Bisa-bisanya Kakak dewasanya ini menangis hanya karena kisah menyedihkan dirinya dan Athala. Gede doang, dasar cengeng!


"Jadi, sekarang sudah menyerah?"


"Enggak lah! ngapain menyerah coba?! berhubung aku tahu Athala sudah ada di negara ini, mulai besok aku akan pergi ke perusahaannya merecoki dia. Aku ingin mencari tahu penyebab dia melupakan aku, gak mungkin gak ada alasannya."


"Kamu benar-benar batu Ruby... kalau mau gak tersakiti, mending kamu menyerah dari sekarang."


"Enggak! sebelum aku dapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama terpendam dibenak-ku jangan harap aku mau menyerah!" Ruby melepas pelukan secara sepihak.


Dia menghapus jejak air matanya, "Calix mana?"


Zeal menunjuk Calix dengan dagu, bocah kecil itu sedang terlelap disofa panjang. "Tuh, lagi tidur, kayaknya kecapean. Soalnya tadi aku bawa dia main dulu sebelum pulang."


Ruby melangkah menghampiri Calix, dia berjongkok dihadapannya, tatapannya sangat teduh menyorot Calix yang sedang tenggelam di alam bawah sadarnya. "Anak Mami kayaknya pulas banget tidurnya.."


Suara Ruby agak parau juga serak karena baru saja habis menangis. Dia sedih setiap melihat Calix, dia tumbuh tanpa adanya sosok Ayah. Ayah yang telah berjanji akan pulang, namun dia baru kembali sekarang.


Seorang Ibu yang masih mengharap akan kedatangan Ayah dari anaknya walaupun akhirnya hanya menelan pil pahit


Dia kembali, dia pulang dalam keadaan sehat walafiat namun dengan perasaan yang sudah berbeda. Dan Ruby masih dengan perasaan yang sama.


Ruby membuang napas, dia mengangkat tubuh Calix lantas menggendongnya menuju kamar, Zeal hanya menyorot punggung mereka dengan iba.


*****


Ruby meraup oksigen sedalam-dalamnya, dia sudah mengumpulkan tekad untuk masuk kedalam gedung perusahaan Ragaswara. Sudah berapa lama dia tak mengunjungi tempat ini? yang intinya sudah bertahun-tahun.


Terakhir dia datang kesini bersama Athala saat lagi mengandung Calix. Dia melangkah masuk kedalam gedung, "Maaf Nona, kalau boleh tahu, mau cari siapa?" tanya salah satu karyawan yang mengawas dimeja resepsionis.


"Athala Mbak."


"Oh, CEO di perusahaan ini? ada perlu apa kalau boleh tahu Nona?"


"Pokoknya ada deh, gak usah kepo."


"Apakah Anda sudah membuat janji dengan Tuan Athala?"


"Eumm? belum sih." Ruby menggaruk-garuk kepalanya, dia dan Athala tidak pernah lagi berkomunikasi, bagaimana caranya membuat janji? Athala menghilang dari seluruh sosial media, bahkan nomornya yang dulu pun sudah tak aktif.


Kedua netra Ruby sedikit membelalak, mana bisa tidak boleh?! dia sudah bela-belain bolos kerja dan memutuskan untuk kesini menjumpai Athala, dan pegawai ini dengan seenak jidatnya bilang tidak boleh?!


"Gak bisa gitu dong Mbak!"


"Memang Nona apanya Tuan Athala? kalau memang Nona termasuk kerabat atau rekannya, saya bisa mengantarkan Nona langsung ke ruangannya."


"Saya--" Tatapan Ruby bergerilya kearah sekitar mencari-cari kalimat yang pas untuk mengelabui Karyawan Wanita ini, "Calon Istrinya Mbak!"


Wanita itu malah terbahak mendengarnya, "Kayaknya Anda sudah gak waras Nona, Tuan Athala sudah ada calon Istri, namanya Gracia, bahkan pernikahan mereka udah gak lama lagi."


Detik berikutnya dia mengambil sesuatu dari meja resepsionis dan menggesernya kedepan Ruby, "Ini Nona, hari ini mereka menyebar undangan pernikahan."


Napas Ruby tercekat, dunianya seakan runtuh seketika, betapa ngilu hatinya melihat undangan yang tertulis nama Athala bersama Wanita lain yaitu Gracia, apakah mereka benar-benar akan menikah? lalu bagaimana dengan nasib dirinya dan Calix? Apakah Athala akan mengingkari janjinya?


Disela kekalutan yang menjalar dijiwanya, atensi Ruby dipecahkan oleh objek yang menjadi topik pembicaraan mereka muncul dari balik pintu lift yang tidak jauh darinya, bersama dengan asistennya, Reygan.


"Atha!!" Ruby lekas menghampiri Athala dengan langkah tergesa-gesa. "Athala!!"


Athala mengalihkan pandangannya kearah sumber suara mendengar wanita itu memanggil-manggil satu nama, yaitu namanya. Keningnya mengernyit samar. "Lo--Wanita yang kemarin?"


"Oh, Ruby? gue udah gak pernah denger kabar lo sebelum ini. Btw, lo udah kelihatan dewasa banget yah," celetuk Reygan.


Dari kaki sampai kepala tak luput dia memperhatikan Gadis kecil yang dulu digila-gilai Athala akhirnya tumbuh sematang ini, dan poin utamanya, dia tambah glow up. Semakin cantik saja.


Tapi sayang sekali, Athala mengalami amnesia, dia tidak akan mengingat siapa Wanita ini. Apakah ingatan Athala akan kembali lagi?


"Diem! gue gak ada waktu bicara sama lo!" Ruby mengacungkan tangannya didepan Reygan melarangnya membuka suara, untuk saat ini dia hanya perlu bicara empat mata dengan Athala, tak ada waktu buat meladeni Reygan.


"Tha, lo punya waktu? kita harus bicara, empat mata."


"Gak bisa, ada hati yang harus gue jaga, gue gak mau calon Istri gue salah paham, permisi."


Athala menekankan didua kalimat tertentu yaitu calon istri, dia hanya tidak ingin melukai hati Gracia, Wanita baik dan tulus yang telah menemaninya dimasa terpuruknya, bahkan saat dia cacat sekalipun, wanita itu tidak pernah meninggalkannya.


Dengan langkah jenjangnya dia menjauh dari Ruby, Wanita itu berancang akan mengejar langkahnya, tetapi Reygan mencekal pergelangan tangannya, mencegahnya mengikuti Athala.


"Lepas!" Ruby menghempas kasar cengkraman Reygan hingga terlepas.


"Percuma, dia gak akan inget sama lo. Kalo mau dia inget lo lagi, perlahan saja jangan terlalu buru-buru. Karena--dia mengalami amnesia." Ujar Reygan.


"Amnesia?" Kedua kening Ruby mengerut dengan dalam, apa saja yang tidak dia ketahui sejauh ini? dia ketinggalan segalanya mengenai Athala.


"Lagian ngapain lo kembali lagi kedalam hidup Athala? bukannya dulu lo yang selalu mendorong dia menjauh? Athala selalu cerita sama gue, kalo lo selalu nolak dia, dia sering mengeluh soal lo yang susah ditaklukkan, bahkan Athala hampir menyerah,"


"Tapi dia masih berharap kalo suatu hari nanti lo bisa hamil Anaknya dan dia bisa mengikat lo dengan itu, sayang banget cara itu gak berhasil. Sekarang, lo harus mengikhlaskan dia untuk Wanita lain kalo lo mau dia bahagia." Imbuh Reygan panjang lebar, dia pun akhirnya mulai melangkah menyusul Athala setelah bertutur demikian.


"Lo tahu apa tentang gue sama Atha?! lo gak tahu apa-apa!" Kaki Reygan terjeda mendengar nada suara Ruby yang mulai meninggi, dua tangan Ruby mengepal kuat, lelaki ini tidak tahu apa-apa mengenai mereka berdua, tapi bersikap sok tahu seakan-akan dia tahu segalanya.


Tidak berhasil?! Ruby ingin tertawa jenaka mendengarnya, bahkan Calix sudah berumur lima tahun lalu Pria ini mengatakan tidak berhasil?!


"Gue tahu semuanya, gue adalah tempat curhatnya saat itu." Hanya punggung Reygan menjadi pemandangan Ruby, dia tidak membalikkan badannya lagi melihat lawan bicaranya.


"Bagaimana sesuatu yang lo bilang gak berhasil itu gak seperti yang lo pikirkan? bagaimana kalo cara Athala berhasil dan sekarang Putranya bahkan sudah masuk sekolah TK?"


Dan saat itu juga tubuh Reygan dibuat membeku, apakah yang Wanita ini bilang memang benar atau sekedar bualan hanya karena ingin mendapatkan Athala kembali?


*****