My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.MOMEN DI VILLA{Part 01}



Kira-kira berapa bulan ya aku hiatus nih cerita? kini aku kembali lagi melanjutkan cerita ini, bahkan aku sampai buka tutup beberapa chapter untuk mengingat alur dan nama-nama tokohnya, agak lupa soalnya😭


Kalo ada kesalahan sama latar, alur sama nama karakternya mohon dimaklumi ya, soalnya saya sebagai manusia tidak luput dari salah dan dosa..


Intinya, happy reading!!


****


BRUGHHH!!


Baru saja Athala memplay sebuah rekaman yang di kirim oleh Reygan, suara gaduh langsung menyambutnya, Athala mendengarnya sekaligus mencari sebuah informasi dibalik sepenggal rekaman yang diambil diam-diam dari salah satu pihak yang sedang berdebat cukup hebat.


"Gua ngasih lo waktu satu minggu lagi untuk mengakui semua kesalahan lo! kalo enggak, gua gak akan segan-segan membeberkan semuanya pada anak-anak Vagos biar mereka semua tahu, lo dalang dari insiden kecelakaan Alan!"


"Jangan harap!! lagi pula ini bukan salah gue sepenuhnya! gue hanya membalas dendam karena dia udah nyakitin sahabat gue, Sandra! gue gak bisa diam gitu aja saat dia melukai orang paling berharga dihidup gue!"


"Tapi, bukan berarti lo bisa nyelakain orang! inget, Alan itu rekan kita Ga, kok lo bisa tega-teganya segampang itu buat nyelakain dia?!"


"Gue gak peduli mau dia temen gue atau enggak, bahkan saudara gue sekalipun akan gue bunuh kalo dia berani melukai Sandra!"


"Sandra, Sandra, Sandra terus! kalo lo gak mau ada yang nyakitin dia kenapa gak lo aja yang jaga dia hah?! lindungi dia dari orang-orang yang akan membuatnya sedih, bukan malah ada niat mau bunuh orang yang melukai dia! tanpa lo sadari lo sudah bertindak layaknya kriminal Ga!"


"Bahkan gue dengan suka rela jadi tahanan di penjara jika itu demi Sandra."


"Bangsat!"


BRUGHHHHH!!!


"Lo bukan Alga! Alga yang gue kenal gak akan gila hanya karena cewek!!"


Berakhirnya rekaman itu, bertepatan dengan kelopak mata Ruby terbuka sedikit demi sedikit menyambut sebuah suasana kamar yang ia ketahui ditempatinya sebelum tersesat di hutan.


Ruby meringis kecil merasakan kepalanya yang berdenyut sakit, ia dapat melihat Athala yang berdiri didepan jendela lantas berjalan dengan tubuh tegap kearahnya kala menyadari dirinya terjaga.


"Ada yang sakit? kalo ada keluhah bilang aja." Athala meletakkan ponselnya diatas nakal agar dapat memusatkan perhatian total untuk Ruby yang terlihat tak baik-baik saja.


"Haus..pengen minum yang dingin-dingin.." Ujarnya dengan suara serak, berapa lama ia tertidur? ah rasanya tenggorokannya kering sekali, hidungnya seperti tersumbat sesuatu, ia terkena flu. Tidak heran, semalam mereka kehujanan.


"No, kamu gak boleh minum yang dingin-dingin," Athala duduk ditepi ranjang, menyentuh dahi Ruby yang masih saja panas tapi sudah sedikit menurut derajatnya tak sehangat yang tadi karena sudah dikompres.


"Makan ya? aku masakin bubur biar anget, kebetulan di villa ini lengkap bahan-bahan dapurnya karena tempat ini sering aku tinggali kalo aku lagi pengen sendiri." Athala memperbaiki posisi selimut Ruby yang sedikit turun. Ruby mengeratkan kain tebal yang membungkus tubuhnya.


Ia mengangguk lemah, apa saja yang penting perutnya dapat terisi. Athala tersenyum teduh lantas membelai penuh kasih sayang puncak kepala Ruby, perempuan itu terenyuh. "Tunggu bentar ya? aku masak bentar."


"Kamu--bisa masak?"


"Bisa kalo hanya bubur. Tunggu disini, jangan coba diulangi yang kaya kemarin, pake acara kabur-kabur segala." Pesan Athala lembut.


Ruby hanya mengangguk patuh, sepertinya ia mengalami trauma karena kejadian kemarin, demi tuhan Ruby tak akan mau kabur lagi, cukup kemarin saja ia melakukan kesalahan dan berdampak pada dirinya sendiri.


Pupil mata Ruby berpendar menatap punggung kokoh Athala yang mulai menghilang dibalik pintu.


Athala begitu perhatian kepadanya, sejak kenal Athala walau belum lama dirinya yang tak mau sama sekali hidup bergantung kepada orang lain kini tanpa sadar ia jadi sedikit bergantung kepada Athala.


Kemarin sore Ruby ingat waktu kejadian ia dikejar oleh ular, dalam mara bahaya di pikirannya hanya ada Athala yang terlintas dibenaknya untuk menolongnya, tapi lidahnya keluh untuk menyebut namanya. Entahlah, egonya masih mengalahkan bagian dalam dirinya.


Satu hal yang masih Ruby yakini, rasa cintanya masih tetap ada untuk Alan. Lelaki yang pernah mengkhianatinya, menorehkan luka yang hebat, tapi tak bisa memudarkan rasa cinta untuknya.


****


Baru kali ini Athala bela-belain memasak bahkan hanya karena cewek. Lihatlah, ia sedang berkutat didapur membuatkan bubur untuk gadis kecilnya.


Ditengah aktivitasnya, dengan gontai Ruby berjalan memasuki area dapur, ia ingin mengecek Athala yang sedang masak, bukan sama orangnya tapi khawatir sama keselamatan dapur, barangkali saja jadi berantakan layaknya terkena bom atom.


Syukur masih tertata rapi, hanya Athala yang kelihatan sibuk. Sepertinya Athala cukup profesional dalam memasak.


"Atha.." panggil Ruby saat posisinya sudah ada dibelakang Athala.


Athala berbalik menghadap pada sumber suara, "Loh, kan udah aku pesan tunggu aja dikamar, ngapain kesini?" hidung Ruby terlihat memerah, kedua matanya berair.


"Pengen ngecek dapur, takutnya ada potensi kebakaran" sungut Ruby.


Menggunakan centong sebagai senjata, dengan gemas Athala menghadiahi getokan di dahi Ruby, dalam keadaan tak sehat pun masih sempat-sempatnya meledek. Dengan bibir manyun, Ruby mengusap-ngusap dahinya yang berdenyut akibat kelakuan Athala.


"Gini-gini aku pandai dalam memasak, ke kamar gih, kamu harus banyak istirahat biar cepat sehat.." Athala berkacak pinggang dihadapan Ruby, layaknya seorang Ayah yang mengajari Putrinya untuk kebaikan.


Kedua tangan Ruby tiba-tiba merentang, dahi Athala timbul garisan bingung, "Ada apa?"


"Peluk.."


Dengan cengo, Athala hanya mengerjapkan matanya beberapa kali, ia masih mencoba mencerna dengan baik apa permintaan Ruby barusan, apakah ia salah dengar? yang benar saja!


Tumben sekali Ruby minta dipeluk, biasanya selalu menolak sentuhan fisik darinya bahkan tinggal dipaksa-paksa. Tapi, untuk sekarang Athala rasa belum saatnya acara berpeluk-pelukkan, ia masih harus menyelesaikan pekerjaannya dan Ruby mesti istirahat di kamar.


Athala memberantakkan rambut Ruby, "Peluknya habis makan aja ya? kamu harus istirahat dikamar." Titahnya kemudian yang dapat Ruby lihat dari sudut belakang hanya ada punggung besar Athala.


Ia masang raut cemberut karena Athala tak menuruti kemauannya, Ruby mendekat merenggut jarak yang ada sontak kedua tangannya menyelip di pinggang atletis Athala, Pria itu jelas terkesiap dengan tindakannya yang tanpa disangka-sangka.


Entahlah, Ruby juga tak paham dengan dirinya sendiri, tindakan ini murni dorongan hatinya. Mungkin karena sakit ia jadi merindukan sosok Kakak laki-laki dan Ayahnya hingga ia manja seperti ini. Bersama Athala, dia merasa aman dan nyaman, seperti menemukan sosok keluarga baru jika bersamanya.


Dengan sisi wajah bersandar pada punggung tegap Athala, Ruby berkata lirih. "Rindu.." Athala yang masih mematung dengan kelakuannya tiba-tiba dibuat terhenyak dengan isak tangis Ruby. Ia berbalik guna memeriksa apa yang membuat Gadis kesayangannya ini menangis.


"Hei? kok malah nangis?" Athala mengangkat dagu Ruby menggunakan telunjuk, tangan Ruby masih mengalun indah di pinggangnya, tapi sudah merenggang.


"Kangen Daddy dan Kak Ze.." Isaknya terdengar pilu, dibenamkannya wajahnya di dada bidang Athala, setidaknya ia bisa menutupi ekspresi sedihnya saat ini, Athala membalas pelukan Ruby, mendekapnya erat seolah menyalurkan kekuatan untuknya. Kecuali Ayahnya, ia masih belum terlalu tahu seluk-beluk keluarga Ruby, tapi sepertinya selama ini Ruby telah melewati masa-masa yang sulit.


Ruby sendiri masih bingung mengapa ia sampai menangis kemudian mengadu pada Athala, padahal selama ini ia paling anti dalam mengumbar-ngumbar urusan pribadinya dengan orang lain.


"Cup, cup, cup... sudah, jangan nangis, Gadis kecilku.." bujuk Athala bagaikan menenangkan anak kecil yang sedang menangis karena ingin membeli permen, ia menepuk-nepuk punggung Ruby yang bergetar karena tangis.


Dirasanya Ruby sudah puas mengeluarkan unek-uneknya melalui tangisan, Athala pun melepas pelukan dan menarik kepala Ruby agar menghadap kearahnya, ia menguap jejak air matanya. "Udah, jangan nangis lagi nanti tambah sakit. Kamu ke kamar dulu, aku siapin makan untukmu."


Athala menepuk-nepuk pelan perut Ruby yang terbungkus oleh kain, "Perutnya diisi dulu, biar cacing-cacing gak pada miscall."


Melepas tangannya yang melingkar dipinggang Athala, Ruby akhirnya mengalah, ia mengangguk lemah dan berjalan lunglai menjauh dari area dapur meninggalkan Athala seorang diri.


****