My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.CACIAN DAN HINAAN



Butuh beberapa saat untuk Athala dan Ruby menempuh perjalanan, mobil Athala akhirnya berhenti diarea parkiran rumah sakit. Rupanya anak-anak Geng Vagos kebetulan baru sampai juga, terbukti dari gerakan mereka yang membuka helm full face masing-masing.


"Tha, kamu mau ikut ke dalem atau tunggu disini?" Ruby bertanya seraya melepas sabuk pengaman. Ia belum langsung keluar masih menunggu gerombolan itu berlalu duluan.


Athala menjawab sekenanya. "Ikut."


"Kalo kamu ikut, usahakan dibelakang. Biar gak ada yang curiga dengan kita. Kalo kita gak terang-terangan jalan bersama, mereka akan mengira kita kebetulan datang diwaktu yang sama." pesannya diangguki patuh oleh Athala.


Setelah memastikan kelompok anak-anak brandalan itu menghilang dibalik bangunan rumah sakit, Ruby keluar lebih dulu sebelum akhirnya Athala menyusul, menjaga jarak agak jauh dari Ruby sesuai interuksi perempuan itu.


Mereka berdua memasuki gedung rumah sakit, melalui lorong ke lorong lobby lantas Ruby dapat melihat Puluhan anggota Vagos masuk kedalam ruang rawat inap Alan, tempat dimana Alan berada. Berhasilnya mereka masuk menandakan jika didalam tak ada orang tua Alan.


Ruby masuk berurutan dengan Athala, secara spontan semua yang ada didalam ruangan itu tertarik atensinya kearah mereka bahkan baru saja Ruby membuka pintu.


"Loh Ruy? gue kira gak jadi kesini?" tanya Elang. Puluhan anggota Vagos mengelilingi ranjang dimana Alan sedang terbaring tak berdaya dengan berbagai alat medis penopangnya untuk tetap bertahan hidup.


Dada Ruby bergemuruh saat menyaksikan langsung betapa mengenaskan keadaan kekasihnya, terjadi perubahan drastis pada mimik wajahnya, dari yang awalnya netral kini terlihat sendu menatap nanar kearah Alan.


Ia melangkah mendekat mengambil tempat duduk di kursi yang tersedia di sisi tempat tidur Alan, Ruby baru tahu jika kondisi Alan separah ini.


"Eh Bang? kesini mau jenguk Alan juga?" Elang mendaratkan kepalan tangannya di lengan Athala.


Athala mengangguk mengiyakan. "Hmm, ternyata keadaannya cukup malang." Mulutnya berkata demikian, tapi didalam batinnya tak peduli sama sekali meski Alan kehilangan nyawanya. Alangkah sedihnya raut wajah Ruby saat ini, Athala sungguh tak senang melihatnya.


Terlebih saat Ruby mengambil tangan Alan untuk digenggam, kini Elang beserta yang lain sudah berdiri mengelilingi Alan saling merangkul satu sama lain, menundukkan kepala serta memanjatkan do'a kepada Tuhan untuk kesembuhan rekan mereka.


Athala memilih untuk duduk disofa yang ada di sudut, tak minat ikut berbaur dengan mereka. Ia melonggarkan dasi yang mengalun pada kerah bajunya, entah mengapa udara disekitar ruangan itu terasa menipis, ia kegerahan.


"Cepat bangun, Alan.. aku kangen sama kamu.." Suara Ruby mulai bergetar menahan tangis.


Begitu pun dengan bahu Ruby yang terlihat bergetar, Athala yakin perempuan itu menangis. Benar saja, beberapa titik cairan bening kristal berhasil lolos, berjatuhan dipaha Ruby, ia menunduk dengan rasa bersalah.


Seharusnya malam itu, ia patuh akan pesan Alan untuk tak keluar dari mobil, tapi ia malah melanggarnya. Jika malam itu ia tak keluar dari mobil lantas apakah hasilnya akan berbeda? sepertinya tidak, bahkan lebih buruk ia akan terlibat dalam insiden kecelakaan. Namun, Ruby tetap menyalahkan dirinya sendiri.


"Maaf.." Gumamnya lirih.


Ceklek


Disela-sela itu, tiba-tiba pintu ruang rawat Alan dibuka dari luar. Betapa kagetnya mereka melihat Ratna--Ibu dari Alan.


Sama halnya dengan mereka, Ratna juga cukup terkejut sekejap sebelum darahnya dibuat mendidih, ia tak ingin anak-anak jalanan ini kembali membawa dampak buruk dalam hidup Putranya.


Apalagi dengan adanya Ruby yang sedang duduk disamping brangkar Alan, gadis itulah penyebab Alan selalu menjadi pembangkang kepada mereka. Ia melangkah menuju Ruby, ada Aditya di belakang Ratna.


Walau kaku, Ruby berusaha untuk menunjukkan senyum palsu, Ruby sudah pernah berjumpa dengan kedua orang tua Alan saat Alan membawanya untuk main kerumahnya, percaya atau tidak, Mama dan Papa Alan tak menyukainya. Terbukti dari sikap mereka yang kadang tak ramah, ekspresi mereka yang terlihat tak bersahabat.


Bukan samata-mata pengkhianatan yang telah dilakukan oleh Alan, sebenarnya hal itulah salah satu penyebab Ruby mengakhiri hubungan mereka, namun ia malah kembali goyah.


"H-hai Tante."


Ratna tak membalas sapaan Ruby, ia menarik kuat tangan Ruby agar berdiri dari duduknya. "Masih punya muka kau menampakkan diri disini hah?! kau pikir Putra saya jadi seperti ini karena siapa?! itu karena kau!!"


Ruby sedikit tersentak kala Ratna mendorong dadanya, semua yang ada disana terkejut dengan hardikan Ratna yang dalam intonasi suara cukup tinggi. Tak terkecuali Athala, ia langsung berdiri dari duduknya. Sudah pasti ia tak terima jika Ruby dibentak-bentak seenaknya seperti itu, lagi pula peristiwa mengenai Alan sama sekali bukan kesalahan Ruby.


"M--maaf Tante, a-aku minta maaf sebesar-besarnya atas kesalahan saya." Ruby membungkukkan badan untuk meminta maaf setulus-tulusnya.


Ratna berdecih sinis, "Kau pikir dengan permintaan maaf kamu bisa membuat Anak saya sembuh?!"


Ruby meremas sisi celana kulot yang ia kenakan. "Jika begitu, apa yang harus saya lakukan agar dapat mendapatkan maaf dari Tante dan Om?" dalam rasa bersalah yang semakin bersarang dalam hati, Ruby melirik kearah Aditya untuk sejenak.


"Kau mau tahu apa yang harus kau lakukan?!" Ruby mengangguk ingin tahu.


"Jauhi anak saya!"


"A-apa?" Ruby masih tak percaya dengan apa yang ia dengar indera pendengarannya, seburuk itu dirinya sampai orang tua Alan menyuruhnya untuk menjauhi anaknya?


"Kau tuli?! jauhi anak saya mulai detik ini!" Tekan Ratna lagi.


"G-gak bisa! saya gak bisa menjauhi Alan Tante! saya cinta dengan Alan saya gak bisa menjauhinya!! apapun itu kecuali dari usulan Tante barusan akan aku kabulkan! asal jangan suruh aku menjauh dari dia, aku gak bisa Tante.." Ruby menggeleng-geleng nanar.


Anak-Anak Vagos menatapnya dengan iba, mereka ingin mengangkat suara tapi entah mengapa lidah mereka terasa keluh untuk mengeluarkan sepatah kata.


"Dasar perempuan tak tahu diri! kau pikir kau pantas dengan anak saya?! kau itu anak miskin! tinggal saja hanya di kost-kostan yang kumuh dan kecil, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun kau harus bekerja mati-matian, asal usulmu saja tak jelas dari mana!" Cacinya menggebu-gebu.


Ruby memberanikan diri mengangkat kepala agar dapat menatap Ratna. "Jika Tante menilai hanya dari materi, lantas untuk apa hati diciptakan? saya memang orang dari kalangan rendahan tapi bukan berarti saya gak pantas dengan anak Tante, say mencintainya dan dia mencintai ku, saya rasa itu lebih dari cukup untuk menjadi alasan kami bersama."


Emosi Ratna semakin tersulut kala melihat keberanian Ruby. "Berani-beraninya kau menentang perintahku hah?!!" Kemudian tangannya melayang hendak melesatkan sebuah tamparan pada pipi Ruby.


Semua yang ada disana sontak dibuat rusuh karena panik, banyak yang secara reflek ingin melindungi Ruby, tapi mereka kalah cepat dengan Athala yang lebih jauh dari arah mereka, gerakan impulsif ia berlari cepat kala dapat membaca gerakan Ibu Alan.


Mempersembahkan adegan dimana Athala menahan pergelangan tangan Ratna dengan hawa penuh intimidasinya. "Sentuh dia sedikit saja, saya jamin anda akan menyesal seumur hidup." Netranya memancarkan leser membunuh.


Karena dilanda amarah yang hebat menyaksikan Ruby dicaci maki seperti tadi, Athala sampai tak bisa menjaga sopan santunnya lagi, dengan lancangnya pergelangan tangan wanita paru baya itu dihempasnya secara kasar.


Ia sudah tak acuh meski jadi sorotan heran para anggota Vagos, Elang dan Gatra saling bersitatap, seolah memiliki telepati, mereka berkomunikasi melalui ekspresi.


'Lo tahu apa hubungan mereka?' Seakan mengerti pertanyaan dari Gatra yang hanya isyarat mengangkat dagu menuju Athala dan Ruby, tak ketinggalan dengan kedua alisnya yang ikut terangkat. Yang ia dapati adalah gelengan cepat dari Elang sebagai jawaban.


"Kau siapa hah?! benar-benar kurang ajar!! apa kau gak pernah diajar orang tuamu? tak tahu tata krama! tidak tahu menjaga sopan santun pada yang lebih tua!" Hardik Ratna kembali mengangkat telapak tangannya hendak menampar Athala yang terlihat tak ada niat sedikit pun untuk menghindar.


Namun, kali ini yang mencegahnya adalah Aditya, Suaminya sendiri. "Apa-apaan kamu Mas?! kamu mau belain ini anak yang gak beradab? kamu gak lihat tadi betapa lancangnya kelakuannya terhadapku?! kamu juga dari tadi hanya diam saja!!"


"Ratna tenangkan emosimu!" Aditya mengambil alih rangkulan pada bahu Istrinya, ia tersenyum kikuk kearah Athala. "Maaf, Athala.. Istriku akhir-akhir ini memang sensitif karena terlalu cemas memikirkan keadaan Alan."


Ratna memberontak dalam rengkuhan Aditya yang membawanya secara paksa sedikit menjauh dari Athala, "Lepasin Mas!"


"Kau jangan keterlaluan, kau pikir Pria yang barusan mau kau tampar itu siapa?" desis Aditya menekankan. Ia hanya terfokus pada pertengkaran antara Istrinya dan Ruby hingga tak menyadari adanya Athala dari satu sisi ruangan.


"Aku gak peduli dia siapa! yang aku tahu dia hanyalah anak laki-laki yang kurang ajar!"


"Dia Athala!! CEO di perusahaan besar Ragaswara, perusahaan yang menginvestasi perusahaan kita! jika kamu menyinggungnya sedikit saja maka kontrak kerja sama antara perusahaan kita dan perusahaan Ragaswara bisa terancam batal! perusahaan kita bisa bangkrut jika seperti itu! kamu mau kita hidup susah?!" Jelas Aditya sambil menatap Ratna tajam.


Ratna meneguk salivanya susah payah, "A-athala? pemegang saham perusahaan Ragaswara?" Ia jadi ketar-ketir saat melirik Athala, pantas saja penampilannya terlihat berkarisma.


Athala, Ruby beserta puluhan anak-anak Vagos kemudian hanya memandangi belakang punggung Ratna dan Aditya yang saling berbisik, mereka tak tahu topik apa yang mereka obrolkan hingga harus menggunakan suara yang kecil agar tak ada yang mendengarnya.


Aditya menegakkan badan sebelum berdehem mencairkan suasana, "Ehm, Athala, maafkan atas perlakuan Istriku..dia akan meminta maaf atas perlakuannya yang buruk terhadapmu."


Dengan dingin Athala menekankan. "Bukan kepada saya, melainkan kepada Ruby."


Ruby menggoyang kecil lengan bawah Athala membuat pandangan Athala tertarik kebawah. Ruby berbisik sambil menggeleng pelan. "Gak perlu Tha.."


Athala tak mengindahkan apa keinginan Ruby, sementara Aditya tertawa canggung, "Oh, dengan Ruby? baiklah.."


"Apapun yang terjadi, aku gak akan mau meminta maaf pada anak gak jelas itu!" Meski Ratna terlihat tak ingin meminta maaf, Aditya tetap mendorong paksa punggung sang Istri tersebut mengarah pada Ruby.


Kini Ratna telah berhadapan dengan Ruby, tapi mulutnya tak mau terbuka. "Minta maaf, cepetan! kamu mau kita jadi gelandangan?!" Aditya mendesak diambang kesabaran.


"Gak akan! aku gak akan sudi minta maaf pada dia!!" Ratna ngotot tak akan meminta maaf agar reputasinya tak rusak, netranya begitu menusuk dengan arah pandang kearah sang Suami, namun jari telunjuknya menuju pada Ruby. Saat itu, Athala telah mencengkram pergelangan tangan Ruby bersiap menyeretnya pergi dari sana.


Diwaktu yang sama, kelopak mata yang telah terpejam berminggu-minggu itu mulai terbuka sedikit demi sedikit menyapa cahaya yang ada diruangan bernuansa putih tersebut. Kesadarannya mampu membuat orang-orang yang ada disana jadi gaduh seketika.


"Alan?! lo udah sadar?!" Alex yang paling heboh, yang lainnya juga tak kalah rusuh. Dengan kepala yang terasa sakit dan berat nyaris tak bisa digerakkan sama sekali, mata Alan masih sedikit kabur, ia tak melihat jelas rombongan anak-anak yang berjaket hitam disekelilingnya.


"Ada yang sakit Lan?! atau perlu kami panggilin dokter?" tanya Haidar kemudian tubuhnya terdorong kesamping kala Ratna mendorong tubuhnya agar dapat memberinya ruang akses melihat Alan. Aditya pun sudah menunju ranjang Putranya melupakan masalah tadi.


"Alan?! akhirnya kamu sadar Nak.." Ratna menangis haru. Saking senangnya akhirnya Sang putra bisa selamat dari ambang maut, bahkan ia tak mempermasalahkan lagi para member Vagos berada disana.


Sementara Ruby mencoba melepas cekalan Athala di pergelangan tangannya. Ia mencoba menahan badannya, namun tubuhnya mau tak mau tergiring sesuai kemana arah langkah Athala. "Atha!! aku pengen lihat Alan lagi Tha!! dia udah siuman!! aku pengen lihat dia!!"


"Kamu gak dengar apa kata orang tuanya tadi?! harga dirimu direndahkan Ruby!! kamu gak dihargai! buat apa kamu peduli dengan anak mereka?! bahkan Mamanya pun gak sudi meminta maaf padamu!!" Athala tak menghiraukan kemauan Ruby, ia menariknya paksa pergi dari ruang rawat Alan.


Pria misterius mengenakan topi nyaris menutupi mata lengkap dengan masker hitam yang sejak tadi mendengarkan segala percekcokan mereka dari sisi pintu ruangan pun kini akhirnya bergegas beranjak dari tempatnya saat mengetahui tanda-tanda Athala dan Ruby hendak akan keluar dari ruangan.


Sembari kakinya terus berayun, ia kemudian menghubungi seseorang. "Hallo Tuan? kau kemana saja? kenapa nekat bertindak sendirian? seharusnya kau memerintahkan saja pada kami, kami akan siap melaksanakan." Terdengar suara tegas dari seberang sana usai panggilan terhubung.


"No, aku mau mengawasi adikku secara langsung tanpa perantara orang lain. Dan aku ingin memberimu tugas untuk sekarang, Chris."


"Apa Tuan? sebutkan akan segera saya direalisasikan."


"Cari tahu perusahaan apa yang diinvestasikan oleh perusahaan Ragaswara."


"Baik Tuan. Hanya itu?"


"Yes."


Tut..Tut..Tut..


Zeal memutuskan panggilan setelah memberi perintah, ia mengantongi kembali ponselnya dengan senyum smirk tercetak di wajah, "Berani menghina latar belakang Adik kesayanganku, huh? itu sama dengan merendahkan keluarga Levarendo. Lihat saja, perusahaan kalian gak akan selamat dalam hitungan menit kedepan. Siap-siap, gulung tikar." Ia berjalan terburu-buru keluar dari gedung rumah sakit, ia harus cepat agar tak ketahuan.


Dengan lemah, Alan mencoba melirik kearah pintu begitu telinganya mendengar suara Gadis yang dicintainya, kini pandangannya sudah mulai jernih, dapat ia saksikan Ruby yang diseret paksa oleh Athala lalu figur mereka menghilang dibalik pintu.


Kedua matanya redup, Alan berusaha mengangkat tangannya walau amat rapuh, ia meringis kesakitan saat digerakkan sedikit saja tubuhnya terasa remuk redam.


"R-Ruy.." Alan menggumam lirih.


****