My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.BONCHAP 05 : BERITA BURUK



Hari ini sekolah taman kanak-kanak ditempat Calix menempuh pendidikan, gempar akan perkelahian antara Calix dan salah satu murid disana, mereka saling menjambak rambut, mencakar, menendang bahkan meninju tak luput dari jurus mereka gunakan. Yang lainnya bukannya melerai, yang ada mereka menyorak-nyoraki menikmati tontonan aksi didepan mata mereka.


Sebagian kelompok ada yang mendukung Calix dan ada juga dipihak lawan Calix, bocah kecil sebaya dengan Calix. Brian namanya. Berbagai macam permainan anak-anak yang terletak diatas meja telah jatuh berserakan dilantai. "Calix! Calix! Calix!"


"Brian! Brian! Brian!


"Hentikan! Ya ampun!!" Guru yang bernama Rahmat berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka lalu memisahkan mereka berdua. Ia mengacungkan kayu yang berukuran cukup panjang. Ia menggulirkan benda itu menuju Calix lalu Brian secara bergantian. "Apa-apaan kalian hah?! Masih kecil sudah berkelahi seperti ini? Mau jadi apa kalian?"


"Dia yang mulai duluan Pak! Calix hanya membela dili!"


"Diam Calix! Tidak ada yang benar disini. Kalian sama-sama salah karena sudah berseteru dilingkungan sekolah. Sekarang, kalian harus keruang Guru, saya akan memanggil orang tua kalian!"


*****


Kaki yang terbalut sepatu pantofel berwarna hitam mengkilap terlihat mencolok, tidak lama menyusulah seluruh wujudnya dari mobil berjenis tesla tersebut. Orang-orang tua yang datang, menunggu anak mereka pulang, tertarik kearahnya, mereka menatapnya penuh takjup melihat style juga gayanya yang sangat arogan.


Dengan dagu yang sedikit terangkat, kacamata hitam yang bertenggar sempurna dihidungnya kemudian membenamkan kedua tangannya disaku celana, ia melangkah masuk kedalam sebuah bangunan tunggal yang memiliki luas cukup besar. Athala baru saja mendapat panggilan dari sekolah bahwa Calix menciptakan kasus disini.


"Apa lagi yang diperbuat oleh anak bandel itu..?" Gumamnya merasa frustasi. Ia menurunkan kacamatanya. Bulan ini, tidak hanya satu sampai dua kali ia dipanggil oleh Guru, kadang ia tak habis pikir, anak sekecil itu sudah banyak menciptakan keributan, apa lagi jika besar nanti?


Entah sikapnya menurun dari siapa. Ruby terkenal kedisiplinannya walau skor nilainya seringkali dibawah KKM. Sedangkan dirinya, terkenal sosok pembuat onarnya, namun ahli disegala bidang. Jika digabungkan--sepertinya karakternya campuran dari mereka berdua.


Ceklek..


"Aigoo.. saya tak menyangka Anda benar-benar datang lagi kali ini.." Sambut Rahmat. Siapa yang tak kenal Athalariq Gentala Ragaswara? Pengusaha tersohor seasia. Tentu Rahmat tak akan ketinggalan berita. Ia segan pada Athala.


"Papi? Mami mana?"


"Mamimu lagi kerja."


"Kekacauan apalagi yang diperbuat anak ini?" Yang dimaksud oleh Athala tidak lain adalah Calix. Putranya sendiri. Ia menunjuknya dengan dagu, bertanya pada Pak Rahmat.


"Itu--tadi--Calix berkelahi dengan temannya yang disampingnya ini." Tatapan Athala teralih kearah Brian yang sedang duduk berdampingan dengan Calix.


"Sebentar lagi, mungkin--"


Brakk!!


Daun pintu ruangan Guru dibuka dengan segenap energi dari luar, seorang Wanita berbadan gempal, Ani namanya. "Astaga! Siapa yang berani-beraninya melukai anakku?!" Tante-tante yang kelihatan rempong itu bergegas menghampiri putranya.


"Katakan, siapa yang beraninya melukai anak kesayangan Mama ini?!"


"Itu mah! Si calix! Dia melukai aku, mah.." Seketika Ani mengikuti arah telunjuk Brian.


"Oh.. jadi ini.. berani-beraninya kau melukai anakku!!" Telapak tangannya memukul sisi kepala Calix.


Calix mengusap kepalanya yang kena tabokan sambil melayangkan tatapan tidak terima. "Anak Ibu yang cali masalah duluan! Masa dia hina saya sebagai anak halam! Padahal saya sudah punya Papi! Bahkan Papi yang belkuasa!"


Satu gepok uang cash dilempar oleh Athala keatas meja, Ani tidak terlalu memperhatikan tadi, saking khawatirnya dengan Putranya. Ia tidak menyadari ternyata ada lelaki yang kelihatan berkharisma di ruangan ini. "Jangan sakiti anak saya, sebagai gantinya saya memberimu tips, sebagai biaya untuk berobat anak anda."


Ani menegakkan badan lalu menghunuskan tatapan tidak terimanya. Lelaki ini kelihatan arogan. Ia berkacak pinggang. Iya, ia akui wajahnya tidak asing, seperti pernah ia lihat di televisi, tapi perangainya membuatnya tak senang. "Heh, anda kira kesehatan anak saya, bisa dibayar dengan uang?! Saya bisa membawa dia berobat dengan uang saya sendiri tanpa bantuan dari anda."


"Baiklah kalau begitu jangan sakiti anak saya, biarkan masalah anak saya dan anak anda berlalu. Itu hanyalah perkelahian antara anak kecil, tidak ada hubungannya dengan orang tua."


Diraihnya uang yang dilemparkan oleh Athala tadi. "Wah enak saja! Ini bukan masalah sepele! Anda lihat muka anak saya, babak belur dan penuh luka cakaran. Anda kira, yang begitu bisa diremehkan?" Ani mengacungkan uang segepok tersebut pada Athala. "Kalau bisa jujur, uang yang anda kasih ini tidak cukup untuk membiayai anak saya."


"Bukan hanya anak anda, anak saya juga luka akibat anak anda. Apalagi sesuai dari yang anak saya katakan, dari anak anda yang memprovokasi duluan. Kalau saya menuntut, apakah anda bisa membayar pengobatan lukanya? Tapi maaf, saya tidak butuh, uang saya terlalu menumpuk untuk mengemis uang dari orang seperti anda."


"Songong banget anda. Kalau memang anda kaya, kenapa memberi hanya segepok?"


Terdengar decakan sebal dari mulut Athala, benar-benar deh, ia dibuat naik darah gara-gara nih Tante gendut. "Ck, morotin nih tante-tante. Kala--"


Drrttt...Drrrrt...Drrrtt....


Perkataan yang hendak keluar dari mulut Athala terurung kembali pada tenggorokan akibat getaran ponsel disakunya, "Bentar. Saya angkat telepon dulu." Tak mempedulikan Ibu-Ibu yang sekarang sedang menggerutu, Athala ke pojok untuk mengangkat panggilan.


...My Little Wife...


Timbul sedikit kerutan pada dahi Athala, "Ruby?" Gumamnya heran. Tumben-tumben, Ruby menghubunginya saat ia ditempat kerja. Setelah itu, tanpa pikir lebih banyak lagi, ia lekas menggeser keicon hijau.


"Hallo babe.. ada ap--"


"Apakah ini benar suami dr Ruby?"


Kening Athala mengernyit heran. Pasalnya kedengarannya suara perempuan diseberang sana terdengar asing sekali. Bukan, ini bukan suara Istrinya. Terlebih lagi dengan kalimatnya. "Iya, ini siapa ya?"


"Salah satu perawat yang menemani dr Ruby bertugas. Saya minjam hp Istri Bapak mau ngasih kabar kepada Bapak kalau Istri Bapak jatuh pingsan saat bertugas. Dari pagi kondisinya gak stabil. Kami sudah mengingatkan untuk istirahat, tapi dia ngotot--"


Tut..Tut..Tut..


Belum juga tuntas perkataan orang diseberang sana, Athala telah memutuskan panggilan secara sepihak, ia tiba-tiba dilanda kecemasan mendengar berita buruk mengenai Istrinya, "Kalau itu belum cukup, berapa yang anda mau, sebut? Kemariin saja nomor rekening anda. Nanti saya transfer segera."


"Sekarang saya tidak memiliki waktu lebih banyak. Saya harus pergi ke rumah sakit." Imbuhnya pada Bu Ani.


"Papi ngapain kelumah sakit? Papi sakit?"


Tidak berminat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Calix Athala menoleh kearah Pak Rahmat. "Anak-anak sudah boleh pulang gak Pak? Soalnya saya mau membawa Calix bersama saya."


"Oh iya boleh. Kebetulan memang anak-anak sudah pulang, hanya saja, anak Bapak dan anak Ibu ini membuat kekacauan. Jadi pulangnya, sedikit tertunda."


"Makasih Pak." Mengabaikan Ani yang sedang misuh-misuh tak jelas, Athala menarik pergelangan tangan Calix dengan gerakan terkesan buru-buru. "Ayo Calix kita harus segera kerumah sakit. Papa dapat info dari sana, Mami kamu pingsan."


*****