
"Eh, Ruby? gimana? lo udah ketemu sama Athala belum?"
Reygan iseng-iseng bertanya pada Ruby sesaat Wanita itu hendak melaluinya, tapi dia tidak mendapat respon sama sekali, Ruby melintasinya begitu saja tanpa sepatah kata.
Mengangkat bahunya sekilas, Reygan pun meneruskan langkahnya menuju tujuan awalnya. Tadi, ada satu hal yang membuat Reygan salah fokus, dia menangkap wajah murung juga mata Ruby yang bengkak dan memerah, mungkinkah Athala membuatnya menangis.
Reygan memasuki ruangan Athala tanpa mengetuk terlebih dahulu, "Tha, apa yang lo lakuin dengan tuh cewek, lo buat dia nangis?"
"Biarlah, dia sudah keterlaluan mengaku-ngaku memiliki anak dari gue, memang sejak kapan gue membuat anak dengannya? Bukannya itu gak masuk akal? Dasar Wanita murahan! mau-mau aja diajak orang buat anak diluar pernikahan! mungkin, itu anak lelaki lain, tapi minta pertanggung jawaban sama gue."
"Lalu bagaimana kalau itu memang anak lo?"
"Apa urusannya sama gue? sekalipun anak itu memang darah daging gue, jangan harap gue bakal menganggapnya sebagai Anak gue! pernikahan gue dan Cia tinggal beberapa hari lagi, gue bisa bikin anak lain dengan dia."
"Yakin?" Reygan tidak yakin dengan itu, karena setahunya, meskipun Athala mengalami amnesia, dia masih sama saja dengan yang dulu, impoten. Dengan kata lain, tidak memiliki gairah seksual terhadap cewek-cewek manapun.
"Gue akan usaha, sekarang mungkin gue masih gak bisa melakukan kontak fisik dengannya tapi kalo kami udah lama hidup bersama, menghabiskan waktu bersama, nanti gue akan segera terbiasa dan bisa beradaptasi dengannya."
"Lo--yakin dengan keputusan lo Tha? gue peringatin ke lo, nanti kalo ingatan lo balik, gue bisa jamin, lo bakal menyesali semuanya. Perempuan yang selalu lo tolak itu, begitu berharga dihidup lo dulu."
"Dulu Rey bukan masa kini.. gue yakin walaupun ingatan gue pulih, gue tetap akan mencintai Cia, selamanya tetap dia. Wanita sebaik Cia, Pria mana yang gak akan menyukainya? bahkan gue cacat sekalipun dia masih setia disisi gue."
Reygan menghela napas kasar, dia sudah lelah memperingati manusia yang satu ini, "Serah lu dah! gue mana-mana aja, toh bukan gue juga yang menyesal nantinya."
****
Ruby terisak sesenggukan, perkataan Athala masih terngiang-ngiang di otaknya, dia menyatukan kembali foto Calix yang dirobek-robek Athala dengan perekat, sesekali barang itu terjatuh saat dia tidak sengaja menjatuhkannya, tangannya bergetar hebat.
"Sudah Mih.. gak usah disatukan kembali, cuma foto juga, Calix bisa ambil potletan yang banyak lagi lalu dikoleksi lagi kealbum foto.."
Calix dari tadi duduk di sisi Maminya, mencoba menenangkan dan menghiburnya, bahkan tangan kecilnya menepuk-nepuk punggung Ruby, tapi dia hanya dianggap angin lalu oleh Sang Mami.
"Jangan nangis telus Mih.." Calix tidak tahu apa yang membuat Maminya menangis seperti ini. Calix hanya mencoba menenangkannya sebisanya. Dia, ikut sedih melihat Maminya sedih begini.
Ruby akhirnya menoleh pada Calix, dia membawa anak kecil itu kedalam pelukannya dengan tangis yang kian menjadi.
"Maafin Mami.. maaf, Mami gagal.. Mami gagal bawa Papi kembali.. dia, sudah membuang kita Calix.. dia mencampakkan kita.." Ruby merasa bersalah, Putranya ini jelas kecewa karena dia tidak berhasil membawa kembali Papinya yang sudah dia harapkan dari dulu.
Jadi yang menjadi penyebab Maminya menangis karena Papi? pikir Calix. "Gak apa-apa Mih.. sekalang Calix gak butuh Papi lagi, Calix cuma mau Mami gak sedih.."
"Calix ikut Mami ya? Papa kamu udah gak menginginkan kita, kita akan pergi jauh, menemui Grandma dan Grandpa." Ruby sudah membulatkan tekad, bahwa dia telah membuat pungkasan untuk kembali ke negara asalnya, yaitu Australia.
Calix mengangguk kecil. "Calix akan ikut sama Mami kemana saja.."
*****