My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.MEMBESUK



Jika tidak mengingat waktu yang sudah menunjukan tengah malam hingga nyaris dini hari Ruby akan pergi menjenguk Alan, raga Ruby tengah tiduran tetapi jiwanya terbang ke mana-mana, keinginan-nya mengunjungi rumah sakit untuk membesuk Alan sangat lah besar.


Tubuhnya hanya bolak-balik tidak tenang untuk memasuki dunia bawah sadar. Takut kehilangan selalu menghantui dirinya kala menutup mata. Sepertinya, untuk saat ini ia benar-benar tidak bisa tidur akibat terus overthinking mengenai kondisi Alan sepanjang malam.


Waktu berjalan begitu cepat hingga tidak terasa malam pun pergi dan tiba lah waktu pagi di mana banyak orang-orang yang memulai aktivitas.


Ruby memperhatikan penampilannya yang sudah lengkap dengan seragam sekolah di pantulan cermin setelah sebelumnya melaksanakan ritual pagi, meneliti matanya yang sudah persis mata panda, hitam melingkari netranya. Belum lagi bengkak karena begadang dan menangis, Ruby merasa matanya sedikit sakit dan perih.


Tapi, bukan itulah yang menjadi kepentingan untuk sekarang, Ruby segera pergi dari kostnya menuju rumah sakit tempat Alan di rawat. Sengaja Ruby berangkat pagi sekali, sekaligus ingin menyambangi rumah sakit.


Hanya memakan waktu selama delapan menit, Ruby sampai di rumah sakit, ia mampir dulu ke bagian resepsionis untuk menanyakan kamar rawat Alan, dan setelah sudah tahu di mana tempatnya ia berlarian dengan ling-lung mencari kamar rawat Alan.


Setibanya di sana, ada sekitar puluhan orang dengan penampilan urak-urakkan, celana jeans di variasi sobek-sobek bagian lutut lengkap dengan jaket seragam kebanggaan tercantum merek Vagos di lobby rumah sakit, ada yang hanya berdiri, separuhnya lagi duduk di kursi tunggu berdiam diri.


Ruby yakin mereka teman satu Geng Alan, walau tidak kenal, Ruby berbicara dengan mereka karena cemas dengan keadaan Alan, "Gimana kondisi Alan?!!" tanyanya dengan napas tersenggal-senggal, ia membungkuk menumpukkan tangannya di lutut.


Atensi semua mereka yang ada di sana teralih ke arahnya, yang bernama Alexander kerap di panggil Alex dengan ciri-ciri rambut sebahu terkuncir kuda itu bangkit berdiri, dari raut wajahnya sudah tidak bersahabat melihat kedatangan Ruby yang menegakkan tubuhnya sehabis menata napas.


Belum juga napasnya optimal total, kakinya terjinjit ketika Alex menarik kerah bajunya lancang, menggunakan dua tangannya ia cengkram kuat di baju seragam Ruby, menghunuskan tatapan nyalangnya kepada Ruby yang merasa takut sekaligus loading, masih mencoba menela'ah situasi di waktu bersamaan.


Seluruh cowok-cowok yang sedang duduk sontak berdiri melihat hal tersebut, banyak saksi mata itu terkejut melihat tindakan Alex yang benar-benar jauh di luar dugaan.


"Lo kan? penyebab Alan koma?!!"


"Apa?" otak Ruby di buat tumpul, apa maksud lelaki ini? pikirnya.


"Karena khawatir nyariin elo hingga membuat Alan kecelakaan!!" Bentaknya dengan suara meninggi, Ruby memejamkan matanya kuat mendapat hardikan itu.


"Kenapa lo malah nyalain dia?!!" sentak Elang memihak Ruby.


"Dia! dia lah penyebab Alan kecelakaan!!" jari telunjuk Alex melayang menunjuk Ruby yang tengah bergetar ketakutan, padahal ia tidak tahu menahu apa pun, tapi cowok ini justru melemparkan segala kesalahan kepadanya.


Kini giliran Elang yang mencengkram jaket Alex di bagian dada, mereka saling membidikkan tatapan menusuk hingga membuat suasana terasa begitu mencekam, "Itu bukan kesalahan dia! ini musibah Lex musibah!! gak seharusnya lo salahin insiden kecelakaan yang di alami oleh Alan ke dia!!"


"Tapi kalo dia gak buru-buru nyari tuh cewek, dia gak bakal kecelakaan Lang!!!"


Gatra yang sudah menghampiri Ruby yang tengah menangis lantas mengusap-ngusap bahu Ruby guna menenangkan, "Jangan di ambil hati, Alex memang gitu, tempramental nya memang buruk dari sananya jadi mudah tersulut emosi."


Ruby mendongak melihat cowok yang berperawakan tinggi semampai tengah berdiri di sisinya, pandangannya lurus ke arah Elang dan Alex tanpa melirik sedikit pun ke padanya tetapi masi memberinya ketenangan melalui usapan di bahunya, vibes lelaki ini jauh berbeda dari lelaki yang tengah bertengkar dengan Elang, hangat dan baik.


"Bukan hanya lo doang yang hancur Lex! dia! yang notabenya kesayangan Alan pasti sedih bahkan melebihi lo! kita-kita di sini juga gak kalah hancur!!" sarkas Elang memberi Alex hidayah. Walau Elang tahu Alan pernah mengkhianati Ruby tapi ia juga yang paling tahu sebesar apa cinta dan rasa sayang Alan ke Ruby, tidak bisa hanya di gambarkan dengan kata-kata.


Alex melepas kasar cengkraman Elang di jaketnya hingga terurai. "Arghhh" erangnya frustasi.


BUGHHH


Tinju Alex melayang di dinding terdekat, napasnya memberat dengan bahu yang bergetar, ia terisak pelan berusaha agar tidak terlalu menunjukkan kelemahan di depan mata rekan-rekannya. Benteng yang ia bangun untuk tetap terlihat tegar itu pada akhirnya runtuh juga.


Jika di hari-harinya mereka akan tertawa melihat laki-laki menangis, kali ini mereka terlihat jatuh ke dalam lubang terdalam, semuanya terpukul karena musibah yang menimpa, membuat wakil ketua mereka koma.


"Gua hanya takut kehilangan.. selama ini kita selalu bersama, kita lengkap dan gue takut ada salah satu dari kita yang hilang.." lirih Alex, yang lain hanya bisa merunduk berduka, apa yang di katakan oleh Alex mewakili gundah hati dalam diri mereka.


TBC.