My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.ATHALA JUNIOR



Dengan gesitnya Athala mengangkat Ruby dan mengangkutnya ke tempat tidur layaknya karung beras, Ruby di buat memekik karena itu, "Turunin!!!" tubuhnya meronta-ronta melakukan perlawanan, tangannya sibuk memukul-mukul punggung Athala yang tidak ada pengaruh sama sekali.


Bugh


Jika saja benda di bawanya adalah beton, bisa di jamin punggung Ruby akan patah, untunglah hanya spring bed yang empuk sekali. Ruby ingin sekali bangkit kembali namun Athala menindih tubuhnya, menjebak Ruby dalam kurungan yang Athala buat, kedua tangan Athala terletak di samping kiri-kanan Ruby.


Ruby jadi was-was ketika wajah Athala mengikis jarak antara mereka, spontan Ruby menutup mata seraya berpaling enggan menatap Athala dari yang jarak dekat. Bibirnya terlipat ke dalam seolah melarang Athala untuk membubuhkan ciuman di sana.


Cup


Kecupan singkat menyentuh pipinya, Ruby membuka mata, alhasil tatapan mereka nyaris menjuling karena bertemu dalam jarak yang dekat.


Glek


Ruby menelan ludah kasar, antara terintimidasi dan panik di saat yang bersamaan kala menyusuri mata tajam itu. Gerakan manik mata Ruby turun mengikuti punggung jari telunjuk Athala yang membelai dengan gemulai permukaan pipinya.


"Patuh. Maka lo akan gue perlakuin dengan lembut." tekannya, layaknya sihir mampu mengendalikan Ruby yang mati kutu. Athala menggunakan peluang merendahkan wajah menarget bagian indera paling sensitif pada Ruby, daun telinga.


Bulu kuduk Ruby meremang, jiwanya seolah melayang ke awan-awan merasakan sensasi gigi Athala mengigit kecil telinganya. "Ah.."


Reflek Ruby membekap mulutnya yang mengeluarkan suara cabul, di balik itu ia meringis merutuki dirinya sendiri, lalu dirinya diinterupsi oleh kekehan serak Athala yang terdengar persis di sebelah telinganya.


Tanpa aba-aba tangannya menggelayap kepaha, menyingkap dan menelusup masuk rok abu-abu selutut tersebut. "Jangan di tahan Babe.. percayalah, suara me*sum lo lebih merdu dari pada melodi musik.." bisiknya lalu Ruby terhanyut oleh desiran angin menerpa telinganya yang berasal dari tiupan mulut Athala. Ternyata hal itu berhasil melumpuhkan akal sehat Ruby.


***


Malam harinya, kedua insan itu masih terlelap dampak dari tiga jam bergempur hebat, masing-masing lelah satu sama lain. Terutama Ruby, gadis yang telah menjadi wanita untuk Athala sejak malam kelam itu masih nyenyak tidur di pelukan Athala menggunakan lengan kekar Pria itu sebagai bantal.


Hingga kemudian ketukan dari luar sedikit mengusik tidur Athala, tidak bagi Ruby yang malah bergerak semakin menyamankan posisinya pada dekapan Athala yang menggeliat kecil. Kelopak matanya terbuka perlahan demi perlahan, ia meraba-raba nakas dan menyalakan lampu tidur.


"Tuan, kiriman barang telah tiba dan sudah di siapkan." ujar pelayan lalu mengetuk yang kesekian kali.


Sembari menguap, ia mengais celana boxer untuk di kenakan dan tidak lupa memakai pakaian yang lengkap. Athala membuka pintu kamar, terlihat Rabia dan tiga pelayan berdiri di depan pintu, salah seorang dari mereka sambil memegang sebuah pegangan stand hanger yang tergantung beraneka ragam pakaian wanita yang terlihat berlebihan untuk di pakai di rumah saja.


"Masih ada yang di perlukan? atau kami bisa membantu wanita di dalam sana bersih-bersih?"


"Tidak. Dia sedang tidur. Sini, serahin sama saya saja." Athala mengambil alih tempat gantungan itu dan masuk kembali ke dalam seraya mendorong benda itu.


"Pasti tuan habis ***-***." Salah satu dari mereka cekikikan.


"Gak lama lagi rumah ini bakal akan ada anak kecil yang imut-imut."


"Jadi gak sabar deh liat Athala junior. Ayahnya saja ganteng, apa lagi anaknya nanti."


Mereka asik bergosip di depan pintu dengan antusias, tidak menyadari jika itu dapat terdengar ke dalam sana.


"Kalo kalian masih berbicara yang macem-macem. Siap-siap gajian kalian gue potong!" Gertak Athala dari dalam. Tentu mereka langsung panik, dengan kelimpungan mereka beranjak pergi sambil saling menyalahkan.


"Kamu sih!"


"Ih kok jadi aku? kan kamu yang mulai gibahnya."


"Sudah-sudah! mending kita lanjut menyiapkan makan malam."


***