
"Selamat sore...Papi, pulang.."
"Papi?!" Calix berlarian kecil menghampiri papinya yang baru pulang dari daru kantor, setelan jas formal masih membalut sempurna tubuh atletisnya. Ia juga menggenggam tas kerja.
Tampilan wajah tegas dan rupawan nya sudah menafsirkan sebuah keletihan disana, tapi rasa lelahnya seakan sirna begitu melihat salah satu keluarganya menyambut dirinya ketika baru memasuki mansion megah ini. Ia sengaja pulang cepat hanya karena ingin segera melihat keadaan keluarga kecilnya, Istrinya, Calix dan calon debay mereka.
Athala mengangkat putranya dilengan lalu membawanya memutar berkeliling diudara. "Calix kangen sama Papi?" Calix tertawa-tawa dibuatnya, Papinya memang menyebalkan, namun juga penuh kasih sayang disaat yang sama. Calix juga sering merindukan Papinya sewaktu-waktu ia pergi kerja walau dalam waktu yang terbilang singkat sekalipun.
"Hahaha tulunin Calix pih!...Calix pusing.." Athala pun terkekeh, ia mencium kening Putranya sengaja menjahilinya lebih tepatnya, ia paling tahu apa yang dapat membuat Calix jijik, yaitu kecupan dari sesama jenis.
"Iyuhh!! Calix dicium sama lalat..." Calix yang kini sudah diturunkan Athala, menyeka dahinya dengan kasar, ibarat ingin sekali menghapus kotoran disana.
"Heh! Berani-beraninya kamu sebut Papi sendiri sebagai lalat?!"
"Bial! Siapa suluh sembalang cium-cium Calix, hih! Calix kesel tahu gak! Udah dibilang dari awal kalo Calix udah gede, gak mau lagi dicium-cium segala! Apalagi sama Papi!" Mau muntah saja ia rasanya.
"Eleh...kalo sama Mami pasti mau.."
Kedua tangan Calix mendarat dipinggang. "Iyalah! Emang kenapa? Mami Calix sendiri, masalah?!"
"Oh, masalah besar tentunya! Soalnya Mami Calix adalah Istri tercinta Papi!" Dagu terangkat, Ibu jarinya menunjuk dirinya sendiri merasa bangga memiliki Istri paling cantik di dunia, menurutnya.
Berbicara mengenai Ruby, ngomong-ngomong Istri kemana? Dari tadi tak kelihatan batang hidungnya, pandangan Athala berkelana kemana-mana mencari sosok Istri kesayangannya dipenjuru ruangan utama.
Setahunya Ruby mengambil cuti selama masa kehamilannya berlangsung, tapi mengapa ia tak disambut sama sekali? "Btw, Istri Papi mana?"
"Papi nanyeak?! Papi bertanyeak-tanyeak?!nih Calix kasih tahu ya, Mami lagi tidur disofa luang kelualga.."
Athala dan Calix berjalan beriringan menuju ruang keluarga, "Adik kamu rewel gak? Atau paling enggak, ada sesuatu yang dia mau selama Papi gak ada?" Tanya Athala pada sang Putra.
"Enggak sih. Cuma, tadi siang, Mami muntah-muntah.."
Sambil melonggarkan dasi yang bertenggar dikerahnya, Athala mengangguk-anggukkan kepala, bukan hal yang aneh lagi, rata-rata wanita yang mengandung akan mengalami gejala demikian. Kalau bisa, sebaiknya dia saja yang menanggungnya lagi. Jangan Istrinya.
Setibanya diruang keluarga, Athala meletakkan tas hitamnya diatas meja sebelum berjongkok dihadapan Ruby yang sedang tertidur pulas diatas sofa bulat seraya menggenggam sebuah artikel. Ia menatapnya teduh, tangannya lantas mengelus perut Istrinya yang masih datar, setelahnya ia mencium perut yang terlapisi dengan kain baju yang dikenakan Ruby.
Ia menjauhkan wajahnya usai melabuhkan kecupan. "Hai baby..? Gimana kabarmu hari ini? Kamu gak nyusahin Mami kan?"
Ruby menggeliat kecil, sedikit terusik. Kelopak matanya terbuka, menyipit menyesuaikan cahaya di ruangan tersebut, entah sedari kapan ia tertidur. Ia mengucek-ngucek matanya yang sayu. "Atha.. dari kapan kamu pulang?"
Belum langsung menjawab, Athala mengecup pelipis Ruby lebih dulu. "Barusan. Aku belum lama sampai, ini saja aku masih pakai baju kerja." Ruby menguap lebar, ia meregangkan otot-otot tubuhnya.
"Kenapa tidur disini hmm? Gak pegal badannya dengan posisi begini?"
"Aku ketiduran... Ngantuk banget soalnya.."
"Baby sudah dikasih makan?" Imbuh Athala lagi, Ruby memberengut.
"Baby-nya doang yang ditanya, Maminya gak ditanya nih?"
"Tahu tuh Mih! Papi pilih kasih huu!!" Calix bersorak sengaja mengompori, mendapat pelototan tajam dari sang Papi.
"Bocil diem aja lu!"
Plak!
Geplakan yang cukup menyakitkan menghantam dibibir seksi Athala, "Lah, sayang.. kok bibir aku dipukul sih? Ntar kalo cacat, aku pake apa buat nyium kamu..?"
"Masa bicara sama anak sendiri pake lu? Kamu mau ngajarin anak kita yang enggak-enggak hah? Biar dia ketularan sesat kaya kamu?!"
Athala mati kutu. Raut wajahnya berubah menjadi memelas, ia takut kalau Ruby sudah marah-marah begini, bawaannya jadi pengen nangis. Tangannya yang berada dipangkuan Ruby ia mainkan menyalurkan rasa gelisah. "Jangan marah.. reflek tadi, habisnya, Calix nyebelin By.."
Menghela napas kasar, "Malam ini, gak mau tahu, pokoknya kamu tidur diluar!" Pungkasnya. Ruby akhirnya memilih bangkit. Kalang kabut Athala pun berdiri menyusulnya menuju undakan tangga. Apapun yang terjadi ia harus berhasil membujuknya, tak bisa dibayangkan jika malam ini ia tidur diluar.
"Jangan ngambek dong sayang.. masa gitu doang marah? Kamu tega biarin aku tidur diluar? Nanti aku kedinginan, gak bisa tidur tanpa kamu sama baby.." Athala mencoba untuk bernegosiasi baik-baik.
*****
Keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit setengah tubuhnya, bagaikan gerimis, air terpercik kemana-mana saat Athala mengacak-ngacak surai hitamnya yang masih basah akan air.
Ia celingukan kanan-kiri menguliti penjuru bilik kamar, kosong. Tak ada orang lain selain dirinya didalam ini, perasaan sebelum mandi, tadi Istrinya ada di ranjang memainkan ponsel, "Ruby..? Kamu dimana sayang..?"
"Eumm.."
Jantung Athala serasa akan meloncat dari tempatnya berada mendengar sayup-sayup suara dari balkon, ia sontak berlari kesana, mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, Ruby nyaris saja terjun dari sana dengan dalih keinginan calon bayi mereka.
"Ruby?!!"
"Eumm??" Ruby menoleh, dibawah sana kedua kakinya berayun-ayun, sudut bibirnya belepotan, dihiasi remahan bumbu snack yang sedang ia santap, ia tengah duduk dikursi balkon tak seperti apa yang dipikirkan olehnya. Bahu Athala merosot lega, ia menghembuskan napas panjang.
"Ada apa Atha..?"
Athala menarik satu kursi lagi, tepat berada di posisi depan Ruby lantas mendudukkan dirinya, ia menggenggam sebelah tangan Ruby, bahkan detik ini tangannya masih gemetaran, ia meletakkan punggung tangan mungil Ruby didahinya. "Kamu ini... Suka bener buat aku panik.."
Intonasi suaranya terdengar bergetar. Ia bahkan belum memakai baju, masih mengenakan handuk dari kamar mandi.
"Emang aku ngapain..? Aku disini cuma mau ngemil sambil nyari udara segar.."
Athala mengelus pucuk kepalanya, "Tapi disini dingin sayang.. gak baik buat kesehatan kamu dan baby.. kalo kamu masuk angin gimana? Nanti berdampak juga sama calon bayi kita.. mending kita masuk ya?"
Ruby menggeleng-geleng kekeuh, seraya melambaikan jari telunjuk. "No, no, no... Aku maunya disini, di dalem bosan." Sekali lagi, Athala membuang napas, tapi kali ini lebih ringan dari yang sebelumnya.
"Yaudah, kamu tunggu disini bentar yaa.." Athala beranjak dari balkon memasuki kamar, kurang lebih dari dua menit, ia kembali lagi kepada Ruby dengan sebuah mantel panjang yang ia bawa.
"Berdiri bentar, Ruby.." Tahu apa yang akan dilakukan oleh Athala padanya, ia meletakkan makanan ringan ditangannya keatas meja lalu berikutnya ia berdiri sesuai pinta Athala, seperti dugaan Ruby, ia memasangkan mantel pada pada tubuhnya.
"Biar gak masuk angin.."
Dengan semangat sebelas dua belas, Ruby mengalunkan tangan dilehernya sehingga sekarang ia memeluk Athala dileher sebagai hadiah. "Makasih Suami.."
Bibir Athala menekan dipermukaan rambut Ruby yang mengeluarkan aroma sampo yang wangi. "Sama-sama Istri.." gumamnya.
Ruby melepas rengkuhannya lalu meraih camilan diatas meja, diwaktu yang sama, Athala duduk kembali ditempatnya semula, ia menepuk-nepuk pahanya memberi isyarat untuk Ruby duduk di pangkuannya. "Duduk sini."
Seperti penitahan Athala, Ruby duduk di pangkuannya, ia menyandarkan sisi kepalanya didada bidang Suaminya manja, sementara itu, Athala mengusap-ngusap kepalanya lembut sembari memperhatikan Ruby yang sedang melahap makanan.
Ruby mendongak, menyodorkan makanan ringan ditangannya, "Atha mau?" Athala menangkup sebelah pipinya dan menunduk, yang ia mangsa bukanlah makanan, tapi bibir Ruby.
Pertama-tama baru menempel tapi sedetik kemudian, ia menambah lumaatan lembut hingga mengakhirinya dengan jilatan, snack ditangannya nyaris saja jatuh ketika lidah Athala menyapu bibirnya hingga meliputi pada sudut mulutnya sebelum mengangkat wajahnya.
Athala mengusap bibir Istrinya yang basah akan salivanya dengan jempol, ia menyeringai. "Enakan ini." Celetuknya membuat kedua pipi Ruby ngeblush.
"Atha...kalo mau cium itu, aba-aba dulu.. jantung aku mau meledak tahu.." Kekehan lucu terdengar dari Athala.
"Cium doang udah deg-degan.. perasaan kita udah melakukan hal-hal yang lebih, bahkan anak kita udah mau dua, masa cium doang masih tersipu gini, hmm?"
Dengan jahil kedua tangan kekarnya menekan pipi Ruby hingga mulutnya jadi maju satu senti. "Istri siapa sih ini? Gemesin banget, bawaannya pengen terkam terus.."
"Sayangnya sembilan bulan kedepan belum bisa diterkam, puasa dulu yaa Suami.." Ruby menepuk-nepuk pucuk kepala Athala menghiburnya. Malang sekali kelihatannya, satu minggu saja ia sudah merengek sampai jungkir-balik kalau tidak dapat jatah.
"Yahh... Puasanya kelamaan ih... Gak papa sekali-kali jengukin baby ya? Masa sembilan bulan? Mana mampu.." lirihnya sendu.
"No! Kamu mau Baby kenapa-napa?"
Athala menyungut sedih, ia mengangguk pasrah. "Yaudah, sembilan bulan.. asal kalo kamu udah pulih sehabis melahirkan, kasih aku jatah setiap hari sebulan berturut-turut.." ujarnya disambut Ruby dengan mulut menganga tak percaya.
*****