My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.KEBERANGKATAN



Huekk.. huekkk.. huekkk!


Gejala yang dia alami tempo hari itu, kembali kumat di pagi ini, sudah kesekian kali Athala bolak-balik dari bilik kamar ke kamar mandi hanya untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Morning sickness lagi?" Dengan tubuh mati rasa, Athala menjatuhkan bokongnya dipermukaan kasur. Dia mengangguk lesu lalu memeluk tubuh kecil Ruby yang sedang menganggur disampingnya.


"Sulit juga ya kalo jadi orang hamil.. aku aja hanya mengalami morning sickness sudah selemas ini, Wanita memang hebat bisa melalui masa-masa hamil.."


Dagu Athala bertumpu pada bahu Ruby, surai Ruby yang menjuntai kedepan dialihkan oleh Athala kebelakang, semakin mengikis jarak wajahnya dari leher mulus itu, hanya dalam hitungan detik, bibirnya sudah menyentuh permukaan kulit Ruby, tindakan tersebut sontak membuahkan efek samping pada Ruby. Bulu kuduknya dibuat meremang.


"Tha? ngapain sih?" Ruby mencoba mendorong kepala Athala agar menjauh.


"Bentar aja.. nanti kita gak bisa manja-manja kayak gini lagi selama sebulan, jadi aku mau puas-puasin dulu sebelum berangkat.." Athala semakin menyamankan wajahnya, bersembunyi diceruk leher Ruby.


"Dari pada kaya gini, mending kamu mandi, siap-siap berangkat."


"Bentar, babe.. lima menit doang.."


"Oh iya, kamu udah minum susu bumilnya?" Lanjut Athala bertanya.


"Udah tadi, disiapin sama pelayan."


Tangan Athala mulai bekerja meraba-raba perut Ruby. "Kalian baik-baik yah disini.. kamu kalo mau melangsungkan aktivitas jangan terlalu dipaksain kalo memang ngerasa capek.. makan juga yang teratur jangan telat.. inget, ada Dede bayi disini.."


"Iya Atha.. udah tahu kok, aku bukan anak kecil yang makan harus diingetin, kalo aku lapar mah bakal makan. Yang intinya aku tahu cara menjaga kesehatan aku sendiri.."


"Hmm bagus deh.." Athala menegakkan punggungnya, "Aku mau mandi nih. Kamu, gak mandi?"


"Kamu duluan aja, aku belakangan."


Athala tersenyum tengil, "Gimana kalo kita mandi bareng aja? biar sekal--aduh aduh sakit, By.." Dia meringis kesakitan merasakan denyut panas dan nyeri bersamaan ketika Ruby menjewer daun telinganya.


"Tangan kamu kecil-kecil kalo nyubit sakit banget ya.. bener-bener tangan maut.." Athala mengusap-ngusap telinganya yang memerah.


"Makanya, jangan mengada-ngada jadi orang! ngajak-ngajak orang mandi bareng, nanti kalo kebablasan, ujung-ujungnya mandinya bakal berjam-jam! nanti kamu bakal lambat berangkatnya."


Athala tak mengindahkan, Ruby justru dibuat memekik ketika tanpa di duga-duga Athal mengangkat tubuhnya, menyelipkan tangannya di belakang lutut serta punggung Ruby, menggendongnya ala bridal style menuju kamar mandi.


"Nanti aku pesan tiket ulang, kalo telat."


"Ih, turunin Tha! aku gak mau mandi bareng, nanti kamu bakal macem-macem.."


"Enggak, mandi doang, By.."


*****


Suasana ramai bandara memang tak ada habisnya, hiruk-pikuk banyak warga sipil yang berlalu lalang kesana-kemari terdengar bising. Saling bergandengan satu sama lain, Athala dan Ruby berjalan berdampingan, Athala sedang menyeret kopernya yang berukuran cukup besar.


"Cia? udah berapa lama kamu sampe?"


"Belum lama, baru lima menitan kira-kira.." Gracia melirik dua tangan yang saling bertaut tersebut, tanpa disadarinya dia tersenyum miris, padahal dia sudah memantapkan hati untuk tak sakit hati melihat Athala bahagia bersama pilihannya, tapi mengapa? tetap saja dia tak bisa menghindari luka yang menggores di hatinya akibat pemandangan tak mengenakkan seperti ini.


"By, duduk dulu.. kamu gak boleh lama berdiri terus, nanti kakinya kesemutan.." Dengan lembut Athala menuntun Ruby untuk duduk disebelah kanan Gracia lalu setelahnya dia pun turut mengambil tempat duduk disisi Ruby.


Athala meraih tangan Ruby untuk digenggamnya, kedua tangan mereka yang sempat terpisah kini kembali terhubung. Jari jempol Athala tak bisa diam, mengusap-ngusap sisi punggung tangan Ruby. "Gimana perasaan kamu?"


"Hmm gak gimana-gimana, hanya gelisah saja memikirkan sebentar lagi kamu bakal berangkat pergi jauh dari pandanganku."


Kepala Ruby bersandar dibahu Athala, dia merasa nyaman dengan posisi seperti ini, tapi jauh dalam relung hatinya, ada sebuah firasat yang buruk. Entahlah, dia berharap itu hanya perasaannya saja, semoga tak akan ada yang terjadi.


Kepalanya menoleh, menghadap tepat kearah wajah Athala yang menyamping, berhubung kepala Ruby sedang bersandar dibahunya, letak posisi wajah mereka amat dekat bahkan bisa dibilang nyaris tak berjarak, hingga deru napas Ruby pun dapat Athala rasakan menerpa dagunya.


"Kenapa, hm?" Tanya Athala ketika merasakan tatapan mata Ruby sangat lekat.


Ruby menggeleng. "Enggak, cuma mau puas-puasin liat muka kamu aja."


Lain halnya dari mereka yang terlihat bermesraan, Gracia mati-matian menahan sesak dalam dadanya, dia mengeratkan cengkramannya pada koper, 'Tahan Cia, kamu pasti bisa. Demi kebahagiaan Athala..'


Sekitar sepuluh menit dalam situasi yang sama, Ruby yang sedang bersandar di bahu Athala lalu Gracia hanya merenung sambil menyimpan rasa tak nyamannya, tiba-tiba suara panggilan pengumuman maskapai penerbangan menuju London terdengar menggema di penjuru bandara.


Mereka bertiga berdiri secara serentak, "Waktunya sudah tiba, aku berangkat ya.." kepala Athala menunduk lantas mendaratkan ciuman sayang di pucuk kepala Ruby.


"Hati-hati dijalan.."


"He'em.." Athala hanya berdehem sebagai balasan, dia mengusap-ngusap perut Ruby yang masih datar, "Dede.. bantu Papi jaga Mami selama Papi jauh dari kalian.."


Akhirnya Athala kembali memusatkan atensi pada Ruby, dia tersenyum dengan tangan terangkat membelai sebelah pipi Ruby. Dapat Athala tangkap kedua netra indah ini berair.


"Ruby.. tunggu aku pulang ya, tiga puluh hari aja, janji aku bakal pulang dalam waktu itu.. bahkan kalo bisa akan aku usahakan pulang secepatnya.."


Ruby mengangguk. "Aku menunggumu.."


"See you, Ruby.."


Setelah berpamitan dengan Ruby, Athala melangkah pergi bersama Gracia sambil melambai-lambaikan tangannya, begitu pun dengan Ruby yang meladeninya dengan lambaian sebagai bentuk pamit perpisahan.


"SEE YOU ATHA!! AKU AKAN MENUNGGUMU.."


Athala tersenyum simpul mendengar teriakan Ruby, di mata Ruby kali ini hanya ada punggung Athala yang perlahan mulai hilang dilautan orang, lelaki itu tak kembali memutar tubuhnya walau hanya sekedar melihat Ruby lagi, dia takut goyah dan berujung gagal berangkat.


Tangan lentiknya menghapus embun yang menetes tak tertahankan, entah mengapa kepergian Athala kali ini terasa janggal dihatinya, tapi dia sudah berjanji akan pulang sesuai waktu yang sudah ditentukan, Ruby akan memegang janjinya.


*****