
Efek penat seharian beraktivitas di sekolah, jika di hitung dari tadi malam yang kurang tidur, stamina Ruby terkuras karena itu semua. Lihatlah kini, ia tidur nyaman di dada bidang Athala dalam posisi duduk menyamping di pangkuan.
Lengan kekar Athala terasa kebas menyanggah pinggang kecilnya, tapi bisa terobati dengan menatap wajah polos Ruby yang tengah tertidur lelap. Jas formal berwarna hitam tersampir di pundak Ruby yang sedang mendengkur halus di kungkungan Athala.
Suasana hati Athala dapat di ibaratkan bunga-bunga yang lagi bermekaran untuk sekarang, ulas senyum bahagia terbentuk tidak tersadarkan.
"Kayaknya semalem, gadis ini gak tidur."
Perlahan tapi pasti sebelah tangannya yang bebas terangkat, mengais helai rambut Ruby yang mengganggu paras cantiknya dan langkah berikutnya menyelipkan ke belakang telinga gadis kecilnya.
"Wajar sih, kan cowoknya lagi koma."
Reygan yang tengah mengemudi asal ceplos, bagaikan bom yang meledak membakar segalanya tidak menyisakan apa pun, tidak tahu saja jika pernyataannya barusan menimbulkan rasa tidak senang pada jiwa Athala yang kini matanya memancarkan leser nyalang menatap punggung Reygan.
"Kalo lagi nyetir harus fokus, jangan banyak bicara." tekannya tidak suka. Dari balik kaca depan Reygan tangkap jelas aura horor Athala.
"Milik orang loh. Mau jadi perebut pacar orang lo Tha?"
Athala mendengus pelan, Reygan paling bisa merusak suasana hatinya, apa salahnya mengangumi milik orang? "Pacar orang pacar gue juga kan gue juga orang." sahutnya tanpa beban.
"Jangan main-main lo deh Tha. Masih banyak cewek laen yang lebih cantik dan pastinya lebih seksi dan hot ketimbang cewek yang masih SMA yang modal tampang cantik doang."
"Yang jadi kendalanya gue gak ada napsu dengan cewek-cewek di luaran sana. Lo kan tahu, garis keturunan keluarga Ragaswara itu hanya gue yang bernotabe anak tunggal, masa mau berakhir di gue? alasan nikah juga kan buat dapet keturunan. Nah percuma dong nanti gue nikah sama cewek yang cantiknya luar dalem tapi gak dapet keturunan."
"Tapi dengan dia bisa kan?"
"Dia?"
"Iya siapa sih itu namanya mantan lo lalu itu? yang putusnya karena dia pergi keluar negeri?"
"Si Cia?" Athala masih mengingat mantan satu-satunya, gadis yang bisa berdekatan dengan dia juga tanpa mengumatkan alerginya. Muak Athala jika memikirkan dia yang meninggalkannya karena lebih memilih mengejar karirnya di luar negeri dari pada dirinya.
"Nah iya Cia! kan sama dia juga alergi lo gak kumat."
"Tapi tetap saja biar bisa deket-deket gak bisa buat gue ngaceng."
"Jadi, lo mau bilang lo gak bakalan nikah kalo gak dengan tuh cewek yang lagi turu?"
Anggukan pasrah dari Athala sebagai respon. Sebenarnya Athala juga tidak mau seperti ini, tapi keadaan lah yang memaksanya.
Apa boleh buat? meski terkesan terobsesi, tidak peduli mau Ruby bahagia atau tidak di sisinya, Athala akan tetap menjerat Ruby di dalam dunianya. Akan ia jadikan tawanan dan menggenggamnya sekuat yang ia bisa. Ibarat mencekiknya hingga sesak nyaris kehabisan napas pun tidak akan Athala lepas.
Hanya dia lah gadis yang mampu memancing daya hasrat sek*sual-nya. Tidak ada yang lain lagi, catat hanya Ruby!
"Jadi, gimana dengan pacarnya? lo yakin tuh cewek bakal langsung mau sama lo dan mudah melupakan pacarnya? lagian dia juga kan sudah pernah kabur dari perjodohan kalian. Itu berarti dia sudah menolak lo secara gak langsung."
Athala berdecak sebal, lagi dan lagi Reygan membahas pacar Ruby, "Pacar doang kan? selama belum ada ikatan pernikahan apa salahnya menikung? lalu mengenai penolakannya dulu, dia belum pernah lihat gue. Kalo dia mau luangin waktu meski hanya sebentar saja untuk bertemu dengan gue saat itu, bisa di jamin, dia akan klepek-klepek sama gue. Siapa coba yang gak bekal ke sem-sem sama Athalariq Gentala? sudah rupawan, hartanya tajir melintir lagi."
"Bisa lo turunin sedikit ke percayaan diri lo Tha? tinggi banget soalnya sampe keluar angkasa."
Reygan menggumam seraya menggeleng-geleng, "Mau heran tapi Athala."
"Mau sejauh apa pun gadis kecil ini lari, dia gak akan pernah bisa kabur lagi. Baik gue, mau pun keluarganya tetap akan menjerumuskan dia kedalam lubang yang sama. Terlebih ginjal bokap gue sudah sama bokap nya. Mereka punya hutang budi yang besar. Kalo bukan atas kehendak gue sendiri, jangan harap dia bakal lolos dari tangan gue."
"Iya deh iya, orang yang lagi fall in love mah susah di bilangin," sungut Reygan kehabisan kata-kata.
"Yang ngasih info kalo nih cewek baru habis putus, siapa?" Tidak mungkin Reygan lupa, jika ia yang telah menyampaikan informasi itu.
"Kalo yang cerai bisa rujuk, apa lagi yang pacaran, putus sudah pasti bisa balikan." respon Reygan telak, sebagai akhir dari percakapan mereka. Athala yang sudah kesal lebih memilih diam saja, Reygan memang pandai dalam membalas tutur katanya.
***
Mobil mewah produk Tesla model X kendaraan yang tren masa kini, berharga 2,6 miliar itu memasuki garasi, Reygan dan Athala yang sedang membawa Ruby di gendongannya turun dari sana. Di sebelah lengannya menyandang tas ransel Ruby, cewek itu masih lengkap mengenakan seragam sekolah.
Belum sempat mengganti baju, Flora langsung membawanya ke markas Vagos, alhasil sampai saat ini Ruby masih memakai baju seragam putih abu-abu.
Kharismatik mereka tidak pudar sama sekali, terutama Athala paling menonjol, selalu menguar baik mereka di luar mau pun di dalam kawasan perusahaan.
"Rey, gue punya tugas untuk lo. Cariin pakaian yang pas dan bagus untuk gadis kecil gue." Titahnya masih sambil berjalan, Sebagai asisten, Reygan hanya membututi nya, awalnya memang ia berada di belakang, tapi Reygan berusaha menyelaraskan langkahnya dengan Athala.
"Apapun perintah lo akan gue realisasikan. Tapi, satu yang paling gue anti, cari baju cewek. Mereka itu merepotkan, kalo di tanya pasti jawabannya terserah namun tidak sembarang baju yang mereka mau. Gue juga gak tahu ukuran yang pas untuk Ruby." ujarnya mencoba bernegosiasi. Langkah kaki Athala terhenti begitu pun dengan Reygan. Mereka berdiri tepat di teras mansion besar nan mewah kediaman Athala pribadi.
"Gue punya tebakan untuk lo. Kalo lo bisa menjawab dengan benar, lo bisa gak nurutin perintah gue untuk kali ini."
"Oke siap! apa tebakannya?!" Reygan bersiap semangat dua belas menanti tebakan Athala.
"Pelampung kalo di hilangin lampung-nya, berarti?"
Baiklah, Reygan sedikit tertarik dengan kata tebakan yang di ajukan oleh Athala. Memasang raut berpikirnya, Reygan pun menyahut tanpa ragu. "Pe?"
"Kalo kucing, bahasa Inggrisnya, apa?"
"Cat?" jawab Reygan langsung tanpa banyak berpikir lagi, karena tebakan yang di lontarkan oleh Athala semudah ini.
"Kalo di gabungin?"
Belum menyadari apa-apa, dengan polosnya Reygan berseru, "Pe--Cat!"
"Oke, seratus buat lo! kalo lo gak laksanain perintah gue, itu yang akan menjadi konsekuensinya." pungkas Athala membuka pintu mansion nya dengan gerakan agak repot.
"Loh Tha? gue kan jawab dengan benar." protesnya tidak terima. Athala sudah masuk meninggalkan Reygan yang sedetik kemudian matanya melebar baru menyadari maksud dari Athala. "Pecat?!!"
***