
Lima tahun kemudian..
Deruman berbagai transportasi umum saling bersahutan diluar sana, di balik jendela gedung, sambil menggenggam segelas wine, pandangan Ruby jatuh kebawah sana, andai saja akan ada mobil yang sering mengantar jemputnya dulu berhenti tepat didepan gedung dan menemuinya, lalu dia akan berkata.
'Ruby.. aku pulang, aku menepati janjiku.. maaf, aku lama..'
Bolehkah dia berangan-angan walaupun mustahil akan terkabul? lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Dia terus menunggu dan menunggu kedatangannya meskipun mungkin tak lagi dengan rasa yang sama.
Bibirnya menyunggingkan senyum pahit. Mulutnya sedikit terbuka menggumam kan sesuatu. "Sudah lima tahun, Atha.. mana janjimu? kamu bilang akan pulang satu bulan? tapi sudah selama ini kenapa kamu belum pulang juga? aku masih menunggumu.."
"Merindukannya lagi?" Celetukan yang muncul dari belakangnya membuyarkan lamunan Ruby. Wanita yang kini sudah terlihat lebih dewasa dan matang namun tetap terlihat cantik mempesona dengan penampilannya yang elegan tersebut berbalik kebelakang.
Dia memberikan gelengan bohong pada Sang Kakak, Zeal. "Enggak, siapa bilang aku rindu dengan dia?"
Zeal berdiri berdampingan dengan Ruby, turut memperhatikan hamparan kota yang tersuguh di bawah gedung. "Bibirmu memang bisa berbohong, tapi matamu gak bisa berbohong, meski setiap hari kamu tersenyum, dibalik matamu aku bisa tahu, ada kerinduan bercampur kesedihan yang hebat bersarang di hatimu.."
Dia benar-benar tak mengerti, mengapa Adiknya terlalu tergila-gila dengan Athala. Jika tahu ujung-ujungnya akan menyakiti Ruby, Zeal tak akan sudi ikut berkonspirasi dengan Daddy-nya untuk mempersatukan mereka berdua.
"Mau sampai kapan?"
Ruby menoleh kesamping, mendengar imbuhan dari Zeal. Kedua keningnya tertekuk bingung. "Apa?"
"Mau sampai kapan kamu akan menunggunya? sudah lima tahun. Mungkin dia benar-benar gak menginginkanmu dan Calix hingga meninggalkan kalian tanpa alasan dengan kedok melakukan perjalanan bisnis, apakah bisnisnya belum kelar sampai sekarang? lama banget. Itu dinas atau imigrasi?"
Berbagai macam cara sudah Zeal kerahkan untuk melacak keberadaan Athala, namun hasilnya nihil. Pria itu hilang bagaikan ditelan bumi. Sering kali Zeal membujuk Ruby unyuk pulang ke negara mereka agar Ruby dapat melupakan Athala kemudian membuka lembaran baru bersama keluarga mereka, Daddy dan Mommy mereka juga sedang menunggu kepulangan Ruby dan Calix.
Namun, Ruby keras kepala. Dia tak bersedia meninggalkan Indonesia dengan alasan tak ingin meninggalkan karirnya disini sebagai seorang Dokter spesialis bedah. Padahal Zeal tahu pasti, dia bertahan disini karena belum menyerah akan penantiannya pada Athala.
Zeal mengalihkan pandangan kearah sofa, disana ada Alan yang sedang menemani Calix Keiran Lavarendo--Putra Ruby, bermain robot-robotan. Karena Ayahnya belum juga memunculkan batang hidungnya sampai saat ini, Ruby menggunakan marga keluarganya pada Calix. Padahal inginnya, Calix memakai Marga dari Ayahnya, yakni Ragaswara.
"Lihatlah Alan.. dia begitu tulus kepada kalian berdua, kenapa gak kamu pertimbangkan saja? dia selalu ada dan menjaga kalian berdua selama ini, apakah gak ada rasa cinta sedikitpun tumbuh di dalam hatimu untuk dia?"
Ruby menghela napas berat. "Kalo aku bisa mengendalikan hatiku, aku inginnya begitu. But, the heart can't be controlled, I can't love someone according to my wishes.."
"Lagi pula aku gak pantes bersama dengan dia. Aku tahu dia orangnya baik, humble, dapat diandalkan, bahkan setelah lulus sekolah, dia kembali membangun perusahaan Ayahnya yang jatuh bangkrut hingga kini kembali jaya berkat usahanya yang mati-matian bekerja siang-malam, orang seperti dia gak pantes untuk aku yang sudah menjadi Ibu dari satu anak. Ada yang lebih pantes dan setara dengan dia, yang jelas bukan aku." Terang Ruby panjang lebar.
"Bukannya enggak pantes, tapi memang kamunya yang gak mau memberi dia kesempatan sedikitpun, pantas atau tidaknya kita bukan dinilai dari sesuatu, sekurang-kurangnya kita, akan terlihat sempurna dimata orang yang tepat, dia menerima apa adanya kamu kok, bahkan atas dasar cinta, dia rela berkorban apa saja untuk kalian berdua, tapi masalahnya ada dikamu, kamu gak ingin membuka hati untuk dia, karena apa? masih ada orang lain yang mengisi disana. Bukankah begitu?"
Bungkam. Ruby dibuat kehabisan kosakata, Zeal memang pandai dalam membalas setiap perkataan orang.
"Mami!! Paman Alan mau pulang.."
Tiba didepannya, Ruby membawanya kedalam gendongan, dia melangkah kearah meja lalu meletakkan gelas disana dengan sebelah tangan.
"Alan, lo udah mau pulang?"
Alan mengangguk pelan, dia meneliti jam tangan yang melingkar sempura pada pergelangan tangannya. "Malam sudah larut, gue harus pulang. Masih banyak proposal yang menumpuk dimeja kerja yang harus segera gue kerjakan."
Ruby mengikuti Alan sampai depan pintu apartemen, dia menurunkan Calix kala anak kecil itu memberontak di gendongan Ruby tanda minta diturunkan.
"Paman, besok Paman akan main kesini lagi?" Calix berdiri disisi Alan yang sedang memasang sepatu didepan pintu.
"Yes boy.. seperti biasa..Paman bakal main kesini kalo Calix udah pulang dari sekolah." Sekedar informasi, Calix sedang menempuh pendidikannya dibangku taman kanak-kanak.
"Okay Paman! Calix tunggu ya.."
Alan menegakkan tubuhnya. "Hmm, gimana besok kita jalan-jalan? biar seru. Gimana? Calix mau?"
"Maulah!! mau banget malah!!" Seru Calix antusias. Kemungkinan akibat kebersamaan yang mereka habiskan sejauh ini, keakraban Alan dan Calix ibarat seorang Anak dan Ayah.
Alan melirik Ruby. "Mending kamu minta izin dulu sama Mami kamu."
Penitahan Alan langsung dilaksanakan oleh Calix. Dia menarik-narik ujung baju Sang Ibu. "Mi.. Mami.. besok Calix mau jalan-jalan baleng Paman, boleh?"
Dengan puppy eyesnya, kedua matanya yang berbinar mengerjap-ngerjap lucu mencoba merayu dengan mimik tersebut, ah bagaimana bisa Ruby tak mengizinkan jika dia memasang ekspresi segemesin itu?
"Baiklah, tapi jangan terlalu nyusahin Paman Alan ya?"
"Yeyyy! makasih Mami.. Mami adalah Mami yang telbaik!!" Calix berseru girang, bahkan sedikit melompat saking semangatnya.
"Kalo gitu, Paman pulang dulu ya?" Alan mengacak-ngacak rambut Calix.
"Jangan lupa dengan janji Paman untuk besok.." Peringat Calix ketika Alan sudah membuka pintu.
"Iya gak bakal lupa...bye boy!!"
"Bye paman!!" Calix melambaikan tangannya pada Alan yang kini sudah keluar menelusuri lorong-lorong unit apartemen.
*****