
"Saka mana?!!" Teriak Adelio yang baru saja memasuki markas mereka.
Ruby mengikuti Adelio dari belakang. Sedangkan Athala menunggu di luar sesuai arahan Ruby yang tidak mengizinkannya masuk.
Untuk saat ini isi markas mereka hanya di isi oleh beberapa orang, yakni Gio, Noah juga Saka, selebihnya sudah pulang sejak tadi. Adelio tadi keluar hanya untuk pergi membeli makanan untuk mereka yang ada di markas.
Saka yang tengah memainkan ponsel itu menoleh ketika mendengar namanya di sebut oleh ketua mereka, "Apa lagi Lio? masalah teropong lagi? belum puas bonyokin muka gue? atau kalo lo mau sekalian lo bunuh aja gue dahlah!" ujarnya terdengar pasrah.
Tidak banyak berbasa-basi lagi Adelio sontak menarik kerah baju Saka untuk berdiri, pada waktu yang sama atensi semua yang ada di situ barulah teralih kearah ketua dan inti Aodra saling berhadapan, "Lo yang udah nyelakain Alan?!"
"Nyelakain Alan?" Otak ,Saka di buat buntu, sekarang apa lagi? ia di tuduh nyelakain Alan?
Apakah otak Adelio baru saja terbentur? mana mungkin ia menyelakai orang tanpa alasan!
"Jangan pura-pura gak tahu! lo yang udah ngilangin teropong gue, berarti lo yang udah buat Alan celaka!" Adelio mendorong kasar dada Saka hingga tubuhnya terjerambab kelantai, sementara Saka mengangkat pandangan dengan raut masih belum mengerti.
"Gue gak pernah ngajarin kalian untuk berbuat licik! kalo kaya gini, apa bedanya lo ngebunuh! sekarang Alan koma! dia sedang berjuang maut di rumah sakit!" hardiknya dengan dada kempas-kempis, auranya terlihat gelap.
Gio berdiri lantas menghampiri Adelio yang tengah di kuasai murka, sepertinya kali ini ia mesti ikut andil dengan ini, ada yang harus di luruskan. Tangannya menyentuh pundak Adelio yang dalam keadaan emosi.
"Lio, untuk masalah ini, sepertinya ada yang keliru. Malam di saat kita tawuran, gue dan Saka jujur ngotorin mobil Alan. Tapi apakah coretan-coretan dari pylox yang kami buat di mobil Alan bisa mengakibatkan pengendaranya kecelakaan?"
Tubuh Ruby membatu, jika bukan di antara para anggota Geng Aodra, lalu siapa dalangnya?
***
Athala menghentikan mobilnya tepat di depan kost Ruby, tentu mereka segera keluar dari mobil, Ruby yang lebih dulu kemudian di susul oleh Athala yang heran melihat Ruby belum juga masuk. Cewek itu terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" tanyanya pada akhirnya.
"Eumm--gue berubah pikiran.."
"So?"
"Gue setuju jadi wanita lo sampe lahirin anak."
Hati Athala jadi bahagia mendengarnya, tapi bagian dari dirinya yang lain masih belum percaya dengan apa keputusan yang Ruby ambil. "Beneran, gadis kecil?" tanyanya mengambil kedua tangan Ruby untuk di genggamnya.
Pertanyaannya ternyata di jawab dengan anggukkan kepala dari Ruby, ia tahu Athala bukanlah orang biasa, sudah tentu Athala bisa menyelidiki kasus Kekasihnya hingga menemukan dalangnya. "Tapi--gue punya satu syarat."
Senyum kecil yang tersungging tanpa sadar memudar bahkan raut Athala menjadi horor seketika, "Berarti lo mau jadi wanita gue asal gue menepati satu syarat yang lo ajukan itu?"
Sekali lagi Ruby mengangguk, Athala sedikit ragu untuk ini tapi kemudian ia mengangguk saja. Tidak akan Athala lewatkan peluang sekecil pun, tidak apa lah pada awalnya hanya karena syarat yang Ruby ajukan, namun Athala akan berusaha meluluhkan hati Ruby dalam waktu yang cukup singkat.
"Baiklah kalau begitu. Gue akan mengutus orang ku untuk menyelidiki kasus Alan. Tapi, gue juga punya syarat."
"Apa?" Ruby menatap Athala dengan penuh tanya.
"Jangka waktu yang kita sepakati minimal satu tahun atau bahkan lebih, asal sudah melahirkan anak, lo bisa bebas dari gue."
'Itu pun kalo lo bisa lolos dari jeratan gue.' Imbuhnya dalam hati tersenyum puas, Athala akan berupaya keras sebelum tenggat kesepakatan itu berakhir, Ruby harus sudah jatuh cinta kepadanya sebelum periode yang ia sebutkan demikian habis.
Kalau perlu Athala berharap, Ruby dapat jatuh sedalam-dalamnya hingga yang berinisiatif sendiri membatalkan kesepakatan dan lebih memilih menjalankan hubungan normal dari pada hanya karena kesepakatan yang mereka buat.
"Selama jadi wanita gue, lo harus siaga tanpa penolakan setiap gue minta melakukan itu. Tidak boleh dekat dengan lelaki lain selain gue sekali pun cowok lo udah sadar dari koma. Kalo masalah duit, lo gak perlu khawatir, itu akan menjadi urusan gue. Gue yang akan membiayai hidup lo selama jadi wanita gue."
Pungkasan dari Athala terus terang menghadirkan sedikit keraguan dalam lubuk hati Ruby, syarat dari Athala terlalu banyak dan Ruby rasa sulit untuk di tepati. "Bisa--kurangin sedikit persyaratannya?"
"Kalo lo gak mau ya suda--"
"Oke, deal! asal lo bisa bantu nyelidiki itu, gue akan menyejutujui apa pun persyaratan yang lo ajukan!"
Ruby tidak tahu apakah keputusan yang telah ia ambil ini benar atau tidak, hal itu urusan belakang. Prioritas utamanya adalah pelaku dari insiden kecelakaan hebat yang telah menimpa pacarnya. Kasus itu bukan lah murni kecelakaan biasa dan Ruby tahu itu.
"Oh iya, gue punya satu persyaratan lagi."
"Apa lagi?" Ruby memutar bola matanya jengah, belum puas kah dengan banyak syarat yang telah di ajukan tadi?
"Ubah panggilan dari lo-gue jadi aku-kamu."
Permintaan Athala kali ini tidak berat, tapi cukup sulit untuk mengubah kata panggilan kebiasaan. Selama Ruby masih bisa menepatinya maka dari itu Ruby akan menyanggupi saja.
"Baiklah."
***
Gak bisa hiatus lama-lama huhuhuğŸ˜