My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.KEMBALI MENELAN PIL PAHIT



Setelah membayar ongkos sopir taksi yang ditumpanginya lantas berhenti tepat didepan gerbang mansion yang merupakan kediaman Ragaswara, Ruby keluar dari mobil.


Hari sudah petang menjelang malam, Ruby sengaja memilih waktu yang tepat karena biasanya siang hari Athala akan ada di kantor.


Ia menatap bangunan besar dan mewah yang berdiri dihadapannya. Seperti usulan Alan, ia mengunjungi Athala untuk memberi tahu perkara kehamilannya, baik di tolak maupun di terima, Ruby sudah mempersiapkan diri dengan jawabannya.


Diraupnya udara disekitar dengan dalam untuk mengumpulkan tekad, sebelum melangkah memasuki gerbang yang terbuka lebar menuju perkarangan mansion tersebut.


Tiba dimuka pintu utama, Ruby membunyikan berulang kali lonceng bel mansion untuk bersikap sopan, yang membuka pintu adalah Rabia Sang kepala pelayan. "Eh, Nona? mau nyari Tuan ya?"


Ruby mengangguk sebagai balasan. "Athala-nya ada?"


"Iya ada Nona, ayok silahkan masuk dulu."


Berhubung Rabia mempersilahkan masuk, Ruby masuk kedalam dituntun oleh Rabia menuju ruang tamu. "Nona mau minum apa? nanti saya buatin."


"Aduh, gak perlu repot-repot, saya hanya mau ketemu Athala sebentar saja."


Reaksi yang mencurigakan yang berhasil membuat kedua kening Ruby mengernyit heran, Rabia seketika terlihat kelabakan. "I-itu Nona.."


"Itu, apa?"


Sebenarnya Rabia takut untuk jujur, namun ia tak mau berbohong kepada Ruby. "Athala--lagi sedang bersama--temannya dikamar."


Perasaan Ruby mendadak tak enak. "Cewek atau cowok?"


"Cewek Non."


Dengan kasar Ruby berdiri dari duduknya, ia memilih beranjak bukan pulang dari kediaman Athala melainkan keatas menuju ke kamar Athala.


"Nona, mending Nona jangan kesana.."


Ruby menganggap suara Rabia sama dengan radio rusak, ia justru meneruskan langkahnya menuju kamar Athala, tiba didepan daun pintu kamar milik Athala. Tanpa mau banyak berpikir lagi, Ruby lekas membuka pintu yang rupanya tak terkunci.


Pemandangan yang membuat Ruby kembali menelan pil pahit, tubuhnya membeku di ambang pintu, seketika ia menjadi dejavu. Bahkan kali ini berkali-kali lipat lebih menyakitkan dari pada kejadian dimana yang memergoki Alan dan Sandra.


Apakah menorehkan luka pada dirinya adalah kegemaran oleh orang-orang disekelilingnya? mengapa mereka suka sekali memberikan tikaman di hatinya? Dalam satu selimut, Athala sedang tidur bersama perempuan lain diatas ranjang.


"Ruby.." Suara Athala terdengar serak, sama persis dengan suara khas orang yang baru bangun tidur, ia bangkit mengubah posisinya menjadi duduk.


Ia terlihat memegangi sisi kepalanya, dengan kedua mata yang sayu ia melirik kesamping dimana ia menemukan seorang perempuan disana, Athala sontak membelalak kan mata lebar-lebar lalu beralih menatap Ruby dengan raut pias.


"R-ruby? ngapain kamu kesini?" Ekspresi terluka tergambar jelas pada wajah cantik itu.


Adapun Gracia, ia perlahan membuka kedua kelopak netranya, dirinya kebetulan turut terbangun karena gerakan juga bising dari suara yang dilakukan oleh Athala di ranjang.


"Oh, Athala? lo udah bangun?"


Karena melihat rupa pias Athala, Gracia pun mengikuti arah pandangnya menuju Ruby yang sedang menatap mereka dengan nanar.


Saking shock nya Ruby sampai memundurkan langkahnya berangsur-angsur hingga keluar dari pintu, tanpa ia sadari benda berbentuk stik ditangannya yang menjadi tujuannya kesini, terjatuh pada tempatnya.


Ruby akhrinya memutar badan dengan air mata mengalir pada pipinya, ia memutuskan untuk angkat kaki dari rumah Athala dengan membawa luka yang hebat. Seharusnya dari awal ia tahu jika ini akan terjadi karena kebersamaan mereka bukan berdasarkan cinta.


Tapi mengapa? rasanya sesakit ini.


Didalam kamar, Athala memijat pelipisnya agar dapat mengurangi rasa pening yang menderanya. Pikirannya semakin dibuat kalut karena kedatangan Ruby yang mendadak. Tapi bukannya dengan begini maka semuanya akan berakhir, bukan?


Sejauh yang telah mereka lalui di bumbui momen-momen indah yang mereka lewati bersama, Ruby tetap tak mencintainya, bagaimana bisa ia memaksakan kehendaknya?


Mumpung belum ada yang menjadi penyebab Ruby akan terikat dengannya, ia memilih untuk menyerah sekarang agar masa depannya tetap cerah. Terkadang, mencintai bukan berarti harus memiliki. Athala yakin, Alan, lelaki yang menjadi nomor satu dalam hati Gadisnya akan menerima apa adanya bagaimana pun kondisi Ruby.


Gadisnya? damn! sadari posisimu wahai Athala! mulai sekarang, belajarlah melupakan Ruby.


Membiarkan Ruby bahagia bersama lelaki lain meskipun bukan dengannya adalah salah satu cara Athala dalam mencintainya yang teramat. Ia hanya bisa berharap, semoga Ruby bisa bahagia dengan lelaki pilihannya.


"Lo gak ngejar tuh cewek?" Gracia ingat, cewek tadi yang mereka temui di acara reunian kala itu, melihat bagaimana cara Athala memperlakukannya, ia yakin Athala dan Gadis itu memiliki suatu hubungan.


Athala menggelengkan kepala pelan. "Gak perlu. Gue mau mengakhiri semuanya disini. Dia, gak bakal pernah cinta sama gue. Ada cowok yang menjadi takhta tertinggi dalam hatinya."


"Lo yakin? tapi ekspresinya tadi--seperti orang yang terluka. Kalo misalnya dia gak cinta sama lo, seharusnya dia gak bakal terluka kan liat lo sama perempuan lain. Tapi yang gue liat tadi reaksinya gak gitu."


Athala berpikir, ia kira hanya dirinya saja yang merasa demikian, namun Gracia juga? jika memang begitu--lalu bagaimana sekarang? apa yang harus ia lakukan. Memasang wajah paniknya, Athala menoleh pada Gracia. "Gue harus gimana sekarang, Cia?"


"Kejar lah o'on! pake nanya lagi!" Athala tak berubah sama sekali, masih saja payah mengenai percintaan.


Grasak-grusuk Athala beranjak dengan tubuh lemas nya, tak ketinggalan meraih jas mantelnya yang tersampir di sandaran kursi, diluar saat ini suhu udara cukup dingin, kondisi Athala sedang tidak fit. Ia menggunakan jas mental agar lebih hangat.


Sepeninggalan Athala, ada sebuah lengkungan yang tersungging meski di satu sisi ada sebuah rasa yang tak rela pada hati kecilnya, "Berbahagialah bersama Gadis yang lo cintai Atha... tapi, kalo sampai gue tahu dia melukai lo, gue gak akan segan-segan rebut lo lagi dari genggamannya."


Ketika keluar dari pintu kamar, atensi Athala tak sengaja tersita kearah barang yang ia tendang dengan kakinya, kening Athala berkerut dalam. Ia membungkuk untuk meraih benda tersebut.


"Testpack?" Monolognya. Athala mengerjap-ngerjap kan matanya lugu sambil menjatuhkan tatapan pada benda ditangannya yang tertera sebuah garis dua lurus, ia masih mencoba menganalisa dengan seksama.


"Milik siapa?" gumamnya lagi.


Tunggu? bukannya barusan Ruby dari sini? jika begitu--berarti barang ini milik Ruby?


Ia--hamil? terus anaknya? jantung Athala mendadak berpacu dalam ritme yang tak beraturan. Jadi, tujuan Ruby datang kemari untuk memberinya informasi tentang ini?


Sedetik kemudian, Athala langsung berlari kecil menuruni tangga berlalu dari mansion menuju garasi. Bodoh! bodoh! bodoh! Athala merutuki dirinya sendiri, semestinya ia sudah mengejarnya sedari tadi.


Didalam mobil saat sedang dalam perjalanan menuju ketempat Ruby, memorinya berputar ke waktu dimana ia mengalami gejala mual-mual tak jelas, Ruby yang tak suka dengan aromanya, apakah itu faktor dari kehamilan Ruby? Athala pernah mempelajari segala berbau terkait kehamilan dari internet sebagai persiapan.


*****


Flashback on


Kendari Athala menahan sebisanya rasa kantuk yang mendera, ia memarkirkan kendaraan beroda empatnya di pinggir jalan, ia sengaja mengintai dari jarak yang terbilang cukup jauh dari kost Ruby agar tahu siapa yang membawa Ruby malam-malam begini, tadi Athala sempat mengecek kost Ruby, namun ternyata kosong, yang berarti Ruby belum pulang.


Brumm Brumm Brumm..


Mata Athala yang sudah mulai sayu seketika dibuat terkesiap kala mendengar derum motor berhenti tepat di perkarangan kost Ruby, Athala dapat menangkapnya jelas dari posisinya berada, 'Jadi--cowok yang membawa Ruby adalah Alan?' batinnya.


Athala masih betah memantau dari seberang, dimulai dari Alan mengusap kepala Ruby, bahkan sampai memeluknya sebelum pergi dengan kendaraannya, Ruby melambaikan tangannya untuk Alan sebagai pamitan, dan itu semua tak luput dari perhatian Athala, mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang saling mencintai lalu dirinya bagaikan stalker yang diam-diam menguntit mereka berdua.


Hal tersebut mengundang senyum miris pada Athala. Bahkan dengan adanya foto vulgar milik dia dan Ruby tak efektif sama sekali dalam membuat Alan berpaling dari Ruby, jika sudah begitu, Athala bisa apa?


Athala sadar jika selama ini ia sudah menjadi orang ketiga diantara hubungan mereka berdua lalu telah menghancurkan kebahagiaan Ruby yang seharusnya bersama Alan.


Apakah sekarang waktunya ia menyerah?


Kekehan terluka keluar dari bibir Athala, "Gue kalah.."


Flashback of


*****