
Athala dan Calix memasuki pintu kamar pasien dengan tergesa-gesa. Dia melangkah kearah Ruby yang kini sudah siuman, diwaktu yang sama Athala memasuki ruangan yang sama dengannya, Ruby berpaling kearah mereka berdua.
Menggunakan kedua telapak tangannya, Athala membingkai paras cantik Istrinya yang mendongak kearahnya, ia kelihatan pucat pasi. "Ruby, kamu baik-baik saja? Apa ada yang terluka? Kenapa sampai pingsan hmm? Aku kan udah peringatkan tadi pagi, gak usah masuk kerja, keadaan kamu lagi gak sehat. Kalau memang gak mampu kenapa memaksakan diri? Kamu itu bukan mesin yang bisa bekerja tiap saat. Kamu juga ada Suami, Suamimu ini dapat diandalkan kalau hanya soal uang, jadi gak perlu--"
"Pak.. kondisi dr Ruby baik-baik saja.. hanya saja, kehamilan pada trimester pertama memang rentan mengalami gejala ini.."
"Yah, maka dari itu--" Bibir Athala seketika terkatup, ia menoleh kearah perawat yang bertutur demikian. "Hamil?" Beonya linglung. Apakah dugaannya terakhir kali benar?
Usai mendapat anggukan dari perawat itu, pandangan Athala kembali turun, disambut oleh anggukkan kepala lagi oleh Istrinya, Ruby mengelus perutnya sendiri yang masih rata. Sebenarnya ia sudah memprediksi ini, tapi ia belum berani memastikan saking takutnya jika dugaannya melesat dari harapannya. Kali ini, ia tidak salah lagi, ia benar-benar sedang mengandung.
"Disini ada calon debay lagi, Tha.. Adik Calix.." Tangannya masih betah menyentuh perutnya yang terbalut seragam.
Dengan posisi setia berdiri, Athala menarik kepala Ruby untuk ia sandarkan diperut kokohnya, senyumnya teduh sekaligus haru. Athala menyeka cairan bening kristal yang menitik saking bahagianya. Ia mengusap-usap belakang kepala Ruby dengan penuh kelembutan.
"Makasih ya By... Makasih banyak..kamu udah membesarkan Calix meskipun aku gak ada disamping kalian.. Sekarang, tambah satu anggota baru lagi, hidup aku benar-benar lengkap sekarang.."
"Ada kamu sebagai Istri aku..Calix, Putra pertama kita, terus calon baby baru kita..kali ini, aku gak akan mengulangi kesalahan yang sama.. Aku akan selalu ada disisi kalian, menjaga dan melindungi kalian.."
"Calix bakal punya Adik?" Ditengah sesi bahagia bercampur haru itu, Calix bertanya kemudian dibalas dengan anggukan iya oleh Athala.
"Sini," Athala menarik tangannya lalu detik berikutnya, ia memeluk kedua orang yang menjadi harta paling berharga dalam hidupnya.
Melalui usia dini dengan keluarga yang berantakan, ditinggalkan Ibu kandung untuk selama-lamanya kemudian memiliki seorang Ibu tiri yang bermuka dua sebagai pengganti. Athala rasa, segala penderitaan berat dimasa lampau adalah cobaan agar ia bisa menikmati kebahagiaan yang tiada tara dimasa kini.
*****
Di dapur benar-benar kacau balau. Atribut dapur meraja lela dimana-mana. Athala dan Calix sibuk berkutat dengan alat-alat dapur dan bumbu-bumbu masakan. Sebenarnya, bisa saja mereka memerintah para pelayan atau tidak, memesan makanan dengan online.
Tetapi, Ruby ingin kari ayam buatan tangan Suaminya sendiri. Calix yang sebagai anak malang pun jadi ikut terlibat, karena Athala tak mungkin membiarkannya bebas sementara ia membutuhkan bantuan Putranya.
Athala tidak terlalu mahir dalam memasak karena ia tidak memiliki bakat untuk menjadi chef. Namun, jika menggunakan tutor sebagai contoh, Athala mungkin, bisa. Mungkin, catat!
"Kunyit!" Patuh, Calix mengambilkan setiap rempah yang disebutkan. "Merica!"
"Cabai!" Entah kesekian kali, Athala kembali mengadakan telapak tangannya.
"Jintan.."
Calix menjambak rambutnya frustasi. "Aduh--Calix udah pusing Pih! Gak semua bahan-bahan rempah, Calix hapal!! Kenapa gak suruh pelayan aja sih? Mumpung Mami gak lihat.."
"Gak-gak! Ini keinginan Adik kamu. Maunya masakan Papi, bukan orang lain. Kamu mau Adik kamu ileran?!"
"Sejak kapan, Papi percaya sama mitos gituan?!"
"Nurut, atau Papi bakal laporin ke Mami kamu ngoleksi video cab--"
"Yaudah iya! Ish! Papi mah, sukanya ngancem!" Calix langsung mencegat ucapan Papinya agar tidak tuntas. Jangan sampai kartunya terbongkar, bisa dicoret Maminya ia dari kartu keluarga.
Dua puluh menit kemudian...
"Akhirnya kelar juga!" Athala menyeka peluh dipelipisnya menggunakan punggung tangannya, setelah perjuangan yang cukup keras, akhirnya masakannya telah siap. Athala mengusap hidungnya bangga. Semoga saja, Ruby dan calon bayi mereka, menyukainya.
*****
"Ruby.."
Ceklek...
Athala masuk kedalam kamar mereka dengan nampan berada ditangannya, ia memperluas jangkauan pandangannya, menyapu penjuru kamar, nihil. Ia tak menemukan Istrinya dimana-mana.
"Ruby.. kamu dimana sayang..? Mau main petak umpet hmm? Aku udah buatin nih kari ayam keinginannya baby..."
Atensi Athala terdistraksi kearah pintu balkon yang terlihat terbuka, "Apakah Ruby ada disana?" Monolognya, tak kunjung menemukan Ruby didalam kamar, Athala pun berjalan kearah balkon agar dapat memeriksa disana.
Arwah Athala nyaris tertarik keluar, tepat kakinya diambang pintu balkon, netranya membulat nyaris keluar dari sarangnya, alangkah terkejutnya ia mendapati Ruby yang hendak naik ke pagar balkon.
Plang!!!
Saking paniknya, tangannya yang menggenggam nampan, jadi bagaikan jeli, sehingga cepat atau lambat, mangkuk berisikan kari ayam yang telah susah payah ia buat, telah pecah berkeping-keping dengan mengenaskan.
"Ruby!! Turun!!" Athala menarik kuat tangan Ruby agar turun dari sana, tubuh Ruby mau tidak mau tersentak masuk kedalam dekapannya, napas Ruby terasa sesak, ia kesulitan mengambil oksigen saking kencangnya lilitan tangan Athala.
"S-sesak Atha..lepas dulu pelukannya.. aku gak bisa napas.." Athala mengurai pelukan sesuai penuturan sang Istri, ia beralih mencengkram kedua bahunya.
"Kamu mau ngapain manjat disitu hah?! Mau bunuh diri?! Kalau ada masalah, cerita ke aku, jangan dipendam dan berakhir ingin mengakhiri hidup kaya tadi!"
"Hiks!!! Siapa yang mau bunuh diri coba?! Itu keinginannya baby, mau terjun dari situ.."
Athala terhenyak, Istrinya malah menangis, padahal ia sangat mengkhawatirkannya. Jadi merasa bersalah kan? Ia kelimpungan. "Y-yaudah jangan nangis..."
"Tapi kamu marahin aku... Bentak aku.. a-aku takut barusan.."
Athala menghapus air mata yang membasahi pipinya. "Aku bukannya marahin kamu.. tapi aku terlalu terkejut dan panik tadi.." Dielusnya pucuk kepala Ruby menghibur. "Jangan diulangi lagi yang kaya tadi ya...? Terlepas dari keinginan baby.. itu sangat berbahaya.. gimana kalo kamu jatuh tadi? Kamu mau aku jadi duda terus nikah lagi..?"
"Gak mau huaaa!!" Isak tangis Ruby tambah kencang, ia memukul-mukul dada bidang Athala, sekali lagi, ia membawa Istrinya kedalam pelukan, kali ini ia menepuk-nepuk punggung Ruby. "Yaudah kalo gak mau, jangan lakukan yang kaya tadi.."
"Huaaa..!!"
Lah, kok? Tangisan Istrinya tak kunjung mereda, yang ada semakin tergugu, apa gara-gara gertakannya barusan? "Ssst.. udah, jangan nangis lagi, aku hanya menggertak, biar kamu gak melakukan hal yang berbahaya, aku gak akan nikah lag--"
"Kari ayamnya!!... Gak mau tahu, pokoknya kamu buatin lagi yang baru!!"
*****