My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
SEASON2(EX-LOVER) : BAB 01



...Jadi, cerita Athala dan Ruby sudah usai di episode sebelumnya, sekarang aku mau lanjut ke season dua, nanti kalian akan tahu, cerita siapa di season dua ini🙃...


...WARNING🚫! CERITA INI BERLATAR DILUAR NEGERI. JADI, KEJADIAN PADA CERITA INI, SESUAI BUDAYA DILUAR NEGERI....


...*****...


"Rie, ini bohong kan? Kau sengaja bercumbu dengannya hanya untuk memprank ku?!"


Pria itu mengguncang bahu kekasihnya yang baru saja ia pergoki bercumbu mesra dengan lelaki lain. Menuntut sebuah jawaban darinya.


Hari ini, tanggal ini seharusnya hari bahagia untuknya karena merupakan hari kelahiran dirinya, sialnya hari ulang tahunnya kali ini justru menjadi hari yang paling ia benci.


"Katakan Rey! Ini bohong kan! Kau sembunyikan dimana kameranya, hah?! tidak mungkin kau tega mengkhianati ku!"


"Lantas, bagaimana kalau dugaanmu benar?" Santai. Ia melepas kasar tangan yang mencengkeram erat bahunya, menyapu-nyapu disana seolah menghapus sebuah debu kotoran dan menjijikkan dari sana.


Setelah itu, ia melipat dua tangannya didepan dada menatap malas seorang lelaki yang seakan tidak percaya dengan penuturan fakta yang diutarakan barusan.


"W-what?!" 


Pria itu masih mencoba menelaah keadaan, situasi, kenyataan yang terungkap, berusaha mencernanya baik-baik, karena ini terlalu tiba-tiba. Tidak bisa ia terima begitu saja.


"Seperti yang kau lihat. Aku selingkuh darimu."


Lihatlah, Pria itu mengalami shock luar biasa. Saking shock-nya kakinya sampai mundur satu langkah kebelakang. "Wait! Apa kurangnya aku hingga kau memilih berselingkuh dariku?!"


"Aku sudah bosan denganmu, Ze. Tujuh tahun, kebersamaan kita, bukanlah hal yang aneh apabila rasa bosan tumbuh dalam hatiku."


Ia memainkan kuku-kukunya kelewat santai, tidak peduli bahwa perkataan yang ia lontarkan melukai lawan bicaranya.


"Omong kosong macam apa ini?! Aku benar-benar tidak bisa percaya kau menduakan ku hanya karena alasan sepele seperti itu! Kau kira, selama ini aku tidak pernah bosan bersama dengan mu, Rie?! Aku juga pernah difase itu, tapi aku tidak pernah berpikir dangkal untuk bermain belakang darimu! Tapi mengapa--kau dengan mudahnya mengkhianati ku hanya karena kata bosan?!"


Tercetak sebuah senyum miring atau senyum mengejek betapa idiot dirinya. "Heh, dasar naif! Seharusnya kau mengkhianati ku saat bosan! Bukan malah setia! Lihatlah? Apa yang kau dapat? Bagaimana rasanya dikhianati? Sakit? Hahaha itu pantas kau dapatkan!"


"A-apa? Kenapa kau seperti ini? Kau--kelihatan berbeda. Kau bukan seperti Rie. Kau berubah." Bertolak belakang dengan rautnya yang mencoba terlihat baik-baik saja, pancaran kedua matanya tidak bisa munafik.


"Berubah?" Wanita itu menggeleng samar, "Aku tidak berubah. Inilah sifat asliku."


"Lalu, apa maumu sekarang?" Kedua tangannya terkepal kuat, ada rasa ganas ingin menghantam brutal tembok yang terpatri tidak jauh jaraknya, namun ia masih menahan rasa ini, ia tidak boleh lepas kendali dan kelihatan paling idiot, menggila hanya karena seorang penghianat handal.


"End it." Dingin. Tatapannya sangat dingin, seolah meyakinkan keputusannya bersifat mutlak. Tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun, baik kekasih--koreksi, mantan kekasih, selingkuhannya bahkan dirinya sendiri.


"What do you mean?!"


"Let's end our relationship."


"Jadi, kau lebih memilih dia, dari pada aku?"


"Yes, Mr Zealander Achraf Levarendo. Aku merasa--diriku dan dirimu sudah tidak cocok. Sejujurnya aku sering merasa risih dan tidak nyaman lagi bersamamu." Menggandeng mesra lengan lelaki selingkuhannya secara terang-terangan dihadapannya. Tangannya dielus lembut oleh lelaki itu.


"Mungkin--perasaanku sudah berubah, bukan lagi untukmu. Dia, adalah pemilik hatiku sekarang. Iya kan darling?" Senyumnya terlihat tulus sekali.


"Yes, darling.."


Mantan kekasihnya mengangguk dengan kekehan sumbang meluncur dari bibir. "OK, if that's your wish." Tubuhnya memutar balik arah, hanya menunjukkan punggung tegapnya pada Wanita itu, bersiap pergi dengan membawa segala luka dan kekecewaan yang ia tanggung. "Aku berharap kau menderita dan tidak akan pernah bahagia dengan pilihanmu."


"Goodbye, may we never meet again."


*****