
"Sakit ya Tra? sorry-sorry, aku reflek tadi." Flora membawa Gatra yang memasang raut kesakitan itu ke tempat dengan yang lainnya, membantu Gatra duduk di sela-sela yang kosong.
"Mana yang sakit?" Flora berjongkok menggulung celana jogger milik Gatra, "Di situ sayang, ssh sakit banget.." Rintihan Gatra tersenyum puas sementara Flora sibuk meniup-niup di titik yang di maksud oleh Gatra, cowok itu malah menaikan alisnya kepada kawan-kawannya, wajahnya tertulis seolah-olah membangga-banggakan sang kekasih yang penuh perhatian dan kasih sayang tersebut.
Di sisi lain, Ruby yang merasa belum ada yang menyadari keberadaannya perlahan-lahan mengambil langkah mundur dua langkah ia mulai berbalik, baru saja bersiap untuk melangkah pergi--
"Ruy! mau kemana?"
Suara bas itu mampu membuat dirinya terhenti seraya meringis, 'Mamposs gue!' Dengan raut kaku, ia kembali berputar menggaruk kepalanya yang tak gatal seraya menyengir kuda. Apa lagi melihat kehadiran Athala di sana membuat dirinya sekedar bernapas saja terasa tercekat.
"Mari sini!!" Elang melambaikan tangannya mengajak Ruby untuk ikut berbaur dengan mereka.
"G-gue baru inget, kalo gue ada urusan mendadak!!" Elang lekas menghampirinya dan membawa Ruby ke tempat teman-temannya terkesan memaksa, "Urusan apa? ntar aja urusan yang laen. Sekarang ngobrol-ngobrol bentar bareng kami."
"Siapa Lang? baru liat mukanya." Jarang anggota Vagos mengenali Ruby karena perempuan itu sukar bermain ke markas ini, terlebih penghuninya cowok-cowok yang ciri-cirinya bagaikan preman, baru melihat penampilannya yang urak-urakkan saja Ruby sudah ketar-ketir.
"Kenalin, dia Ruby, boleh kalian panggil Ruy atau apa saja, asal jangan sayang soalnya ada yang punya." ujar Elang memperkenalkan Ruby kepada para sohibnya yang manggut-manggut seraya menyapa Ruby ramah. Ruby hanya membalas sapaan mereka sekenanya saja.
"Yang punya? siapa?" Celetuk Athala reflek mendapat sikutan dari Reygan di lengannya, "Jangan terlalu nampak!" bisiknya memperingati, Athala meringis pelan, 'Kenapa gadis kecil itu selalu membuat gue gak bisa nahan diri?'
"Kenalin, namanya Ruby, pacar Alan." Elang memperkenalkan Ruby yang gelagatnya terlihat gugup.
Istilah dunia hanya selebar daun kelor memang benar adanya, terbukti dari pertemuan mereka yang tidak terduga-duga, gugup melanda Ruby yang tengah merasa canggung menatap kebawah di mana ada tangan Athala yang terulur, "Kenalin, gue Athala, lo boleh panggil gue Atha." ucapnya memperkenalkan diri berusaha terlihat santai seperti tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Ruby meminimalisir diri agar tidak terlihat canggung, ia berdehem pelan, dengan sedikit ragu menyambut tangan kekar yang tersodor ke arahnya, "Gue Ruby." balasnya, ketika akan mengurai, Athala dengan sengaja mengencangkan tautan tangan mereka hingga Ruby jadi tidak bisa berbuat apa-apa.
Meneguk ludah tegang saat Ruby menangkap lengkungan devil yang tercetak jelas di wajah Athala, "Nama lo cantik. Sayangnya orangnya brengsek. Habis manis, sepah di buang." sindirnya tertuju langsung untuk Ruby yang berusaha lolos dari belenggu tangan besar Athala yang detik demi detik mengalirnya waktu malah makin kuat, bahkan Pria itu dengan sengaja sedikit meremas tangan mungil itu.
"Lepasin..." desis Ruby masih berusaha lepas dari genggaman Athala.
"B-bang? itu--Ruy-nya kesakitan." Elang memberanikan diri menegur kala merasa aksi jabat tangan mereka berlangsung sudah cukup lama, di tambah lagi ekspresi Ruby yang seperti tengah menahan sakit.
"Oh maaf, soalnya tangan lo lembut dan kecil, buat orang yang genggam jadi betah berlama-lama." ujar Athala melepas genggaman tangan mereka.
Memijat alis, Reygan hanya geleng-geleng menyaksikan itu. "Atha..Atha.." gumamnya, Athala memang tidak tahu cara menutupi masalah yang bersifat privasi.
TBC..