My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.SERANGAN MENDADAK



"Flora! gue mau pulang bareng elo!! gak mau bareng mereka!" teriaknya. Apakah Flora ingin menelantarkannya di sini? gadis itu sudah berlalu dengan membonceng Elang.


Ais, kenapa mereka dengan sesuka hati menitipkan Ruby dengan siapa saja?


Tiba-tiba saja tangannya di tarik kuat hingga tubuhnya terhuyung di seret kebagian sisi basecamp Vagos yang sepi.


"Lepas, Hmmphhh!!!" Layaknya tersengat arus listrik, Ruby di bungkam oleh benda kenyal dan lembut yang menghimpit di bibirnya, Ruby mendadak mematung dalam keadaan buntu, Pria tinggi dan gagah dengan gaya cool mengantongi sebelah tangan, yang satunya lagi menahan tengkuk Ruby meraup bibirnya dengan rakus, hingga kepalanya miring ke kanan dan ke kiri tidak menentu.


Kaki Ruby yang mulai memberontak melemas nyaris tidak bisa menopang bobot tubuhnya, ia kehabisan napas karena lelaki ini memakan brutal bibirnya yang hanya diam tidak membalas. Tenaganya terkuras habis oleh gerakan ekstra berontak terkesan melawan juga usaha dorong menolak yang tidak berfungsi sama sekali dengan Athala yang memiliki postur tubuh yang jauh lebih besar dan perkasa.


Dengan napas yang memburu Athala melepas tautan bibir mereka, masih belum puas sampai di sana, wajahnya merendah tepat di leher Ruby yang masih meraup pasokan oksigen di sekitar sebanyak-banyaknya.


Cup


Tekstur kenyal dan hangat menyentuh area leher, sensasinya sakit dan geli hingga membuat Ruby meringis dan mendesis. Dengan mata terpejam erat, Ruby merasa antara perih dan nikmati gejolak yang asing tapi familiar teradu menjadi satu.


Ketika bibir Athala mulai bekerja, bagaikan kendaraan yang bergerak dengan lihainya menjajah kulit leher jenjang putih mulus milik Ruby saat itu juga kaki Ruby makin melemas, nyaris luruh untung Athala yang menyadari itu sigap merengkuh tubuhnya.


Lagi-lagi lengkungan kejam itu terbentuk di bibir yang baru saja memangsanya habis-habisan, jempolnya mengusap bibir pink cerah milik Ruby yang terdapat sisa-sisa salivanya dengan gerakan lembut.


"Masih sama, manis seperti malam itu." Suara berat yang terdengar bagus dan merdu, mengalun di telinga Ruby, malam itu ia tidak dapat mendengar dengan jelas karena dalam kondisi yang setengah sadar.


Tidak berdaya lagi Ruby meski hanya sekedar memprotes apa yang di katakan oleh Athala, reaksi tubuhnya lemas dan bergetar hanya karena serangan yang di berikan olehnya. "Gimana? lo suka dengan bunganya, gadis kecilku?" tanyanya. Iris mata hitam legam dan bola mata indah berwarna hazel itu saling terpaut dalam jarak yang cukup dekat.


Berarti asal bunga-bunga yang menerornya dari semalam hingga siang tadi dari Pria ini? pikir Ruby dengan bibir terkatup, sayu ia menatap wajah rupawan Athala, untuk saat ini ia kehilangan bait kata. Mungkin faktor semalam kurang tidur hingga sekarang Ruby merasa matanya amat berat, kantuk menyerangnya secara mendadak hingga tidak memiliki energi luar dalam untuk melawan atau pun berdebat dengan Athala.



Tubuhnya terangkat dengan enteng kemudian agar tidak terjatuh, tangan Ruby iring mengalun di leher dan kaki melingkar di pinggang atletis Athala lantas menggendongnya ala koala meninggalkan tempat, Reygan yang baru saja keluar membulatkan mata lebar-lebar menyaksikan apa yang tersuguh di depan sana.


BRAKKK


Bunyi pintu markas yang di banting oleh Reygan terdengar begitu nyaring membuat Haidar yang sudah ada di depan pintu terlonjak kaget.


Reygan merutuki Athala yang dengan semena-menanya melakukan yang tidak-tidak dengan Ruby di kawasan markas, kalau ada yang melihat, bagaimana? apa yang akan terjadi? belum lagi dengan fakta yang baru saja mereka dapat jika Ruby ternyata masih berstatus sebagai pacar orang lain.


Brughh


Brughh


Brughh


"Bang Rey? bisa buka pintunya? kenapa di kunci dari luar?" Haidar menggedor-gedor pintu.


"Masalah Ruby yang lo bilang-- biar kami yang urus." ujarnya dari luar. Setelah memastikan Athala yang tengah membawa Ruby masuk mobil, barulah Reygan dapat bernapas dengan bebas dan membuka pintu markas.


"Ruby mana?" tanya Haidar


Gerakan mata Reygan terlihat bergerilya, pikirannya di buat kalut hanya karena masalah sohibnya. "Hm? dia--- udah di dalem mobil. Biar kami yang nganter kan lebih aman. Kalian masih banyak musuh, gak bisa menjamin anak gadis aman."


Masuk akal juga menurut Haidar, Reygan dan Athala sudah pensi, oleh karena itu musuh mereka sudah tidak ada, apa lagi mengingat ilmu bela diri mereka yang senior sudah tentu lebih hebat di bandingkan dirinya yang baru junior, memang tepat untuk membiarkan Ruby pulang bersama mereka.


Mata Haidar melirik ke arah mobil yang terparkir di kawasan halaman markas mereka, detik berikutnya ia mengangguk memberi izin.


***