My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.MOMEN DI KANTOR



Demam Athala sudah mulai reda di keesokkan harinya berkat dirawat oleh Ibu dari Anaknya. Pada malam yang sudah larut, dengan penuh perjuangan demi kesembuhan Athala, kendati Ruby membelikan obat penurun panas di apotik yang tak seberapa jauh jarak tempuhnya dari kost miliknya. Meski tak jauh, bahkan bisa ditempuh dengan jalan kaki, tapi cukup melelahkan untuk Wanita hamil sepertinya.


Terpaksa meskipun kondisinya belum sepenuhnya pulih, Athala harus meninjau perusahaan mengingat jika Reygan sedang ambil cuti. Gracia adalah seorang model terkenal di negara Jerman , ia belum memiliki pengalaman di bidang perkantoran.


Tapi walau begitu, Gracia pernah mengambil study di perguruan tinggi di Jerman, mengenai prestasi, tak perlu diragukan, di masa SMA meski keduanya pasangan tapi mereka bersaing ketat dalam saling memperebutkan takhta peringkat satu. Hal tersebut yang dapat membuat Athala tak ragu dalam menerimanya sebagai asisten pengganti Reygan.


Saat ini Ruby ada di perusahaan Athala sepulang sekolah, Athala yang menjemputnya disekolah dan membawanya ke perusahaan miliknya yakni perusahaan besar Ragaswara.


Duduk di kursi kebesaran milik Athala, telapak tangan kecil itu setia menyapu-nyapu rambut di belakang kepala Athala. Acuh tak acuh dengan celananya yang sudah kotor akan debu dibagian lutut, dalam posisi kedua lutut bertekuk hingga menyentuh lantai Lelaki itu sedang melingkarkan tangannya di pinggang langsing Ruby. Kepalanya menyamping hingga sisinya menekan perut Ruby.


"Kok gak ada tanda-tanda bayi di dalemnya?" Monolognya. Tangan yang awalnya mengusap-ngusap kini berubah menjadi memukul gemas kepalanya.


"Iyalah kan, namanya juga usianya masih mudah, belum ada tendangan atau sebagainya."


"Hmm gitu yaa?" Athala menggumam masih betah dengan posisinya yang tadi. "Udah diperiksa ke dokter kandungan?" tanyanya lagi disambut oleh gelengan dari Ruby.


"Yaudah, ntar pulang dari sini kita ke dokter kandungan, sekaligus aku mau konsultasi tentang apa semua kebutuhan-kebutuhan bumil."


"Emang gak ganggu waktu kamu? kamu kan sibuk kerja, belum lagi dengan kesibukan mata kuliah mu.. apakah gak papa? aku bisa kok nanti kapan-kapan periksa nya saat kamu lagi benar-benar ada waktu luang."


Hidung Athala mendusel-dusel di permukaan perut Ruby, "Demi kamu dan dede bayi gak masalah, bahkan aku bisa cuti dalam jangka waktu panjang agar dapat menghabiskan waktu bersama kalian berdua.."


Tok.. tok..tok..


"Atha, sepertinya akan ada orang yang masuk, sebaiknya kamu jangan begini dulu." Ruby mencoba melepas lilitan pada lengan Athala, namun Athala semakin mengeratkan pelukannya sebagai tanda jika ia tak ingin mengurai rengkuhannya.


"Masuk.." Titah Athala pada orang diluar sana. Mengingat dia masih mengenakkan seragam sekolah, tentu saja Ruby akan berkomentar, posisi mereka sungguh tak mengenakan jika dipandang orang lain.


Dia tak bisa bertanggung jawab jika akan tersebar gosip bahwa pemimpin dari perusahaan besar dan ternama Ragaswara memilik hubungan dengan siswa SMA. Bisa-bisa nama Athala akan tercemar gara-gara dirinya.


"Atha!!"


"Sssttt.." Jari telunjuk Athala menekan bibir Ruby memberinya peringatan untuk diam. "Gak papa, By.."


"Ada apa?"


"A-ah--begini Atha---ehm maksudku Tuan" Gracia terlihat gelagapan. Mereka sedang ditempat kerja, ia harus profesional sebagai bawahan, tak semestinya ia memanggil Athala dengan santai, terlebih lagi didepan Ruby. Seharusnya ia menggunakan tata bahasa yang formal dan sopan sebagai bentuk rasa hormat kepada orang yang jabatannya lebih tinggi darinya.


"Waktu rapat akan segera dimulai, Tuan."


"Yasudah, kau duluan saja, saya akan segara menyusul."


"Baik, Tuan..kalau begitu, saya permisi.." Tubuh Gracia sedikit membungkuk sebelum meninggalkan ruangan kerja Athala, tak lupa kembali menutup daun pintu.


Bukannya lekas beranjak dari posisinya, Athala justru betah memeluk Ruby sambil menyamankan kepalanya di paha Ruby.


"Kamu gak denger tadi? rapat akan segera dimulai, seharusnya kamu segera keruang rapat, jangan biarkan klien mu nunggu lama."


Dengan sisi kepala bertumpu pada paha, Athala mengadah kemana ada wajah cantik Ruby yang menyambutnya dari atas, "Aku ingin selalu bersama kalian selama dua puluh empat jam, aku gak pengen ngapa-ngapain selain menjaga dan melindungi kalian berdua.."


Arghhh!! sumpah demi Tuhan, Ruby ingin berteriak sekarang juga saking gemasnya dengan Athala, tapi sebisa mungkin ia tahan mengingat jika dirinya sedang di kantor, nanti dirinya malah disangka orang gila.


Tangan Ruby mulai aktif lagi mengangkat wajah Athala agar menegak lalu menangkup rahang tegasnya hingga kembali mendongak kearahnya. "Tapi kamu harus kerja biar bisa hidupin aku dan malaikat kecil kita, nanti kalo kamu gak kerja dan perusahaan kamu jatuh bangkrut, kami akan makan apa dong?"


"Kan ada tuh istilah, selama menikah dengan orang yang kita cintai gak apa-apa hanya makan nasi dan garam, asalkan dapat hidup bahagia bersamanya."


Ruby menoyor dahi Athala mendengar penuturan ngawurnya. "Gak realistis banget, itu mah orang bego aja, prinsip aku, buat apa bertahan sama laki-laki yang gak berduit? sudah pasti akan aku tinggalin, emang siapa yang mau hidup jadi gelandangan yang makannya hanya nasi dan garam doang?"


Mulai bangkit dari posisinya, Athala lantas terkekeh kecil mendengar ocehan Ruby. "Iya deh iya.. aku bakal kerja biar gak ditinggalin Ayang." Ia mencibir lalu mengetatkan dasinya yang longgar.


Sebelum keluar dari ruangan, Athala membungkukkan badannya, menyempatkan memberikan kecupan sayang di pelipis Ruby. "Aku pergi rapat bentar. Kamu tunggu disini jangan berkeliaran kemana-mana."


Pesan Athala diangguki patuh oleh sang empu. Athala tersenyum teduh, tangannya terangkat mengacak-ngacak gemas pucuk kepala Ruby sebelum kembali menegakkan badan kemudian benar-benar berlalu dari sana.


*****