
Flashback on
Malam itu di lautan manusia yang berjoget ria serta bermabuk-mabuk kan hanya untuk menghibur diri di Club malam, seorang lelaki berpakaian serba hitam tengah membisikan sesuatu kepada lelaki tua berperut gembul setelah memerintahkan pelayan barista untuk memberikan minuman kepada Ruby.
'Kau ganggu lah cewek yang sana.' Dengan berbisik, telunjuknya mengarah ke arah Ruby yang mulai berdiri dalam kondisi sempoyongan. Pria tersebut mengikuti setiap arah yang telah di tunjuk-nya. 'Usahakan harus menarik perhatian cowok yang berpakaian setelan formal yang sana.' Berikutnya ia menunjuk Athala yang tengah berbincang-bincang dengan partner bisnisnya.
"Baiklah."
Ia menepuk-nepuk bahu Pria tua bergigi emas sebelum mengatakan. "Jika berhasil, uang akan segera di transfer ke nomor rekening mu."
Punggung besar menjadi pemandangannya kalah figur Pria tersebut mulai menjauh menuju di mana Ruby berada, "Jika taktik ini berhasil, maka Tuan akan sangat senang bisa mempertemukan mereka." gumamnya mengusap-ngusap dagu.
Flashback of
***
Hari minggu adalah hari bermalas-malasan untuk sebagian orang karena libur di akhir pekan, cuti sekolah begitu pun dengan pekerjaan. Ruby termasuk di dalamnya.
Karena tahu hari ini tidak masuk sekolah maupun kerja, ia dengan seenaknya begadang hingga subuh hanya untuk belajar lalu melanjutkan dengan nonton drakor. Lihatlah kini Ruby masih bergelung dengan selimut yang amat tebal, rasanya selimut ini berbeda dari selimut ala-ala kostnya lebih nyaman dan bikin betah berlama-lama tidur.
Tapi tunggu? Ruby merasa ada janggal ketika pipinya mulai dielus lembut. Matanya terbuka dan seketika membalikkan badannya ke kiri, ia menampar-nampar pipinya masih tidak percaya. 'Pasti ini mimpi! iya pasti mimpi! tidak mungkin Pria gak jelas itu tidur di satu kamar yang sama bareng gue! iya pasti ini mimpi.'
Ruby kembali memejamkan mata berharap saat ia membuka mata, ini hanya lah sekedar mimpi. "Gadis kecil, kamu kenapa?"
'Tadi liat mukanya, sekarang denger suaranya! kayaknya lo udah di pelet sama tuh cowok!'
'Tapi suaranya berasa nyata banget njirr!' Pelan-pelan Ruby membalikan badan dari posisi sebaliknya lalu seketika bangun menjadi duduk dan beringsut menjauh. 'Jadi ini bukan mimpi?!!'
"Kau kenapa ada di sini?!!" Ruby panik, dengan gusar ia menyebar pandangan ke sekitar ruangan. Terlihat benar-benar asing sekali.
"Perasaan semalam aku tidur di kost, terus sekarang kenapa aku jadi di villa?!! kau nyulik aku, iya?!"
Singkat cerita, dini hari Athala ketika Ruby telah tidur ia membawa Ruby ke villa pribadinya yang terletak di luar kota atau sekitar pegunungan. Posisi Villa Athala yang baru ia beli minggu lalu di kelilingi oleh hutan belantara, agar supaya Ruby tidak mudah untuk melarikan diri darinya. Sepanjang perjalanan Ruby tidak terusik sama sekali karena terlalu pulas.
"Ngapain aku nyulik Ibu dari anak-anak aku?"
"Aku menyetujui kesepakatan kita bukan berarti kau bisa perlakuin aku sewenang-wenang!."
"Oke, maaf. Aku tahu itu salah tapi aku hanya ingin bawa kamu kesini untuk menikmati bulan madu kita. Apakah salah?"
"Salah besar! kau kira aku barang yang bisa kau bawa-bawa dengan seenak jidat! dan apa kau bilang? bulan madu?!! hello! kita gak ada hubungan apa-apa selain kesepakatan yang kita buat!"
"Yaudah kita pergi ke penghulu, meresmikan hubungan kita."
Ruby mengacak rambutnya frustasi, kenapa ia harus di pertemukan dengan Pria yang keras kepala seperti Athala? Baru bangun tidur Ruby sudah di buat dongkol oleh dia yang menklaim dirinya sebagai Ibu dari anak-anaknya!
Ia bergegas beranjak dari ranjang dan hendak melenggang keluar tanpa membawa apa-apa. Memang, tidak ada barang satu pun yang Ruby bawa karena Athala sudah layak menculik dirinya, Ruby merasa ini terlalu meresahkan. Tidak bisa di biarkan begitu saja.
Namun saat lewat di cermin, Ruby tiba-tiba membulatkan mata terkejut menangkap bagian leher jenjangnya yang di hiasi oleh beberapa tanda merah keunguan. Ruby meremas kedua tangannya merasa geram, "KAU APAIN LEHER AKU BAN*GKE!!!"
"Oh, gak aku apa-apain, hanya beri beberapa tanda cinta doang."
Athala mengatakannya dengan wajah tanpa dosa. Alhasil, Ruby mengacungkan jari tengah sebelum benar-benar berlalu dari sana, Athala hanya tertawa renyah, aneh. Padahal tidak ada yang lucu.
***