My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.TERPERANGKAP



"Ruy!!"


Ruby dan Flora yang sudah sampai diparkiran itu kembali berputar badan saat ada yang menyerukan panggilan nama Ruby. Terlihat, salah satu siswi yang asing tapi juga familiar bagi Ruby, ia hanya mengenalnya melalui nama. Murid yang kelasnya bertetangga dengan kelas Ruby dan Flora.


"Ada apa?"


"Itu--gue tadi berpapasan sama Alan di koridor, terus katanya kalo ketemu lo diparkiran, dia suruh lo ketemu sama dia dibelakang sekolah." Ungkapnya membuat Ruby dan Flora saling tatap.


"Ngapain?"


Siswi dengan gaya kuncir kuda itu hanya mengangkat bahu tak tahu, "Gak tahu, tapi mending lo temuin deh. Kayaknya penting."


Ruby mengangguk, "Yasudah, gue temuin deh. Barangkali saja hal yang gak bisa disepelein."


"Ruy, butuh temen gak? gue temenin," Flora menawarkan, namun Ruby memberikan gelengan tolak mentah-mentah.


"Yaudah, gue duluan kalo gitu. Gue tunggu dicafe Kak Vino yah?" ujar Flora lagi-lagi disambut anggukkan dari Ruby.


Ruby berlalu dari parkiran Cakrawala menuju janji temunya dengan Alan dibelakang sekolah, sedangkan Flora memutuskan untuk segera pulang menuju cafe ditempat Ruby dan dirinya bekerja.


Langkah Ruby memasuki halaman belakang sekolah, Alan sedang duduk di gazebo yang terletak dibagian belakang gedung sekolah. Ia berdiri setelah melihat kedatangan Ruby disana.


"Alan, ada apa? katanya lo ngajak gue ketemu disini? mau ngomong apa?" Ruby sampai dihadapan Alan, mereka saling bertatapan satu sama lain dengan arti pandangan yang sulit dijabarkan.


"Mumpung lo udah disini. Gue langsung keintinya aja. Gue ingin, kita berakhir disini." Tanpa mau berbasa-basi lagi, Alan lekas menyampaikan tujuannya mengajak Ruby berjumpa disini.


Penuturan Alan tentu saja membuat Ruby membatu ditempat, ia masih mencoba menela'ah baik-baik mengenai permintaan Alan barusan, lebih tepatnya berpikir, apa kesalahannya sampai Alan mau mengakhiri hubungan mereka. "A-alasan?" Irama suara Ruby terdengar bergetar.


Alan tersenyum smirk. Ia dengan santai mengantongi kedua tangannya didalam saku, "Gue udah bosan sama lo. Lo mau denger kejujuran dari gue?"


"Jujur, waktu gue ngajak lo balikan saat itu hanya buat main-main saja biar sewaktu-waktu gue yang bakal mutusin lo bukan lo yang mutusin. Gue, Alan yang bernotabe sebagai wakil ketua Geng motor diputusin? apa kata dunia coba? rusak dong image gue sebagai wakil ketua Geng."


Alan tertawa merendahkan, menatap Ruby dari ujung kaki hingga ujung kepala, Ruby tahu makna dari pandangan itu yakni tatapan yang memandangnya sebelah mata. Bongkahan tak kasat mata yang sejak tadi telah menghimpit dadanya kini Ruby rasa semakin besar, mengurangi oksigen disekelilingnya.


"Dan asal lo tahu? gue gak pernah sama sekali suka apa lagi cinta sama lo. Gue balikan sama lo hanya balas dendam saja biar lo rasain gimana rasanya diputusin, dan rasanya gimana? gak enak banget kan?"


"Ah, satu lagi, gadis yang benar-benar gue cintai hanyalah Sandra satu-satunya. Gak ada yang lain, gak terkecuali lo."


"Enggak!!" Bentak Ruby menggebu-gebu, kedua tangannya terkepal hebat. Percayalah, ia sedang menahan kepalan tangannya agar tak menghantam wajah sok ganteng didepan matanya ini. "Gue gak mau putus dari lo dengan alasan yang gak jelas kayak gini!" Ruby kali ini menentang keras. Tak terima jika alasannya sangat tak masuk akal seperti yang dilontarkan oleh Alan barusan.


Jika bertanya tentang rasa sedih, tidak. Ruby tak sedih sama sekali, ia hanya merasa marah, harga dirinya diinjak-injak oleh Alan. Siapapun yang ada di posisinya tak akan terima dengan itu semua.


Lelaki itu hanya mengedikkan bahunya acuh tak acuh, "Terserah mau lo terima atau gak, yang intinya itu sudah keputusan bulat gue dan kita end disini." Pungkasnya, ia mengambil tas hitamnya di gazebo sebelum benar-benar melenggang pergi meninggalkan Ruby seorang diri.


****


Rasanya masih belum cukup dengan bermacam-macam sumpah serapah yang ia rapalkan, Ruby ingin membasmi lelaki bajingan seperti Alan biar tak mencemarkan bumi.


Saat ini ia masih berjalan di koridor, ia menyesal mau-mau saja berjumpa dengan Alan, hanya membuang-buang waktunya. Jika tak gara-gara lelaki itu, seharusnya dia sudah sampai di tempatnya kerja. Alih-alih merasakan apa yang namanya luka, tak seperti yang pertama kali ketika mengetahui Alan menduakannya, sekarang, ia lebih dikuasai emosi ketimbang patah hati.


Bugh!


Ruby menendang apa saja yang dijangkau oleh kakinya, tong sampah yang ia dapati pun tak ayal menjadi korbannya, padahal benda itu tak salah apa-apa, justru menjadi pelampiasan atas kelakuan bejat Alan.


"Dasar cowok brengsek! hanya menambah beban bumi aja! mati aja sana!! gak guna hidup!" Ruby menginjak-nginjak tubuh tempat sampah dengan kekesalan yang meluap-luap, tak peduli bahkan barang itu mungkin akan rusak gara-gara dia.


"Hei!! astaga, gue kira udah gak ada murid disini."


Secara spontan Ruby menghentikkan aksinya ketika mendengar ada orang yang menyeletuk, ia menoleh ke sumber suara dengan dahi bergaris dan kening tertekuk membentuk raut macam angry bird.


"Hei! lo, boleh gue tahu nama lo?"


"Apaan sih, gak jelas." Cetus Ruby, ia menendang tong sampah hingga menjauh dari jangakauannya.


"Gue mau minta tolong boleh? tadi gue dari gudang olahraga nyimpan peralatan olahraga karena kelas kami mata pelajaran terakhir tadi pelajaran olahraga."


"Langsung to the poin bisa gak sih? gak ngerti gue omongan lo terbelit-belit." Rasanya Ruby ingin melampiaskan kekesalannya pada siswi yang baru saja nongol ini.


"Gue kehilangan uang di gudang peralatan olahraga, gue bisa minta tolong ke lo gak? bantuin gue nyarinya? itu uang jajan gue buat seminggu." Siswi itu menyatukan kedua tangannya memasang mimik penuh permohonan. "Gue gak tahu lagi mau minta tolong kesiapan, sejak tadi gue udah nyari-nyari, tapi gak kunjung dapet."


"Yasudah, digudang peralatan olahraga kan?" Meskipun Ruby sedang dilanda amarah karena Alan, tapi bukan berarti ia akan kehilangan rasa keperimanusiaannya. Kasian juga jadi murid itu jika kehilangannya uang jajan, Ruby merasa nasibnya semalang seperti dirinya.


Ruby melangkah menuju kearah gudang olahraga yang dimaksud oleh siswi itu, sedangkan murid perempuan itu hanya mengikutinya dari belakang, tiba didepan pintu gudang, tiba-tiba tubuhnya didorong masuk hingga ia jatuh tersungkur.


Lalu selanjutnya menyusul bunyi pintu ditutup dari luar, tak lupa dengan bunyi pintu yang dikunci dari luar, Ruby menoleh kearah daun pintu berwarna cokelat yang telah tertutup rapat tersebut, terdengar sebuah tawaan puas dari luar sana. Ruby kenal dengan salah satu pemilik tawa itu, yakni Sandra.


"Selamat menikmati momen lo di gudang kotor dan lantai dingin untuk malam ini, Ruby.. ini bukan drama-drama ya, jadi jangan berharap bakal muncul pangeran sebagai pahlawan kesiangan, yang akan nolongin lo!! hahahah!! bye, Ruby, mantan kekasih gue..." Ucap Sandra dari luar sana sebelum pergi dari muka pintu.


Ruby terus menggedor-gedor pintu berharap mereka mau membukakan pintu untuknya. "Bukain, Sandra! apa salah gue ke lo?!" Percuma saja Ruby berteriak-teriak bahkan sampai suaranya serak pun, Sandra sudah pergi dari depan pintu, bahkan ia tak akan peduli sedikit pun padanya.


Sial! mereka berhasil menjebaknya. Lagi-lagi karena kenaifannya, ia terkurung disini. Ruby mengambil ponselnya dari dalam tas ranselnya, hanya ada satu nama yang tertera dalam benaknya saat dirinya dalam mara bahaya seperti yang dialaminya kali ini, Athala. Yah, hanya lelaki itu.


Maunya ia akan menghubungi Athala, tapi ketika layar handphone-nya menyala, layar benda pipi itu kembali menghitam karena kehabisan daya.


"Sial! gue harus gimana sekarang?!" Otak Ruby dibuat buntu, "Apakah gue bakal bermalam disini?" gumamnya lagi menyerah akan keadaan. Hari ini adalah hari tersial bagi Ruby, nasib buruk benar-benar mempermainkannya.


Usai dicampakkan oleh pacarnya sendiri, sekarang ia terperangkap dijebak kan yang dibuat oleh selingkuhan pacarnya sendiri, good! Ruby ingin tertawa sekencang-kencangnya.


*****