My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.TERANG-TERANGAN



Bandar udara internasional Soekarno-Hatta.


Seorang lelaki yang terlihat misterius, penampilannya serba hitam, dimulai topi yang menutupi kepala, jaket yang melekat sempurna ditubuh kekarnya dilengkapi kacamata yang bertenggar di hidung, seluruhnya serba hitam.


Dia tersenyum, perlahan menurunkan kacamata hitamnya. "I'm back here for you, my little sister. (Aku kembali ke sini untukmu, adik kecilku.)" Gumamnya.


Dengan arogan dia berjalan dengan koper besar di genggamannya, puluhan bodyguard yang mengawalnya dari belakang sontak membuat mereka jadi pusat perhatian.


Bandara besar Jakarta selalu ramai seperti ini, orang-orang berlalu lalang kesana kemari. Kira-kira ia sudah berapa kali pernah menginjakkan kakinya di negara ini? lima kali, mungkin. Hanya ingin mengetahui kabar Adiknya secara langsung dan tentu saja secara diam-diam tanpa sepengetahuan Ruby.


"Chris, apakah kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Zeal kepada Christopher. Salah satu bawahan yang terpercaya olehnya dan Ayahnya.


"Sudah tuan. Hotel untuk tempatmu menginap satu minggu telah siap, taksi untukmu menuju kesana pun sudah kupesan."


Zeal mendaratkan ujung kepalan tangannya di lengan Chris. "Kerja bagus Chris. Gajimu kunaikan bulan ini."


"Terimakasih Tuan." Sambil berjalan menuju parkiran bandara, Chris sedikit membungkukkan tubuh sebagai apresiasi terimakasihnya.


****


Tak terasa, waktu bergulir begitu cepat, lonceng bel pulang telah berkumandang, mengegerkan para warga sekolah.


"Jangan lupa, kerjakan tugas kelompok yang tadi Ibu berikan, kelompok terbagi menjadi enam dengan lima orang perkelompok, seperti yang telah Ibu sebutkan tadi, kelompok terbentuk sesuai urutan nama di buku absen. Jadi sebelum Ibu menyudahi pembelajaran, ada yang di tanyakan?"


Hening, tak ada satupun murid yang menyahut yang menandakan jika tak ada yang berniat untuk bertanya.


"Jika tidak ada, Ibu akhiri mata pelajaran hari ini. Sampai berjumpa di pelajaran Ibu selanjutnya."


Setelah mengambil buku piket diatas meja, Guru yang mengajar dikelas Ruby melenggang keluar, seisi kelas dengan gaduh mulai mengemasi atribut belajar mereka.


"Ruy, lo dapet dikelompok berapa?"


"Kelompok empat."


"Yahh, kita ke pisah dong?! gue dikelompok dua. Seharusnya pas lahir, orang tua kita buat nama inisial kita samaan, biar saat ada tugas kelompok kaya gini kita bisa sama-sama." Gerutu Flora mulai beranjak dari tempat duduk. Begitu pun dengan Ruby.


Ruby terkekeh geli, "Orang tua kita aja gak saling kenal, gimana mereka bisa nyamain inisial huruf nama kita?" Mereka berjalan kearah pintu keluar dengan obrolan random mereka.


"Kan gak jarang yang namanya kebetulan, Ruy.."


Keduanya melangkah sudah sampai di lorong kelas, mereka menyusuri koridor tiada henti dengan percakapan di selingi canda tawa mereka.


"Btw, kelompok lo ngerjain dimana?"


"Tadi gue ngusulin ke teman kelompok gue di cafe Kak Vino aja dan mereka setuju-setuju aja, rencana gue kalo selesai kerja kelompok, gue langsung lanjut kerja sebagi ganti nanti gue bakal cepet pulang mau jenguk Alan di rumah sakit, sekalian gue bantu promosi menu disana, biar tambah laris manis." Ujar Ruby.


"Lo berdedikasi banget kerjanya."


"Iyalah! kerja itu harus konsisten. Tapi Kak Vino pelit banget orangnya, kita kan rajin kerja tapi gak pernah ngasih tips lebih."


Saat tiba diparkiran, atensi mereka dipecah oleh anak-anak yang ada akan menuju gerbang, mereka gempar begitu melihat Pria berparas tampan di tepi gerbang, berdiri disisi mobilnya sambil mengantongi tangannya. Ia mengenakkan jas mantel panjang berwarna cokelat susu.


"Buset? tuh cowok ngapain disitu?"


"Gila! ganteng parah!!"


"Aaa pengen yang paket komplit kaya gitu juga makk!!"


"Eh, bukannya itu Athala?!"


"Dia itu alumni dari sekolah ini!!"


"Really?!!"


"Ada apa sih?" Flora bertanya-tanya, sontak dirinya beserta Ruby mengikuti arah perhatian kemana yang menjadi penyebab kehebohan siswi-siswi itu, kening Ruby bertaut dengan dalam. Bukannya itu Athala? ia tak diberi kabar sama sekali jika akan datang kemari sepulang sekolah.


"Ngapain sih tuh cowok kesini? suka bener tebar pesona" Gerutunya tak suka.


"Lo kenal sama tuh cogan? eh bukannya dia yang ada di markas yang waktu itu?" sistem otak Flora dibuat bekerja, "Namanya siapa ya..? hmm tau ah lupa gue."


Mata Ruby dan Athala tak sengaja terkontak saat Athala mengalihkan atensi kearahnya, ia terlihat tersenyum, tangannya terangkat melambai untuk Ruby. Mulai beranjak dari tempatnya. Yang dilemparkan lambaian dan senyum adalah Ruby, tapi yang memekik girang malah anak-anak yang sedari tadi sudah heboh.


"Aaa dia lambai ke gue!!"


"Apaan sih?! orang dia lambai kegue!!"


"Senyumnya oh, my good! bikin jantung gue jadi menggila!!"


"Gue auto jadi diabetes saat di senyumin sama dia!!"


Athala dijadikan pusat perhatian oleh banyak pasang mata yang ada disana saat melalui mereka begitu saja dengan gayanya yang memasukkan tangan kedalam saku jas mantelnya, rata-rata seluruhnya menampilkan tatapan penuh memuja, namun ia tak peduli.


Justru Athala dengan terang-terangan hendak menghampiri Ruby. Alih-alih meladeni mereka, bahkan ia sama sekali tak tertarik walau hanya melirik nyamuk-nyamuk yang ada disekelilingnya.


"Apaan sih tuh para cabe? orang jelas-jelas dia lambai sama senyum ke Ruy huuu!!" Flora bersorak mengejek.


"Eh, ngomong-ngomong, kayaknya dia mau nyamperin lo tuh!" Flora menyikut lengan Ruby, "Cie.. ada yang lain juga rupanya, gas aja deh! gue dukung, lagian Alan juga pernah tuh main belakang dari lo! mumpung dia lagi sekarat, mending lo perbanyak cadangan!" kompornya mampu membuat Ruby mendengus.


"Lo ya! jangan diingetin aib orang yang lagi berjuang untuk hidup!"


"Elah, belain terus aja! mentang-mentang udah balikkan!!"


Flora semakin gencar menyenggol-nyenggol lengan Ruby untuk menggodanya kala Athala tiba dihadapan mereka berdua, berarti benar Pria paket komplit itu menghampiri Ruby. Flora pikir tadi hanya sekedar dugaannya. Orang-orang yang ada disana mendadak patah hati berjamaah melihat Athala menghampiri Ruby.


"Udah pulang?" Tak tahu malu, tangan Athala terangkat sontak mengacak pelan rambut Ruby.


"Bukannya Ruy pacaran sama Alan? kok bisa ada lagi cowok seperfect itu care sama dia?"


"Lo belum tahu? dari rumor yang gue dengar, Alan sama Ruy udah putus gara-gara Alan selingkuh dengan Sandra." Ada dua sampai tiga murid sudah mulai berdesas-desus. Menjadikan mereka berdua sebagai topik bahan gosip.


"Hmm? he'em, udah." Ruby mengusap tengkuknya kaku, sedikit melirik, mengintip ekspresi cewek-cewek yang menatapnya iri dengki.


"Kamu--ngapain kesini?" Ruby mendongak agar dapat menatap wajah Pria yang bertubuh jangkung dihadapannya.


"Ngapain lagi?" Athala membungkuk agar menyamakan tingginya dengan Ruby yang nyaris sepinggangnya. Ruby dibuat cengo saat Athala menoel hidung mungilnya. "Jemput kamu, Gadis kecil." Ruby rasa, semakin hari kelakuan Athala makin berbahaya. Ah ralat--memang dari awalnya Athala sudah sangat berbahaya. Ruby dengan beraninya malah memasuki kandang singa.


Flora membekap mulutnya penuh dramatis, "Omo!! si paling aku-kamu!" Seru Flora tak henti-hentinya menggoda, hal tersebut membuat Ruby semakin tak bisa menutupi kegugupannya.


"O-oh?" dengan kikuk Ruby merubah arah pandang kepada Flora yang masih betah diposisinya tadi. "Flo? lo ikut gue aja atau pulang sendiri?"


"Enak aja ikut lo! malah gue jadi obat nyamuk lagi, gue bareng Elang. Ntar lagi tuh bocah bakal nongol juga, tadi gue udah chat dia. Katanya hari ini kelas mereka bakal pulang agak telat karena yang ngajar memang Guru yang meresahkan. Suka menyiksa para murid-murid katanya."


"Kalo gitu gue duluan ya?" Ruby mulai berjalan mendahului Athala hendak menuju dimana kendaraan Athala berada, Lelaki itu hanya menyusulnya, beberapa siswi yang mengagumi Athala tadi sudah bubar karena kecewa berjamaah.


****