
Tidak ada sabit menghias pada wajah rupawan dengan balutan jas hitam. Pancarannya tidak melukiskan adanya kebahagiaan. Semestinya ini adalah saat-saat yang membahagiakan, dimana dia dan Gracia tinggal hitungan menit lagi akan segera resmi menjadi pasangan Suami Istri yang sah. Tapi mengapa? dia merasa hampa.
Kakinya terpatri ditempat menopang bobot tubuhnya yang berdiri sambil menatap Wanita cantik berjalan mengenakkan gaun pengantin putih panjang yang terlihat elegan, indah menjuntai ke bawah, dengan sehelai tudung transparan menutupi kepalanya, dia menggandeng lengan seorang Pria paru baya, Riko namanya, yang tidak lain merupakan Ayah dari Gracia sendiri.
Iya, tubuhnya diam, namun pikirannya melayang kemana-mana. Di sana ramai, keriuhan yang di iringi oleh melody biola mengisi ruangan aula meluap entah kemana.
Wanita itu kemana? pandangan Athala berpencar kesana-kemari menguliti sekeliling. Apa yang ia harapkan? kehadirannya? bukannya ini adalah keinginannya?
Tidak munafik, ia ingin menjumpainya. Apakah perbuatan malah menjadi boomerang untuknya? Gelora rindu hebat yang selalu terbendung didalam hatinya, selalu tertuju kepada dia semenjak mereka dipertemukan di suatu tempat kala itu.
Athala mencoba untuk menarik dua sudut bibirnya begitu Gracia telah berada didepannya. "Athala, aku serahkan Putriku kepadamu. Aku harap kau dapat diandalkan untuk menjaga dan melindunginya." Riko menepuk sekali bahu Athala.
"I-iya Ayah." Anggukan dari Athala terlihat ragu-ragu. Saat mereka sudah berdiri dihadapan penghulu, Athala mengeratkan genggaman tangannya yang menyatu dengan tangan Gracia, ada satu pertanyaan yang seketika terbesit di dalam lubuk hatinya.
Apakah dia benar-benar mencintai Gracia yang kini menjadi mempelai Wanitanya?
Athala menegang begitu janji sakral mulai dilantunkan oleh Pak Penghulu, "Saudara Athala, apakah Anda bersedia menjadikan Nona Gracia Kirania Eilene sebagai Istri sah Anda--"
'Tha..'
'Atha!'
'Athala!'
"Baik dalam keadaan kaya ataupun miskin, sehat maupun sakit--"
Kepala Athala kembali bergejolak diwaktu yang tidak tepat, dimana kala disela-sela Penghulu sedang membacakan perjanjian suci untuk mereka. Dengan mata yang mengerjap berkali-kali sambil menggeleng-geleng pelan, ia memegangi sisi kepalanya. Teka-teki rumit yang bagaikan potongan-potongan fazel yang terpisah kini mulai menyatu satu persatu didalam benaknya.
"Setia menemaninya dan senantiasa menemaninya hingga akhir hayat?"
"Janji.. kamu harus kembali sesuai waktu yang sudah kamu tentukan tadi dan gak akan melakukan hal yang macam-macam dengan Cia.."
"Emang harus yah buat perjanjian? biar apa begitu?"
"Ihhh janji aja dulu, biar aku bisa senang!"
"Ruby..." Suara lirih dalam menyebut satu nama lolos dari bibirnya, dengan langkah sedikit oleng perlahan demi perlahan ia mundur.
"Ruby.."
"Ruby!!!" Athala berbalik badan ketika teka-teki kenangan yang rumit di kepalanya sudah berhasil utuh, menyatu dengan sempurna, dengan langkah berlari dia pergi menelusuri karpet merah menjauh dari altar.
Meninggalkan upacara pernikahannya dengan Gracia, situasi disana yang seharusnya haru akan kebahagiaan untuk kedua mempelai pengantin kini menjadi kacau balau, perbincangan demi perbincangan turut memperkeruh suasana.
Kilatan-kilatan cahaya sekilas dan bunyi potretan terpancar, beberapa reporter mulai mewawancarai mempelai Wanita yang ditinggalkan disaat sesi pernikahan sedang berlangsung, belum menyelesaikan janji sakral, belum sempat menyematkan cincin, dia telah ditinggalkan dalam situasi yang tidak menguntungkan untuknya.
"Gracia, apa alasan dari Athala kabur dari pernikahan kalian? apakah Anda benar-benar orang ketiga yang menghancurkan hubungannya bersama dengan Wanita yang dia cintai?"
"Apakah benar, Anda memanfaatkan keadaannya yang sedang hilang ingatan untuk mendapatkan keuntungan darinya?"
"Bisakah Anda memberikan penjelasan dengan keadaan ini, Gracia?!"
Gracia menyelip sambil menepis banyak media yang menyorotnya, tudingan-tudingan yang tidak mengenakkan menjadi pertanyaan yang dibenci oleh Gracia, dia berjalan kearah Ayahnya.
"Kerahkan beberapa bodyguard untuk mengejar Pria tadi! berani-beraninya dia meninggalkan Putriku disaat pernikahan mereka!" Gracia menahan pergelangan tangan Riko yang sedang marah-marah akibat dari ulah Athala.
Dia memberikan gelengan pada Riko, mimiknya terlihat putus asa. "Udah, gak perlu dikejar, Ayah.."
"Terus bagaimana dengan pernikahan kalian?!"
"Aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan kami.. ingatannya sudah kembali, dia akan pergi bersama Wanita yang dia cintai dari awal.."
Tidak ada yang bisa dia lakukan. Bohong memang jika dia tidak terluka. Jahat kah Gracia berharap ingatan Athala tidak akan pernah pulih?
Dan itu adalah hal yang tidak mungkin. Cepat atau lambat, ingatannya akan tetap kembali dan sekarang adalah saatnya dan pada waktu yang sama Gracia akan melepaskannya kepada Wanita yang sebenarnya dia cintai dari awal.
Dia sadar sedari lama, walau Athala bersamanya, selama ini tidak tumbuh setitik pun benih cinta pada Pria itu, Athala hanya membohongi dirinya sendiri, berpura-pura mencintainya dengan tulus karena sebuah hutang budi.
*****