My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
SEASON2(EX-LOVER) : BAB 02



Beberapa tahun kemudian...


Kepulan asap menguap di udara, dengan tubuh setengah telanjang, Zeal berdiri di balkon hotel memandangi fajar di pagi hari. Ditengah itu, tiba-tiba sebuah tangan lentik menjalari perutnya, mendekap tubuh tegapnya dari belakang. Zeal menghembuskan napas jengah.


"Good morning, Ze.."


"What is it?" Bukannya membalas dengan good morning, malah ia menyambutnya dengan nada dingin. Sedingin udara pagi ini.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat pagi untukmu. Salah?"


"Humm.."


Ivelle mendengus sebal, masih pagi saja suasana hatinya sudah dibuat buruk karena sikap dinginnya, Ivelle memutar bahu Zeal agar dapat bersitatap dengannya. "Tatap aku, Ze."


"Hmm.." Zeal menatapnya hingga empat mata itu saling beradu pandang, dengan raut Zeal tunjukkan tidak minat dipadu sedikit malas.


"Kenapa kita tidak benar-benar menjalin hubungan seperti pasangan pada umumnya? Kita sudah bertunangan, sering menghangatkan di ranjang. Sebentar lagi kita akan menikah. Setidaknya, kau harus mulai membuka hatimu untukku, jangan perlakukan aku dengan dingin seperti ini. Kau hanya hangat denganku saat bermain di ranjang, kalau begitu apa bedanya aku dengan jalaang diluar sana?"


"Aku bersedia bertunangan denganmu hanya karena melanjutkan hidup. Aku malas mengenal orang baru lagi, apalagi hanya kau satu-satunya Wanita yang disukai oleh kedua orang tuaku. Untuk hubungan seksual--kita tidak bisa menghindari itu, karena kegiatan itu adalah kebutuhan biologis orang dewasa seperti kita."


Ivelle mendesaah kesal. "You really make me feel like a biitch."


Zeal meluapkan kepulan rokok dihadapan Ivelle membuat Wanita bermanik mata warna abu-abu itu mengibaskan tangan mengenyahkan asap nikotin dari hadapannya. "Kurang ajar kau, Zeal! Uhuuuk!!"


"Tidak sepenuhnya benar, tidak sepenuhnya salah juga. Anggap saja kau tunanganku sekaligus partner ranjangku."


"Apa mungkin kau seperti ini karena belum bisa melupakan Rie?" Kedua netra Ivelle memicing. Menyidik Zeal yang kini auranya lebih dingin dan gelap dari yang awal, kilat matanya menjadi mengintimidasi.


"Jangan pernah mengungkitnya lagi di hadapanku. Apalagi menyebut nama Wanita murahan itu. Sungguh menjijikan mendengarnya."


Ivelle membuka lengannya dengan decihan sinis. "Lihatlah! Reaksimu saja sudah menjadi bukti bahwa kau belum bisa melupakan mantanmu yang kau cap sebagai Wanita murahan, padahal kau sendiri gagal move on darinya. Oh, ya ampun! Kau si munafik paling handal yang pernah aku kenal, wahai Mr, Zeal.."


"Sudah kubilang jangan membahas tentangnya! Aku sudah melupakannya dan tidak pernah gagal move on darinya." Nada suara Zeal meninggi, ia mencengkeram batang rokok di genggamannya kuat-kuat hingga benda itu patah menjadi dua bagian. Sorot matanya sirat akan kebencian dan dendam.


"Mendengar namanya saja sudah membuat darahku mendidih. Aku sudah melupakannya semenjak dia mengakhiri hubungan kami beberapa tahun lalu dan lebih memilih bersama orang lain, dia tidak lebih hanya seseorang yang paling aku benci didunia ini."


*****


Melbourne. Pukul, 20:30 PM.


Dengan balutan jas hitam senada dengan celana formalnya, dengan sebelah kaki yang dipangku, Pria berpenampilan cenderung berwibawa itu begitu fokus dengan tablet yang ada ditangannya. Dia, Zealander Achraf Lavarendo. Anak sulung dari pasangan Edric dan Carlina. Pasangan yang terkenal berkedudukan tinggi dinegara ini.


Ckiiittt!


Bugh!


"Apa yang terjadi, Miko? Kau mau membuat dahi saya terluka akibat ulahmu?! Kau dendam padaku karena menurunkan gajimu di bulan ini?!" Protes Zeal, ia mengusap-usap dahinya yang terbentur belakang kursi mobil jok depan.


"Tidak, bukan seperti itu, sepertinya saya menabrak seseorang, Tuan."


Zeal menegakkan punggungnya, menajamkan indera penglihatannya mendeteksi seorang wanita didepan sana.


"Damn! Miko! Apa yang kau lakukan! Kau ku pekerjakan jadi sopir untuk fokus mengemudi, bukan malah menabrak seseorang seperti ini. Kau mengantuk? Ah saya menyesal telah merekrut mu! Lebih baik saya berkendara sendiri saja!"


"Wanita itu menyebrang tiba-tiba Tuan, kecelakaan ini murni diluar kuasa saya."


"Ah sudahlah! Kau memang tidak becus di bidang mengemudi!" Desah Zeal sebelum membuka pintu mobilnya, dirinya keluar menghampiri Wanita yang mencoba bangkit ditengah jalan.


"Kau tidak apa-apa? Maafkan atas keteledoran sopir saya. Sebutkan angka jumlah nominal uang yang Anda butuhkan untuk berobat, saya akan segera memberikan tipsnya pada Anda."


Surai bergelombang, berwarna hitam dipadu dengan blonde. Wanita lusuh mendongak dengan raut panik dan penuh memelas, "Tolong, selamatkan aku, Ze..."


Zeal tertegun. Suara ini, wajah ini. Sangat familiar baginya. Meskipun sekarang terlihat lebih lusuh dan dekil, ia tidak mungkin melupakannya. Mantan paling yang ia benci. Valerie Elvan Kanoa.


Ujung netranya melirik sinis, menyorot tepat pada perutnya yang membuncit. Ternyata Wanita ini sedang hamil besar. Pasti dengan Pria pilihannya, yah siapa lagi? Kalau bukan Suaminya yang sekarang.


"Oh? Kirain siapa, ternyata hanya orang asing." Zeal melengos. Hendak meninggalkan dirinya. Namun, tubuhnya terhenti, pergelangan tangannya dicekal oleh Valerie. "Bantu aku Ze.. aku mohon.."


"Hahaha mau kemana kau, Rie?! Jangan harap kau bisa kabur sebelum memberikan uang padaku!!" Tawa samar seorang laki-laki terdengar mengerikan, menyapa telinga mereka berdua, raut wajah Valerie kelihatan semakin panik.


"Tolong aku dan calon anakku! Bawa aku pergi jauh dari Pria itu! Dia benar-benar laki-laki terbejat yang ku kenal semasa hidupku! Dia akan membunuhku dan anakku kalau menemukanku!" Desaknya, pipinya banjir akan air mata.


Dapat Zeal rasakan suhu dingin dan vibrasi dari tangan perempuan ini, ia dapat menebaknya bahwa Valerie begitu ketakutan. "Maaf. Tapi saya tidak tertarik berurusan dengan rumah tangga orang lain." Zeal membuang muka, tidak ingin peduli.


Menghempaskan kuat belenggu dipergelangan tangannya hingga terlepas dengan sendirinya, Zeal melangkah menjauh dari Valerie, mengabaikan permintaan pertolongan dengan isak tangis keputusaan yang mengiringinya.


Baru saja, Zeal akan memasuki pintu, ia meraup wajahnya gusar setelah dari jarak tempuh yang masih cukup jauh, dari arah berlawanan sana lebih tepatnya, ia menangkap seorang lelaki yang jalan tidak stabil, bisa dapat Zeal pastikan melalui tubuhnya yang oleng bahwa lelaki itu sedang mabuk.


"Rie!! Kembali kesini kau!!"


"Hikss!! Tolong selamatkan aku!! Aku tidak mau lagi bersama dengan laki-laki kasar itu!" Valerie meraung-raung histeris.


"Shiit!" Umpatnya sebelum kembali bergegas menghampiri Wanita itu dan menggendongnya ala bridal style membawanya kedalam mobil.


Zeal mengitari mobil itu lalu masuk melalui pintu yang bersebrangan dengan Valerie. "Jalan." Titahnya setelah menutup pintu mobil.


"Baik Tuan."


*****