My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.PERTENGKARAN



Akibat bunyi decitan pintu yang dibuka oleh seseorang membuat es krim yang dibelikan oleh Reygan dengan susah payah nyaris jatuh kelantai, syukur Athala masih dapat menyeimbangkan tangannya yang tengah menggenggamnya.


"Atha? lagi apa? apa aku ganggu?" Kepala Ruby menyembul dari sisi pintu.


"Eumm enggak. Masuk aja."


Ruby berjalan menuju Athala yang sedang duduk di meja kerjanya setelah mendapat izin, ia terjaga dari tidurnya di pagi masih buta, seingat Ruby, Athala minta ditemani karena ia bekerja lembur untuk malam ini, namun Ruby justru ketiduran lebih awal.


"Itu--apa?" Ruby melirik berbagai macam jenis es krim yang merajalela dimeja kerja Athala.


"Oh ini--itu aku lagi pengen ngemil es krim."


Ruby menunjukkan reaksi melongo, ia memindahkan arah tatapannya dari es krim menuju wajah Athala, ia membekap mulutnya yang nyaris saja menyemburkan tawa menangkap sudut bibir Athala yang belepotan akan es cream, mirip persis dengan cara makan anak kecil.


"Tha? kamu sehat?" Tangan Ruby diletakkannya didahi agar dapat mengecek suhu badan Athala, ternyata normal, lelaki ini tak sakit, lantas mengapa jadi aneh begini?


Athala mendengus kesal, "Emang nanti orang sakit baru bisa makan es krim?"


Ruby menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "Enggak sih, hanya aneh saja, kok tiba-tiba pengen es krim?"


"Kamu kan tahu aku suka yang manis-manis." Athala kembali sibuk berkutat dengan laptop kesayangannya, walaupun masih sambil menyesap es krim di sebelah tangannya yang menganggur.


"Iya tapi kok timingnya gak pas banget? masih dini hari loh, gak baik buat kesehatan, nanti kamu bisa masuk angin, apalagi tadi malam kamu mual-mual.."


"Yang punya badan kan aku, jadi aku tahu yang mana baik dan gak baik buat kesehatan aku, gak usah khawatir. Aku udah lebih gede dari pada kamu, udah tahu bedain yang mana bener dan yang mana buruk."


Ruby menghembuskan napas lemah, percuma saja menasihati Athala, ia adalah orang yang sangat keras kepala, Ruby memilih meraih tissue yang tersedia dimeja kerja Athala lalu dengan telaten membersihkan noda-noda disudut bibir Athala, "Kamu bayi besar apa? makan eskrim aja belepotan kaya gini."


"Gak nyadar, mana bisa aku lihat wajah sendiri tanpa kaca."


"Kamu kenapa jadi cerewet gini sih? ada saja kata-katamu untuk membalas ucapan ku. Gak bisa mengalah saja? dengerin nasihat aku kali ini saja." Ruby membuang tissue bekas lap Athala di tong sampah yang ada dipojok, ia kembali lagi mengambil alih cemilan Athala.


"Bukan aku ambil Tha, hanya di taruh didalam kulkas saja, kapan-kapan baru dimakan lagi setelah perut kamu udah mendingan."


"Enggak! aku mau makan saat ini juga!"


"Kenapa kamu jadi kekanak-kanakan kayak gini sih?"


"Kamu tuh yang kekanakan-kanakan! orang lagi mau makan eskrim juga di larang!"


Dengan rajukan Athala menggeser seluruh es cream di permukaan meja tersebut dalam kurungan lengan kiri dan kanannya mengarah pada dirinya sendiri. Ruby menatapnya tak percaya, sungguh perubahan yang mengherankan sekali.


"Atha? kamu kehabisan obat? kalo iya, besok aku pergi ke rumah sakit jiwa untuk membelikan mu obat baru."


*****


Masih pagi sekali, Athala sudah bolak-balik dari kamar mandi karena rasa mual nya masih berlanjut part dua hingga kini, Ruby memasuki kamar tidak dengan tangan kosong, ia membawa nampan berisi sup buatannya untuk Athala. Tak ada campur tangan dari para pelayan. Asli, masakannya sendiri, catat!


"Tuh kan aku udah ingetin jangan makan eskrim, malah ngeyel, gini kan jadinya? sekarang yang siksa siapa?" Padahal Athala sudah merasa sangat lemas karena perutnya masih kosong, namun ia harus memuntahkan segala isi perutnya, Ruby justru melontarkan omelan ala emak-emak di pagi hari.


"Kamu bisa diem gak sih? gak lihat keadaan aku kaya gimana? bacotan kamu itu hanya bikin kepala aku tambah pusing tahu gak!" Mulutnya komat-kamit merapalkan misuh-misuh tak jelas, ia merasa benar-benar sensitif sejak semalam, perasaannya campur aduk, seperti Istri yang sedang mode senggol bacok.


Alhasil, Ruby yang sudah terpancing emosinya, meletakkan nampan di atas nakas dengan kasar, "Sudahlah! kamu makan sendiri aja, mending aku berangkat sekolah!" Mengharap ia yang mengalah?! hello! perempuan selalu benar!


Mumpung Ruby sudah siap dengan seragam sekolahnya, Ruby berjalan hendak keluar setelah sebelumnya meraih tas ranselnya di meja yang terpatri di sudut. Langkahnya dihentikan oleh bantal yang mengenai punggungnya cukup keras. Dengan geram, ia berbalik badan melihat si pelaku.


"Lo mau ninggalin gue, dan pergi ke pelukan Alan, iya?! pergi aja udah sana! gue gak peduli lagi! muak gue lama-lama!"


"Oh?! gak peduli lagi?! oke! awas lo nyari-nyari gue!" Ruby melenggang dari kamar Athala dengan amarah yang tertahan, pertengkaran mereka setengah serius tapi setengah bercanda juga, mau dibilang tak serius, sebutan mereka pun sudah berpindah dari aku-kamu menjadi gue-lo. Katakan saja itu panggilan keramat bagi pasangan di dunia ini ketika lagi beradu mulut.


*****