
Semenjak dari sekolah, Ruby menutup mulutnya. Perjalanan mereka tak ada indah-indahnya sama sekali, hanya diliputi keheningan. Athala pun mencoba untuk membuka suara sebagai pihak pertama yang memulai obrolan, tapi Ruby ada saja caranya untuk menutup pembicaraan.
Sejauh apapun Athala menerawang, ia tak menemukan jawaban apa yang membuat Ruby jadi pendiam seperti sekarang. "Ruby, are you oke?"
"Hmm, oke."
"Really? tapi kenapa dari tadi diam terus? gak seperti kamu biasanya." Athala melirik sekilas kepada Ruby yang duduk disebelahnya, ia masih sibuk mengemudi.
"Emang, aku seperti biasanya kaya gimana? persis kamu kenal aku gimana orangnya. Inget, kita gak ada hubungan apa-apa selain kesepakatan yang kita buat. Jadi gak usah sotoy tentang aku." Ujarnya terdengar sedikit kasar, suasana hatinya kini sedang tidak baik-baik saja, ia juga tak tahu apa penyebabnya, yang intinya seperti ada suatu yang mengganjal.
Sudut bibir Athala tertarik, membentuk senyuman yang terkesan miris. "Jadi, gimana hubungan kamu dan Alan?"
"Gak usah di ingetin! denger namanya pengen nendang tuh cowok sampe laut, biar sekalian dimakan aja sama buaya yang sejenis sama dia."
"Marah-marah mulu, curiga kalian lagi ada masalah?" Sementara satu tangannya sedang menyetir, yang lainnya Athala gunakan mengusap-ngusap dagunya sambil menyeringai, dengan adanya sesuatu itu, tak mungkin tak akan membawa pengaruh pada Alan.
"Kepo!" Damprat Ruby untuk Athala, lelaki itu akhirnya memilih bungkam tak bertanya lagi, detik berikutnya hingga seterusnya perjalanan mereka, hanya ditemani oleh kesunyian.
Lima belas menit mereka dalam perjalanan, Ruby kira Athala akan membawanya pulang, rupanya Pria itu justru memarkirkan mobilnya di basement, ia berhenti di sebuah hotel yang Ruby duga adalah hotel miliknya sendiri yakni hotel Ragaswara.
"Kita mampir disini bentar aja."
"Ngapain, emang?"
"Ada."
Athala keluar dari kendaraan miliknya disusul oleh Ruby, perempuan itu tak tahu dalam rangka dan tujuan apa Athala membawanya kedalam gedung, tapi ternyata lelaki itu membawanya ke rooftop hotel yang ada dipuncak ketinggian.
Surai yang dibiarkan tergerai indah itu, melayang menari-nari dengan bebas ketika diterpa oleh semilir angin yang berhembus. Ruby berdiri di tepi atap dengan mengamati penuh takjub pemandangan indah lautan bangunan yang tersaji didepan matanya, malam hari jelas terlihat lebih indah karena gemerlap lampu-lampu bangunan rumah maupun gedung semua menyala, kontras dengan kegelapan di malam hari.
"Dari tadi aku perhatikan, mood kamu buruk. Maka dari itu, aku bawa kamu kesini, mungkin bisa sedikit memperbaiki mood mu." Athala yang baru saja menghabiskan rokok menjauh dari Ruby, kini ia sudah mendekatinya, berdiri berdampingan dengan Ruby pada pembatas rooftop.
Batang hidung Ruby mengerut, ia mengendus-ngendus sekitar, ada aroma-aroma yang tak enak ditangkap oleh indera penciumannya, bukan aroma busuk, tapi entah mengapa Ruby tak suka dengan bau yang ternyata berasal dari Athala.
Athala dibuat bingung saat Ruby mendorong dirinya sedikit menjauh, "Loh, kenapa By?"
"Jauh-jauh kamu! kamu bau!!" Ruby menjepit hidungnya dengan jari telunjuk dan jempol agar tak kembali menghirup aroma yang tak ia sukai, Athala mencium ketiaknya dari sebelah kanan lalu kekiri, tapi tak ada aroma yang tak sedap, wangi parfum yang digunakannya masih menguar dari pakaiannya.
"Aku gak bau kok By.. malah aku masih harum banget, aku hanya sibuk bekerja seharian, gak berkeringat banyak."
Belum juga selesai dengan kebingungannya, Ruby lekas mendorongnya kuat kala ia mencoba untuk kembali mendekat hingga menciptakan jarak yang aman, Ruby menggeleng erat sambil melambai-lambaikan kecil tangannya. "Jangan! jangan mendekat! kamu bau banget!!"
Ia memperlakukan Athala bagaikan orang yang tak mandi-mandi selama satu minggu, hal tersebut dapat membuat tatapan heran Athala semakin tertampil jelas, "Aku gak bau sama sekali By.."
*****
Athala masih heran apa yang terjadi dengan Ruby, tak ada aroma-aroma yang tak sedap terdapat pada tubuh dan pakaiannya, namun Gadis kecil itu masih belum mau dekat-dekat dengannya, tapi terlepas dari itu, Athala tetap mengajak Ruby untuk makan di restoran yang tersedia pada hotel miliknya berhubung dirinya juga Ruby belum makan malam.
"Tha, malem ini kamu mau bawa aku menginap dihotel ini lagi? kemarin-kemarin di mansion kemudian divilla lalu apartemen, sekarang di hotel, lalu seterusnya dimana lagi?" Orang sultan memang berbeda, sesuka hati mau bermalam dimana.
"Emangnya aku ada bilang mau bawa kamu nginap dihotel ini? enggak kan?" Mereka bercakap-cakap sambil menunggu hidangan yang mereka pesan. Tanpa dipungut biaya tentu saja, karena hotel ini adalah milik Athala sendiri.
"Iya juga yah." Ruby menggaruk-garuk pipinya pelan, Athala memang tak bilang mau membawanya menginap dihotel ini, pandangannya mengedar, menjelajah sekeliling yang terlihat ramai oleh orang-orang.
"Kita gak bakal nginep disini, tapi aku mau kamu temanin aku malam ini di mansion utama."
Ruby langsung mendelik, menangkap anggapan yang ambigu dari maksud omongan Athala. "Gak ih! malam ini aku lagi gak bisa, aku capek."
"Emang aku suruh kamu ngapain? aku hanya minta temanin aku kerja lembur."
Ruby jadi cengo sendiri, disini ia terlihat seperti orang yang paling cabul salah mengartikan maksud bicara Athala, kedua pipinya tiba-tiba bersemu layaknya kepiting rebus, ia bersyukur karena ada pegawai yang bekerja sebagai pelayan di restoran ini membawakan pesanan mereka hingga atensi mereka teralih.
"Selamat menikmati, hidangan Tuan.." Karyawan itu membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan sebelum akhirnya ia berlalu melayani pelanggan lain.
Ruby menatap hidangan utama juga hidangan ringan yang telah tertata rapih dimeja resto dengan binar-binar dimatanya. Melalui hari yang teramat sial untuk hari ini membuatnya jadi lebih lapar dari biasanya, sepertinya ia butuh asupan untuk kembali mengisi tenaga.
Ia mulai menyantap makanan yang telah disajikan dengan lahap, mengabaikan apa saja yang ada disekitarnya termasuk Athala yang sedang membekap mulutnya menahan mual karena aroma makanan yang disediakan diatas meja.
Padahal baru dari rooftop Ruby yang bersikap aneh tak seperti biasanya, kini ia lagi yang mendadak tak normal. Masa hanya karena aroma makanan dapat membuatnya mual-mual tak jelas?
"Huekkk!!" Kursi tergeser saat ia bangkit dari duduknya dengan terburu-buru pergi dari sana berniat menuju toilet.
"Mau kemana Tha?" Tak mendapat tanggapan dari Athala. Ruby lantas mengangkat bahunya acuh tak acuh, masa bodoh dengan yang lain, untuk sekarang makanan lebih penting dari pada apapun.
Sepersekian menit berlalu mengalirnya waktu, Athala kembali kemeja yang mereka tempati tadi, tapi hanya untuk mengajak Ruby pulang. "Ruby, ayok kita pulang. Kayaknya aku gak enak badan, soalnya aku ngerasa mual-mual terus, perut aku gak nyaman."
"Tapi--makanan belum habis." Ekspresi tak rela Ruby turun pada makanan-makanan yang terlihat sangat mubazir jika ditinggalkan.
"Nanti aku suruh pegawai disini untuk membungkus makanannya, lanjut makan dirumah aja ya? aku benar-benar merasa lagi gak enak badan."
"Yaudah deh." Ruby pasrah. Toh mau dimakan disini atau dimana saja tak ada bedanya juga.
*****