My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.HOTEL, MANSION, ATAU APARTEMEN



Butuh waktu untuk Athala menumpulkan rokok yang disulutnya. Selepas ia selesai menjernihkan pikiran dengan nikotin, Athala kembali memasuki kedai tak lupa menginjak putung rokok agar memadamkan nyalanya.


Dahinya berkerut samar ketika tak mendapati ada Ruby dengan teman-temannya, kursi yang menjadi tempatnya duduk pun kosong, terlebih Bayu juga ikut-ikutan tak ada ditempat.


"Ruby, dimana?" Mereka yang sedang sibuk dengan tugas, terbelah fokusnya saat Athala memberanikan diri bertanya kepada mereka.


"Tadi pamit ke toilet." jawab salah satu dari yang lain.


"Cowok yang duduk disini, dimana?" Athala menunjuk kursi Bayu membuat mereka saling pandang, "Kalian pada tahu Bayu kemana?" Mereka bertanya satu sama lain. Firasat Athala mulai tak enak saat mendapat jawaban mereka yang menggeleng, ada juga yang mengangkat bahu tak tahu.


"Gue aja gak sadar tadi dia beranjak dari tempat."


Athala meraup wajahnya kasar, umpatan pun turut menyertai. "Sh*it! awas aja tuh cowok berani macem-macem ke dia!" Ia lekas berjalan cepat pergi dari sana menuju ketempat Ruby berada sesuai informasi yang ia dapat. Mereka yang ada disana dibuat heran melihat reaksinya yang tak wajar.


"Hiksss, Atha... tolong!!!!"


Tiba didepan pintu toilet jeritan suara perempuan yang terdengar familiar membuatnya gerak cepat menendang kencang pintu utama kamar kecil.


BRAKKK!!


"DAMN! punya nyawa berapa lo berani sentuh dia?!"


BUGHH!!!


****


Dengan telaten Athala membantu mengancingkan satu persatu kancing seragam Ruby, ada juga kancing yang rusak akibat ulah bejat Bayu.


Kemudian setelahnya Athala memakaikan jas mantelnya di badan Ruby yang masih terisak, tangisnya sesenggukan, siapapun yang ada diposisi Ruby pasti akan shock berat seperti yang dialaminya kali ini. "Hiksss.. gue bukan cewek murahan yang sembarang disentuh-sentuh orang.."


"Gue memang bukan cewek perawan, t-tapi..bukan berarti gue cewek murahan.."


Deru napas Ruby tersendat-sendat karena tangis, ia meremas kaos hitam Athala dibagian dada. Athala mengelus permukaan rambutnya untuk menenangkan. "Iya, kamu perempuan berharga Gadis kecil.. sudah gak papa, jangan nangis lagi. Sekarang baik-baik saja, ada aku disini.."


Sedangkan Bayu sudah terkapar dilantai dingin toilet. Singkat cerita, Athala telah menghajarnya membabi buta hingga cowok itu sampai pingsan, terhitung masih bermurah hati, Athala masih memberinya sedikit umur agar menghabiskan sisa hidupnya di jeruji besi.


Bisa ia jamin, bayarannya akan jauh lebih kejam atas perlakuan yang telah membuat Gadis kecilnya menangis seperti ini. Athala mengangkat tubuh mungil Ruby, menyelipkan tangannya dipunggung dan dibelakang lutut Ruby lantas membopongnya. Perempuan itu hanya pasrah mengalunkan tangannya di leher Athala saat ia digendong ala bridal style.


Sebelum benar-benar berlalu, Athala tak ketinggalan meludahi Bayu yang tergeletak mengenaskan dilantai. Siapa peduli? mau ia jadi mayat sekalipun disana, Athala justru akan merasa bersyukur.


"Loh, Ruy kenapa?" tanya Ririn salah satu teman yang satu kelompok dengan Ruby. Mereka yang ada disana heran melihat Athala menggendong Ruby, kelihatannya keadaan Ruby sedang tak baik-baik saja. Dan juga Bayu dimana? pikir mereka tersimpan di kepala masing-masing.


Athala menjangkau tas ransel Ruby yang tersimpan di kursi cafe. "Kalian bisa kerja tugas kelompoknya tanpa Ruby? dia lagi sakit, gue harus bawa dia pulang." Kenal tidak kenal, Athala bersikap layaknya orang yang sok akrab dengan teman-teman sekolah Ruby.


"Oh iya boleh, kebetulan tugasnya tinggal dikit lagi, kami bisa ngerjain lanjutannya."


Setelah itu, tanpa pikir panjang lagi, Athala berlalu dari cafe dengan menggendong Ruby ala bridal style.


****


"Hikss.. dia nyentuh aku Tha.. dia lancang nyentuh aku dimana-mana.. aku takut.." Tenggorokan Ruby terasa tercekat.


Ruby masih belum puas menangis, ia lanjut terisak-isak didalam mobil selepas meninggal cafe, padahal bukan kali pertama ia disentuh sejauh itu, bahkan Athala dan dirinya sudah dua kali melakukan hal lebih jauh, tapi entah mengapa ia merasa jijik dengan sentuhan Bayu.


Kendaraan Athala belum juga melaju karena tangisan Ruby tak mau reda, Athala harus menangkan Ruby melalui pelukan hangatnya.


"Iya.. aku akan ngasih hukuman yang setimpal untuk dia. Bahkan mungkin akan lebih dari itu." Athala berjanji untuk Ruby.


"Sudah, jangan nangis lagi.." Athala mengurai pelukan agar dapat menatap Ruby sepenuhnya, tangannya bekerja mulai menata surai Ruby yang terlihat kacau balau, "Aku gak suka liat kamu nangis, jadi kacau gini.."


"Jelek tahu.." Athala mencoba mencairkan suasana dengan ledekan agar Ruby kembali tersenyum. Tapi sepertinya tak cukup efektif, karena Ruby tak menanggapinya, mungkin ia masih terlalu shock.


Telunjuk Ruby menyentuh bibir, "Terus, disini.." tak sampai disana, ia lanjut menuju leher, baru saja ia menunjuk payu.daranya, Athala sudah lebih dulu membungkam bibir ranum Ruby yang terus bergerak-gerak mencomel tiada henti.


Hal tersebut mampu membuat Ruby terdiam membisu, seharusnya Athala melakukan ini sejak tadi biar Ruby berhenti menangis.


Awalnya bibir Athala masih diam, tapi perlahan ia mulai mel.u.m.atnya dengan intens, Ruby yang dibuat terbawa suasana, lambat laun mulai membalas pagutan itu, hanya mengimbangi sebiasanya, pikirannya melayang keawan-awan hanya karena ciuman lembut yang dibubuhkan oleh Athala. Keduanya terlibat ciuman cukup panas didalam mobil itu.


Wajah Athala kadang miring kekanan, kadang juga miring kekiri, ia menyentuh tengkuk Ruby untuk memperdalam ciuman, menggigit bibir bawah Ruby untuk semakin memperdalam ciuman.


Tak peduli mereka lagi dimana, tangannya pun mulai menggerayap, berkeliaran tak tentu arah, menyentuh apa saja yang ia raih.


Mungkin tidak akan berhenti apabila Ruby tak menepuk-nepuk dadanya bidangnya pertanda jika oksigen disekitar mereka sudah mulai habis, terpaksa Athala memberi jeda agar mereka masih bisa leluasa mengambil napas.


Ia menarik tubuhnya mengambil jarak, napas mereka naik turun setelah berakhirnya tautan bibir mereka, dirasanya napas Ruby sudah mulai optimal, Athala kembali mempersempit jarak di antara mereka, memiringkan kepalanya kebawa memburu leher jenjang Ruby yang seputih susu.


Tinggal dua centi, deru napas hangat Athala telah menyentuh permukaan kulitnya, Ruby meletakkan jari telunjuknya di dahi Athala guna mendorongnya menjauh, "Sudah cukup, takutnya kamu kebablasan, inget kita lagi di mobil."


Athala meraup wajahnya gusar, 'Damn! gue lupa anjirr!'


Bunyi deru mobil Athala mulai terdengar saat ia menyalakan mesinnya dengan terburu-buru, perlahan kendaraan itu menjauh dan meninggalkan area parkiran.


Ditengah perjalanan, kala lampu lalu lintas berubah warna merah, Ruby dibuat bingung dengan pertanyaan yang dilayangkan oleh Athala. "Mau main dimana? hotel? mansion? atau--di apartemen?"


"Main apaan? terus apanya dimana?" Ruby masih mencoba menela'ah dengan logis. Tak ingin berpikir yang negatif.


Athala menoleh kearah Ruby yang menunjukkan mimik penuh tanda tanya, "Kamu mau ngehilangin jejak cowok itu kan? gak ada cara lain."


*****


Disebuah bangunan tua yang terbengkalai. Dinding-dinding yang kumuh dengan sudut dipenuhi sarang laba-laba, debu bertebaran dilantai, berbagai fasilitas disana sudah lapuk serta berkarat.


Terlihat seorang laki-laki yang kedua tangannya terikat oleh rantai. Kepalanya menunduk, dibagian pergelangan tangannya telah memerah akibat belenggu itu, ia telah lelah memberontak dan meminta untuk dilepaskan, dirinya telah putus asa, memilih untuk diam pasrah lebih baik dari pada membuang-buang tenaganya.


Disana ia tak sendiri, ada dua brandal yang bertubuh besar dan gagah menjadi pengawalnya. Mengawasi pergerakannya jika saja ia melancarkan aksi kabur dari tawanan dengan merealisasikan berbagai cara, tapi hal itu tak akan pernah terjadi karena ia sudah menyerah, tak ada cara untuk kabur maupun lepas dari rantai yang membelenggunya.


Tak ketinggalan laki-laki lain yang baru saja masuk keruangan yang sama dengannya, membawa sepiring nasi putih tanpa lauk sama sekali. Ia berdiri dihadapan cowok yang terlihat sudah rapuh itu, mengarahkan sesendok kemulutnya.


"Makan!" Ia memberi penitahan terkesan mengantimidasi.


Kepalanya terangkat lemah menunjukkan sebuah kedua netra yang dilingkari oleh warna hitam yang terlihat jelas di pinggiran, pupil mata yang meredup tak ada gairah hidup sama sekali, bibir bawah dan atas yang pucat juga kering hingga pecah-pecah.


Wajahnya terlihat tirus, lengkap dengan tubuhnya yang lebih kurus dari sebelumnya, dari sana dapat membuktikan jika dirinya kekurangan asupan setiap harinya.


Namum, bukannya menyambut makanan itu, kepalanya justru berpaling kesamping sebagai sirat jika dirinya tak minat menerima suapan tersebut. Ia tak mengeluarkan sepatah kata sedikit pun. Hanya ada gerakan yang menjadi isyarat.


Hal itu dapat membuat cowok itu menggeram marah, ia mencengkram dagunya agar dapat menghadapkan wajahnya lurus kearahnya.


"Buka mulut lo, bangsat!! lo mau mati?!" Satu suapan melesat paksa kemulut, tapi bibir itu yang ada tambah tertutup rapat. Alhasil nasi yang ada di sendok tumpah kelantai.


Karena merasa muak, lelaki itu akhirnya mendorong kepalanya kasar. Ia membanting sendok kelantai hingga menimbulkan bunyi refleksi didalam ruangan tua tersebut.


"Terserah lo mau makan atau tidak! mati aja sana sekalian! gue gak peduli!" Sarksanya emosi, ia meletakkan dengan kasar piring yang berisi nasi tadi di atas meja lapuk yang terletak dipojok.


"Kalian, awasi dia! jangan beri cela dia sedikit pun untuk kabur, ngerti?!"


Sebelum pergi dari sana ia memberikan peringatan kepada dua pengawal yang ia perintahkan untuk mengawasi, lekas mendapat anggukan mantap juga gerakkan kompak tangan menghormat dari mereka.


"Baik bos!" balas mereka serempak.


*****