
"Hiksss, aku pengen lihat Alan, Atha!!" Ruby menangis kencang sepanjang perjalanan. Pikirannya kalut full diisi oleh Alan.
"Orang tuanya gak bakal izinin! kamu keras kepala banget sih?! kamu punya malu atau tidak?! sudah dihina-hina seperti itu masih nekat menjalin hubungan sama Alan. Bego dipelihara." gerutu Athala tak senang.
"Gak ada urusannya sama kamu! Aku gak mau tahu! aku mau pulang ke kost malam ini!"
Rahang Athala mengeras, "Gak! aku gak akan izinin kamu pulang kemana pun jika tidak bersamaku! kamu udah janji temanin aku malam ini! kamu gak inget perjanjian kita sejak awal?!"
"Kita udah sepakat, kamu gak boleh nolak jika aku ingin melakukan itu! kamu harus ikut aku ke apartemen!! layani aku untuk malam ini!!" Athala menggunakan volume suara cukup keras kali ini. Tangannya dengan lihai sibuk mengemudi. Kecepatan mobilnya melaju diatas rata-rata sesuai dengan emosinya yang berapi-api.
Athala tak tahu mengapa, tiba-tiba amarahnya tak terkontrol, perasaannya jadi tak karuan, Alan sudah sadar, kenapa harus secepat ini? hal itu jauh diluar bayangannya, seharusnya dari awal ia bertindak melenyapkan lelaki itu sebelum ia sadar, Athala hanya tak rela jika Ruby nanti akan pergi dari sisinya hanya karenanya.
"Kita udah melakukannya sore tadi!! apakah itu belum cukup? kamu mau membuatku hamil atau menjadikanku sebagai budak pemuas nafsumu, hah?! paling tidak, kita tunggu dulu hasilnya beberapa minggu, jika tidak berhasil, baru kita coba lagi!" Bentak Ruby. Air matanya masih berderai menghiasi pipinya.
Satu tangannya Athala pakai untuk memijat keningnya, sementara yang lainnya digunakannya menyetir, ia merasa frustasi sekarang. Kemudian dibukanya kembali suara, tapi dalam intonasi yang merendah. "Jika kamu mau cepat hamil dan terbebas dari aku, kita harus sering-sering melakukannya."
Diliriknya Ruby yang memalingkan wajah kearah jendela mobil, sepertinya ia enggan bertatapan dengan Athala. Dapat Ruby rasakan sentuhan tangan besar Athala dipunggung tangannya.
"Kamu mau lepas dari jeratan ku kan? kamu harus cepat hamil. Mengandung sembilan bulan, setelah itu melahirkan terus kita selesai. Aku sudah menyelidiki kasus Alan dan semuanya sudah terkuak, membocorkan pelakunya pada anak-anak Vagos biar masalah itu akan segera clear. Aku hanya minta satu anak darimu sebagai timbal baliknya."
Satu anak saja sudah cukup, Athala akan menggunakan itu untuk mengikat mereka. Ia yakin, setelah ada nanti buah hati mereka, Ruby tak akan tega jika berlama-lama tak menjumpainya, Athala akan menggunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.
Ruby menatap Athala dengan nanar, ia benar-benar tak mengerti dengan pola pikir Athala, menjalani dan berbicara sangat beda jauh sulitnya. Hamil dan melahirkan bukanlah hal yang mudah, akan tetapi Ruby sudah terlanjur membuat kesepakatan dengan Athala, ia bukanlah orang yang suka ingkar janji.
Ruby menarik napas dalam mencoba meredakan sisa-sisa tangisnya, sebelum akhirnya memungkas dengan pasrah. "Baiklah,"
****
Suara d.s.ahan dan erangan terdengar erotis sahut-menyahut pada ruangan kamar sebuah apartemen tersebut, di balik secerca cahaya lampu tidur, bunyi decapan dan penyatuan mereka mendominasi bilik itu. Jika saja ruangan ini tak kedap suara, mungkin suara mesum mereka kedengaran dari luar.
"Ah--lembut sedikit.." Ruby memejamkan mata gelisah, mulutnya sedikit menganga menikmati permainan mereka, cengkramannya di seprai kian kuat menyalurkan sensasi yang sulit diartikan. Perih dan nikmat datang saat yang sama dalam satu waktu, kedua pahanya terbuka, mengakang dibawah Athala, Pria itu menghujamnya penuh hasrat.
"Gak bisa gadis kecil.. kamu, terlalu nikmat.." Lirih Athala, sekujur tubuh mereka banjir akan keringat, suhu Alternating Current (AC) yang menyala dalam ruangan itu seakan menguap entah berantah, Athala mengeluarkan des.a.han halus dikalahkan dengan suara nyaring Ruby. Adakala ia melahap, mengulum dua n i.pl.e pada gundukan yang kenyal itu.
Athala semakin gencar, mencepatkan ritme gerakannya saat merasakan akan ada yang keluar, begitu pun dengan Ruby. Ia melenguh dan meracau-racau tak jelas. Semakin mengeratkan belitan kaki di pinggang Athala, tangannya pun mengalun dileher Athala. "A-atha, sepertinya--aku-aku mau--"
Dalam sisa kenormalan jiwanya, bibir Athala menggumam menginteruksi. "Bersama.."
Athala membenamkan kepalanya di sela leher jenjang Ruby sambil mengenggam kedua tangan Ruby. Tubuh perempuan itu sedikit menggelinjang, erangan yang terdengar cukup keras pun mengiringi kli.m.aks mereka berdua.
Tubuh Athala berguling kesamping Ruby, napas mereka masih naik-turun, menaikkan selimut tebal sampai sebatas dada, Athala lantas meraih tubuh mungil Ruby untuk dibawanya kerengkuhan. Ia mendekapnya dari belakang.
Sebenarnya Ruby tergelitik dengan deru napas Athala yang menerpa tengkuknya, tapi rasa kantuk yang menguasainya membuat dirinya jadi tak mampu lagi untuk berkomentar.
"Ruby...By.. boleh aku panggil kamu By aja? kamu gak suka kan aku panggil Gadis kecil karena ngerasa udah dewasa, jadi izinin aku panggil kamu By ya?"
Kesadaran Ruby kembali normal dengan izin yang tak perlu ia lontarkan, panggilan yang sama dengan Adelio tapi akhirnya Ruby pun mengangguk saja, lagi pula tak ada masalahnya kan, Athala menggunakan nama panggilan yang serupa dengan nama panggilan yang dipakai oleh Adelio.
"By..By.." Athala mengecup sekilas bahu mulus milik Ruby yang terbuka lalu terkekeh lucu, "Boleh aku lakuin ini sampai kamu ada suami nanti? kamu nikmat banget hingga buat aku gak bisa berhenti untuk terus terhubung dengan kamu.."
Ruby mendengus kesal lantas memberi hadiah pukulan ditangan Athala yang bertenggar dipinggang rampingnya. "Jangan ngaco deh!"
"Canda By canda.." Athala menyengir kuda menampilkan deretan gigi putihnya. Dibalik selimut, tangan Athala perlahan tapi pasti turun singgah diperut rata dan langsing milik Ruby, ia mengelus dengan lembut disana.
"Kapan sih benih aku bakal tumbuh disini? perasaan kita udah berulang kali ngelakuin itu tapi kenapa belum jadi juga? yang aku tahu ada yang hanya sekali bikin tanpa ikatan pernikahan bisa cepat tokcer, kok benih aku belum tokcer-tokcer juga? apa kita kurang usahanya?"
"Itu artinya Tuhan belum bisa mempercayakan kita jadi Ibu dan Bapak karena tahu belum ada ikatan pernikahan diantara kita, Tuhan gak tidur Atha..dia pasti tahu semua. Gak mungkin dia memberi anugrah pada sepasang manusia yang melakukannya hanya karena berlandaskan sebuah kesepakatan."
Athala berdecak pelan, "Itu masalahnya ada di kamu, By. Sekarang, aku tanya, kamu mau gak nikah sama aku? kita bisa rawat dia bareng-bareng. Perihal cinta, bisa belakangan, cinta akan tumbuh seiringnya berjalannya waktu dan selama itu kita bisa menghabiskan waktu bersama. Lupakanlah Alan.."
Sebagai tanggapan, Ruby menggeleng tanpa menoleh, lagi dan lagi Ruby menolaknya mentah-mentah. "Gak, aku gak bisa nikah dengan orang yang gak aku cintai, juga--aku gak kepikiran mau nikah. Aku punya Alan tapi gak tahu, dia bakal terima aku apa adanya atau tidak. Apalagi kamu lihat sendirikan? bagaimana tidak sukanya orang tuanya padaku. Yang jelas, aku akan mencoba menjelaskan semuanya nanti sama Alan dengan detail tentang kita, mau hasilnya baik atau buruk, akan aku terima dengan lapang dada nantinya."
"Ck, tuhkan. Kamu dinikahin sama aku, gak mau. Maka dari itu benih aku gak tumbuh-tumbuh dirahim kamu. Kalo sampai nanti kamu belum berhasil-berhasil juga lahirin anak aku, Jangan salahin aku terus melakukan itu sampai kamu memiliki suami nanti."
"Bisa dibilang selingkuh gak sih?" Ruby akhirnya memutar tubuh membuat mereka berdua kini saling berhadapan. Tangan Athala bekerja mengaitkan anak rambut Ruby yang menjuntai kebelakang telinga.
Cup
Athala memberikan ciuman ringan di pelipis Ruby lalu mengangguk. "Hmm, jadiin aku kekasih gelapmu aja."
Kini gamparan mendarat lagi di lengan Athala, Ruby tertawa renyah, "Atha bisa juga bercandanya."
Mereka bercanda ria seakan tidak ada yang terjadi sebelumnya, apakah perlu di ingatkan jika dimobil tadi mereka sempat adu mulut, oh yang benar saja! apakah jatah memang ampuh untuk membuat keadaan jadi lebih baik?
Athala mengeratkan pelukan hingga paras Ruby tenggelam di dada telanjangnya, aroma khas Athala menyeruak masuk kedalam hidung Ruby, ia selalu merasa aman dan nyaman dalam pelukan lelaki ini hingga membuatnya tak berselang lama kemudian sudah tenggelam dalam lautan kegelapan.
Direnggangkannya pelukan saat dengkuran halus terdengar pada Ruby, ia memberikan kecupan di pucuk kepala Ruby sebelum berkata dengan suara beratnya. "Have a sweet dream, my little girl." Lantas, tak lama kemudian ia pun menyusul Ruby ke alam mimpi.
*****