
"Makan ini Mih.."
"Yang ini, By.." Piring Ruby nyaris dipenuhi oleh lauk-pauk yang disendokkan oleh Athala dan Calix.
"Udah, nasi udah hampir tertutupi semua sama lauk, gara-gara ulah kalian.."
"Gak papa.. bial Mami tambah gede!"
"Loh, Mami udah gede loh.."
"Tambah semok maksudnya, By.." Timpal Athala.
"Eleh, itu enakkan di kamu.." Ruby memutar bola matanya sewot.
Di tangan kiri sendok garpu dan ditangan sebelahnya yang lain menangani sendok biasa. Calix lantas berseru."Selamat makan semuanya!!"
"Ah! Bentar, aku kelupaan sesuatu." Ruby meletakkan kembali sendoknya dipiring, gerakkan Calix yang menyuapkan makanan kemulutnya pun ikut menggantung diudara. Calix dan Athala bersitatap satu sama lain setelah Ruby beranjak dari meja makan.
"Mami ngapain?"
"Hah nanya kok sama saya, mana saya tahu?" Sahut Athala dengan nada mendramatis. Ia mengangkat bahunya tak acuh. Tidak lama kemudian, Ruby kembali kemeja makan dengan tangan membawa sebuah ponsel.
Ia mengutak-atik handphone-nya dipermukaan meja. "Makan gak akan terasa lengkap, kalo enggak nonton mukbang."
Athala dan Calix terperanjat mendengar celetukan Rubu yang makan tak akan terasa lengkap, kalau tidak nonton mukbang. Mereka mengerjapkan mata tak percaya. Kini Ruby sudah memplay sebuah cuplikan, terdengar suara kriuk-kriuk berasal dari ponsel Ruby yang menayangkan video mukbang. "Kamu belajar kaya gini, dari mana By..?"
"Emang kenapa? Ini kebiasaan baru aku."
"Luby aneh." Bisik Calix kepada Papinya.
Mata Athala membola, berani-beraninya anak durjananya ini memanggil Maminya sendiri dengan nama. "Ssst! Kalo sampe kedengaran Mamimu kamu nyebut-nyebut namanya, tamat riwayatmu! Papi pun gak akan bisa lindungi kamu."
Athala membekap mulut Calix agar tak berbicara sembarangan, ia takut mereka akan menjadi korban amukan Ruby jika mendengar bisikan kurang ajar Calix. Athala melemparkan senyum palsu saat Ruby beralih menoleh kearahnya dan Calix, "Ngapain kalian bisik-bisik?! Kalian bisikin apa?!"
"Enggak, By.. ayok makan ayok." Athala cepat-cepat mengalihkan topik pembicaraan, mereka sudah akan mulai dengan sesi mengisi perut.
Namun, belum satu santapan masuk kedalam mulut, sendok ditangan Ruby jatuh keatas meja karena tiba-tiba Ibu dengan satu anak itu, mual-mual tak jelas. "Huekk!!"
"Mami?!
"Ruby, kamu kenapa?!" Dengan raut khawatir yang tergambar jelas diwajah mereka, Athala dan Calix memperhatikan Ruby beranjak dari tempatnya sambil membekap mulutnya menahan mual. "Huekk!!"
Mereka juga cepat menyusul Ruby yang akan menuju wastafel didapur mengurungkan kegiatan mereka. Ruby memuntahkan isi perutnya di wastafel. "Huekkk!!"
"Tuhkan By.. makanya jangan aneh-aneh, pake acara nonton mukbang segala." Athala mengumpulkan surai Ruby yang menganggu dalam satu genggaman dan mengalihkannya kesamping, ia memijit tengkuk Ruby, wanita itu masih setia dalam posisi menunduk di wastafel, memuntahkan cairan bening.
"Emang, apa hubungannya nonton mukbang sama muntah-muntah, Pih?" Tanya Calix polos membuat Athala menggaruk-garuk kepalanya bingung, karena ia juga tak tahu apa hubungannya.
"Loh apa yang terjadi dengan nyonya, Tuan?" Rabia baru saja habis dari toilet diarea dapur sini untuk menuntaskan hajatnya.
Rabia mengangguk patuh. "Baik, Tuan." Beliau mengambil tangan Calix untuk ia genggam dan membawanya menuju meja makan, "Bi Labia, apa yang terljadi dengan Mami? Mami gak akan kenapa-napa kan?"
"Mami Calix akan baik-baik saja, karena Papi Calix begitu menyayangi Mami Calix, dia akan merawat Mami Calix kalau semisal dia sakit.." Begitulah tanggapan yang dipaparkan oleh Rabia.
Sedangkan Athala dan Ruby sedang dalam perjalanan menuju kamar mereka yang ada dilantai dua, Athala merengkuh bahu Ruby menuntunnya menaiki undakan tangga. "Masih mual?"
Ruby mengangguk lemas. Perutnya bergejolak hingga membuatnya merasa mual, aroma seafood tadi benar-benar tak cocok dengan seleranya. Padahal biasanya, ia tidak pilih-pilih makanan. "Mau aku buatin teh jahe? Biar rasa mual kamu bisa berkurang.."
"Hmm? Boleh. Habis itu, mungkin aku akan langsung tidur. Kayaknya ini efek kecapean seharian kerja."
*****
Dengan kepala berbaring dipangkuan Suaminya, Ruby memejamkan mata merasakan elusan lembut diperutnya. Gejolak tak nyaman yang timbul saat dimeja makan barusan, sudah sedikit terasa ringan setelah meminum teh jahe buatan sang Suami. "Ruby.. kamu--gak mau periksa?"
"Periksa apa, Atha..?"
"Itu--mungkin saja, kamu lagi isi.." nada suara Athala mencicit di tiga kalimat terakhir, Athala sudah ambil pelajaran dari pengalaman dan tak salah lagi, gejala yang dialami oleh Ruby mirip persis seperti yang ia alami dulu.
Ruby terdiam sesaat. Apakah maksud Athala ia sedang hamil? Jika dipikir-pikir, jadwal menstruasinya sudah telat berminggu-minggu. Tapi--ia tak ingin menaruh harapan lebih, takutnya malah kecewa jika tak sesuai ekspektasi.
Ia menggeleng kemudian meluruskan tubuhnya agar dapat menatap wajah Athala dari bawah. Suaminya menunduk hingga mata mereka bertemu satu sama lain. "Aku--takut.."
"Takut apa, hmm?" Athala mengais anak rambut Ruby yang sedikit menghalangi paras cantiknya.
"Aku takut membuat kamu dan diri aku sendiri kecewa."
Athala tersenyum teduh, dengan menyelipkan tangan dipangkal lengan dan mengangkatnya guna membantu Ruby untuk bangun dari tidurannya lalu merebahkannya di bantal dengan posisi lebih teratur dari yang awal mula.
Merendahkan tubuhnya sehingga kepalanya berada di posisi perut Ruby, ia menyibak piyama yang dikenakan Istrinya lalu mencium lama perut yang terlihat putih dan mulus yang terpampang didepan matanya. "Kalo disini ada debay lagi, aku gak akan melewatkan sedikitpun pertumbuhannya. Dari dalam kandungan, lahir dari rahim Ibunya hingga tumbuh sampai dewasa nanti. Aku janji, aku akan selalu ada disisi kalian. Kejadian dimasa lampau, bisa aku jamin gak akan terulang kembali." Gumamnya masih dengan bibir menempel dipermukaan kulit Ruby.
Lain halnya dari Athala yang sedang membisikkan kalimat-kalimat kasih sayang diperutnya, Ruby justru terkikik geli, deru napas dan juga bibir Athala yang bergerak membuatnya tergelitik. "Udah, Atha! Geli.."
Athala terkekeh kecil, ia menurunkan kembali pakaian Ruby dengan lalu turut merebahkan tubuhnya disisi Istrinya. Dengan menggunakan lengan sebagai alas mereka saling pandang satu sama lain. Detik selanjutnya, pandangan Ruby tertutup.
Bukan, bukan kelopak matanya yang terpejam, tapi Athala menutupnya dengan telapak tangan kekarnya. "Bobo. Bumil, gak boleh begadang."
Ruby menarik tangan Athala dari posisinya, ia menyungut lalu memukul kesal tangan Athala. Suaminya ini sudah berprasangka setinggi langit. Nanti jika tak sesuai harapan, ujung-ujungnya akan jatuh ke dasar bumi. "Bumil apa sih?! Mungkin saja aku hanya gak enak badan hingga mual-mual kaya tadi. Pokoknya, kalo gak mau terlalu kecewa, jangan berekspektasi tinggi."
"Iya deh iya.. kalo memang kamu lagi ngerasa kurang fit, kamu harus tidur lebih awal biar bisa istirahat yang cukup, mungkin saja pas bangun besok pagi, keadaan kamu udah mendingan." Athala menarik selimut sebatas dada mereka, tidak lupa memasukkan tubuh Ruby kedalam dekapan hangatnya. Ia menepuk-nepuk kecil punggung Ruby agar mempermudahnya masuk ke dunia mimpi. Bibirnya menyentuh pucuk kepala Ruby.
Ruby memejamkan mata sambil menyamankan tubuhnya didalam dekapan Athala. Hanya satu kata yang dapat menafsirkan hatinya saat ini. Yaitu nyaman. Ia nyaman didalam pelukan Suaminya, ditambah dengan adanya aroma mint yang menguar dari Athala, benar-benar membuat siapa saja betah berlama-lama dalam rengkuhannya.
Tidak berselang lama, terdengar dengkuran halus yang berasal dari Wanita dalam pelukannya, ia merenggangkan pelukan agar dapat menatap Ruby. Lagi, Athala mengukir senyum penuh kelembutan. Iris matanya terlukis sebuah kasih sayang yang amat dalam ketika memandangi Perempuan kedua tercantik di dunia ini setelah Wanita yang bernama Ibu. "Udah tidur ternyata.." gumamnya.
"Mimpi indah, kesayangannya Atha..." Bisiknya ditelinga Ruby.
*****