My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.TERIMA KASIH DAN MAAF



Hari demi hari berikutnya secara berturut-turut, Ruby hanya terus menggunakan waktunya untuk mengunjungi perusahaan Ragaswara walaupun yang dia dapat hanyalah penolakan.


Bahkan Athala tak segan-segan sampai melontarkan kata-kata yang kasar, sempat juga dia menemukan Gracia bersama Athala, namun mereka berdua mengabaikan dirinya, Gracia juga pernah menyinggung dirinya sebagai Wanita yang gatal dengan Calon Suami orang. Dia tidak mendapat peluang untuk berbicara empat mata dengan Athala.


Ruby masih mencoba bertahan, dia tidak ingin menyerah begitu saja sebelum hari H pernikahan mereka, terlebih lagi masih banyak tanda tanya besar yang berkeliaran di kepala Ruby.


Kali ini Ruby bagaikan buronan, dia lari-larian di koridor kantor, mencoba kabur dari kejaran Pak Satpam. Pasalnya, dia sudah dilarang untuk masuk, bahkan sebelum ini dia sudah beberapa kali dikejar oleh Pak Satpam, tetapi dia selalu saja ada cara untuk meloloskan diri.


"Jangan kabur woy!"


"Kejar kalo mampu wle!!"


Bukannya mendengarkan apa pinta Pria yang berprofesi untuk mengawasi dan menjaga ketertiban lingkungan perusahaan tersebut, Ruby malah menyempatkan membalikkan badan dan menjulurkan lidahnya mengejek Pak Satpam.


Di kira Pak Satpam itu dia orang bodoh apa?! jika diintruksikan langsung patuh begitu saja, Ruby tidak akan berhenti hingga sampai dia berhasil memasuki ruang kerja Athala sesuai rencananya.


Sekuat tenaga dia terus melajukan larinya dan berlari hingga membawa langkahnya kedepan pintu yang menjadi tujuan misinya, dia membuka daun pintu yang tidak terkunci sama sekali tersebut dan membantingnya.


Ruby menyandarkan punggungnya dipintu yang telah tertutup rapat, dadanya naik-turun mencoba mengatur napasnya, dia menyeka bulir keringat yang mengalir dikeningnya. "Huh! hampir saja ketangkep!"


"Lo lagi, lo lagi, lo lagi. Gak kapok-kapok ya menjadi penyusup masuk keruangan gue." Dia menutup kasar map yang berisi proposal ditangannya, Athala menghembuskan napas jengah.


Dia muak terus melihat Wanita ini, dia tidak pernah tersentuh sama sekali dengan perjuangannya, Athala malah merasa jijik dengan caranya, jatuhnya Wanita ini seperti Wanita murahan.


"Atha, mumpung kita lagi berdua, gue mau bicara empat mata sama lo." Ruby melangkah hingga berdiri didepan meja kerja Athala tepat bersebrangan dengan lelaki itu.


Athala merotasikan matanya kesal. "Sudahlah. Gue gak ada waktu buat bermain-main dengan lo."


"Dengerin gue Tha! Ini gue, Ruby! gadis kecil lo! lo udah janji bakal pulang satu bulan kemudian tapi lo baru pulang sekarang, gue nunggu lo terus sampai sekarang!"


"Gue mohon inget gue.." Suaranya mulai bergetar, dia sudah nyaris menangis, Ruby takut Athala akan menolaknya lagi seperti sebelumnya, dia sudah berjuang sampai dititik terendah.


Jika hasilnya tetap nihil, mungkin dia akan benar-benar menyerah. Ruby sudah mulai putus asa, sudah berbagai cara sudah dia lakukan.


"Kita bisa mulai dari awal lagi ya Tha?.. apakah lo melupakan semuanya? lo ninggalin gue saat gue lagi mengandung anak lo.." Raung Ruby, dengan kepala menunduk dalam, dia menumpukkan kedua tangannya diatas meja, cairan bening kristal berjatuhan dipermukaan meja.


Ruby sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya, disini martabatnya benar-benar telah terinjak-injak. Dia telah mengemis cinta dengan Athala.


"Kalo memang iya, mana buktinya? gue gak bisa percaya begitu saja dengan omong kosong lo sebelum lo berikan bukti ke gue, gue bukan orang bego."


"Ah, kebetulan gue ada sesuatu yang gue bawa." Ruby menyeka air matanya dengan punggung tangan, dia mengobrak-abrik isi tas selempangnya yang berukuran mini. Dia mengeluarkan banyak lembaran foto Calix dari sana.


Gambar-gambar berharga ini, Ruby ambil dari album foto Calix. Karena mungkin dengan adanya foto Calix bisa memulihkan ingatan Athala kembali.


Dia mengedarkannya diatas meja kerja Athala, "Ini, foto-foto Putra kita. Ini saat dia berusia enam bulan, terus sembilan bulan, yang ini dua tahun. Dia tumbuh jadi anak yang kuat dan tampan, kalau lo lihat, lo pasti menyukainya." Ruby menjadi semangat dia belas saat bercerita mengenai Putranya yang Athala ketahui bernama Calix.


Bukannya ini anak kecil yang dia lihat di mall saat itu? Tidak bisa dipungkiri dia memang memiliki perasaan yang akrab dengannya walaupun baru pertama kali bertemu, tetapi bukan berarti dia benar-benar Putranya, lagi pula dia tidak merasa sama sekali sudah pernah membuat Anak dengan orang lain.


"Dia paling tampan saat terseny--"


Gelengan kepala dari Athala mampu mencegat omongan Ruby, tangannya mendingin, jantung Ruby bergemuruh, dia sudah dapat menebak apa yang akan menjadi tanggapan Athala. Firasatnya mengatakan, mungkin ini akan menjadi pertemuan mereka untuk yang terakhir kali.


"Gue gak bisa percaya hanya dengan foto-foto ini."


"Ah? kalo gitu--gimana lo tes--"


Tawa gamblang Athala sekali lagi menghentikkan perkataan Ruby, "Kalo anak ini memang anak gue, memang kenapa?"


Ada beberapa lembar foto Calix dengan teganya dia robek-robek hingga jatuh berserakan dimana-mana. "Gue gak akan mau bertanggung jawab sekalipun memang dia darah daging gue. Lagian gue udah ada Cia, Wanita yang gue cintai. Salah lo yang udah mempertahankan anak itu, seharusnya dari awal, lo udah gugurin dia."


PLAKKK!!


Wajah Athala terpaling kesamping kala menerima tamparan kuat dari Ruby, tatapannya menjadi kosong. Sambil memegangi sebelah pipinya yang berdenyut perih, dia meluruskan pandangan.


Sesaat dia dibuat terpaku melihat betapa terlukanya tatapan Wanita dihadapannya. Bahkan air mata sudah membanjiri kedua pipinya, apakah dia sudah keterlaluan?


"Lo itu Ayah terbajingan yang gue temui di dunia ini! benar-benar gak ada hati nurani! gue tahu lo lagi amnesia Tha, tapi bukan berarti lo harus bilang kaya gitu pada darah daging lo sendiri."


Ruby memejamkan kedua matanya dalam-dalam mencoba mengurangi rasa sesak di dalam rongga dadanya. "Lo mau gue menghilang dari pandangan lo kan?"


Athala hanya diam tak bergeming, lidahnya mendadak keluh, bagaimana hati dan kehendaknya bertolak belakang seperti ini? dia memang ingin Wanita ini pergi dari hidupnya dan berhenti mengganggu hari-harinya, tapi percaya atau tidak, ada sebuah rasa yang tidak rela timbul dalam relung hatinya?


Usai memungut kembali seluruh lembaran foto Calix beserta yang sudah terkoyak lalu menyimpannya lagi didalam tas mininya, Ruby lantas mengangguk-angguk melihat Athala hanya terdiam yang dapat Ruby simpulkan sebagai jawaban iya.


"Baiklah. Lo menang Athala Gentala Ragaswara! gue menyerah. Maaf, udah buat lo risih beberapa hari ini dan terimakasih atas lukanya. Gue, pergi."


Tubuh mungil itu sudah berputar, kini hanya punggung Ruby yang dapat ditatap oleh Athala, Ruby sengaja memperlambat gerakan kakinya hanya untuk berharap mungkin ada keajaiban Athala menahannya.


'Tahan gue Tha.. gue mohon..' Lirih Ruby dalam hati. Nyatanya dia berharap terlalu jauh, bahkan sampai dia keluar dari pintu pun, Athala tidak ada niat sama sekali untuk menahannya.


Tubuh Ruby meluruh di pintu, dia mengabaikan bisik-bisik orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya, dia terisak pilu sambil memeluk tas selempangnya. Mulai sekarang dia menyerah.


'Bahagia terus Tha.. perasaan kita memang sudah berbeda..'


Meski berat, dia akan mencoba membuang jauh-jauh harapannya untuk hidup bersama Athala. Lelaki itu telah melupakan dirinya dan Calix, dia lebih memilih bersama Wanita lain. Ruby menghargai pilihannya, dia hanya bisa berharap semoga Athala bisa bahagia dengan siapapun nanti dia akan menghabiskan sisa hidupnya.


*****