
Pukul 01:32 dini hari, Ruby terjaga dari tidurnya, ia menggeliat lebar, menggerakkan kelompok mata samar menyesuaikan cahaya remang-remang dari lampu tidur, diraba-rabanya space di sampingnya.
Kosong. Seingatnya semalam Athala tidur disebelahnya, bahkan dengan patuh menceritakan dongeng pengantar tidur untuk Ruby sesuai pinta perempuan itu.
Bangun mengubah posisinya menjadi duduk, Ruby pun mulai beranjak dari tempat tidur dengan lunglai ia mencari-cari keberadaan Athala di setiap penjuru Villa. Mulai dari dapur, kamar lain selain yang mereka tempati, ruangan tengah, gudang kosong, tapi tetap nihil.
Hanya satu area yang Ruby belum periksa, yakni rooftop. Oleh karena itu, Ruby tak akan melewatkan satu tempat pun, ia memutuskan untuk mengecek atap. Kemungkinan besar lelaki itu di sana.
Dan benar saja, ketika Ruby tiba di rooftop, terlihat Athala sedang duduk di kursi santai sambil menyulut rokoknya, Ruby akhirnya bisa bernapas lega, sempat terbesit dikepalanya jika Athala meninggalkannya sendiri disini, untung Athala tak sejahat itu.
Perhatian Athala terdistraksi kearahnya saat ia berjalan mendekatinya, "Loh? kamu ngapain disini? bukannya tidur."
Ruby duduk di kursi yang ada di samping Athala ikut santai menyaksikan langit malam yang bertaburan bintang tersaji diangkasa. "Kamu juga, ngapain disini? bukannya tidur." Bukannya menjawab, Ruby malah mengajukan pertanyaan yang serupa.
"Gak bisa tidur."
Ruby hanya membulatkan mulut berbentuk O, suasana tiba-tiba menjadi sunyi, Athala memilih menikmati nikotin dari pada menanggapi Ruby, yang ada nanti terjadi perdebatan yang tak berbobot.
Ruby memejamkan mata berbulu lentiknya merasakan sensasi semilir angin menyapu wajahnya diiringi dengan tubuhnya yang sedikit menggigil.
Ruby lupa jika ia hanya mengenakan setelan pakaian piyama, tentu saja suhu dingin akan menembus kain setipis itu. Alhasil, ia mengusap-ngusap lengannya mencari sedikit kehangatan. Di wilayah hutan seperti ini sudah pasti udaranya akan lebih rendah dari pada di pusat kota.
"Kedalam sana, disini dingin."
"Bosan, kantuk aku hilang gak bisa tidur lagi. Mending disini sekalian mau liat-liat pemandangan angkasa dimalam hari." Pandangan Ruby sedikit mengadah kearah langit yang gelap gulita kontras dihiasi kerlap-kerlip benda angkasa yang terlihat indah.
Ruby mendelik, "Aku gak pernah ngeluh tuh, kamunya aja yang terlalu overprotektif."
"Normal, emang ada orang yang gak bakal khawatir sama orang sakit?"
"Ada. Buktinya aku, gak bakal cemas kalo kamu sakit, mati sekalipun gak bakal peduli." Ekor mata Ruby melirik Athala yang bungkam dengan arah pandang menerawang lurus, sepertinya penuturan yang ia lontarkan tanpa ragu beberapa detik lalu sedikit menohok.
Ruby meringis pelan sambil merutuki dirinya sendiri karena mengeluarkan kata-kata yang jahat, padahal Athala sudah berbaik hati merawatnya dengan baik selama ia sakit.
Athala hanya menyunggingkan senyum, tapi terkesan getir. Kedua tangannya disisi tubuh sudah terkepal kuat menahan sesak di dadanya. Jadi begini rasanya tak dihargai? sesakit ini? Athala tak tahu sesakit apa wanita-wanita yang telah ia tolak bahkan sampai mencaci maki mereka.
Setelah ia berada di posisi itu, sakitnya memang tak main-main. Tapi, apa boleh buat? hanya ada Alan yang menjadi takhta tertinggi.
Ruby mengusap tengkuknya kikuk, keadaan canggung yang melanda ini disebabkan oleh dirinya sendiri, sudah sepatutnya ia yang mencairkan suasana. "I-itu-- gimana soal kasus Alan? sudah ada titik terang?"
Membuang napas berat, Athala mengangguk pelan sebagai respon, Alan lagi, Alan lagi. Kadang jiwa Athala mendadak panas mendengar Ruby selalu menyelipkan namanya di setiap obrolan.
Dengan raut datarnya, Athala menyahut. "Bawahan gue dapet sebuah bukti, tapi belum cukup akurat, nanti akan melanjutkan penyelidikan lagi biar terkuak sepenuhnya."
Sejujurnya Ruby bertanya mengenai Alan hanya menetralisir suasana diantara mereka, namun sepertinya hal tersebut justru menambah suasana hati Athala semakin buruk.
"O-oh? iya-iya.." Ruby hanya manggut-manggut, mendengar panggilan Athala berubah jadi gue Ruby semakin merasa bersalah karena yakin Athala benar-benar marah kepadanya.
****