
"Tunggu-tunggu! Alga? bukannya lo juga semalam berhenti duluan bertarung karena mendapat luka lebih parah dari yang lain?"
Seisi ruangan sontak menoleh kepada Alga sesaat pertanyaan itu terucap dari Haidar. "Hm? gue?" Ia mengangguk membenarkan. "Iya."
Memicing mata Ruby, perasaannya saja atau bagaimana? wajah Alga terlihat tidak asing, seperti pernah ia lihat tapi Ruby tidak ingat di mana.
Atau mungkin di rumah sakit? tidak! siluet dalam pikiran Ruby terasa semu, tidak dapat mengingatnya dengan baik. Ruby merasa ia sudah pernah melihat Alga selain di rumah sakit, tapi di mana?
"Lo, ada nemu orang-orang yang mencurigakan gak, di sekitar mobil Alan?" tanya Gatra.
Alga nampak berpikir untuk beberapa waktu, lalu kemudian menggeleng, "Gelap, kalo pun memang ada orang pun gue gak bisa liat."
Mereka semua mendesah berat, tidak ada bukti yang cukup kuat untuk mereka gunakan kali ini. "Oke. Berarti tersangka kali ini hanya anak-anak Geng Aodra.Tapi! jangan gegabah langsung main grebek mereka. Kita cari bukti yang lebih kuat dulu biar kita langsung bawa polisi sekalian ke markas mereka untuk menangkap tersangka." pungkas Gatra menegaskan. Di balas oleh anggukan serempak dari mereka semua.
"Jadi, sebaiknya, besok kita lanjutkan kembali penyelidikan biar cepat di temukan titik terangnya." Tambahnya. Lagi-lagi para anggota Vagos hanya bisa menganggukkan kepala sebagai balasan.
Salah satu di antara mereka bersidekap dada, senyum licik tertampil samar-samar. 'Salahnya sendiri udah nyakitin Sandra!'
Senja terlihat amat menawan, matahari yang bertugas di siang hari seakan berpamitan, ragu-ragu mulai membenamkan dirinya ke bagian ufuk barat. Sore itu menjelang malam, azan magrib telah berkumandang.
Dengan wajah bersimbah air mata yang berderai di pipi, Sandra menangis terisak-isak sambil membunyikan bel apartemen sahabatnya.
Tidak semua rumah berbentuk bangunan. Dia lah contohnya, satu-satunya rumah bernyawa milik Sandra setelah Ruby menjadi orang yang paling ia benci. Tidak ada tempat bersandar selain dirinya ketika Sandra bersedih dia juga lah tempatnya mengadu.
Mama? Papa? mereka semua tidak ada. Keluarganya telah terpecah belah, Sandra hanya lah anak broken home yang di tinggalkan oleh Papa yang di sebut super hero dan Mama di sebut malaikat tak bersayap.
Tidak ada yang ingin membawanya pergi dan berakhir Sandra tinggal bersama asisten rumah tangga keluarganya yang mengasuhnya dari kelas tujuh SMP layaknya anak kandung.
Seperti lelaki pada umumnya, tidak membalas pelukan tersebut tugasnya hanya menerapkan tepukan di punggung sebagai penenang, walau terlihat santai tapi jika di teliti lebih dalam, sebelah tangannya terkepal kuat, giginya menggertak menahan sebuah emosi yang besar. 'Alan..' batinnya di penuhi siasat jahat.
"Oh iya, gue lupa tujuan gue dateng kemari!!" Flora menepuk dahinya, mengapa ia sampai melupakan tujuan utamanya? ini gara-gara menyimak pembicaraan mereka dengan seksama jadi lupa tujuan yang sebenarnya ke sini. "Elang mana?! dari tadi gak nongol-nongol?!!"
"Elang? lagi turu kali, soalnya semalam yang gak tidur itu dia karena cemasin sohibnya." jawab Leo. Flora segera beranjak menuju kamar yang ada sambil berteriak-teriak memanggil Elang. "LANG!! ELANG!!!"
"Cewek lo energik banget Tra."
"Iya tuh si Gatra! udah cakep, bad boy, ketua geng lagi. Milih malah cewek abal-abal gitu!" Dean mencerca Flora dengan setengah guyonan. Kepalan tangan Gatra teracung, tidak terima Kekasihnya di hina-hina.
"Miliaran cewek di dunia di mata gue, dia cewek yang paling cantik." Balas Gatra menyanjung gadisnya. Andai mereka tahu, secantik apa Flora di matanya, bahkan bidadari pun tidak dapat menandinginya. Iya, sebucin itulah Gatra.
"Ssshh lepas Flo!! gila nih cewek!!" Maki Elang yang tengah terseret oleh jeweran di telinganya dari tangan maut Flora. Kantuk masih menguasainya tapi tetangganya ini malah mengusik tidur lelapnya.
Muka bantalnya masih terlihat jelas. Terpaksa ia kini tergiring keluar mengikuti arus seret cubitan di telinganya yang terasa akan koyak, "Lepas njirrr!! tangan lo kecil-kecil kalo nyubit berasa kek jeweran maut tahu gak!!"
Flora tidak mengindahkan kicauan Elang dan terus berjalan sambil menjewer telinga Elang menuju keluar, Ruby jadi ling-lung karena merasa terlupakan. "Flora!!" panggilnya kalang kabut menyusul Flora yang tengah membawa Elang.
"Woy! salah satu dari kalian, anterin Ruby pulang! harus selamat sampe tujuan. Kalo ada lecet-lecet dikit, gue santet!!" titahnya menjerit dari luar membuat mereka yang ada di dalam sana bersitatap satu sama lain, Ruby masih mengikuti Flora yang sudah menuju tempat parkir sepeda motornya.
TBC..
Di Bab ini masih sambil aku revisi dikit-dikit ya, biar bisa di mengerti. Jangan heran kalo ada ubah alur atau tata penulisan, karena kadang aku merombak biar pembaca gak bingung atau pun mutar otak dalam membaca karya aku.
Maaf, kalo alur ceritanya agak lambat, memang udah aku atur kaya gitu dari sananya, mau sebanyak apa yang suka dan mengagumi protagonis cewek mau pun protagonis cowok, endingnya tetap mereka yang bersatu, ya karena memang mereka tokoh utamanya Ruby dan Athala. Yang lain hanya lah figuran, walau aku buat sedikit menonjol. Alan semisal.