
Seperti yang dikatakan oleh Athala, sepulang dari perusahaan setelah meluangkan waktu sebentar untuk menukar baju, Ruby dibawah olehnya ke dokter kandungan untuk mengecek kehamilannya.
Ruby dan Athala menatap takjub sekaligus haru titik kecil dari hasil pemeriksaan yang telah terdeteksi di layar ultrasonografi.
"T-titik kecil yang sekecil kacang itu adalah anak kita?" tanya Athala terbata-bata. Dia menunjuk layar tersebut, Athala masih belum percaya dengan apa yang dia lihat, kecil sekali bentuknya.
"Iya Pak.. janin itu akan kian membesar semakin bertambahnya usia.. besar kantung bayinya baru berusia empat minggu lima hari, wajar saja masih sekecil itu, detak jantungnya pun belum bisa terdengar." Dokter Wanita tersebut menjelaskan.
"Oh iya, kandungan Nona agak lemah, hamil dalam usia muda biasanya rentan keguguran, diharap Bapak sebagai Suami harus siaga, peran Suami sangat penting di saat-saat Istri lagi hamil.."
Ujung mata Ruby melirik Athala, lelaki itu manggut-manggut paham, padahal mereka belum resmi menjadi sepasang Suami Istri tapi seperti Athala tak keberatan sama sekali sudah disebut sebagai Suaminya.
Ibu Dokter menggulir tatapannya kearah Ruby lantas memamerkan senyum ramah, "Dan untuk Nona, jangan terlalu banyak pikiran, pola makannya juga dijaga.. makannya makanan yang bergizi, jangan lupa ikut sertakan mengonsumsi susu Ibu hamil untuk nutrisi Ibu dan janinnya.."
"Baik Dok.." Ruby mengangguk lalu kembali sibuk mengamati janin dilayar USG.
"Lihat By.. Makhluk itu kecil banget.. masa anak aku kaya gitu sih?" Athala mengerjap-ngerjap lugu, Ruby memukul lengannya.
"Jadi gak mau ngakuin janin itu sebagai anak kamu?! emang siapa lagi yang bikin bareng aku selain kamu?!"
Athala menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. "B-bukan gitu By.. aku--hanya belum percaya aja.. aku bakal jadi seorang Ayah.."
"Tapi--kok saya gak mengalami morning sickness yang Dok? setahu saya, biasanya kan pada umumnya, kalo lagi hamil muda pasti ada morning sickness.." Ruby kembali berbicara pada Sang Dokter.
"Soal itu--aku yang mengalami By.." Sela Athala.
"Kamu?"
Athala mengangguk atas pertanyaan yang diajukan oleh Ruby. "Kamu gak inget aku mual-mual gak jelas saat baru pulang dari hotel saat itu?"
Dengan kening mengernyit, Ruby berpikir keras. "Iya sih kamu mual-mual--tapi kok kamu yang ngalamin? kan aku yang hamil.."
Ibu Dokter tersenyum simpul, entah mengapa, hatinya menghangat melihat interaksi pasangan didepan matanya. Dia jadi teringat masa muda.
"Itu bukan hal yang aneh Nona, tidak jarang kedekatan hubungan emosional antara bumil dan Suami memang dapat membuat Suami ikut merasakan apa yang sedang bumil rasakan, kadang juga jika calon Ayahnya terlalu simpatik berlebihan pada sang Istri, maka hanya Suami lah yang akan mengalami gejalanya, gejala ini disebut dengan sindrom couvade.."
Ruby dan Athala saling pandang satu sama lain, detik berikutnya kedua sudut bibir Athala tertarik mengukir senyum cerah, tangan kekarnya terangkat membelai kepala Ruby penuh kasih sayang.
"Bagus dong.. biar aku yang tanggung rasa sulitnya kehamilan walaupun sedikit, kedepannya kamu akan lebih kesulitan dari pada yang aku alami, jadi persiapkan diri kamu, mengandung sembilan bulan gak gampang, apalagi melahirkan diusia yang masih muda, tapi aku janji akan selalu berada di sisimu di masa-masa sulit itu.."
"Padahal gak perlu sampe bikin perjanjian segala karena aku memang gak ada niat mau ninggalin kamu kemana-mana, tapi kalo perjanjian itu membuat kamu bahagia, yaudah, aku janji."
*****
Selesai dengan urusan pemeriksaan kandungan juga berkonsultasi dengan Ibu Dokter tadi, ditengah perjalanan, Ruby dan Athala mampir sebentar ke minimarket untuk membeli berbagai cemilan kemauan Athala.
Menelusuri jajaran rak yang berisi camilan, satu persatu berbagai jenis makanan ringan yang dia lihat menarik akan Athala simpan kedalam keranjang. Dimulai dari cemilan yang manis sampai snack yang asin-asin tak ada yang ketinggalan.
"Atha, udah ayok.. udah banyak banget belanjaannya.."
"Bentar By, aku lagi kepengen ngemil cemilan banyak-banyak, kelihatannya, enak banget ini makanan ringannya.."
Ruby mendengus kesal mendengar sahutan Athala, pasalnya mereka sudah berkeliling nyaris semua jajaran rak, tapi ia tak tahu kapan Athala akan selesai berbelanjanya, sepertinya lelaki itu lagi ngidam kepengen ngemil makanan ringan.
Asik-asik sedang memilih banyaknya cemilan yang berjejeran rapi, perhatian Athala terpancing kearah rak dari seberangnya. Dia melangkah kesana, rak yang dipenuhi kotak susu Ibu hamil.
"Ngapain lagi sih kesini? katanya pengen cemilan?"
"Ruby, kamu mau yang rasa apa? cokelat atau vanila?" Athala menunjukkan dua kotak susu bumil yang rasa vanila dan cokelat.
Sambil mengetuk-ngetuk jari telunjuk di pipi, Ruby berpikir untuk sesaat. "Hmm--vanila aja deh, aku gak terlalu suka dengan cokelat.."
"Tapi--yang rasa cokelat juga enak."
"Yaudah buat apa nanya kalo kamunya protes?!" Ruby merotasikan matanya kesal, jika memang dikomplain, buat apa bertanya? ada-ada saja. Athala semakin hari kian menyebalkan.
"Bukan protes By.. tapi yang cokelat juga enak.."
"Tapi akunya suka vanila! emang yang minum susunya siapa? kamu atau aku? yang hamil siapa emang?!" Kedua tangan Ruby bertolak pinggang, menatap Athala dengan raut wajah yang seakan siap untuk ngajak berperang.
Athala dibuat ciut melihat Ruby mode singa betina on. "I-iya udah, beli dua-duanya saja.."
Ruby sontak tarik napas dalam. Wajahnya memerah karena menahan kesal, dia meremas jemarinya geram. "Dari tadi kek!!"
*****