My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.KENYATAAN PAHIT



Hari ini setelah selesai bertugas di rumah sakit, Ruby pergi menemani Flora kesebuah butik untuk membeli gaun pertunangannya, Ruby sempat menolak ajakan Flora pas mengetahui jika Flora akan pergi bersama calon tunangannya, tapi Flora bersikeras mengajaknya, hingga mau tidak mau Ruby menyanggupi ajakannya.


"Ruy!!" Dengan antusias Flora menghampiri Ruby lalu menggandeng lengannya. "Thanks sudah mau meluangkan waktu buat menemani gue. Padahal lo pasti capek baru pulang kerja."


"It's okay." Mereka memasuki mobil di bagian jok belakang, didepan kursi tempat kemudi sudah ada seorang Pria yang sudah siap menyetir.


"Oh iya, kabar kamu gimana akhir-akhir ini?" Deruman kendaraan beroda empat tersebut mulai terdengar tanda mesin telah dinyalakan, perlahan ban mobil mulai bergulir membela jalanan metropolitan.


"Gitu-gitu aja deh.. sibuk kerja dirumah sakit."


"Putramu, Calix gimana?" Sela lelaki yang ada didepan.


"Lagi dirumah mungkin, ada Kak Ze juga yang jaga." Jawab Ruby padanya. Pria itu mengangguk-anggukkan kepala.


Dia, adalah Adelio. Calon tunangan Flora. Jika kalian bertanya kemana kekasih Flora yang dulu, maka jawabannya adalah, Gatra telah wafat empat tahun lalu. Dia gugur karena penyakit kangker otak.


Saat itu Geng Vagos dan Aodra telah berdamai, teka-teki mengapa Adelio membenci Geng Vagos--ralat, ketua dari Geng Vagos sendiripun telah terungkap, pembunuh misterius yang telah merenggut nyawa Ibu Adelio adalah Ayah Gatra.


Ibu Adelio merupakan mantan Ayah Gatra, dia terobsesi dengannya hingga melakukan tindakan kriminal kala tahu jika Ibu Adelio sudah berada di Indonesia. Dia membunuhnya karena jika dia tak bisa memiliki Ibu Adelio, jangan harap Ibu Adelio bisa hidup bahagia bersama orang lain selain dirinya.


Penyebab perceraian kedua orang tua Adelio juga karena Ayah Gatra, dia selalu mengirim pesan-pesan romantis kepada Ibu Adelio yang membuat siapapun akan salah paham, begitupun dengan Ayah Adelio, dia berpikir jika Istrinya telah mengkhianatinya hingga memutuskan untuk menggugat cerai Ibu Adelio.


Sebelum Gatra meninggal, dia memberikan amanah kepada Adelio untuk menjaga Flora, Adelio pun tidak bisa menolak permintaan Gatra karena saat itu memang dia tak ada pilihan lain selain menyanggupinya melihat Gatra yang akan meregang nyawa.


"Mau beli gaun dimana Flo? di mall? atau di butik?" tanya Adelio pada Flora. Adelio ingin menggelar pesta meriah meskipun baru pertunangan mereka, hubungan mereka tentu saja banyak lika-liku sebelum mencapai dititik ini. Terlebih lagi, mereka bersama hanya berlandaskan amanah Gatra.


Awalnya Adelio hanya memenuhi permintaan Gatra, menjaga dan melindungi Flora, namun lambat laun ada benih cinta yang tumbuh dihatinya hingga dia mencoba mendekati Flora atas dasar cinta bukan karena amanah semata, jelas semulanya selalu mendapat penolakan dari Flora sampai-sampai Adelio pun ingin menyerah.


Tetapi saat Adelio akan menyerah, Flora justru menahannya dan mengatakan padanya jangan menyerah, dan Adelio memilih bertahan hingga tiba dimana Flora menerimanya dengan sungguh-sungguh.


"Dibutik aja, di mall terlalu rame."


"Rame kan lebih seru."


"Berisik Lio!! ke butik terdekat dari sini aja. Yang penting bisa beli baju gaun yang mewah dikit."


*****


Butuh beberapa menit mereka menempuh perjalanan hingga kendaraan tersebut menepi didepan sebuah butik. Mereka turun dari mobil dan memasuki butik tersebut.


"Selamat siang.. sedang mencari desain busana yang seperti apa?" Mereka disambut oleh salah satu pegawai yang bekerja disana.


"Hmm gaun yang paling glamor dan mahal, pokoknya yang paling bagus dan cocok buat calon istri saya."


"Maaf sebelumnya Pak, calon Istrinya yang mana?" Pegawai Wanita itu menatap Ruby dan Flora bergantian, apakah lelaki ini memiliki dua calon Istri?


Adelio menarik pergelangan tangan Flora hingga berdiri disisinya. Dia merangkulnya mesra, terang-terangan di depan karyawan tersebut."Ini yang calon Istri saya Mbak, gimana? cantik banget kan Ibu dari calon anak-anakku?"


"Lio!!" Flora menyikut lengan Adelio malu-malu, kedua pipinya sudah bagaikan kepiting rebus. Sementara Ruby hanya geleng-geleng kepala. Sudahlah, jika sepasang manusia yang sedang kasmaran memang begitu, jatuhnya tidak tahu malu.


"Ah i-iya cantik banget Pak.." Karyawan itu hanya melemparkan senyum canggung pada mereka berdua, dia memberikan sebuah buku berisi koleksi seluruh desain busana yang diperjual belikan ditokoh ini.


"Silahkan dipilih-pilih dulu desain gaunnya Nona,"


Flora mulai membuka-bukanya, bersama Adelio pun ikut mencari-cari yang bagus menurutnya, kedua matanya terpatri pada satu gaun yang dari desainnya juga sudah terlihat sangat mahal.


"Yang ini! ini paling mewah dan glamor. Pokoknya dimalam pertunangan kita, kamu harus tampil paling tercantik. Jangan sampai ada menandingimu."


"Kalo ada yang nandingi aku, gimana?" Flora melirik sinis kearah Adelio.


"Yasudah aku tinggal usir saja orang yang menandingimu."


"Ih kok gitu sih?!" Flora menghentak-hentakkan kakinya kesal, dia akhirnya menjauh dari hadapan Adelio, jawaban Adelio tak membuatnya puas.


"Lah? emang jawaban gue salah?" monolog Adelio menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, dia menjadi ling-lung sendiri.


"Salah besar Lio.. seharusnya lo jawabnya gini, 'Gak papa, karena dimata aku, kamu tetap akan menjadi Wanita tercantik.' Gitu.." Timpal Ruby tak habis pikir, dia kira Adelio sudah ada perkembangan dibidang percintaan namun nyatanya masih sama.


"Mana gue tahu njirr?" Adelio frustasi, Perempuan memang benar-benar rumit. Lagi-lagi Ruby geleng-geleng kepala, dia memilih untuk duduk dikursi tunggu.


"Jadi, gaun untuk calon Istrinya sudah dipilih Pak?"


"Ah, sudah Mbak. Yang ini, yang paling bagus." Adelio menunjuk sebuah gaun panjang berwarna putih yang dihiasi oleh kilauan pernak-pernik indah, terlihat elegan.


"Kalau yang ini gak bisa Pak, soalnya sudah ada yang pesan."


"Kalo sudah ada yang pesan, kenapa masih dipajang disini?!" Adelio tiba-tiba tersulut emosi, dia sudah jatuh cinta dengan gaunnya, itu yang paling cocok untuk calon tunangannya.


"Maaf Pak, itu gak bisa dipasang atau dikeluarin. Pasalnya nanti, gaun berdesain seperti itu mungkin akan kembali tersedia stoknya. Kalau bisa, Bapak bisa nunggu hingga kembali tersedia stoknya."


"Gak bisa! enak saja disuruh nunggu. Orang sudah lusa pesta tunangan kami"


"Yasudah kalau seperti itu, saya minta maaf Pak, maka untuk sekarang, bapak tidak bisa memesan gaun yang sudah dipesan orang lebih dulu."


"Lio, kamu kenapa sih? mau bikin kacau disini?!" Flora melirik tak enak hati pada Pegawai yang dimarahi oleh Adelio.


"Ini loh Flo.. gaunnya udah dipesan orang duluan.. padahal aku sukanya yang itu.." Dengan bibir bawah maju satu centi, Adelio merengek pada Flora.


Flora menghembuskan napas berat, dia pikir ada masalah besar tadi sampai-sampai Adelio marah-marah tidak jelas. "Udahlah kalo udah ada yang pesan, aku tinggal nyari yang lain kan? lagian masih banyak kok yang bagus, gak harus itu."


"Tapi aku maunya yang itu, Flo.."


"Memang yang pakai gaunnya aku atau kamu sih?! aku yang pakai tapi kamu yang sensi." Cetus Flora memutar bola matanya malas.


"I-iya sih.." Adelio menggaruk-garuk pelan pipinya.


Dari pintu masuk tokoh pakaian sederhana itu, ada dua orang yang berbeda gender memasuki lebih dalam butik, Ruby dibuat terpaku, dadanya berdesir hebat melihat siapa Pria yang sangat familiar, disisinya ada Wanita yang juga tak asing sedang berjalan berdampingan dengannya.


"A-atha.." Lirihan lolos dari bibir mungilnya, tidak salah lagi dia adalah Athala. Ruby masih belum percaya dengan apa yang dia lihat, Athalah--kembali? apakah akhirnya penantiannya selama ini tidak sia-sia?


Namun, siapa Wanita yang ada disampingnya? bukankah itu Gracia? mantan yang sempat tidur satu ranjang dengan Athala? bagaimana bisa mereka bersama? kemana saja Athala selama ini?


Banyak pertanyaan-pertanyaan yang bersarang dikepala Ruby, dia ingin menanyakan semuanya kepada Athala.


"Kamu coba saja gaun yang sudah aku pesan beberapa hari yang lalu."


Gracia mengangguk, dia masuk kedalam sebuah bilik untuk mencoba gaun mewah yang sudah disiapkan untuk pernikahan mereka.


Di saat yang sama, Ruby berdiri dalam keadaan pikiran yang ribut, dia melangkah gontai kearah Athala yang sedang berdiri tidak seberapa jauh darinya.


"A-atha!!!"


Athala tersentak kaget kala dia dipeluk dari belakang tanpa aba-aba, dia menunduk-kan pandangan memeriksa lengan yang melilit pinggang kekarnya begitu erat, seolah-olah menyalurkan rasa ketidak mau kehilangan.


"Kamu kemana aja selama ini..?"


Athala melepaskan paksa belenggu tangan mungil yang enggan sekali mau terurai, berputar arah badan saat Athala berhasil melepasnya. Dia menatap Wanita dihadapannya, kedua keningnya menekuk antara bingung juga marah sebab dia memeluknya sembarangan.


Kedua bola mata Ruby berkaca-kaca, embun sudah menggenang dipelupuk matanya, setelah sekian lama, akhirnya Athala kembali pulang. "Atha.."


"Lo--siapa?"


Kini giliran Ruby yang dibuat bingung. "Tha? apa yang terjadi denganmu? kenapa kamu gak mengingatku?"


Athala merasa tidak asing dengan Wanita ini tapi dia tak mengingatnya. Siapa dia sebenarnya? kenapa timbul perasaan aneh dihatinya? "Kita kenal? ah maaf, tapi gue sama sekali gak ingat kalau kita pernah bertemu sebelumnya, permisi."


"Atha.." Lirih Ruby, dia menatap nanar kepergian Athala dari hadapannya, Athala menghampiri Gracia yang sedang menunjukkan pakaian pengantin yang sudah terbalut indah pada tubuhnya.


Ngomong-ngomong berbicara tentang gaun pengantin, apakah mereka akan segera menikah? Jika dilihat-lihat, Ruby akui, mereka berdua memang terlihat serasi.


Hatinya dibuat hancur tak bersisa. Lima tahun, lima tahun dia menunggu Athala kembali, namun semuanya hanya sia-sia. Benar apa kata Zeal, bahwa perasaan orang bisa berubah seiring berjalannya waktu.


Alih-alih bisa kembali seperti dulu, Athala saja tidak mengingat siapa dirinya, semudah itu kah Athala melupakan dirinya dan kenangan mereka?


Kenangan yah? mungkin hanya dirinya saja yang menganggap kenangan mereka adalah momen-momen paling berharga dan terindah dalam hidupnya, sedangkan Athala? dia sudah melupakan segala yang berkaitan dengannya.


"Ruy?"


Secepat kilat, Ruby menghapus air matanya yang seenaknya menitik tanpa komando, "Lo udah kelar milih gaunnya?"


"Udah." Flora mengangguk, tinggal menunggu Adelio yang sedang membayar biaya pakaian yang mereka beli, dia mengamati Ruby, matanya terlihat merah dan sembab, "Lo--nangis?"


"Ah enggak!" Kilah Ruby cepat, dia tidak ingin menunjukkan sisi rapuhnya. Gelagat Ruby justru semakin membuat Flora curiga, dia memicingkan mata.


"Tapi mata lo kenapa merah gitu? kayak orang yang baru habis nangis gitu."


"E-enggak kok, gue--gue hanya kelilipan! iya kelilipan!!" Ruby terlihat gugup.


"Flo? ayok pulang." Panggil Adelio sesudah membayar pakaian yang gaun untuk Flora lengkap sekalian dengan jas-nya sekaligus.


"Oh? iya. Ayok Ruy.." Mereka keluar berurutan dari dalam butik, Athala mengalihkan tatapannya kearah pintu keluar, punggung Wanita itu telah menghilang.


"Atha?!"


"Ah, i-iya? ada apa Cia?"


"Enggak! menurut kamu aku cocok pakai gaun ini?"


Athala memberikan senyuman paling manis, dia mengacak-ngacak pucuk kepala Gracia, "Iya cocok banget."


Gracia tersenyum senang, dia sedikit melirik kearah pintu, rupanya Gadis tadi sudah berlalu, dia mengeratkan pegangannya pada kain gaun yang ada ditangannya, jangan kira dia tidak melihat interaksi antara mereka tadi, dia memperhatikan semuanya, hanya saja dia pura-pura tak tahu.


*****