
Duduk lesehan di karpet bulu, Ruby duduk disela kaki Athala yang sedang terlentang, dagu Athala bertumpu pada bahu Ruby, ditangannya yang sedang mengurung Ruby terdapat snack yang ia nikmati. Sembari menonton serial di televisi, sesekali Ruby mencomot makanan ringan yang sedang di pegang oleh Athala. Punggungnya sedang nyaman bersandar pada tubuh depan Athala.
Ruby memutar-mutar bahunya guna memberi kode untuk Athala segera menarik dagunya dari sana. "Berat ih!" Bahunya sudah terasa kebas hanya karena bobot kepala Athala bertumpu dibahunya. Sudah cukup lama, Athala dalam posisi ini.
"Ish! biarin aku ngehabisin waktu aku dengan manja-manja sama kamu buat malam ini! mulai besok pagi kan aku mau berangkat dinas ke London.."
"London?" Ruby menolehkan kepala kearah Athala, ia tertarik dengan omongan Athala tadi, terutama di kalimat London. Athala tak pernah mengatakan padanya jika akan dinas keluar negeri.
Athala mengecup sekejap bibir pink alami milik Ruby, dilanjutkan dengan jilatan lidah yang menyapu remahan makanan ringan yang terdapat pada benda lembut juga kenyal tersebut.
"Hmm, lebih enak dari bibir kamu.." Ujarnya sambil menjilati bibir atasnya sendiri.
Dengan gaya kaki bersila, Ruby berbalik badan dengan total. Dia menatap Athala penuh serius. "Jangan mengalihkan topik pembicaraan!"
"Kamu mau ke London?! dari kapan kamu ada rencana dinas kesana? kenapa baru bilang sekarang?!"
"Kenapa By? kan hanya untuk sementara, paling lama hanya satu bulan."
"Tiga puluh hari dong! sehari aja aku bakal kangen sama kamu!"
"Ah afahh iya?!" Cibir Athala.
"Tahu ah!" Iris mata berwarna hazel milik Ruby mulai berkaca-kaca, matanya memanas. "Katanya kamu bakal terus disisi aku, terus kenapa besok bakal pergi..?" tuturnya terdengar getir.
Ruby tak tahu mengapa, ia sensitif perihal Athala yang akan meninggalkannya sendiri pergi jauh dari jangkauannya, padahal hanya sementara waktu.
"Hey little girl.. jangan nangis.." Jari telunjuknya mengangkat dagu Ruby, ia menyeka air mata yang menetes dengan sendirinya di pipi Ruby menggunakan punggung tangan besarnya.
"Tiga puluh hari aja, Little Girl.. kita bisa berkomunikasi melalui hp, bertukar pesan, teleponan, VC-an... jadi jangan netesin air mata hanya untuk hal yang gak berguna.. air mata kamu terlalu mahal untuk menangisi hal-hal yang gak bermakna. Aku pergi hanya sebentar, gak akan pergi untuk selamanya.."
"Tapi tetap saja.. aku bakal rindu sama kamu.." Dahi Ruby bersandar di dada bidang Athala, Pria itu mengangkat satu kakinya dengan pergerakan membelai surai dibagian kepala Ruby untuk mengurangi kesedihannya.
"Sama By.. kita bakal sama-sama kangen.. kita lawan rasa itu bareng-bareng ya? terus kalo aku udah pulang, kita menyalurkan kerinduan melalui pelukan erat seerat-eratnya seolah kita dua orang yang sama-sama sangat takut kehilangan."
Bibir Athala menyentuh pucuk kepala Ruby, semerbak wangi aroma shampo favorit Athala menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Aroma ini sudah tentu akan ia rindukan dengan teramat selama dirinya berada jauh dari Ruby.
Terus terang, Athala juga tak ingin meninggalkan Ruby dalam jangka waktu satu bulan, yang artinya dia tak akan disisi Ruby selama itu.
Namun, projek di London berharga miliaran rupiah yang sangat disayangkan jika dilewatkan, selama itu menguntungkan untuk perusahaan yang telah dirintis oleh Kakeknya dari nol, maka dari itu, Athala akan melakukan apapun untuk terus mengembangkan perusahaan Ragaswara yang kini sudah menjadi tanggung jawabnya.
Ruby menarik wajahnya dari dada Athala. Dia memukul-mukul dada Athala dengan tangan kecilnya. "Tuh kan! pasti pergi keluar negeri hanya akal-akalan mu saja biar menghabiskan waktumu bersama Si Cia-Cia itu!!"
Tangannya yang tak bisa tinggal diam melakukan kekerasan fisik terhadap Athala, lantas sang empu tangkap agar berhenti dari tindakannya. "Enggak By.. kamu salah.. hey tatap mata aku!" Athala mencengkram dagu Ruby agar wajahnya yang semulanya sedikit menunduk, kini terangkat menghadap penuh kearahnya.
"Kamu gak percaya sama aku? emang kamu kira seberapa besar cintaku ke kamu sampai kamu curigaan aku bakal kembali bersama Cia?"
"Yah, mana aku tahu! perasaan orang lain kan gak bisa diprediksi.."
Tangan kekarnya menangkup pipi Ruby. Tatapannya terlihat tulus menyorot perempuan itu. "Iya-iya memang kita gak bisa menebak pasti perasaan satu sama lain. Tapi, asal kamu tahu aja, rasa cinta dan sayangku ke kamu sangat besar, By.. dan perasaanku ke kamu sudah pasti tulus.. rasa cintaku gak bisa dibandingkan dengan perasaanmu, besarnya jauh berbeda.. Aku dan Cia hanya akan melakukan perjalanan bisnis, gak akan ada hal lain.."
Bibir Ruby mengerucut, sedikit tenang dengan keyakinan yang di tuturkan oleh Athala, lagi-lagi dia menyodorkan jari kelingking berniat kembali membuat perjanjian. "Janji.. kamu harus kembali sesuai waktu yang sudah kamu tentukan tadi dan gak akan melakukan hal yang macam-macam dengan Cia.."
"Emang harus yah buat perjanjian? biar apa begitu?"
Athala rasa makin hari Ruby semakin kekanak-kanakan, bahkan permasalahan yang kecil pun harus pake janji-janji segala, bukannya Athala tak mampu untuk menepati, tapi cara seperti itu sangat kekanak-kanakan, jatuhnya Ruby jadi terlihat seperti tak mempercayai dirinya.
"Ihhh janji aja dulu, biar aku bisa senang!"
"Iya deh iya, janji.." Athala menautkan jari kelingkingnya kejari Ruby hingga saling terhubung.
"Gitu dong!!" seru Ruby merasa puas. Janji adalah hutang, Ruby berharap Athala tak akan ingkar. "Awas aja kalo kamu ingkar janji! janji harus ditepati!"
"Iya Ruby... cerewet ah! dari pada ngebahas hal-hal yang gak penting, mending kita bobo." Berdiri dari duduknya, kepala Athala menoleh kearah jam dinding yang terpajang sempurna ditembok, "Sudah jam segini, bumil gak boleh begadang, apalagi besok harus masuk sekolah.."
Dia mengulurkan tangan untuk Ruby, lekas disambut oleh Ruby, kala berdiri Ruby langsung melompat, untung dengan sigap Athala menyanggah tubuhnya hingga Ruby sudah berada di gendongan ala koalanya, selama Athala melangkah ketempat tidur, kaki Ruby melingkar di pinggangnya, sedangkan tangannya mengalun indah dileher Athala.
"Besok pagi, waktu penerbangan kamu jam berapa?"
Athala menurunkan Ruby di kasur kingsize-nya. "Hmm sekitaran jam sepuluh.."
"Besok aku mau bolos sekolah, mau ikut nganter kamu ke bandara.."
"Emang gak papa? nanti kamu bakal alfa loh.."
"Biarin.. aku maunya nganter kamu, biar sekalian perpisahan.."
*****