My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.DI ANTAR SI ALEX



"Kenapa? lo mau belain dia lagi, iya?!" hardik Sandra naik pitam dengan kedua tangan terkepal. "Gue gak ngerti Lang! gak di sekolah gak di rumah sakit bahkan temen lo kecelakaan karena dia masih juga ngebelain dia!! kenapa? lo suka sama dia, hah?!!" lanjutnya menudingkan yang tidak-tidak.


"Bisa berhenti nyalahin dia?! kalo Alan sadar lo pikir dia bakal seneng cewek yang dia sayang di salahkan atas insiden kecelakaan yang dia alami?!" Oh ayolah! Elang juga sedang mati-matian menahan emosi untuk tidak menonjok gadis yang tidak punya hati nurani sampai menikung sahabatnya sendiri.


Alga--perisai Geng Vagos, dengan karakteristik yang paling netral di antara inti yang lain itu sudah berkali-kali menutup mata dan membuang napas jengah mendengar keributan yang tidak bermutu di telinganya, sudah mencoba bersabar sejak tadi karena tidak kuat dengan suara-suara yang menciptakan argumen yang tidak berfaedah. "Kalian berdua bisa diem? ini rumah sakit!"


Sentakan Alga yang benar-benar tajam bagi siapapun yang menangkap itu untungnya sukses membuat Sandra dan Elang terdiam seketika.


Sandra memutar bola matanya kesal, dengan mencak-mencak ia memutuskan untuk masuk kedalam ruang rawat Alan seenaknya, semalam ia sudah sempat menjenguk Alan dan oleh sebab itu Sandra menjadi akrab dengan kedua orang tua Alan.


Apa lagi ia mengaku-ngaku sebagai kekasih Alan dan menjatuh-jatuhkan nama Ruby di depan mata mereka agar dirinya mendapat lampu hijau sebagai calon menantu idaman.


"Elang? apa bener ini semua salah gue?" tanya Ruby nanar.


"Enggak Ruy, ini bukan salah lo." sanggah Elang segera, ia berjongkok di hadapan Ruby, di lihat dari luar Ruby benar-benar kacau kemungkinan akibat dari kata-kata Sandra barusan, kalau di biarkan maka bisa berkonsekuensi mengalami depresi hanya karena merasa bersalah yang tidak semestinya.


Elang memperhatikan Ruby yang tengah memakai seragam sekolah, bukan seperti dirinya yang akan absen untuk hari ini, cewek ini ada niat untuk pergi ke sekolah namun masih menyempatkan diri membesuk Alan. Wajah Elang mengadah pada Alex yang tengah berdiri bersandar di dinding, "Alex! dari pada lo diem aja mending lo kerja anterin Ruy ke sekolah."


"Gue?" Dengan raut cengo, Alex menunjuk dirinya sendiri, anggukan dari Elang yang ia dapat membuat dirinya melambai-lambaikan tangan pertanda tidak mau, "Gak enggak! ngapain harus gue anjirr? mending elo! lo kan satu sekolah dengan dia!"


"Gak Lang, gue mau liat Alan.." Ruby menggeleng pelan, setidaknya ia mesti melihat Alan walau hanya sekejap saja.


"Iya gue tahu, tapi untuk sekarang lo harus ke sekolah dulu.. nanti jenguk Alan lagi pas orang tuanya lagi gak di sini, untuk sekarang kayaknya belum memungkinkan. Di dalem udah ada Sandra. Lo yakin kalo cewek itu gak ngejelek-jelekin nama lo ke orang tua Alan?"


Tubuhnya terguncang di bagian lengan sebab senggol oleh Gatra yang tengah berdiri di sebelah kanannya, "Lo anterin dia, sekalian minta maaf." pintanya langsung di sambut delikan tidak suka dari Alex. "Gue? minta maaf? idih amit-amit!" Salah atau tidaknya, Alexander itu paling gengsi meminta maaf duluan terlebih kepada perempuan.


"Kata-kata lo tadi ngenak banget di mental. Lo liat? mukanya shock banget karena di salahin terus dari tadi, pertama-tama penyebabnya itu lo, dan yang kedua itu gara-gara si medusa kalo kata cewek gue sih."


Alex meneliti ekspresi Ruby yang menjabarkan semuanya, padahal tadi tindakannya hanya semata-mata karena emosi, sulit mengendalikan kalimat dan tindakan jika dalam keadaan amarah di ambang batas.


"Awas ya, bisa-bisa anak orang stres gara-gara ucapan kalian!" tandas Gatra melebih-lebihkan membuat Alex jadi tak tega.


Mendengus sebal dengan sedikit berat hati Alex menyetujui perintah Gatra dan Elang, "Yaudah iya!" Ia beranjak dan dengan pelan ia menepuk belakang kepala Ruby yang termenung di tempat.


"Heh! sopankah begitu?!" namanya Haidar, salah satu inti Vagos dengan gaya rambut mangkok tersebut menimpali melihat Alex yang dengan tidak sopannya memukul kepala Ruby yang mampu membuat sang empu terhenyak.


"Eumm?" Ruby mendongak kepada Alex yang menjatuhkan pandangan ke arahnya.


"Mau ke sekolah kan? ayok gue anter." Detik berikutnya Alex berdehem mengalihkan wajah ke arah lain dengan pembawaan cool dan beralibi, "Ehm jangan GR! gue nganter lo bukan karena suka rela tapi semata-mata hanya karena di paksa."


"Emang yang GR siapa?" gumam Ruby merasa aneh.


***