
Tadinya Athala berencana akan kembali menjumpai Ruby di lain hari, tapi sepertinya Athala tak akan tenang jika menunggu hingga hari demikian, ia melepaskan cengkraman Gracia dipergelangan tangannya dan memilih mengejar Ruby.
Memang jika orang yang sedang dalam keadaan panik dan risau akan bingung harus melakukan apa, begitu pun dengan Athala, padahal akan lebih mudah mencari Ruby menggunakan mobil.
Namun ia justru lari-larian di trotoar mencari Ruby dengan tatapan yang bergelirya kesana-kemari. Bukannya apa, sekiranya mungkin Ruby belum jauh dari sini hingga ia memilih mencari Ruby tanpa kendaraan.
Athala memutuskan berhenti ketika dengan kebetulan ia melihat ada sepasang kekasih yang sedang berkencan dilingkungan sekitarnya, walaupun tak yakin, mungkin dengan bertanya pada mereka Athala akan menemukan setitik jawaban. "Permisi.. saya boleh ganggu sedikit waktu kalian? saya mau bertanya apakah kalian ada lihat cewek ini lewat disini?"
Menyodorkan ponselnya mengarah mereka, ia menunjukkan foto di layar handphone-nya, di sana tertera gadis muda dengan seragam SMA sedang tersenyum merekah, tak ketinggalan dengan pose peace. Diam-diam Athala mencuri gambar itu dari akun Instagram milik Ruby.
"Oh, ini bukannya cewek yang tadi kita tolongin?" Cowok berpenampilan kemeja tersebut menoleh pada kekasih disebelahnya.
"Ah iya saya inget, tadi ada cewek ini lewat disini, terus dia keserempet sama motor." Ujar salah satu saksi mata yang merupakan cewek dari pasangan tersebut.
Batin Athala yang awalnya sudah berkecamuk kini semakin menjadi-jadi saat mendengarnya, "Terus, sekarang dia dimana?"
"Dari yang kami lihat tadi, dia di bawah sama cowok pake motor."
"Kalian tahu dia di bawa kemana?"
"Gak tahu, tapi kayaknya ke rumah sakit deh, soalnya ceweknya lagi mengadu kesakitan gitu. Katanya, perutnya keram."
"Oh ya udah makasih ya.." Athala berjalan menjauh dari mereka setelah mengucapkan terimakasih, ia mengacak rambutnya frustasi, sekarang ia tak tahu pasti dirumah sakit dimana Ruby berada. Lalu cowok yang dimaksud, siapa?
Sekarang ia hanya bisa berdoa dalam hati, semoga orang itu tak membahayakan Ruby.
*****
"Gimana Dok? apakah saya mengidap penyakit serius?" tanya Ruby mendadak takut.
Sebelumnya perutnya mendadak perih terpadu keram menjadi satu saat dirinya keserempet pengendara lain ketika berjalan di pinggir jalan bagaikan gelandangan terdampar, salahkan dirinya yang pake acara kabur segala dari acara reuni, kali ini Ruby harus berterima kasih dengan Alan karena telah memberinya pertolongan saat ia lagi butuh pertolongan.
Satu hal yang bersarang di benak Ruby, tak mungkin sakit yang melanda diperutnya tak ada penyebabnya. Ruby menduga-duga jangan-jangan ia mengidap penyakit yang tak bisa disepelekan begitu saja.
Dokter Pria yang baru saja memeriksa Ruby dengan stetoskop lantas tersenyum simpul mendengar pertanyaan sang pasien, "Tenang saja, gak ada yang serius. Hal itu normal dialami oleh Wanita yang sedang mengandung dalam usia muda, disarankan jangan terlalu kelelahan dan jangan terlalu stres, Anda harus jaga pola makan biar janinnya tetap sehat dan gak lemah."
Hati Alan mencelos, ia menjatuhkan rahangnya tanpa disadarinya, antara percaya dan tidak percaya kala mendengar pemaparan dokter tersebut. Reaksinya pun serupa dengan Ruby yang masih belum percaya juga.
"H-hamil?" tanya Ruby terbata-bata, dia mendapat anggukan dari sang Dokter sebagai jawaban.
"Kalau mau tahu yang lebih pasti, Anda bisa memeriksa pada Dokter kandungan atau periksa dengan testpack."
Dengan sabit getir yang terpatri di wajah, tangan Ruby menyentuh perut ratanya, akhirnya berhasil juga? lantas ia harus bagaimana? siapa Wanita cantik yang sedang bersama Athala di acara reunian tadi? apakah itu adalah kekasihnya yang sesungguhnya?
Atau--bagian dari masa lalunya? ada banyak pertanyaan yang menyergap di otak Ruby, jika memang prasangka-nya benar, bagaimana dengan nasib anaknya?
Lalu dirinya akan dibuang karena Wanita itu telah kembali? mungkin karena faktor hormon kehamilan, ia jadi ber-overthingking yang tidak-tidak.
"Anak siapa?" Alan bertanya setelah Pak Dokter keluar dari ruangan yang mereka tempati. Ruby menunduk dalam, dengan rasa yang kacau, tangannya meremas ujung dress-nya.
Wajah Ruby langsung terangkat, ia terkejut karena tebakan Alan tepat sasaran. "Lo--tahu dari mana?"
"Gak perlu tahu gue tahu dari mana, yang jelas lo jawab saja, apakah tebakan gue benar jika anak yang sedang lo kandung sekarang adalah anak Bang Atha?" Ucapnya kali ini dibalas oleh anggukan lemah dari Ruby.
Alan menarik napasnya dalam-dalam mengurangi rasa yang sesak menggerogoti rongga dadanya lalu mengangguk-anggukkan kepala, ia tak bisa menyalahkan Ruby apabila memang ia dikhianati ketika sedang terkapar tak berdaya di rumah sakit.
Mengapa demikian? karena Alan introspeksi diri, ia juga tak sesetia itu, ia pernah main belakang juga dari Ruby, anggap saja itu balasan yang impas atas perbuatannya.
"Dia gak ada akal sehat atau gimana? kenapa bisa hamilin anak SMA? apakah dia sadar kalo perbuatannya bisa menghancurkan masa depan lo?"
"Jangan salahin Atha.. dia gak salah sepenuhnya, gue juga salah yang mau-mau saja diajak begituan hanya karena kesepakatan.."
Sekarang Ruby tak akan menaruh harapan lebih lagi dengan Athala jika memang ia lebih memilih Wanita lain ketimbang dirinya, ia hanya akan fokus dengan janin di kandungannya, karena biar bagaimana pun anak itu tak salah.
Ruby sudah biasa hidup sendiri, tambah satu anggota keluarga yang dapat menemaninya nanti, Ruby rasa itu sesuatu yang akan mengantarkan sebuah kebahagiaan untuknya, ia akan mengabdikan diri dan melakukan segala cara untuk menghidupi malaikat kecilnya kelak, meskipun ia harus mengubur impiannya.
Tak lama lagi ujian kelulusan, hingga kelulusan tiba pun, Ruby yakin, perutnya belum akan terlalu membuncit, masih bisa ditutupi dengan pakaian yang berukuran oversize.
Jika Ruby sibuk merangkai masa depannya, beda lagi dengan Alan. Dahinya membentuk garisan, ia salah fokus dengan kesepakatan yang dimaksud oleh Ruby. "Kesepakatan? kesepakatan apa yang lo maksud?"
"Gini.. gue dan Atha membuat kesepakatan, dia bakal menyelediki kasus kecelakaan yang lo alami dengan syarat, gue harus hamil anak dia. Karena gue kepengen tahu siapa yang udah nyelakain lo, jadi gue setuju-setuju aja tanpa mikirin resikonya."
Bolehkah Ruby memiliki penyesalan atas itu? apabila bisa mengulang waktu, Ruby tak akan mau memenuhi kesepakatan gila itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, semuanya sudah kejadian, Ruby tak bisa lagi berbuat apa-apa selain mempertahankan janin di rahimnya.
Alan meraup wajahnya kasar, jadi semuanya terjadi karena dirinya? mendadak ia jadi merasa bersalah. "Kenapa lo lakuin itu hanya demi gue? lo pernah mikir gak? hal itu bisa membuat masa depan lo hancur."
"Terus, gue harus gimana sekarang? semuanya udah kejadian, menyesal pun percuma." Ujar Ruby nanar.
"Cuma satu hal yang jadi solusinya, Ayah dari anak di kandungan lo mau tanggung jawab? kalo dia mau tanggung jawab maka permasalahan kelar, masa depan lo pun bisa terjamin kalo bersama dia. Dia itu salah satu orang yang berkuasa di negara ini, kalo bersama dia, lo bisa ngelanjutin study setelah lahiran."
Sungguh, jauh di lubuk Alan tak rela jika harus merelakan Ruby untuk Athala, namun hanya itu kuncinya, bisa saja ia akan tanggung jawab untuk janin itu. Namun, mengenai kebahagiaan, Alan tak bisa menjaminnya.
Ruby tak akan bahagia bersamanya karena keluarganya sedang dilanda musibah, perusahaan Ayahnya telah jatuh bangkrut tak lama ini. Belum lagi kemarin, mobil yang biasa ia pakai ke sekolah digadaikan untuk melunasi utang piutang. Yang tersisa hanyalah satu unit motor kesayangannya yang biasa ia gunakan jika bermain bersama anak-anak Geng Vagos.
Sebaliknya dari Athala, Alan tak memiliki harta yang melimpah ruah yang dapat memenuhi kebutuhan Ruby dan calon bayinya nanti.
Ruby merenung mendengar serentetan kalimat yang disampaikan oleh Alan, berbicara mengenai tanggung jawab, Ruby tak tahu apakah Athala mau bertanggung jawab atau tidak, lagi pula calon bayinya hadir hanya karena sebuah kesepakatan, itupun sebelum Wanita itu hadir kembali dalam hidup Athala.
"Dia bakal tanggung jawabkan? berani berbuat, maka berani bertanggung jawab, dia gak mungkin lari."
"Gue harap begitu.." Gumam Ruby masih setengah melamun.
Melihat respon Ruby yang ragu, Alan tersenyum lembut, tangannya terangkat sontak mengacak-ngacak gemas rambut Ruby, apakah salah jika ia menaruh harapan bahwa dirinya masih memiliki kesempatan walaupun sedikit saja?
"Kalo dia jadi orang pengecut yang lari dari tanggung jawab, hubungin gue aja. Gue siap kok yang akan jadi Ayah dari bayi dalam kandungan lo."
*****