
Tengah malam buta, kerongkongan Valerie terasa kering. Ia bangun sembari menguntaikan tangannya meraba-raba nakas untuk mengambil segelas air yang di sediakan nya sebelum tidur.
Valerie meneguknya, tetapi tidak ada setetes pun air yang membasahi rongga lehernya, "Airnya habis..?" Monolognya. Akhirnya Valerie beranjak dari kamarnya hendak ke dapur dengan membawa gelas kaca yang kosong.
"Enghhh.. Ze.. Lembut sedikit.."
PLANGG!!
Gelas ditangannya kini berakhir tinggal sisa serpihan-serpihan kecil. Dirinya tidak sengaja memergoki Zeal sedang bercumbu mesra dengan tunangannya di sofa ruangan. Mendengar bunyi pecahan yang cukup nyaring itu berhasil membuat aktifitas panas di antara mereka terhenti.
"Ah? M-maaf. Saya mau ke dapur bukan sengaja mengintip kalian. K-kalau begitu kalian lanjut saja, anggap saja saya transparan."
"Gimana Zeal..? shh.. Ada mantanmu." Menggigit bibir bawahnya menahan sensasi geli ketika Zeal memangsa putiing dadanya. Mendengar pertanyaannya, dengan wajah tenggelam di dada Ivelle, Zeal menjeda aksinya sejenak membalas Ivelle dengan gumaman.
"Lanjut. Biarkan saja dia."
"Ssshh.." Valerie merintih kesakitan saat kulitnya di sayat oleh beling kaca yang hendak bersihkan dari sana agar tidak ada yang menjadi korbannya. Namun, bukan luka itu yang lebih perih dalam jiwanya melainkan-- Ah sudahlah, Valerie tidak ada hak untuk sakit hati.
Valerie pergi kearah dapur setelah mengurus serpihan gelas kaca tersebut. Rasanya Valerie enggan mesti melintas ruangan. Sialnya, tak ada jalur lain. Menyeka cairan bening kristal yang menetas sesaat ia melalui ruangan yang sesaat menjadi terkutuk baginya. Tangannya bergetar lemas berusaha menggenggam gelas sekuat tenaga agar tak terjatuh lagi.
Begitu figur Valerie menghilang dari sana, Zeal mendorong Tunangannya menjauh. "Cukup."
"Why?! Perasaan tadi kamu sangat menikmatinya. Kenapa tiba-tiba ingin berhenti?!"
Meraih sebatang rokok dari bungkusnya yang ia simpan di atas meja. Zeal menikmati barang nikotin tersebut usai dinyalakannya, menyesapnya perlahan dengan menyamankan punggungnya di sandaran sofa.
"Aku kehilangan selera." Zeal kesal. Tapi ia sendiri tidak tahu entah kesal pada apa.
*****
Dengan apron yang terikat di pinggang, pagi yang cerah ini Valerie tengah berkutat di dapur dengan senandung ria-nya. Ditengah sesi masaknya, ia menyadari kedatangan seseorang di area dapur. "Zeal ad--"
"Apa?! Kau mengira aku Zeal?!" Ivelle berdecih tajam, senada dengan tatapan sengitnya, ia pun perlahan melangkah mengitari Valerie dengan senyum remeh.
"Tebal sekali mukamu muncul kembali kedalam hidup Zeal setelah mencampakkannya beberapa tahun yang lalu, kau benar-benar perempuan tak tahu malu!"
Tercekat Valerie, ia salah mengira bahwa Zeal yang hadir di sana. Rupa-rupanya adalah tunangan Zeal. Yang paling mengejutkan bagi Valerie adalah Aiyla yang berada ditangan Ivelle. "Kenapa anakku bisa bersamamu?!"
Membelalak sempurna Valerie dibuatnya ketika melihat pergerakan Ivelle yang hendak membanting bayi-nya. Secepat kilat pula Valerie merebut Aiyla dari tangan Wanita mengerikan ini. Berhasil mengambil alih Putrinya, Valerie mendorong Ivelle tak cukup kuat. Namun, entah mengapa Ivelle tersungkur jatuh.
Bertepatan saat Zeal memasuki dapur. "Apa yang kalian ributkan pagi-pagi begini?! Elle? Kau ngapain di bawah sana?"
Zeal membantu Ivelle untuk bangkit. "Rie mendorongku, Ze...Dia mendorongku hingga terjatuh.." Valerie membolakan mata mendengar alibinya, yang membuat semuanya jadi yakin adalah wajahnya yang menampilkan raut sedih yang di buat-buat.
Sedangkan Zeal mengalihkan tatapan tajamnya pada Valerie yang menegang kaku. "T-tidak! Tidak seperti itu Zeal! Aku bisa menjelaskan!" Sanggahnya membela diri. Melihat betapa tidak bersahabatnya cara menyorotnya, sepertinya Zeal tidak menaruh percaya padanya dan justru lebih mempercayai tunganannya, bukannya itu hal yang wajar?
"Menjelaskan apa hah?! Menjelaskan bahwa tidak memiliki malu sedikit pun?!" Valerie tersentak pelan mendengar volume suara berat Zeal meninggi yang di tunjukkan padanya. "Sadari posisimu! Kau hanya menumpang di sini! Gelarmu setara dengan pelayan di sini, jadi jangan berlagak sok tinggi menjadi penguasa!!"
Degh!
Mata Valerie menjadi kosong dalam hitungan detik. Dengan rasa campur aduk yang menyelimuti, ia mengeratkan pelukannya pada sang bayi. Netranya berair sebisa mungkin menahan tangis agar ia tidak kelihatan menyedihkan. Ia tidak bisa berkata-kata karena lontaran Zeal benar adanya.
Zeal menarik kasar lengan Valerie menyeretnya kedepan pintu meninggalkan Ivelle yang mengulas senyum puasnya. "Segera angkat kakimu dari sini! Menyesal saya telah menampung kalian! Peduli apa saya denganmu dan anakmu?! Toh anak itu bukan anakku! Kehadiranmu hanya menjadi beban dan benalu! Dasar wanita tidak tahu diri! Jangan ada satu barangpun kau bawa! Saya masih bermurah hati membiarkan pakaian yang melekat di badan kalian! Cepatlah pergi!"
Mengambang sebuah cairan bening di manik mata indah Valerie. Ia merendahkan tubuh berlutut di hadapan Zeal penuh permohonan. Di belakang tak jauh dari Zeal, diam-diam Ivelle tertawa puas dalam hati.
"Ampun Zeal.. ini semua benar salahku. Saya minta ampun.. Setidaknya biarkan saya menumpang di sini sampai mendapat kontrakan.. saya tidak tahu akan tinggal di mana untuk saat ini.. Aiyl--"
Bugh!
Valerie terjungkal kebelakang mendapat tendangan tak berperasaan dari Zeal, ia mengeratkan dekapannya pada sang bayi agar buah hatinya tetap aman. Di sini mereka seperti seorang pengemis malang yang mengharapkan iba dari Zeal.
"Saya tidak peduli lagi pada kalian! Jangan jadikan Aiyla sebagai objek yang menimbulkan simpati padaku terhadapmu!! Kau Wanita licik! Tidak tahu malu! Saya hanya berharap semoga anakmu tidak akan jadi seperti dirimu!"
"Kau tuli?! pergi lah dari sini, sialan!" Hardiknya sekali lagi saat Valerie tak kunjung pergi.
"B-baiklah saya akan pergi asal izinkan saya mengambil tabunganku di dalam kamar, sebentar saja.." Lirih Valerie tak kuasa lagi menahan air matanya. Ia berjalan menuju kamar dan mengambil tabungannya.
Tanpa berpikir ulang, terburu-buru ia beranjak pergi dari sana dengan kaki yang agak pincang. "Zeal tenang saja, walaupun butuh waktu yang lama, semua barang-barang yang pernah Zeal berikan padaku akan kuganti pada masanya." ucapan Valerie sebelum benar-benar pergi berlalu meninggalkan Zeal yang sedang menggumpalkan tangannya dan Ivelle masih dengan senyum penuh kemenangan atas kepergiannya.
*****