
Athala memijat pangkal hidungnya, tumpukan berkas-berkas dimeja kerjanya membuatnya pening, ia tak tahu entah mengapa belakangan ini dirinya mudah kelelahan, kondisi fisiknya yang tak lagi mendukung, sering pegal-pegal, punggungnya mudah encok ibarat orang tua yang sudah berusia lanjut, padahal dulu-dulunya ia tak akan mudah penat walaupun lembur hingga jam berapapun.
Ia seketika melirik ponselnya begitu teringat Ruby, belum genap sehari mereka terpisah, Athala sudah rindu saja, rasanya ia ingin menghubungi gadis itu. Kira-kira ini pukul berapa?
Tangannya terulur meraih ponselnya agar dapat memeriksa jam disana, hari sudah siang, melalui itu Athala dapat menerka-nerka pasti matahari baru diatas kepala, seharusnya Ruby sedang disekolah dan mungkin--sedang melangsungkan pembelajaran.
Tapi--Athala tak tahan jika tak menghubunginya, seperti ada sesuatu yang mendorong jiwanya, ia kangen sekali dengannya. Ingin memeluk dan menghirup aromanya. Meskipun tak bisa melakukan itu, setidaknya ia dapat mendengar suara manisnya.
Athala memilih beranjak dari duduknya lalu berdiri didepan jendela, menyorot kebawah menikmati pemandangan lautan kendaraan yang berlalu lalang di jalan tol. Ia kemudian mencoba mengubungi Ruby.
Drrrtt.. Drrrrrt..Drrrtt..
"Hallo?" Terhubung, Ruby mengangkat panggilannya. Hal tersebut dapat membuat kedua sudut bibir Athala berkedut.
"Lagi apa? aku ganggu gak?"
"Ganggu, banget. Ngapain ngehubungin gue sih? gue kan udah pernah bilang, gak usah cari-cari gue lagi." Ruby memutar bola matanya malas, dimulai dari Alan lalu Athala, semuanya bikin mood Ruby hancur.
Athala berdecak sebal, ingatan perempuan memang permanen, Athala saja sudah tak mengingat itu jika Ruby tak mengungkitnya. "Lupain, aku kangen sama kamu, pengen denger suaramu."
"Gak sibuk?"
"Justru itu pertanyaan buat kamu,"
"Gue sih enggak, lagi jam kosong."
"Ruy? lagi teleponan sama siapa?"
Ruby terlihat gelagapan ketika Flora memergokinya sedang melakukan panggilan dengan seseorang di dalam kelas seorang diri, Flora baru saja dari kantin mumpung kelas mereka sedang jam kosong. Didalam kelas pun hanya di huni mereka berdua, yang lain sedang menikmati jam kosong diluar kelas.
"E-enggak, ini-- lagi teleponan sama kurir!!"
"Iya sama kurir!" Ruby tertawa kaku dengan jawaban tak masuk akalnya, jelas sekali kelihatan bohongnya, namun Flora hanya manggut-manggut, pura-pura percaya.
Ruby meringkuk disudut, kembali mendengarkan Athala yang sedang memanggil-manggil namanya dari seberang sana, "Ruby? Ruby? ck kemana sih? aku lagi kangen nih.. jangan ngobrol sama orang lain kalo lagi teleponan sama aku.."
"Udah dulu ya? kita ketemu ntar malem aja." Ruby berbisik-bisik agar Flora tak mendengarnya. Ia melirik Flora yang kini memainkan ponselnya di tempat duduknya.
Athala men.des.ah kecewa. "Kok gitu sih! katanya lagi jamkos"
"Pokoknya ketemu ntar malem aja, bye!"
"Ish, maunya sekar--"
Tut..tut..tut..
Athala menatap sendu layar ponselnya, ingin menangis saja rasanya ketika Ruby memutuskan panggilan secara sepihak saat ia sedang rindu-rindunya.
Tok.. tok.. tok..
Atensi Athala teralihkan oleh ketokan pada pintu kantor pribadinya, ia berdehem pelan menetralisir diri. Ia memutar tubuh tegapnya beberapa derajat menghadap ke arah pintu.
"Masuk."
Pintu dibuka dari luar, memunculkan sosok Reygan, ada satu yang membuat jantung Athala berdegup lebih cepat dari biasanya, yakni perempuan yang mengekor Reygan dari belakang, kini berdiri dihadapannya dengan senyum manisnya. Masih sama seperti dulu, senyum yang dapat menjungkir-balikkan dunia Athala.
"Hai, Athala.. apa kabar?" Dia, adalah Gracia. Mantan Athala sewaktu SMA.
"C-cia?" Athala kira ia sudah dapat melupakan gadis yang kini terlihat lebih cantik dan modis dari pada yang dulu. Tapi--perasaan apa ini? mengapa masih seperti dulu?
"Peluk, boleh?"
"Gimana kabar lo? udah lama banget ya.. setelah gue mencapai impian gue dan berkarir di luar negeri, gue menyesal.."
"Menyesal?" Beo Athala tak mengerti. Bingung? sangat! tapi itu tak mengurungkan tangannya untuk membalas pelukan Gracia.
"Gue kira gue bakal bahagia kalo bisa gapai mimpi gue dan akhirnya sukses dalam karir gue, tapi--nyatanya pikiran gue salah, gue gak akan pernah bahagia selama di hidup gue gak ada elo.."
Athala melepas pelukan walaupun enggan, ia melirik Reygan meminta sebuah penjelasan, mengapa bisa ada Gracia datang ke kantornya?
Reygan yang paham pun, segera mengatakan tujuan dan dalam rangka apa kehadiran Gracia. Ia memulai dari perkenalan kembali. "Oh iya, kenalin namanya Gracia. Dia, akan jadi pengganti gue untuk sementara, selama gue gak ada."
"Pengganti? jadi asisten pribadi gue maksudnya?"
*****
"Jadi, bagaimana hasil dandanan kami Tuan?"
Athala yang awalnya sedang sibuk memperhatikan layar ponselnya memindahkan atensi, seketika ia terkesima menemukan Ruby yang telah dipoles make up ala kadarnya oleh para pelayan.
Riasannya tidak terlalu menor namun tetap terlihat begitu cantik dan mempesona. Tidak hanya itu, dress yang mewah berwarna cream di hiasi manik-manik berkilauan tersebut menambah kesan elegan pada Ruby. Bahkan berkedip pun Athala di buat enggan.
Ruby memutar tubuhnya menunjukkan penampilannya saat ini. Seperti ajakan Athala, untuk malam ini, Athala akan membawanya ikut reunian dengan teman-teman SMA-nya.
Ruby sebenarnya kurang setuju ia harus ikut karena Ruby merasa tidak berhak, dirinya bukan bagian dari alumni seangkatan dengan Athala tapi Athala kekeuh memaksa. Tidak ada cara lain selain menyetujuinya. Permintaan dari Athala adalah perintah yang wajib untuk di turuti!
"Gimana? aku udah cantik atau belum?"
Athala terhenyak lalu berdehem pelan menguasai diri, "Cantik."
Senyum bangga tersungging hanya dalam hitungan detik kembali luntur, di hancurkan oleh omongan Athala berikutnya, "Gaun-nya."
"Jadi, maksud kamu, orangnya gak cantik gitu?!" Ruby berkacak pinggang, ia jadi dongkol gara-gara pernyataan Athala barusan, semakin hari Athala semakin menyebalkan.
"Kalo aku bilang jelek, kamu bakal marah?" Athala melangkah mendekati Ruby, tangannya merambat meraih pinggang rampingnya. Mereka berdua terlihat mesra, mengabaikan para pelayan yang masih ada disana hingga menyaksikan adegan romantis di antara mereka berdua.
"Bukan hanya marah, pokoknya aku ngambek selama satu abad!" Ruby bersidekap dada tak ketinggalan membuang muka berlagak sok ngambek, menimbulkan kekehan kecil pada Athala.
Kepalanya maju mendekati telinga Ruby agar bisa berbisik disana. "Hmm, yaudah aku bilang cantik aja deh, biar tuan putri seneng."
Kedua mata Ruby membulat sempurna saat desiran angin halus menyentuh daun telinganya, Ruby mendorong kuat dada Athala agar menjauh, Athala benar-benar berbahaya, berani-beraninya ia meniup daun telinganya yang merupakan organ sensitif di tubuhnya.
Pandangannya berpencar ke sekeliling. Ada beberapa pelayan yang masih stay ditempat. Ruby ingin menggali lubang ditanah agar dapat bersembunyi disana saking malunya.
"Gak papa Nona, anggap saja dunia hanya milik kalian berdua, yang lain mah ngontrak." Gurau Rabia yang mengerti gelagat Ruby.
Sementara itu, perhatian mereka terpusat kemana ponsel Athala yang berdering, Ruby menatap Athala yang cepat mengangkat panggilan itu, seolah-olah tak mau membuat orang yang menghubunginya menunggu lama.
Dapat Ruby tangkap senyum tulus Athala yang tersungging saat memulai bicara dengan orang diseberang sana. "Hallo? sudah dimana?"
"Lagi dijalan. Lo lagi dimana?" Athala melangkah keluar dari ruangan kamar meninggalkan Ruby begitu saja tanpa sepatah kata, ia sibuk berbincang dengan orang diseberang sana, dengan kelimpungan Ruby menyusul Athala, tak lupa berpamitan dengan para pelayan lain, jalannya sedikit kerepotan karena mengenakkan high heels.
"Gue masih dirumah, ini mau berangkat."
"Atha.. tungguin.." Langkah Ruby tergopoh-gopoh mengikuti langkah jenjang Athala keluar dari mansion menuju garasi.
"Buruan!! lelet amat kamu!" Desak Athala tak sabaran.
"Iya ih! salahin high heelsnya! aku gak biasa pake ginian!" Ruby jadi mengoceh.
*****