My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.PENYESALAN



"Pak, bisa lebih ngebut sedikit gak Pak?" Titah Athala mendesak Pak sopir taksi yang sedang mengemudi. Dia masih mengenakan jas pengantin, tidak ada waktu baginya untuk menukar pakaian.


"Sabar Pak. Ini sudah cukup ngebut. Biar bagaimana pun keselamatan lebih utama." Sahut lawan bicaranya.


Dari acara pernikahan Athala langsung menuju ketempat Ruby, dia tidak ingin berlama-lama dalam perjalanan, sungguh Athala ingin lekas menjumpai Gadis kecilnya.


Athala meraup wajahnya gusar. Kenapa dia bisa melupakan Ruby? bertahun-tahun dia telah melalui waktu tanpa Wanitanya. Athala baru tersadar akan penuturannya yang menyakitkan pada Ruby. Dia berharap ini hanyalah mimpi buruk.


Dia sangat sangat menyesal. Sebuah rasa bersalah yang besar membendung dalam batinnya, dia telah menjadi Pria brengsek yang melukai Gadis yang amat dia cintai. Lalu bagaimana kabar dengan Putranya? yang dia ketahui bernama Calix. Seingatnya, anak laki-lakinya sudah tumbuh besar.


Suatu hal yang amat disayangkan bahwa dia telah melewatkan pertumbuhan darah dagingnya sendiri.


Jika dihitung-hitung, sekarang usianya sudah lebih dari lima tahun. Terus terang, Athala tidak punya muka lagi jika harus bertemu dengan Ruby, mengingat segala ucapan jahat yang terlontar dari lidahnya. Tapi, jika dia tidak menemuinya, mereka akan benat-benar usai begitu saja.


Tidak! dia tidak akan menyerah sekalipun Ruby menolaknya dengan keras.


Sekarang Athala hanya bisa berharap semoga Ruby mau memaafkan atas kesalahan fatal yang telah dia perbuat dan mau memberinya kesempatan.


Dengan kecepatan yang cukup tinggi, kendaraan itu menyelip sana-sini menyusuri jalanan kota metropolitan, Athala tidak tahu dimana tempat tinggal Ruby sekarang, tak ada tempat lain selain kostnya yang menjadi tujuan Athala.


Butuh lebih dari sepuluh menit, akhirnya mobil taksi yang dinaiki oleh Athala membawanya sampai kost Ruby. Dia buru-buru keluar setelah membayar ongkos taksi.


Berulang kali Athala menggedor-gedor pintu yang tertutup rapat. "Ruby? apakah kamu ada didalem?! kalau memang ada, aku mohon, bukakan pintu untukku.." Athala takut, Ruby tidak sudi membukakan pintu ketika mendengar suara khasnya.


Ceklek...


Yang muncul dari balik pintu bukanlah yang diharapkan oleh Athala, seorang Wanita paru baya yang umurnya berkisaran 35-an. "Maaf, kalau boleh tahu Masnya mencari siapa?"


"Tunggu, bukankah ini tempat tinggal Calon Istri saya, Buk?"


"Calon Istri Anda yang mana? sekarang yang tinggal disini adalah Saya sama Anak laki-laki saya." Wanita setengah baya itu menatapnya aneh.


Athala semakin ling-lung. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjelaskan dengan seksama pada Ibu-Ibu ini. "Itu loh Buk, yang dulunya tinggal disini.."


"Oh, penghuni yang dulu tinggal disini toh.." Ibu itu manggut-manggut, dia pernah bertemu dengan Gadis muda yang mengambil barang-barangnya yang ketinggalan disini sebelum dia yang mengambil alih kost ini sepenuhnya.


"Sudah pindah Mas,"


"Kalau boleh tahu, pindahnya kemana Buk?"


"Hmm tunggu, saya pikir-pikir dulu--" Wanita itu mencoba kembali memutar memori, dia pernah bertanya kepada Gadis muda itu dan jawabannya adalah-- tiba-tiba dia menjentikkan jari begitu mengingatnya. "Di apartemen Greenie kalau nggak salah."


*****


Athala telah mendapat informasi jika Ruby tinggal di gedung apartemen yang kini sudah dia injak dengan kedua kakinya. Tapi dia tidak tahu dilantai dan nomor berapa Ruby tempati.


Ada banyak penghuni apartemen yang ia ganggu hanya untuk ditanyai olehnya mengenai Ruby, kini dia sampai dilantai lima.


Athala menekan bel salah satu unit apartemen, masa bodoh jika nanti ada orang yang marah karena tindakannya yang sembarangan mengusik ketenangan. Yang memenuhi pikirannya hanya dimana keberadaan Ruby. Ia tidak boleh sampai kehilangan Wanitanya!


"Ada apa Mas?" Wajah seorang wanita yang hadir dari balik pintu apartemen terlihat jelas muka bantal, surainya berantakkan. Sudah pasti baru bangun tidur siang. Terlebih lagi saat dia menguap dengan mulut terbuka lebar-lebar.


"Ah, Mbak? maaf sebelumnya, sudah ganggu waktu Istirahat Mbak. Saya cuma numpang nanya, apakah Mbak kenal dengan Gadis ini, dia tinggal di gedung apartemen ini, tapi saya gak tahu dia tinggal dilantai berapa dan nomor berapa.."


Athala menyodorkan sebuah foto cetak, merupakan gambar persediaan yang biasa dia bawa kemana-mana saat dia dinas di London, hanya foto itu yang bisa membuatnya bertahan, karena dapat mengobati rindu beratnya pada Ruby.


Wanita berpakaian kasual berwarna abu-abu itu meraih foto yang diarahkan oleh Athala lalu mencermatinya baik-baik. "Oh Gadis yang ini? di foto ini dia masih kelihatan muda, tapi sekarang dia sudah dewasa. Bahkan sudah memiliki satu anak."


"Mbak kenal? kalau boleh tahu dilantai berapa dia tinggal?!" Masih ada secercah harapan yang hadir. Athala tidak akan melewati peluang yang ada, walau secuil pun.


"Tuh." Athala mengikuti jari telunjuknya yang menuju kamar bersebelahan dengan unit apartemen milik Wanita itu. "Kebetulan dia tetangga kamar Saya. Tapi tiga hari yang lalu saya lihat dia dan laki-laki yang biasa tinggal dengannya bawa banyak barang, kayaknya mau pindahan."


Laki-laki? hanya itu yang tertera dalam pikirannya. Tapi dia kesampingkan dulu, yang menjadi prioritas utama adalah keberadaan Ruby.


"Mbak tahu pindahnya kemana?"


Bahu Athala merosot saat Wanita itu memberikan gelengan pertanda jika dia tak tahu dimana keberadaan Ruby. "Gak tahu Mas. Saya memang bertetangga dengannya, tapi kami gak akrab."


"Oh ya sudah makasih udah mau meluangkan waktunya dan maaf sudah menganggu." Ujarnya sopan.


"Iya gak apa-apa Mas. Kalau begitu Saya masuk dulu, mau lanjut tidur."


Athala mengangguk lalu mengacak rambutnya kalut begitu pintu apartemen itu telah tertutup. Kepalan tangannya menghantam tembok apartemen menyalurkan rasa frustasi yang meluap didalam hatinya. Kepalanya menunduk dengan membawa rasa bersalah yang besar.


"Ruby, kamu di mana..? maafin aku.."


*****


Aku gak tahu bikin konflik yang berat, please😫