
Lonceng bel kedai cafe berbunyi ketika Athala memasuki cafe tempat bekerja Ruby, hari ini ia memang tak menjemput Ruby sepulang sekolah karena tak ada waktu luang, ia disibukkan dengan pekerjaan, tapi ia sudah bilang melalui pesan dengan Ruby akan menemuinya saat di malam hari.
Tapi Athala tak menemukan ada tanda-tanda Ruby didalam cafe itu, ia pun memutuskan untuk bertanya dengan Flora yang sedang bekerja melayani para pelanggan.
"Ruby gak datang kerja?"
"Oh, lo cowok yang waktu itukan?" tanya Flora mengingat-ngingat. Athala mengangguk saja, matanya masih berkeliaran kesana-kemari, mungkin saja Ruby ada hanya saja ia tak melihatnya karena ada lumayan banyak pelanggan.
"Ruby gak ada?"
"Hmm hari ini dia gak datang, tadinya gue kira dia bakal datang soalnya dia bilang disekolah bakal dateng sih, tapi sampai sekarang belum nongol juga. Mungkin dia sudah pulang ke rumah kali." Ujar Flora. Athala manggut-manggut paham, ia pun memutuskan keluar dari cafe.
Didalam mobil, Athala mencoba menghubungi Ruby, tapi yang mengangkatnya hanya operator, tak pantang menyerah sampai disitu, ia berulang kali mencoba memanggil Ruby melalui telepon, namun hasilnya tetap nihil, entah mengapa ia memiliki firasat buruk mengenai Ruby.
"Lo kemana, Ruby?" gumamnya masih mencoba mengubungi, sampai pada akhirnya ia pun memutuskan pergi mengunjungi kost Ruby, mobilnya melaju tak terlalu kencang tapi juga tak lambat.
Ia membawanya dengan kecepatan sedang karena lalu lintas masih padat akan kendaraan-kendaraan lain yang berlalu lalang, akan berbahaya jika ia membawa mobilnya kebut-kebutan.
****
Tak terhitung berapa kali Athala mengetuk-ngetuk pintu kost Ruby, tak ada sahutan sama sekali, didalam sana tak ada hilal penghuninya atau mungkin Ruby benar-benar tak ada di kostnya?
Athala masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri, dimana keberadaan Ruby saat ini, apakah ia masih ada disekolah? dalam keadaan risau, Athala memeriksa arloji yang melingkar indah dipergelangan tangannya, menunjukkan pukul delapan lewat lima menit, hari sudah malam.
"Sudah jam segini, gak mungkin gadis itu masih disekolah. Tapi, kalo gak disana, dimana lagi?" monolognya dilanda gelisah.
Ia tak bisa melacak keberadaan Ruby untuk sekarang, Athala pun juga tak mengetahui tempat-tempat favorit yang disukai oleh Ruby, ia tersadar jika dirinya tak begitu mengenali seorang Ruby. Walaupun dalam kondisi batin yang berperang akan keberadaan Ruby, Athala tetap melanjutkan perjalanan kemana saja untuk mencari Ruby.
Tak ketinggalan, dipertengahan jalan, ia menghubungi Reygan untuk membantunya mencari Ruby, setelah menempuh sepuluh menit diperjalanan, Athala sampai disekolah, tempat yang menurut feeling Athala, tempat keberadaan Ruby saat ini.
Ia memanggil satpam di pos penjaga dari luar gerbang sekolah yang sudah jelas sudah tertutup di jam segini, "Ada perlu apa Masnya, malam-malam begini datang ke sekolah?" Pak Satpam bertanya pada Athala.
Dihalangi pagar gerbang, mereka memulai pembicaraan. "Apakah didalam sekolah sudah gak ada murid, Pak? soalnya pacar saya yang sekolah disini, sampai sekarang belum pulang-pulang, Pak. Kemungkinan dia masih ada didalam gedung sekolah, Pak."
Pak Satpam menggelengkan kepala, "Gak mungkin, seluruh murid-murid sekolah SMA Cakrawala sudah pulang semua dari sore tadi, gak ada yang tertinggal setahu saya."
"Jika begitu, izinkan saya untuk masuk sebentar saja untuk memeriksa, saya gak akan buat kekacauan apapun Pak."
"Memang, pacar mas bagaimana ciri-cirinya?"
"Badannya pendek, sedada aku, Pak." Athala mencontohkan ukuran tinggi Ruby sampai sedadanya, "Rambutnya sepunggung, kulitnya putih dan bersih, wajahnya yang jelas cantik banget, bidadari saja kalah sama dia. Pokoknya kalo nanti kami punya anak, nanti saya jodohin sama anak bapak aja deh. Soalnya kalo turunannya dari pacar saya, mah gak bakal ngecewain, Pak!"
"Biar bapaknya ngerti ciri-ciri pacar saya." Ujar Athala lgi.
Mereka berbincang-bincang sesaat, sekali lagi ia meminta izin untuk masuk ke perkarangan sekolah pada satpam.
Butuh usaha juga dibumbui tipu daya untuk Athala meyakinkan Pak Satpam agar dapat masuk lebih dalam kearea sekolah, syukur Pak Satpam dapat disogok dengan beberapa lembar uang merah, hingga sekarang Athala berhasil masuk, justru ia sudah berjalan di koridor sekolah bermodalkan cahaya senter ponselnya.
"Ruby?! Ruby?!" Athala menjerit kan nama Ruby berkali-kali agar Ruby dapat mendengarnya jika ia memang benar ada disini, peduli apa dia nanti dimarahi karena menciptakan keributan diarea sekolah? prioritas utama untuk sekarang adalah menemukan Ruby.
Sementara didalam gudang peralatan olahraga, Ruby yang tadinya tertidur didepan pintu terusik ketika mendengar namanya disebut-sebut, selain itu, suara bariton yang terdengar familiar itu membuatnya salah fokus.
Namun, sekarang bukan saatnya mempedulikan itu, jika ingin keluar dari sini ia harus memberi respon agar terselamatkan. Ruby perlahan bangun berdiri sembari turut berteriak. Ia menggedor-gedor pintu. "Atha?! aku disini!!"
"Ruby?!!" sayup-sayup Athala dapat mendengar suara gadis kecilnya yang sedang memanggil namanya, perlahan ia pun mulai mengikuti arah sumber suara hingga membawanya kedepan sebuah pintu.
"Ruby, kamu ada didalem?!" Sekali lagi Athala memastikan. Mungkin saja hantu yang gentayangan disekolah ini.
"Atha!! iya aku ada didalem! buka pintunya Tha!! aku terkunci didalem sini!"
"Jauhi sedikit dari pintu, By, mau aku dobrak." Athala berpesan pada Ruby setelah akhirnya ia mencoba untuk dobrak mendobrak daun pintu, Ruby menurut sesuai interuksi. Sekali sampai dua kali belum berhasil, namun yang kesekian kalinya pintu yang awalnya tertutup rapat itu berhasil terbuka lebar.
Athala langsung disambut dengan terjang pelukan dari Ruby ketika daun pintu terbuka, "Aku pikir, aku bakal tidur disini sampai pagi, untung ada kamu Tha.."
Tangan Athala lihai menerapkan sapuan dibelakang kepala Ruby, ia mengangguk pelan. "Siapa yang ngurung kamu didalem? katakan! akan aku jamin dia akan mendapat bayaran yang lebih berat dari pada apa yang kamu alami hari ini."
"Sandra.. Sandra yang udah buat aku terjebak didalam gudang yang gelap itu.." Adunya mampu membuat Athala terdiam membisu.
"Kamu akan balas perbuatannya kan Tha? iyakan? aku--aku ketakutan didalem. Gak ada cahaya sama sekali, hp aku mati karena kehabisan daya, untung aku ketiduran, kalo enggak, gue hanya bisa nangis sampe pagi."
Ruby melepas pelukan secara sepihak saat tak mendapat tanggapan dari sang lawan bicara. "Tha!! jawab aku!! kamu bakal hukum Sandra buat aku kan?!" Ruby menatapnya penuh tuntutan, sedangkan Athala tak tahu harus melakukan apa.
"Kalo orang lain pelakunya, aku akan melakukan apapun demi membalaskan perbuatan orang itu, tapi-- kalo itu orangnya Sandra--"
"Kalo orangnya itu Sandra?!" Ruby mengulangi perkataan Athala dengan kedua kening yang nyaris menyatu saking penasarannya, dari kemarin-kemarin Ruby sempat penasaran hubungan antara Athala dan Sandra. Mereka terlihat akrab. Dan entah mengapa, Ruby tak suka.
"Aku--gak bisa..."
*****