My Little Girl (SEASON 1-2)

My Little Girl (SEASON 1-2)
MLG.KILAS BALIK



Brukhh!


Setelah selesai sarapan di kantin, di lorong kelas Ruby tak sengaja bertabrakan dengan Alan, Ruby membuang napas jengah, apakah Tuhan memang sengaja mengatur nasibnya seburuk ini agar membuatnya muak? mengapa selalu saja ia berpapasan dengan Alan?


Flora pun tadi izin pergi ke toilet, Ruby sendirian, tak mampu jika harus berhadapan dengan cowok itu, tapi sepertinya Tuhan masih memberkatinya karena Alan lagi tak bersama Sandra.


"Sorry, gak sengaja." Selepas mengatakan itu, Ruby pun kembali memutar balik badan berniat akan melenggang dari hadapan Alan, ia menunda tujuan awalnya. Namun baru dua langkah, dengan gerak cepat Alan lekas mengikuti langkahnya dan mencekal pergelangan tangannya.


"Apaan sih? lepas!" Ruby menghempas kuat cengkraman Alan, sorot tajamnya menghunus kearah Alan.


"Lo sengaja nabrak gue?"


Ruby mendelik sinis mendengar ucapan Alan yang penuh percaya diri. "Idih ngapain gue sengaja nabrak elo? gue gak sekurang kerjaan itu kali!" Kedua tangannya terlipat didepan dada.


"Barangkali lo sengaja nabrak hanya mau caper ke gue."


Ruby ingin meludahi wajah jelek Alan sekarang juga, tapi sebisa mungkin ia tahan mengingat jika mereka berdua sedang ditempat umum. Ia harus menjaga reputasinya sendiri.


"Kemarin gue kan udah bilang ke lo, kalo kita udah berakhir, apa masih belum jelas? oh atau lo mau gue umumin didepan banyak orang kalo kita udah gak ada hubungan apa-apa biar lo sadar?"


Ruby menatapnya dengan ketidak percayaan, sepertinya orang-orang disekitarnya berubah jadi super duper menyebalkan, semalam hingga tadi pagi, Athala yang menaikkan tensi darahnya, dan sekarang, Alan lagi? apakah mereka kehabisan obat? sakit jiwa memang.


"Dari mana datangnya kepercayaan diri lo itu? tinggi banget. Awas jatuh, ntar diri lo sendiri yang malu."


"Gak percaya diri, tapi memang fakta, lo--gamon kan ke gue, makanya pura-pura gak sengaja nabrak gue biar narik perhatian gue lagi? buktinya lo masih pake kalung pemberian gue." Alan menaikkan sebelah alisnya dengan arah tatapan menuju kalung yang bertenggar indah dileher Ruby.


Ruby merotasikan matanya jengah, jadi hanya gara-gara kalung yang dipakainya ini Alan mengira dirinya gagal move on dan mengemis-ngemis padanya?


"Oh jadi karena kalung ini.." Ia melepas kalung liontin bermotif love tersebut, mengambil tangan Alan dan meletakkan barang itu di telapak tangannya. Ruby tak tahu mungkin hanya perasaannya atau bagaimana, Alan terlihat ragu menerima benda itu kembali, tapi Ruby memberikannya terkesan memaksa.


"Jika kalung ini yang buat pikiran lo jadi setinggi langit, nih gue kembaliin, kemarin-kemarin gue lupa kalo masih pake nih kalung." Ruby menarik tangannya, ia mengamati Alan yang sekarang terdiam dengan tatapan yang sulit diartikan. Satu tangannya yang menggenggam sebuah kalung dari Ruby terkepal kuat.


"Oh iya, satu lagi. Bilang ke pacar lo, kalo kita udah gak ada hubung apa-apa biar dia gak akan ngurung gue digudang kayak kemaren lagi."


"A-apa?" Alan jadi kehabisan kosa kata, lidahnya mendadak keluh mengeluarkan suara.


"Lo pasti gak tahu kan? kalo lo punya pacar sepicik dan sebusuk itu?" Ruby berdecih sinis, ia maju beberapa langkah hingga berdiri disisi Alan, tangannya terangkat menyapu-nyapu pundak Alan.


"Nanti ingetin pacar lo, jangan sering-sering ganggu gue, bukannya apa, hanya saja gue bilang ini agar dia gak malu sendiri, soalnya kesannya dia kayak takut kalah saing sama gue." Tekannya sebelum berlalu dari sana.


****


Alan menghempas kasar tangan Sandra ketika sampai disebuah gudang. Sandra memegangi pergelangannya yang kebas akibat cengkraman Alan yang kuat.


"Ada apa lagi sih? lo mau kita ngelakuin apa digudang ini? oh atau lo mau kita ngulangin adegan dimana waktu keciduk sama Ruby?"


Alan tak kuasa lagi menahan umpatannya, "Damn! kemarin lo apaain Ruy hah?!" Hardik Alan tiba-tiba, kedua matanya begitu sengit menyorot Sandra, seiring dengan aura gelapnya, namun hal itu tak dapat membuat Sandra gentar, ia dengan tanpa segan mengangkat dagunya menantang.


"Dia lapor sama lo?" Sandra tertawa tajam, "Pengecut! bisanya hanya ngelapor doang! sama pacar orang lagi!" desisnya ditujukan untuk Ruby.


"Lo yang pengecut! bisanya hanya ngancem kelemahan orang!"


Tawa Sandra tambah brutal, ia terlihat seperti orang gila dimata Alan."Hahaha, sekarang lo berani sama gue?! lo mau foto-foto gak senonoh mantan kesayangan lo itu jadi viral?"


Alan meraup wajahnya gusar, "Gue udah jauhin bahkan putusin dia, apakah itu masih belum cukup?" Intonasi suara Alan mengendur, biar bagaimana pun, titik lemahnya ada ditangan Sandra, ia tak mungkin bertindak diluar batas jika itu bisa saja beresiko untuk Ruby.


"Gak bakal cukup sebelum hati lo jadi milik gue."


Sandra tersenyum miring, ia menangkup rahang tegas lelaki yang kini berdiri dihadapannya. Alan meraup oksigen sambil memejamkan matanya erat menahan sekuat tenaga agar tak menyingkirkan tangan lancang Sandra meskipun ia merasa sangat risih.


"Gak papa baru raga lo, kelak gue bakal milikin hati lo." Tekannya, telunjuknya menyentuh dada Alan. Sekali lagi Alan menggeleng, mengelak pemaparan Sandra barusan.


"Gak segampang itu San.."


"Mungkin gak gampang, tapi gue bakal berusaha untuk buat lo jatuh cinta ke gue." Sandra terlihat tegas serta mantap ketika memungkaskan itu. Alan hanya kembali menghela napas berat, ia menarik tubuhnya dari Sandra agar menjauh.


Saat ia sudah membelakangi Sandra bersiap akan pergi dari sana, ia terlebih dulu berkata. "Bukannya gue gak bisa cinta sama lo San, tapi itu sudah jadi pilihan gue, hati gue bakal terpatri dengan satu orang, dan itu hanya Ruby, lo jangan terlalu menaruh harapan lebih ke gue. Karena nanti hanya lo yang bakal ngerasain apa itu namanya kecewa berat."


*****


Flashback on.


Di sebuah restoran minimalis, terlihat dua orang berbeda gender sedang duduk saling berhadapan, mereka masih belum ada yang membuka bicara, karena belum lama mereka berjumpa ditempat ini, keduanya juga masih menunggu hidangan yang telah mereka pesan.


Sejujurnya Sandra malas ketemu dengan Pria ini, tapi katanya ada hal penting yang mau ia bicarakan, ditambah lagi dengan iming-iming traktir makanan enak-enak, siapa yang tak tergiur coba? selama ada yang gratis, Sandra mah iya-iya aja.


"Ada perlu apa lo ngajak gue ketemu?" Sandra akhirnya membuka obrolan, ia bersidekap dada. "Gue harus panggil lo apa? Kakak--atau Abang? atau--Athala?"


"Seperti biasa, panggil gue senyaman lo aja, kita memang saudara tapi kita gak sedarah, jadi gak usah sopan-sopan amat."


Sekedar informasi, jika Athala dan Sandra adalah saudara tiri, Sandra adalah anak dari Wanita yang menikah dengan Ayah Athala. Sandra pernah tinggal satu atap dengan Athala dalam jangka waktu yang terbilang tak lama karena sebuah faktor, Athala menyayangi Sandra selayaknya adik kandung karena sejak kecil ia tak pernah merasakan ada Adik perempuan.


Namun, kebersamaan mereka tak berlangsung lama karena Athala memutuskan minggat dari rumah utama ketika merasa sudah terlalu muak tinggal bersama Ibu tirinya yang bernotabe sebagai Ibu kandung Sandra. Adapun Sandra, ia juga tertekan tinggal bersama Ibunya, dirinya dituntut lebih agar menjadi anak yang sempurna sesuai keinginannya, belajar dan belajar agar sukses dimasa depan, tanpa mau tahu jika ia tak menginginkan itu semua. Yang ada, ia merasa terkekang. Ibarat hidup dineraka.


Pada awalnya, Sandra masih mencoba bertahan, namun lambat laun ia pun mulai jenuh diperlakukan demikian hingga ia akhirnya pun membangkang pada Ibunya sendiri, Sandra berujung diusir oleh Ibunya karena itu, ia memilih untuk mewujudkan keinginan Ibunya yakni pergi dari rumah, untung Sandra tak sendiri, ada asisten rumah tangganya yang telah mengasuhnya sedari SMP, wanita paru baya yang selalu ada untuknya, ia tinggal bersamanya.


Kembali lagi, perhatian Sandra tersita kearah tiga lembar foto yang digeserkan oleh Athala dipermukaan meja mengarah padanya.


"Foto apaan nih?" Sandra meraih lembaran foto yang menggambarkan dua insan yang sedang melakukan hal yang tidak-tidak, meskipun tubuhnya disensor, tapi Sandra bukanlah orang bodoh yang tak tahu jika didalam itu menunjukkan dua orang yang sedang tanpa busana.


Lalu apa ini? wajah mereka terlihat jelas, Athala dan--Ruby?


"Tanpa gue jelasin, lo pasti tahu itu foto apaan, walaupun gue udah sensor badan kami, gak mungkin lo gak bisa ngasumsiin melalui tuh foto kami lagi ngapain."


Sandra mengangkat kepalanya kearah Athala, menatapnya penuh selidik. "Ini lo dan Ruby? ada hubungan apa kalian berdua? kenapa berhubungan sampai sejauh ini?"


"Gak usah kepo. Mending lo urusin mantan lo si Alan anak anjing itu, pake foto itu untuk ngancem dia, biar dia ninggalin Ruby. Mungkin, gambar itu gak bakal goyahin perasaannya ke Ruby, tapi--itu mungkin bisa buat dia ninggalin Ruby kalo lo jadiin tuh foto sebagai senjata."


"Jadi, tujuan lo ngajak gue ketemu mau ngajak kerja sama buat ngehancurin hubungan mereka?" Sandra tak tahu dan tak mau tahu apa hubungan Athala dan Ruby, namun yang lebih penting sekarang, ia sudah mendapatkan senjata paling ampuh untuk mengandaskan hubungan antara Ruby dan Alan.


Athala mengangguk sebagai balasan, "Lagian, lo juga gak rugi kan? malah kita sama-sama untung, lo bisa leluasa bersama Alan, begitu juga dengan gue."


Sandra berdecak kesal, ia penasaran Ruby menggunakan pelet apa sampai-sampai Athala juga kecantol dengan dia. "Bukan hanya Alan, lo juga? emang kelebihan Ruby apa sih sampai kalian tergila-gila dengan dia?"


"Gue gak ada waktu buat jawab pertanyaan-pertanyaan bodoh lo itu, yang intinya, manfaatin potretan itu sebaik-baiknya." Athala mengecek arloji yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu berdiri dari duduknya.


"Gue udah gak punya banyak waktu lagi, gue harus pergi karena ada urusan. Inget, jangan sampai foto-foto itu jatuh ke tangan orang lain selain lo dan Alan. Gue gak mau reputasi Ruby jadi tercemar gara-gara itu." Ujarnya sebelum pergi dari sana meninggalkan Sandra yang sedang mengusap-ngusap dagunya.


Ia memperhatikan tiga lembar gambar yang kini dalam genggamannya, kemudian bermonolog. "Ruby..Ruby...gak nyangka gue lo cewek yang seperti itu.."


Flashback of.


*****