
Valerie meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paru lalu membuangnya dengan lenguhan tertahannya ikut serta dan matanya terpejam rapat-rapat.
"Enghhhhh..." ditengah pahanya yang terbuka ada seorang Dokter Wanita yang membantunya untuk melakukan persalinan.
Deru napasnya terengah-engah. Dadanya bergerak naik-turun. Peluh mengalir deras di kening. Bibirnya tidak lagi berwarna, sangat pucat. Ini benar-benar menyakitkan. 'Ya Tuhan.. Permudah lah aku dalam melahirkan buah hatiku ke dunia ini... Dia, satu-satunya harta karun yang aku miliki di dunia ini..' Harapnya dalam hati.
Valerie baru pertama kali ini melahirkan. Ia tidak menyangka bahwa rasanya akan sesakit ini. Saking perihnya, Valerie sampai tidak menyadari bahwa ia mencengkram kuat tangan Zeal yang sedang ada disisi brangkar menemaninya melalui prosesi melahirkan.
"Dok? Apakah Wanita ini tidak bisa menjalani operasi saja? Dia kelihatan sangat kesakitan." Percaya atau tidak, Zeal tidak mampu melihatnya. Ia teringat akan Mommy-nya saat melahirkan Ruby.
"Tidak bisa Pak. Istri Bapak dalam kondisi yang bisa melahirkan secara normal. Akan lebih berisiko jika menjalani operasi."
"Ah, baiklah." Zeal hanya bisa pasrah, ingin menjelaskan bahwa Wanita ini bukan Istrinya. Namun, ini situasi genting bukan waktu yang tepat untuk menerangkan hal-hal yang tidak penting.
Setelah menyempatkan diri merespon Zeal, Bu Dokter kemudian kembali memusatkan perhatian pada pasiennya. "Sedikit lagi Buk. Ayo coba lagi sekali lagi. Kepala bayinya hampir terlihat. Tarik napas dan dorong.." Interuksi dari sang Dokter membuat Valerie kembali mencoba dan mencoba berulang kali, tidak pantang menyerah mendorong bayi didalam perutnya hingga terdengar lah suara tangisan bayi yang memenuhi ruangan persalinan.
"Syukurlah... Akhirnya bayiku lahir dengan selamat.. Terimakasih, Tuhan.. Mulai dari detik ini, dia akan menjadi temanku satu-satunya berkelana selama hidup didunia ini." Gumamnya dengan bibir bergetar.
Kepalanya telah menyentuh bantal bersama dengan perasaan menjadi lega. Ia ingin menangis. Bukan sedih, melainkan terlalu bahagia hingga ia meneteskan air matanya. Sigap, ia usap agar tidak ketahuan Zeal.
"Selamat atas kelahiran anakmu." Ujar Zeal datar. Mendapat anggukan lemah dari Valerie. Tenaganya terasa terkuras habis.
Zeal tidak tahu mengartikan hatinya, semestinya ia senang bahwa ada nyawa baru yang kembali melihat semesta. Namun, ada sesuatu yang mengganjal didalam sana, ia tidak tahu sesuatu itu apa.
"Kau tidak perlu khawatir dengan biaya administrasi, aku yang akan membiayainya. Kalau ada uangmu untuk sekarang, kau simpan saja untuk masa depanmu dan bayimu."
"Makasih banyak Zeal.. kau baik sekali. Aku sudah menyakitimu waktu dulu, tapi kau malah tetap sudi membantu orang yang sudah melukaimu." Valerie tidak tahu lagi mengungkapkan rasa terima kasihnya dalam bentuk apa, Zeal terlalu baik.
"No problem. Aku bukanlah orang yang tidak berperasaan yang tega mengkhianati." Perkataannya tersirat segudang makna dan Valerie paham bahwa Zeal sedang menyinggungnya.
"Anggap saja, aku melakukan dua kebaikan hari ini. Sebagai gantinya kelak, kalau aku memiliki permintaan padamu, kuharap kau bersedia mengabulkan, apapun itu."
"Baiklah, Zeal..."
"Bayinya sangat cantik seperti Ibunya.. Apakah Ayahnya tidak ingin menggendongnya?" Tanya Bu Dokter untuk Zeal. Ia baru saja membersikan bayi yang baru saja keluar dari rahim Ibunya.
Seorang Pria yang menemani Wanita hamil melahirkan, wajar saja terjadi ke salah pahaman.
Zeal mengusap tengkuknya kikuk sebelum mengangguk ragu, begitu melihat tanggapan Zeal, Bu Dokter pun menyerahkan bayi perempuan dengan kulit masih agak memerah itu pada Zeal untuk diambil alih.
Pandangan Zeal menunduk, jatuh pada wajah imut nan menggemaskan ini. Ada rasa yang tidak dapat ditafsirkan dengan kata-kata tumbuh dalam relung dihatinya, ada binar-binar dibalik mata elangnya.
Bola mata yang bulat dengan iris berwarna amber berkilau, hidung yang mancung dan kecil, bibir bawah yang tebal dan tipis dibagian atas. Benar-benar duplikat seorang Valerie. Matanya mengerjap polos seraya mengemut jempol kecilnya.
"Cantik sekali dirimu baby girl.." Gumamnya tanpa sadar. Ia menatapnya kagum. Sepertinya, ia--jatuh hati dengan bayi mungil ini.
"Zeal? Mana bayiku? Aku akan menyusuinya dulu."
"Hmm, bentar." Zeal masih belum puas, ia kelihatan bahagia menimang-nimangnya dengan hangat, mendusel-duselkan ujung hidung mancungnya pada hidung mungil pada little baby tersebut.
"Hai baby? Selamat lahir di dunia ini.. Andai saja kau darah dagingku.. Aku akan menjaga dan menyayangimu dengan sepenuh hati, bukan seperti Ayahmu yang brengsek itu."
Aura dingin, galak nan kejamnya yang ia tunjukkan pada Valerie seketika sirna saat ini juga.
Sejatinya dirinya adalah seorang Pria dengan penuh kelembutan dan memiliki kasih sayang yang tidak terhingga, ia saja rela bolak-balik dari Australia-Indonesia hanya untuk memantau kondisi Ruby, Sang Adik.
Hanya saja, terhadap seorang Wanita yang membuangnya tanpa hati nurani dan menikam hatinya secara tidak langsung hingga membuat jiwanya dibutakan oleh rasa benci.
Ia ingin memiliki bayi seperti ini juga, anehnya lagi ia tidak ingin bayi yang mirip orang lain. Zeal suka dengan siapapun yang mirip Valerie, seperti dulu yang mana ia langsung jatuh cinta pada Valerie pada pandangan pertama.
"Zeal? Dia harus segera diberi asi.." Tegur Valerie lagi, Zeal tidak kunjung memberikan bayinya pada dirinya.
Zeal berdehem pelan untuk menetralisir diri, apa yang ia lakukan? Bayi ini bukan anaknya. Tidak, ia tidak boleh berpikir terlalu jauh.
Lalu ia pun mendekat keranjang Valerie, menyerahkan anak kecil itu pada sang Ibu dengan setengah hati. Valerie tersenyum hangat saat menyambut sang buah hati. Satu-satunya malaikat kecil yang ia punya. "Cantik sekali Putriku..." Lirihnya.
"Kau sudah memikirkan nama untuknya?" Zeal duduk di kursi samping brangkar. Valerie menggeleng atas pertanyaan yang terlontar dari Zeal. Bayinya baru lahir, ia belum kepikiran akan nama yang bagus untuk Putri semata wayangnya.
"Bolehkah aku yang memberinya nama?"
Valerie agak terkejut. Pasalnya ini diluar dugaan, Zeal bersedia memberi nama dari Anak dari seorang Wanita yang paling ia benci.
"Ah? Kalau kau tidak mengizinkan, aku tidak akan memaksa. Aku siapa? Hanya orang lain kan? Tidak berhak untuk menamai bayi itu." Zeal tersenyum pahit melihat reaksi Valerie.
Kini Valerie terlihat gelagapan. Ia hanya terkejut bukannya tidak mengizinkan. Malah, itu suatu kehormatan apabila sang penyelamat mereka mau memberikan nama untuk Putrinya.
"B-bukan begitu, Zeal. Aku hanya kaget kau sudi memberikan nama untuk anakku. Lagi pula yang melahirkannya adalah Wanita yang paling kau benci di dunia ini."
"Hmm aku hanya benci Ibunya, bukan anaknya."
"Baiklah kalau begitu. Kau sudah memikirkan namanya? Berilah nama untuk Putriku. Aku bersedia nama apapun itu asal dari usulanmu."
"Aiyla. Yang memiliki arti cahaya bulan, gadis cantik yang kuat sebagai pejuang dan sangat mudah jatuh cinta. Aiyla Ruth Chereena adalah nama lengkapnya."
Valerie menyunggingkan senyum simpul. "Hmm bagus sekali. Baiklah, sekarang namanya adalah Aiyla. Hai Ai? Kau dengar tadi? Uncle penyelamat yang memberimu nama. Kelak kalau kau besar nanti, kau berutang budi pada Uncle penyelamat karena dia sudah menolong dan membantu Mommy dalam proses melahirkan mu.."
Zeal hanya memperhatikan Valerie yang sedang mengajak Putrinya yang belum tahu apa-apa itu berkomunikasi, sebelum akhirnya Valerie mengangkat pandangan, mengarah pada dirinya.
Naiklah satu alis Zeal menandakan jika dirinya bingung mendapat tatapan ragu dari Valerie. "Ada apa? Kenapa kau menatapku seperti itu?"
Iya. Valerie ragu. Bagaimana menyampaikan untaian kalimat yang tidak membuat Zeal merasa diusir dari ruangan ini? "Umm--Zeal? Bisakah kau keluar dulu?"
"Ck. Dasar tidak tahu terimakasih! Aku sudah menolong mu dan ini balasanmu?! Kau mau mengusirku dari dalam ini?! Dimana hati nuranimu hah?!" Intonasi suaranya meninggi. Yang dihardik pun sampai dibuat sedikit tersentak.
"B-bukan begitu. Aku tidak mengusir mu. Tapi aku tidak bisa menyusui Aiyla kalau kau masih disini."
"Ah? Kau masih tahu malu juga? Bukannya kau sudah memperjual belikan tubuhmu ke sembarang Pria? Buat apa malu padaku? Lagi pula aku juga sudah pernah melihat dan menjamah setiap inci tubuhmu saat kita masih menjalin kasih. Lalu sekarang? Kau malu hanya memperlihatkan buah dadamu padaku?"
Terpaku dengan bibir tertutup rapat. Dada Valerie berdenyut perih mendengar kata-kata yang seperti menghakiminya dari Zeal. Ia bukanlah Wanita murahan.
Selama hidupnya ia hanya pernah making love dengan Zeal pada saat berpacaran dengannya dan dengan Suaminya yang pada dasarnya bukan lagi hal lumrah jika dirinya melakukannya dengan Suaminya sendiri.
"Bukan, aku bukan wanita murahan.." Lirihnya dengan kepala menunduk dalam. Percuma, Zeal tidak akan percaya. Ucapannya hanya akan jadi angin lalu buat Zeal.
Zeal menghembuskan napas kasar, apa yang ia katakan pada seorang Wanita yang baru melahirkan? Seharusnya ia tidak mengatakan itu. Ia beranjak dari duduknya sebelum kembali mengangkat suara.
"Baiklah. Aku akan keluar. Asal, beri asupan untuk Aiyla."
*****
Zeal meletakkan sebuah kantong kresek yang berisikan cup bubur ayam diatas nakas, dirinya membeli makanan itu dari luar pagi ini, mengingat di rumah sakit ini hanya menyediakan bubur hambar tanpa campuran apa-apa.
"Makanlah. Kau butuh makanan agar asimu tetap lancar, setidaknya Aiyla harus tetap sehat, jangan kaya Ibunya yang kurus tinggal tulang."
"Zeal? Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit ini?"
"Kenapa? Kau sudah pengen cepat keluar agar bisa menjual tubuhmu lagi dan mendapatkan duit?"
"Tidak Zeal.. Aku hanya--ingin segera bekerja agar bisa menabung dan membiayai hidup sehari-hariku dan anakku. Aku tidak ada waktu untuk bersantai-santai. Aku juga harus mencari kontrakan untuk kami tempati."
Valerie tidak ada pikiran untuk istirahat dalam jangka waktu lebih lama setelah melahirkan. Karena waktunya terlalu berharga, banyak yang harus ia lakukan. Ia pun sudah menyusun rencana, bahwa ia akan bekerja sambil membawa anaknya.
"Huh berdedikasi sekali kau menjadi Ibu. Katakan, berapa murah kau menjual tubuhmu? Biar aku yang membelinya, kau tidak perlu bekerja jika begitu. Kehidupan anakmu pun akan terjamin."
"Tidak Zeal. Aku tidak menjual tubuhku..berhenti mengatakan hal seolah aku adalah seorang jalaang."
"Lalu kalau bukan jalaang, lantas apa? Wanita murahan? Bukankah itu sama saja? Hanya penyebutannya yang berbeda." Zeal berdecih sinis. Valerie bertingkah seolah menjadi Perempuan paling suci.
"A-aku bekerja di sebuah tokoh roti..."
"Tokoh roti? Di daerah semalam? Lalu bagaimana dengan bayimu? Kau akan menitipkannya kepada siapa saat kau bekerja?"
"Aku--berencana akan membawanya bersamaku jika bekerja."
"Kau mau membawa bayi sekecil dan masih merah ini ketempat kerja?! Akalmu sudah tidak sehat kah?! Anak semungil ini seharusnya mendapatkan perawatan yang bagus, bukan malah dibawa-bawa ketempat bekerja. Sebenarnya apa yang ada di otak kecilmu itu?!"
Valerie meremas selimut rumah sakit yang ia kenakan. "A-aku gak ada pilihan lain." Satu-satunya keluarga yang ia miliki hanya Ayahnya. Dan Ayahnya tidak ada di negara ini.
Suaminya? Valerie butuh berpikir ribuan kali jika kembali pada lelaki kasar dan selalu menuntut uang darinya. Akan tetapi--ia tidak bisa menyalahkan Suaminya sepenuhnya.
"Dimana Daddy-mu, satu-satunya keluargamu?"
"E-enggak ada. Dia sedang tidak ada di negara ini."
Zeal mendengus kasar, kenapa juga ia yang frustasi? Masa bodo mau Valerie tinggal di kolong jembatan atau di hutan, kalau bukan karena bayi perempuan itu, Zeal tidak akan peduli sama sekali. "Ah sudahlah, mending kau isi perut dulu sebelum makanannya dingin."
*****