
"I miss you so much, my little girl.."
"A--atha?" Tangannya terangkat berancang akan membalas pelukannya, karena tidak bisa dipungkiri, ia juga sangat rindu pada Pria ini.
Namun, tindakannya dibatalkan oleh suara mungil dibelakang mereka. "Mami, siapa yang datang? kenapa Mami lama? Grandma sama Paman sudah lama nung--" Perkataan Calix tertahan di kerongkongan, alangkah terkejutnya ia mendapati Ibunya sedang dipeluk oleh seseorang.
Lebih tercengang lagi saat terangkatlah wajah yang sedang bersembunyi dibalik bahu Maminya adalah Pria yang ia sebut sebagai paman baik kala itu. "M-mami? Paman baik?" Apa yang terjadi? apakah Maminya dan Pamai baik saling kenal? pikirnya dilanda kebingungan.
"Calix.. Putraku.." Lirihnya dengan selaput mata sudah mulai diambang oleh cairan bening. Ia mengurai rengkuhannya pada Ruby kemudian hendak menghampiri Putranya, namun naasnya acara reunian yang diselimuti oleh kesedihan mereka tiba-tiba dihancurkan oleh suara tegas yang mendominasi ruangan luas itu. Suasana mendadak jadi mencekam hanya dalam sekejap mata.
"Pisahkan mereka!!" Edric Barnard Levarendo--Ayah dari Ruby berdiri dari tengah undakan tangga. Hanya dengan sepatah kata instruksinya, ada dua sampai tiga bawahannya yang memakai pakaian khusus bodyguard mulai bergerak dari berbagai arah, memisahkan Athala dan Ruby.
Dua menahan lengan Athala lalu satunya lagi menahan Ruby. "Daddy?! apa yang Daddy lakukan?!" Ruby memberontak dalam kekangan anak buah Daddy-nya.
Sementara Carlina dan Zeal bergegas beranjak dari ruang makan, mereka dibuat terkejut melihat kondisi di ruangan utama. "Ada apa ini?!" Zeal menahan pergerakan Carlina yang akan mengambil tindakan, menyelamatkan Sang Putri dari belenggu dua bawahan Suaminya.
"Biarkan, Mom.. Ruby kita gak akan kenapa-napa, yang perlu dikhawatirkan disini adalah, dia." Mata Zeal menyorot tajam kearah Athala.
"Aku paham." Athala mengangguk pelan, beda dengan Ruby, ia tidak melakukan perlawanan, dengan kekuasaan yang dimiliki Edric, bukan tidak mungkin jika kelakuannya selama ini sudah Beliau ketahui. "Ayah yang mana enggak marah saat mengetahui Putrinya diperlakukan demikian?"
Dengan aura mendominasi yang menguar, sambil melangkahkan kaki menuruni struktur tangga, Edric berkata sinis. "Mentang-mentang ginjal Ayahmu ada ditubuhku, bukan berarti kau bebas menyakiti Putri kesayanganku dengan semena-mena."
"Beri pelajaran untuknya!" Tekannya lagi mengarahkan.
"Baik bos!" Satu yang menahan Ruby tadi melepaskan cegatan nya dan Ruby diambil alih oleh Zeal.
Detik selanjutnya terdengar sebuah pukulan demi pukulan tanpa ampun pada ruangan mewah dengan bernuansa putih abu-abu tersebut, wajah tampan Athala kini hancur, dipenuhi oleh babak belur.
"Athala!! lepasin aku Kak Ze!!" Ruby meronta-ronta di jeratan Kakaknya, tidak mungkin ia hanya diam menonton tanpa melakukan apapun saat menyaksikan Athala diserang dengan membabi buta oleh bawahan Daddy-nya. "Athala enggak salah, Athala amnesia, itu diluar kendalinya!! tolong, sudah!! jangan pukul dia lagi!!"
"Glandma, itu Paman baik kenapa dipukul?" tanya Calix yang sedang digendong oleh Carlina.
"Karena dia melakukan kesalahan. Sudahlah, itu bukan urusan anak kecil seperti Calix," Carlina membawa Calix menjauh dari sana agar Calix tidak dapat menyaksikan adegan kekerasan lebih lanjut.
"Kukatakan stop!! jangan sakiti Atha lagi, Daddy!! suruh bawahan Daddy untuk berhenti!!" Air mata Ruby mengucur bagaikan anak sungai, ia tidak tahu harus melakukan apa dalam situasi ini, Athala meliriknya sekilas dalam ketidak berdayaan.
"R-ruby..Arghhhh" Tubuhnya terguncang hebat oleh pukulan demi pukulan yang menghantam kuat bagian tubuhnya. Suara erangan kesakitan pun tidak luput menyertainya.
Setelah puas, barulah Edric mengintruksikan Para anak buahnya untuk berhenti, kini Athala telah terkulai lemas dilantai, cairan kental mengalir dari lubang hidung juga mulut, dadanya naik turun, napasnya tersendat-sendat, bahkan oksigen disekitarnya terasa menipis.
"Itulah bayarannya karena telah melukai hati Putriku." Ujar Edric. Zeal sengaja meloloskan Ruby saat Gadis itu memberontak lagi, ia menghampiri Athala.
Zeal melangkah kearah Daddy-nya. "Kenapa gak sampai dia terbunuh aja Dad? ck nanggung banget."
"Jika dia mati, Ruby kita akan sedih. Lihatlah, dia begitu mencemaskannya. Huh, rugi sekali air matanya menangisi laki-laki brengsek seperti itu." Dengan gaya serupa menyilangkan dua tangan didepan dada, sepasang Ayah dan Anak itu memperhatikan Ruby dan Athala.
"Atha?" Tepukan kecil yang dilakukan oleh Ruby dipipinya dapat membuat kelopak mata Athala yang tertutup mulai terbuka redup. Penglihatannya terlihat kabur, ia melihat Ibu dari putranya dengan pandangan semu.
"R..u..by?"
"Kamu gak papa? mau dibawa ke rumah sakit?" tanya Ruby diserang panik. Dia tidak tega melihat kondisi Athala kali ini.
"A..ku baik-baik saja.." Ujarnya lalu meringis kecil. Bergerak sedikit saja, Athala nyaris tidak mampu, apakah dengan melihat keadaannya yang tersisa nyawa yang tidak ikut terenggut, tidak cukup menjawab pertanyaannya? sudahlah, yang penting ia masih dapat melihat Ruby didepan matanya, itu sudah lebih dari cukup.
*****
"Ssshh.. pelan dikit.." Ruby ikut meringis saat Athala merintih perih, kali ini ia sedang mengobati Athala, padahal ia sudah menggunakan cara penuh kehati-hatian dalam mengolesi luka dibagian wajah Athala, namun tetap dapat meninggalkan rasa sakit jika dilihat dari ekspresinya.
"Eumm? insting."
Cukup kuat Ruby menekan kapas yang bertenggar diwajah Athala membuat sang empu makin merasakan perih yang tidak karuan. Saking sakitnya, tangannya yang menjuntai kebawah memukul-mukul sofa empuk yang dia duduki. "Jangan kuat-kuat By.. kamu mau bunuh aku?"
Matanya berkaca-kaca, ia tidak boleh berkedip jika tidak ingin kelihatan lemah. "Siapa suruh gak bilang kamu tahu dari mana."
"Ada. Kamu gak perlu tahu." Ruby memberengut sebal mendengar respon Athala, lelaki ini tidak berubah sedikit pun. Kemana-mana ngeselinnya tidak hilang sama sekali.
Athala mengulas senyum tipis, tatapannya terkunci diparas cantik didepan matanya, wajah serius Ruby yang sedang mengobati dirinya memang tidak ada obatnya, bibir kecil yang berwarna pink cerah, kulitnya yang tambah putih dan mulus dari pada waktu dulu kemudian yang paling penting ia terlihat lebih dewasa.
'Arghh nih anak makin kesini kok makin cantik aja!! pengen terkam!' jeritnya dalam hati, jika kata-kata itu keluar. Bisa dijamin, ia akan ditendang dari mansion ini.
"Gak usah curi-curi pandang bisa?!" Lirikan Ruby yang amat sinis justru disambut oleh gelengan lugu Athala.
"Gak bisa. Kamu makin cantik soalnya." Ruby memutar bola matanya malas. Ia ingin menjedotkan kepala Athala kedinding biar amnesia kembali. Tidak-tidak-tidak! meskipun Ruby kehilangan respect dengan Athala, ia tidak ingin mimpi buruk itu terulang lagi.
"Mami?" Suara imut itu terdengar dalam kesunyian yang melanda antara mereka, Athala menoleh dengan perlahan-lahan, bola netranya berkabut. "Putraku.."
"Loh Calix? kenapa belum tidur? Grandma mana? bukannya dia yang bawa kamu tadi?"
"Kenapa Mami baleng Paman baik?"
Bukannya menjawab, Calix malah melemparkan pertanyaan, ia melangkah kearah mereka yang ada disofa. Mendengar Putranya sendiri menyebutnya sebagai Paman, hati Athala dibuat remuk, bagaikan tertusuk oleh senjata tajam yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
"Paman baik?" Dahi Ruby berkedut samar. Calix mengangguk sebagai tanggapan.
"Dia ini Paman baik yang dimaksud Calix waktu itu Mami.. dia yang ambilin bola Calix yang menggelinding.." Calix naik keatas pangkuan Maminya, sementara Ruby baru ingat, Calix pernah membicarakan mengenai Paman baik sebelum tidur waktu itu.
Pandangan Ruby menunduk, hanya ada kepala yang dihiasi rambut hitam yang dapat ia lihat, Calix mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung diudara, ia lantas menoleh pada Athala.
"Paman baik ngapain disini?" tanyanya dengan tampang lugu. Dengan air mata yang menggenang di pelupuk mata, berdesakkan ingin tumpah, Athala mengalihkan perhatian pada Ruby.
"By.. aku boleh peluk dia..? bentar aja.." Mengingat jika Athala adalah Ayah biologis Calix, tanpa ragu Ruby langsung mengangguki kemauan Athala. Lagi pula tidak alasan untuknya melarang seorang Ayah yang ingin memeluk Putranya sendiri.
"Makasih.." Lirihnya dengan napas yang tercekat.
"Paman baik mau ngapain?" Calix bertanyaa ketika Athala menyelipkan tangan kekarnya dipangkal lengan dan badan Calix, ia mengangkatnya lalu mendekapnya erat seolah melambangkan sebuah rasa tidak ingin kehilangan lagi.
Tidak bisa tercegah lagi, bulir-bulir air mata Athala menetes. "Calix mau tidak, kalau Paman jadi Papi Calix?" tanyanya disela pelukan berlangsung.
"Papi?" Beo Calix tidak paham. Kini Athala telah merenggangkan pelukan, jadi Calix dapat melihat anggukan yang diberikan oleh Athala. Calix berpikir sesaat atas pertanyaan yang diajukan oleh Paman baiknya, "Mau! Paman kan baik, sama Calix aja gak kenal mau bantuin ambilin bola."
"Calix.. Calix.. hanya karena perbuatan sekecil itu, bukan berarti dia orang baik.." timpal Ruby geleng-geleng kepala. Calix ini terlalu naif.
"Enggak! Calix mudah menebak seseolang, Mih..Calix yakin, Paman ini baik." Athala mengulum senyum teduh, Ruby benar-benar berhasil mendidik Putra mereka.
Ia mengambil tangan Ruby dengan tatapan mengarah padanya, sementara sebelah tangannya yang lain, Athala gunakan untuk menyanggah tubuh kecil Calix, dapat ia tangkap mimik Ruby yang seolah menunggu sebuah kata yang akan keluar dari bibir Athala.
Athala sadar jika dirinya telah menggoreskan luka yang dalam pada Wanita ini, namun, salahkah bila ia ingin memulai dari awal?
"Ruby.. kita mulai dari awal lagi--mau? bukan hanya semata-mata buat kita berdua, tapi demi Calix.."
...(TAMAT)...
Untuk para reader yang membaca cerita ini sampai tamat, saya ucapkan banyak-banyak terima kasih sudah mengikuti alur cerita ini hingga end🤗