
Perlahan demi perlahan, kelopak mata dengan bulu lentik menghias yang tadinya tertutup itu mulai terbuka, Ruby mengerjap mencoba untuk menyesuaikan cahaya yang ada disekitarnya, ketika nyawanya sudah terkumpul total, ia tersentak sambil mengusap perutnya yang sudah rata. Seingatnya tadi ia sudah melahirkan. "Bayi! Bayi-ku mana?!!"
Perhatian Athala yang sedang berbincang dengan salah satu perawat laki-laki langsung tercuri kearahnya, "Ruby? Akhirnya kamu sadar, sayang..."
"Atha!! Dimana bayiku?! Dimana?! Seingatku aku sudah melahirkan!! Dimana bayiku! Kenapa aku tidak melihatnya disampingku?!"
"Tenang sayang.. tenang dulu.." Athala memegangi bahunya agar lebih tenang. Melihat betapa hancur dirinya, sebenarnya ia bingung apa yang harus ia katakan pada Istrinya ini.
"Bagaimana aku bisa tenang! Aku tidak melihat ada bayiku di sisiku saat aku bangun!! Sementara aku jelas-jelas sudah melahirkan dia!! Dimana dia, Atha!! Bayi kita, dimana?!!" Ruby mencoba bangkit, menepis Athala yang hendak akan membantunya, berjalan sempoyongan mengitari ruangan ini, berharap ia dapat menemukan anak kecil yang imut nan menggemaskan. Athala hanya bisa membuntutinya.
Melihat ada salah satu perawat disana, ia pun mencengkram bahunya, mengguncangnya kuat menuntut sebuah jawaban darinya. "Sus!! Dimana bayi saya!!"
Perawat itu melirik Athala ragu, tidak yakin ia bisa mengucapkan kenyataan ini, "Maaf Nyonya. Dari pada keterangan dari saya, alangkah baiknya Nyonya mendengarkan penjelasan kondisi Bayi kalian dari Suami nyonya sendiri, saya tidak berhak untuk campur tangan apabila hal itu melibatkan kesehatan mental, permisi." Ucapnya lalu melenggang dari sana.
"A-atha.. apa maksudnya?! Apa maksudnya tentang kesehatan mental?! Kalau bayiku baik-baik saja, mental aku akan baik-baik saja!! Maka dari itu, kau harus mengatakan kalau bayiku baik-baik saja!!"
"Atha!! Please... Dimana bayi kita.."
Ruby mencengkram kerah baju Athala. "JANGAN DIAM SAJA!! KAU BISU?!!" Jeritnya saat Athala hanya melengos, membuang mukanya kearah lain.
"JAWAB SAYA ATHALA!!!" Athala menelan salivanya kasar, jika Ruby sudah menggunakan bahasa formal, berarti amarahnya sudah benar-benar diambang batas.
Siap tidak siap, sekarang maupun nanti, tidak akan ada bedanya, ia tetap akan menghadapi ini. "D-dia berjenis kelamin laki-laki.. T-tapi--"
"AKU TIDAK PEDULI DENGAN JENIS KELAMINNYA, YANG AKU TANYAKAN DIMANA BAYIKU!!!"
Bibir Athala bergetar, antara tidak mampu mengungkapkan kenyataan sekaligus menahan tangis. "B-by.. gini.. gak ada yang abadi di dunia ini. B-bayi kita--gak selamat...Tuhan, lebih sayang sama dia---"
"ARGHHH!!!! KAU BOHONG!!! DIMANA KALIAN MENYEMBUNYIKAN BAYIKU!!"
PLANG!!!
PLANG!!
"TIDAK!! TIDAK! BAYIKU AAA INI TIDAK MUNGKIN! KEMBALIKAN BAYIKU!!!"
PLANG!!
PLANG!!
Alat-alat medis didalam ruangan persalinan itu berterbangan, tidak ada yang selamat. Menjadi sasaran amukannya. Kantong kresek berisi makanan yang digenggam oleh Calix jatuh melihat bagaimana kacaunya didalam ini, ia baru habis dari kantin rumah sakit membelikan makanan enak untuk Maminya yang belum sadar ketika ia tinggalkan tadi, lebih dari itu paling utama adalah bagaimana kondisi Maminya saat ini.
"Mami!!"
Brugh!!
"Calix!"
Athala berteriak melihat Calix terlempar dihempaskan kuat oleh Ruby, seolah kehilangan akal sehatnya, ia tidak peduli lagi dengan keadaan disekitarnya, perasaannya dimonopoli oleh rasa yang berkecamuk, antara sedih, emosi dan menyalahkan diri sendiri atas kehilangan anaknya. "ARGHHH!! AKU BUKAN IBU YANG BECUS!! AKU GAK PANTAS MENJADI IBU!!"
Tubuhnya lemas, jatuh berlutut dilantai. "Hiksss! Tuhan, kenapa harus dia yang pergi..? Kenapa harus bayiku yang engkau ambil..? Lebih baik aku saja yang kau ambil jangan dia!!!" Ruby memukul-mukul dadanya guna mengurangi bobot yang menghimpit disana.
Athala yang awalnya memeriksa keadaan Calix yang tidak jauh dari Ruby, dengan tatapan sendu, perlahan beringsut menggunakan lutut menuju Ruby yang sedang meraung-raung meminta kembali anak mereka yang sudah tiada. Athala meraih Ruby kedalam dekapan hangatnya, menenangkannya lewat pelukan.
Calix meringkuk dipojok, dengan lutut dipeluknya, bahunya bergetar, ia terisak pelan, takut sekaligus sedih melanda secara bersamaan.
Sedangkan Ruby memukul-mukul dada bidang Athala melampiaskan rasa depresinya, ia tidak tahu bagaimana mendeskripsikan hatinya saking hancur leburnya. Begini kah yang dirasakan oleh Ibu-ibu diluar sana saat kehilangan anak mereka, sangat menyakitkan, ini beribu-ribu kali lebih menyakitkan dibandingkan luka fisik. Andai kata hatinya ditusuk ribuan duri.
"Aku Ibu yang gagal, Atha.."
"Enggak sayang.. kamu, bukan Ibu yang gagal. Buktinya, kamu dapat membesarkan Calix sampai segede ini, jadi anak yang sehat dan aktif. Justru aku yang jadi Ayah gagal, sudah tidak ada saat Calix tumbuh, terus sekarang aku tidak bisa menjaga bayi kita hingga dia pergi duluan.. sudah, jangan menangis, kalau ada yang kamu salahkan, seharusnya aku, bukan dirimu sendiri.."
*****
PLANG!!
Pisau ditangan Ruby terlempar, dihempaskan oleh Athala, nyaris saja Wanita itu bertindak nekat dengan memotong nadi di pergelangan tangannya sendiri, "Apa yang kamu lakukan?!!" Athala benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikir Ruby.
"Aku mau mati!! Aku mau liat bayi aku!! Aku mau ikut dia!!"
"Kamu mau ikut dia terus mau ninggalin aku sama Calix disini, hah?! Bukan hanya kamu yang terluka Ruby!! Aku juga! Sebagai seorang Ayah aku juga gak kalah hancur! Bukan cuma kamu!" Athala memegangi lengannya, jantungnya tidak berhenti berdetak tidak karuan membayangkan apabila ia tidak cepat datang ke dapur, mungkin nasib Istrinya tak akan selamat lagi.
Ia heran, tidak mendapati Istrinya disampingnya saat tengah malam buta. Oleh karena itu, nyaris seluruh penjuru mansion ia jelajahi, dan menemukan Istrinya disini. Untung saja, ia tidak terlambat. "Aku mohon, sayang.. jangan kaya gini... Baby bakal marah sama Maminya melihatnya bertindak bodoh kaya gini.."
Athala memeluknya erat sebagai bentuk rasa takut kehilangan mengabaikan Ruby yang memberontak hebat dalam rengkuhannya, "Kenapa dia harus pergi..? Kenapa bukan aku saja yang menggantikan dia..? Kalau hanya menanggung perasaan sakit seperti ini lebih baik aku yang mati!! Jangan dia!!"
"Lepas! Lepaskan aku!! Please, Atha.. biarkan aku pergi bersama dengan Bayiku.. aku akan menemaninya disana.. kamu ada Calix disini.. Bayiku sendirian disana..."
"Sayang hey! Apa maksudmu hanya menyebutnya sebagai bayimu?! Dia juga bayiku! Darah dagingku!"
"Tapi kamu kelihatan biasa-biasa saja dengan kepergiannya. Atau jangan-jangan kamu tidak menginginkan dia, iya?! Kamu senang dia tidak selamat?! Kamu bahagia?!" Tudingnya, sontak membuat Athala melepas pelukan secara kasar, ia menghunuskan tatapan tidak percaya.
"Apa maksudmu aku bahagia?! Gak ada seorang Ayah yang senang dengan kepergian anaknya. Gak ada seorang Ayah yang bahagia tidak sempat mendengar tangisan darah dagingnya sendiri! Dia, bagian dari aku juga, aku sangat menyayanginya lebih dari yang kamu tahu! Tapi, apa kamu bilang tadi? kamu bilang aku bahagia? Biasa-biasa saja?!"
Athala terkekeh hampa, oh ya Tuhan, apa yang salah dengan otak Istrinya? "Aku hanya berusaha kuat! Berusaha untuk terlihat baik-baik saja! Karena kalau tidak begitu, siapa yang akan menjadi penguatmu saat jatuh terpuruk kaya begini humm? Aku seorang Suami sekaligus Ayah, aku sebagai kepala keluarga gak boleh kelihatan rapuh.."
"Kalau boleh jujur, aku juga sedih. Aku pengen teriak kencang, pengen merutuki takdir.. tapi apalah daya, aku hanyalah manusia biasa, sekalipun aku menangis darah bahkan sampai membalikkan langit dan bumi, aku gak bisa mengubah takdir."
Kedua tangannya tidak bisa tenang, saling bertaut menyalurkan rasa kalut yang bergejolak dalam batinnya, Ruby ketakutan setengah mati, sesekali ia tersentak kaget kala hardikan demi hardikan dihujamkan oleh Athala, baru kali ini ia mendapat bentakan keras dari Athala. Cairan bening kristal luruh tanpa permisi kala lelaki itu mengacak-ngacak rambutnya kasar. "Arghhhh!!! Jangan nangis bangsattt!!"
Lagi, Athala menarik tubuh Ruby untuk ia sentakan kedalam dekapannya, mendadak ia merasa bersalah telah meninggikan suaranya pada Ruby. Ia hanya tidak bisa mengontrol emosinya mendengar perkataan Ruby. Bibir Athala menyentuh permukaan rambutnya dibagian pucuk kepala.
"Maaf.. maaf udah bentak kamu sayang.. jangan nangis.. aku gak bisa lihat kamu nangis.."
"Jangan kaya tadi lagi, sayang... Jangan bertindak nekat.. tindakanmu tidak akan bisa mengembalikan dia..Rela tidak rela kita diharuskan untuk rela. Kuncinya, sekarang kita hanya bisa ikhlas. Saling menguatkan, tabahkan hati, tegar untuk menerima takdir yang sudah ditentukan oleh Tuhan.. dia memang tidak selamat, hilang sebelum kita mendengar tangisannya, tidak menyaksikan dia merangkak, tidak bisa mendengar dia memanggil kita Mami dan Papi, tapi ingat--dia akan selalu abadi--"
Menjeda ucapannya Athala lantas pelukannya merenggang sebelum diurai dengan sempurna oleh Athala agar dapat menatap Ruby sepenuhnya, telunjuknya menekan dada Ruby, "Disini... Dia akan abadi didalam hati kita.. begitu juga dia.. meskipun tidak sempat melihat warnanya semesta, dia tetap mengenal wajah kedua orang tuanya. Terlebih lagi Ibunya yang sudah memberikan dia ruang hangat selama sembilan bulan."
"Sudah, jangan nangis lagi.. yang kuat ya Istri..." Tangan Athala berpindah posisi, bekerja menghapus jejak air mata Istrinya dan mengecup kedua kelopak matanya.
"A-atha juga yang kuat.." tangisan Ruby sesenggukan. Athala mengangguki pemaparan Ruby dengan senyum tipis.
*****
Bagi readers yang baca sampai sejauh ini, Author ucapkan banyak-banyak terimakasih🥰🥺